PADA
suatu waktu, saya tiba-tiba tersentak dengan sebuah
pertanyaan orang gampong yang sedang menghabiskan
senja di sebuah bale. Kata mereka, koran-koran di
gampong kita sekarang ini, sudah cukup sering
menyiarkan iklan-iklan berbahasa yang tidak dipahami
oleh orang-orang gampong.
Dalam satu
hari, lebih sebagian iklan dipahami mereka. Padahal,
mereka selalu berpikir bahwa jangan-jangan, iklan
tersebut untuk memberitahukan masalah-masalah mereka.
Pernah
suatu kali, rombongan tuha peut mengunjungi koran
gampong. Waktu itu, mereka menanyakan kepada
pimpinan koran seputar masalah iklan yang tidak
dipahami. Orang-orang dari gampong itu tidak
paham bahwa semua iklan adalah order. Seseorang
yang memasang iklan, yang penting membayar kepada koran
dan isinya tergantung dari yang memasang. Yang penting
tidak menyinggung SARA.
Sampai pada
kata-kata SARA, orang-orang gampong kembali
tersentak. Apa itu SARA, tanya mereka. Lalu pimpinan
koran menjelaskan, masalah-masalah yang
mendiskriminasikan orang lain, dengan menyakitkan agama,
ras, bangsa, dan sebagainya, termasuk dalam persoalan
SARA.
Mereka
bingung. Lalu, bagaimana kami tahu kalau di dalamnya ada
SARA, sementara bahasa yang dipakai sama sekali bukan
bahasa kami, tanya orang-orang gampong lagi.
Sesampai di
sini, masalah dianggap semakin menggurita. Karena
orang-orang gampong sebenarnya juga bisa memasang
iklan dengan bahasa sendiri. Tapi, sebuah iklan, tentu
butuh biaya.
Masalahnya,
darimana biaya-biaya berbahasa asing itu? Mereka kembali
bertanya, apa kami bisa mendapatkan dana itu biar bisa
memasang iklan berbahasa sendiri?
Terang
saja, pimpinan koran tak tahu tentang itu. Yang ia
paham, bahwa setiap orang yang memasang iklan, harus
membayar menurut kolom yang ditawarkan. Selebihnya,
urusan lembaga yang memasang.
Tidak
demikian bagi orang-orang di gampong semisal yang
membacanya dari bale atau kedai kopi di
gampong. Entah disadari atau tidak oleh para
pemasang, bahwa orang-orang yang di gampong
sebenarnya ingin sekali mengetahui semua isi surat
kabar, yang terpasang di kolom iklan sekali pun.
Rombongan
para tuha peut yang mengunjungi koran pada suatu
waktu itu, sebenarnya ingin memberitahukan perihal itu
pada pimpinannya. Tapi ternyata masalah memang tidak
sederhana. Akibat ketidaksederhanaan inilah, maka wajar
orang gampong tidak mengerti.
Problematika menjadi bertambah. Orang-orang tidak tahu
bunyi iklan, juga orang-orang tidak tahu bagaimana
sebuah proses iklan. Namun mereka melihat tiap hari,
walau tak membacanya karena tak tahu bahasanya.
Ini menjadi
sebuah kisah pembaca di gampong-gampong.
Banyaknya pertanyaan-pertanyaan di benak-benak orang
gampong, memperlihatkan bagaimana sesungguhnya
mereka ingin tahu yang diberitakan sebuah koran, karena
mereka berpikir bisa saja iklan-iklan itu untuk
membicarakan mereka.
Intinya,
mereka juga ingin memperbaiki nasib. Dengan mengetahui
sebuah pemberitaan, sebenarnya juga menjadi media
pembelajaran secara tidak langsung. Mereka ingin belajar
secara terus-menerus. Walau lewat sebuah iklan.[ST]