ALAM
kamus klasik, orang memahami pengemis sebagai
peminta-minta. Dalam kamus kasat mata, yang dipandang
pengemis adalah yang ada di Simpang Lima, Simpang Jam,
Simpang Jambo Tape, simpang-simpang yang lain, serta
terminal.
Dalam kamus
sehari-hari, orang memahami pengemis seperti terumus
dalam kamus klasik. Secara umum, orang melihat pengemis
menurut yang tertangkap dalam kamus kasat mata.
Barangkali,
dalam dua kamus itu, ada kemungkinan mendapat dua bentuk
pengemis: sebagai “korban” atau sebagai yang “dikorbankan”.
Pengemis yang “korban” adalah pengemis yang memang
berasal dari golongan papa dan mereka sama sekali tak
punya akses kemana-mana. Akan tetapi yang namanya
pengemis yang “dikorbankan”, mereka juga berasal dari
golongan papa, namun ada yang mengatur -–pagi ada yang
jemput untuk diletakkan di tempat tertentu dan sorenya
ketika dianggap sudah melaksanakan tugasnya akan
dijemput lagi untuk dibawa pulang kembali ke tempat yang
sepertinya disediakan.
Pengemis
yang “korban” merupakan orang-orang yang tidak beruntung
-–menurut kamus masa kini. Sementara pengemis yang
“dikorbankan” merupakan orang-orang yang jauh lebih
tidak beruntung.
Dalam kamus
agama, jelas dan tegas, bukan sesuatu yang dilarang bila
memang sebagai orang papa. Jangan lupa, di sebalik itu,
agama memberi catatan bahwa “tangan di atas jauh lebih
baik dari tangan di bawah”. Orang papa harus tahu diri
tentang hal itu. Namun orang yang berlebihan juga harus
tahu diri, karena agama memberi catatan, bahwa “dalam
sebagian harta kita, sesungguhnya ada bagian untuk
orang-orang yang papa.”
Yang
terlihat adalah keseimbangan, keserasian, kealamiahan,
kerasionalan, masuk akal. Bahwa dalam dunia ada orang
yang kurang dan ada orang yang lebih, adalah sesuatu
yang masuk akal. Orang yang kurang membutuhkan orang
yang lebih. Begitu pula sebaliknya.
Orang-orang
yang tidak rasional adalah orang-orang yang tidak
mengerti kenyataan ini. Dalam kamus kesombongan,
orang-orang yang congkak karena kelebihan dan merasa
tidak butuh golongan yang berkekurangan, bisa dianggap
sebagai orang yang kurang waras.
Bayangkan
ketika dunia ini hanya tersedia orang-orang yang kaya,
maka sungguh semua orang kaya harus melakukan sendiri
semua tugasnya. Dan ini, akan menimbulkan kekacauan yang
luar biasa karena ternyata kebiasaan orang-orang yang
kaya, adalah orang-orang yang kurang terbiasa
melaksanakan sendiri segala tugasnya.
Sungguh,
seperti menghadapi kematian kalau saja dalam dunia ini
hanya ada masyarakat miskin semata. Maka kamus agama
telah menyelaraskan berbagai kenyataan ini: “Tangan di
atas lebih bagus dari tangan di bawah.”
Orang-orang
yang papa menyorongkan tangannya kepada orang-orang dan
instansi -–yang menyediakan anggaran untuk mereka.
Mereka memang berada pada posisi lemah karena telah
memberanikan diri untuk mengekspresikan bahwa tangan
mereka memang harus berada di bawah.
Ironisnya,
sekarang ini, orang-orang yang berani memposisikan
tangan di bawah tidak hanya dari golongan papa.
Orang-orang terhormat, orang-orang atas, orang-orang
yang berkelebihan, juga sering menempatkan tangannya di
bawah untuk meminta-minta kepada manusia dan instansi
-–yang menyediakan anggaran untuk orang-orang papa.
Dengan
menggunakan kamus moderen, maka tangan di bawah seperti
ini tidak lagi dengan menggunakan tangan, tapi
menggunakan surat, dan sebagainya. Peminta jenis ini,
akan menghiasi suratnya, keterangannya, konsepnya,
sedemikian rupa. Mereka akan melengkapinya dengan
berbagai angka-angka yang bisa membuat segala permintaan
menjadi rasional.
Dalam kamus
klasik, konsep pengemis membuat manusia yang terakhir
disebut menjadi tidak masuk di dalamnya. Namun dalam
kamus moderen, bukankah menjadi sama saja?
Namanya, ya
pengemis! Bukankah begitu?[ST]