HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 180407|
Pariwara
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SEPERTINYA, dibutuhkan sebuah survei, untuk menemukan apakah orang-orang di gampong kita tahu ketika sebuah kolom berita di suratkabar itu tak semua berasal dari redaksional? Karena ada yang namanya ruang pariwara. Orang-orang awam, sepertinya lebih condong menggunakannya saja. Apa yang ada dalam sebuah berita di media, tidak bisa membedakan
apakah di atas atau di bawah
tertera pariwara atau advertorial (adv).

Mereka yang mapan menggunakan kata-kata pariwara atau adv dengan terang dan besar. Namun ada juga berita yang kata-kata itu dikecilkan bahkan kerap berada di super sudut halaman. Tidak terlihat kalau tidak digliep.

Untuk soal ini, jarang mendapat gugatan. Padahal sebutan itu sangat penting untuk membedakan sekaligus menunjukkan kebijakan sebuah redaksi.

Kalau sebelumnya, ruang pariwara hanya untuk mengiklankan produk. Tetapi akhir-akhir ini, pembelaan diri juga sudah mulai dipasang dengan halaman pariwara. Belum lagi pengumuman dan ucapan selamat dan ucapan belasungkawa.

Menarik sekali ketika ruang media dipergunakan sebagai ruang kampanye atau pembelaan. Dan media menulis pariwara atau adv dengan sangat kecil. Seorang pejabat mengungkapkan yang baik-baik di halaman itu. Seorang politisi menyanjung diri lewat ruang itu.

Ruang pariwara adalah ruang yang dibeli agar sesuatu yang diinginkan bisa dituliskan secara utuh. Ada uang, maka ada ruang. Tak ada uang, maka tak ada ruang. Dan ini tidak boleh ditawar-tawar, sudah ada harganya yang dimuat di ruang iklan itu.

Banyak elemen yang sudah memakai ruang ini. Termasuk para intelektual. Hasil-hasil penelitian untuk mendukung perusahaan-perusahaan besar yang berbuat kesalahan tertentu, biasanya juga dibeli ruang ini. Saat kasus sutet tersebar di Indonesia, lalu ditemukan banyak eksesnya dari perusahaan listrik raksasa. Ternyata ada intelektual yang menggunakan ruang media pariwara untuk membela para raksasa itu, dan sebuah media terkenal, tak mencantumkan itu sebagai pariwara. Intinya dapat ditebak, membantah ekses perusahaan.

Di gampong kita, banyak lembaga membeli ruang pariwara. Membangun sebuah rumah atau beberapa rumah, lalu membeli ruang pariwara dan menyiarkan kepada seluruh warga, seolah semua rumah yang terbangun mereka punya. Membangun beberapa rumah disediakanlah uang publikasi. Dan itu diyakini mempengaruhi pembaca, di mana lembaga pembangun rumah yang beberapa, akan terlihat sangat sempurna. Nama baiknya, terutama.

Orang jarang bisa melihat yang buruk-buruk dari sebuah kamuflase wajah. Legee panyot cilot. Ruang pariwara memang dipergunakan untuk menampakkan yang baik-baik saja. Ada kepentingan di sana, seperti kepentingan pedagang yang membeli ruang iklan dan berharap agar ada peningkatan penjualan barang-barangnya.

Bila ruang pariwara tidak menarik, itu jarang terlihat. Apalagi banyak berita yang tak mengenakkan. Sementara berita-berita yang menyenangkan, tentu dilihat banyak orang. Berita dengan tulisan seorang intelektual, misalnya, yang tidak melihat ekses pembangunan hanya untuk membela orang-orang tertentu, itu berpotensi dilihat banyak orang.

Memang bila kenyataan begini, tentu sangat menyakitkan.[ST]