ATUNG,
tiga puluh tahun yang lalu, masih menjadi barang yang
dibenci di Aceh. Masyarakat Aceh, di masa lalu, sangat
membenci patung. Patung, akan dianggap sebagai usaha
untuk menandingi kekuasaan Tuhan dalam menciptakan
makhluk-Nya.
Segala
sesuatu yang dibuat menyerupai makhluk Tuhan, akan
dianggap sebagai patung. Maka dalam kehidupan orang
Aceh, dulu, tak ditemui ada patung-patung. Orang-orang
tua akan marah bila anaknya diminta belikan patung.
Orang-orang gampong yang kebetulan pergi ke kota
lalu membawa pulang patung untuk anaknya, akan dicibir
sesampai di gampong.
Di beberapa
gampong, fenomena seperti itu masih menjadi
kenyataan. Namun di banyak kawasan di Aceh, hal seperti
itu bukan lagi sebagai sesuatu yang patut digelisahkan.
Perubahan
pola pikir, persepsi, pandangan, asosiasi, atau bahkan
sampai kepada interpretasi, sudah terjadi dalam
masyarakat Aceh: tak hanya di kota-kota, tai juga sampai
di pelosok gampong-gampong.
Maka
patung, sudah ditemui dalam kehidupan orang Aceh. Patung
mudah didapat sebagai alat permainan anak-anak.
Orang-orang gampong yang pergi ke kota sesekali,
tidak lagi sungkan untuk membawa pulang oleh-oleh kepada
anaknya berupa patung.
Aset
penjualan patung pun semakin menjanjikan. Berbagai
perusahaan berlomba-lomba untuk mendesain patung masa
depan. Dulu patung dibuat dari plastik atau karet. Kini
banyak patung yang dari logam atau bahan-bahan lainnya.
Kalau dulu patung tak dipasang pakaian, kini banyak
patung yang diselingi dengan kreasi pakaiannya
sedemikian rupa.
Untuk
mendapatkan patung, kalau dulu hanya ada di toko-toko
tertentu, tapi kini, segala jenis patung akan mudah
didapat di mana saja, termasuk pada penjual-penjual yang
di kaki lima.
Bentuknya
juga sudah berubah. Dari berbentuk celengan dan mainan,
kini hampir semua alat sudah dijadikan patung: mainan,
aksesoris, bantal, teman tidur, pajangan, jam, pokoknya
segala sesuatu sudah tersedia dalam bentuk patung
–bahkan pemuas nafsu biologis sekalipun, sudah
disediakan lewat bentuk-bantuk patung.
Tak ada
wajah patung yang cantik pada masa lalu. Tapi kini,
semua dibuat patung. Setelah Mike Tyson mengigit kuping
Holyfield, maka perusahaan coklat di Amerika membuat
makanan (coklat) dalam bentuk patung. Ketika Britney
Spears tenar, maka patung-patung berwajah Britney
bermunculan di mana-mana. Bahkan setelah Zinedine Zidane
menanduk Materrazzi di Final Piala Dunia 2006 yang lalu
di Jerman pun, oleh perusahaan pakaian sudah dibuat
dalam bentuk patung. Lengkaplah sudah.
Kehadiran
patung-patung seperti itu, tentu saja, sedikit banyak
akan merubah pandangan terhadap patung. Apalagi di
hampir semua toko di Aceh, mudah ditemukan bentuk patung
yang sedemikian rupa. Di Aceh sudah ditemukan
patung-patung sebagai mainan anak-anak yang bisa
berbicara, berpakaian Islami, bahkan patung-patung
berkelamin perempuan sudah dipasang jilbab sedemikian
rupa.
Kalau dalam
bentuk lain, sudah sering ditemui. Katakanlah seperti
pelampung, makanan anak-anak, dan sebagainya.
Dalam dunia
yang lebih luas, fenomena patung menjadi persaingan
tersendiri dalam konteks ilmu pengetahuan. Patung yang
ada mesinnya, dinamakan dengan robot, mungkin untuk
beberapa waktu mendatang akan mengambil seluruh peran
yang bisa dilakukan manusia. Maka patung-patung hiasan,
untuk waktu-waktu yang akan datang, mungkin akan
digantikan oleh patung-patung yang bisa menggantikan
berbagai tugas manusia tersebut.
Masa kini,
yang tidak bisa dilakukan manusia adalah menciptakan
nyawa. Dalam konteks tertentu sekalipun, misalnya
penemuan kloning, semua kaum yang cerdas -–baik berfaham
liberal atau bukan—sepakat untuk tidak menggunakannya
terhadap manusia.
Lewat
proses kloning, manusia sudah menciptakan pembelahan sel,
bukan menghidupkan sel. Ini perkembangan mutakhir yang
terjadi dalam dua puluh tahun terakhir.
Segala
perkembangan di dunia, pada akhirnya akan mengubah
pandangan orang terhadap patung –terlepas sebesar apa
tingkat perubahan tersebut.
Dalam konteks Aceh, perubahan pandangan itu juga terjadi
dalam masyarakat. Inilah menjadi salah satu perubahan.
Ya, dalam masyarakat Aceh![ST]