PAKAR
Amerika Serikat, ada yang gelisah akhir-akhir ini,
ketika perempuan muda sebagai objek seksual digambarkan
dengan terbuka, blak-blakan. Para peneliti dari Asosiasi
Psikologi Amerika, memberi beberapa contoh yang dapat
dikategorikan sebagai bentuk eksplitasi perempuan yang
sangat berbahaya.
Sebuah
iklan sepatu olahraga, dibintangi seorang bintang pop,
Cristina Aguilera, mengenakan pakaian seragam sekolah
dengan kancing kemeja terbuka dan menjilat permen loli.
Peneliti
dari Asosiasi itu, menyimpulkan, gambaran seperti inilah
yang menjual perempuan sebagai objek seksual dan
berdampak negatif bagi anak-anak perempuan dalam banyak
hal.
Itu hanya
salah satu contoh. Ada yang lain, selain bintang pop
muda yang berpakaian seperti objek seksual.
Boneka-boneka anak-anak dengan pakaian seksi seperti
baju dalam, foking jala dan sepatu hak, pakaian seperti
celana dalam seksi. Iklan-iklan produk, menurut mereka,
patut disorot.
Semua tahu
bahwa Amerika Serikat adalah negeri sekuler. Tapi ada
orang-orang Amerika Serikat yang masih berpikir waras,
dalam konteks ini. Kenyataan ini, bisa saja di balik.
Bahwa di negeri kita sekalipun, bahkan di nanggroe
kita, tidak semua orang bisa berfikir waras.
Perempuan
sedang di eksploitasi, sungguh luar biasa menggelisahkan
melalui berbagai iklan. Barangkali ada yang beranggapan
bahwa itu sebagai bentuk ekspresi profesi. Jadi, di
nanggroe ini sekalipun, fenomena seperti itu seperti
terlihat bukan merupakan sesuatu yang patut digelisahkan.
Cukup
banyak iklan-iklan besar terpampang di jalan-jalan
sampai lorong-lorong, dengan wajah perempuan yang bisa
menarik perhatian, mulai dari alat suku cadang kendaraan
sampai makanan, mulai dari pakaian sampai alat-alat
untuk kesenangan.
Cukup mudah
untuk melihat perempuan cantik dengan sedikit minim
pakaiannya di baliho-baliho iklan motor. Sehingga untuk
mengiklankan ban motor sekalipun, harus ada perempuan
yang menampakkan perut dan pusarnya.
Seperti
bukan masalah ketika untuk meningkatkan daya jual pompa
air, lalu disiarkanlah perempuan dengan berkutang dan
sedang mandi disirami air. Maka sebotol minuman kaleng
dan sebatang rokok pun, harus menempatkan foto perempuan
muda yang setengah terbuka di ring satu untuk magnet
peningkatan penjualan produk.
Apalagi
sebiji permen, di televisi, iklannya bisa dihisab dari
bibir ke bibir. Beberapa minuman, menggunakan perempuan
di tempat-tempat yang sangat menggelisahkan.
Bila di
nanggroe tidak ada gugatan, maka sebenarnya tidak
ada yang menyayangi perempuan, walau saya, barangkali
kita, sering mengatakan sedang berusaha kuat untuk
membela dan melindungi perempuan.
Dalam
bentuk ini, bila kita tidak menggugat, maka kita berarti
mengaminkan sebagai perempuan yang diposisikan seperti
sebiji permen. Percayalah![ST]