SEPERTINYA, dibutuhkan sebuah
survei, untuk menemukan apakah orang-orang di gampong
kita tahu ketika sebuah kolom berita di suratkabar
itu tak semua berasal dari redaksional? Karena ada yang
namanya ruang pariwara. Orang-orang awam, sepertinya
lebih condong menggunakannya saja. Apa yang ada dalam
sebuah berita di media, tidak bisa membedakan
apakah di atas atau di bawah
tertera pariwara atau advertorial (adv).
Mereka yang mapan menggunakan kata-kata
pariwara atau adv dengan terang dan besar. Namun
ada juga berita yang kata-kata itu dikecilkan bahkan
kerap berada di super sudut halaman. Tidak terlihat
kalau tidak digliep.
Untuk soal ini, jarang mendapat gugatan.
Padahal sebutan itu sangat penting untuk membedakan
sekaligus menunjukkan kebijakan sebuah redaksi.
Kalau sebelumnya, ruang pariwara hanya untuk
mengiklankan produk. Tetapi akhir-akhir ini, pembelaan
diri juga sudah mulai dipasang dengan halaman pariwara.
Belum lagi pengumuman dan ucapan selamat dan ucapan
belasungkawa.
Menarik sekali ketika ruang media
dipergunakan sebagai ruang kampanye atau pembelaan. Dan
media menulis pariwara atau adv dengan sangat
kecil. Seorang pejabat mengungkapkan yang baik-baik di
halaman itu. Seorang politisi menyanjung diri lewat
ruang itu.
Ruang pariwara adalah ruang yang dibeli
agar sesuatu yang diinginkan bisa dituliskan secara
utuh. Ada uang, maka ada ruang. Tak ada uang, maka tak
ada ruang. Dan ini tidak boleh ditawar-tawar, sudah ada
harganya yang dimuat di ruang iklan itu.
Banyak elemen yang sudah memakai ruang
ini. Termasuk para intelektual. Hasil-hasil penelitian
untuk mendukung perusahaan-perusahaan besar yang berbuat
kesalahan tertentu, biasanya juga dibeli ruang ini. Saat
kasus sutet tersebar di Indonesia, lalu ditemukan banyak
eksesnya dari perusahaan listrik raksasa. Ternyata ada
intelektual yang menggunakan ruang media pariwara untuk
membela para raksasa itu, dan sebuah media terkenal, tak
mencantumkan itu sebagai pariwara. Intinya dapat
ditebak, membantah ekses perusahaan.
Di gampong kita, banyak lembaga
membeli ruang pariwara. Membangun sebuah rumah atau
beberapa rumah, lalu membeli ruang pariwara dan
menyiarkan kepada seluruh warga, seolah semua rumah yang
terbangun mereka punya. Membangun beberapa rumah
disediakanlah uang publikasi. Dan itu diyakini
mempengaruhi pembaca, di mana lembaga pembangun rumah
yang beberapa, akan terlihat sangat sempurna. Nama
baiknya, terutama.
Orang jarang bisa melihat yang
buruk-buruk dari sebuah kamuflase wajah. Legee panyot
cilot. Ruang pariwara memang dipergunakan untuk
menampakkan yang baik-baik saja. Ada kepentingan di
sana, seperti kepentingan pedagang yang membeli ruang
iklan dan berharap agar ada peningkatan penjualan
barang-barangnya.
Bila ruang pariwara tidak menarik, itu
jarang terlihat. Apalagi banyak berita yang tak
mengenakkan. Sementara berita-berita yang menyenangkan,
tentu dilihat banyak orang. Berita dengan tulisan
seorang intelektual, misalnya, yang tidak melihat ekses
pembangunan hanya untuk membela orang-orang tertentu,
itu berpotensi dilihat banyak orang.
Memang bila kenyataan begini, tentu
sangat menyakitkan.[ST]