HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 280607|
PERMEN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

PAKAR Amerika Serikat, ada yang gelisah akhir-akhir ini, ketika perempuan muda sebagai objek seksual digambarkan dengan terbuka, blak-blakan. Para peneliti dari Asosiasi Psikologi Amerika, memberi beberapa contoh yang dapat dikategorikan sebagai bentuk eksplitasi perempuan yang sangat berbahaya.

Sebuah iklan sepatu olahraga, dibintangi seorang bintang pop, Cristina Aguilera, mengenakan pakaian seragam sekolah dengan kancing kemeja terbuka dan menjilat permen loli.

Peneliti dari Asosiasi itu, menyimpulkan, gambaran seperti inilah yang menjual perempuan sebagai objek seksual dan berdampak negatif bagi anak-anak perempuan dalam banyak hal.

Itu hanya salah satu contoh. Ada yang lain, selain bintang pop muda yang berpakaian seperti objek seksual. Boneka-boneka anak-anak dengan pakaian seksi seperti baju dalam, foking jala dan sepatu hak, pakaian seperti celana dalam seksi. Iklan-iklan produk, menurut mereka, patut disorot.

Semua tahu bahwa Amerika Serikat adalah negeri sekuler. Tapi ada orang-orang Amerika Serikat yang masih berpikir waras, dalam konteks ini. Kenyataan ini, bisa saja di balik. Bahwa di negeri kita sekalipun, bahkan di nanggroe kita, tidak semua orang bisa berfikir waras.

Perempuan sedang di eksploitasi, sungguh luar biasa menggelisahkan melalui berbagai iklan. Barangkali ada yang beranggapan bahwa itu sebagai bentuk ekspresi profesi. Jadi, di nanggroe ini sekalipun, fenomena seperti itu seperti terlihat bukan merupakan sesuatu yang patut digelisahkan.

Cukup banyak iklan-iklan besar terpampang di jalan-jalan sampai lorong-lorong, dengan wajah perempuan yang bisa menarik perhatian, mulai dari alat suku cadang kendaraan sampai makanan, mulai dari pakaian sampai alat-alat untuk kesenangan.

Cukup mudah untuk melihat perempuan cantik dengan sedikit minim pakaiannya di baliho-baliho iklan motor. Sehingga untuk mengiklankan ban motor sekalipun, harus ada perempuan yang menampakkan perut dan pusarnya.

Seperti bukan masalah ketika untuk meningkatkan daya jual pompa air, lalu disiarkanlah perempuan dengan berkutang dan sedang mandi disirami air. Maka sebotol minuman kaleng dan sebatang rokok pun, harus menempatkan foto perempuan muda yang setengah terbuka di ring satu untuk magnet peningkatan penjualan produk.

Apalagi sebiji permen, di televisi, iklannya bisa dihisab dari bibir ke bibir. Beberapa minuman, menggunakan perempuan di tempat-tempat yang sangat menggelisahkan.

Bila di nanggroe tidak ada gugatan, maka sebenarnya tidak ada yang menyayangi perempuan, walau saya, barangkali kita, sering mengatakan sedang berusaha kuat untuk membela dan melindungi perempuan.

Dalam bentuk ini, bila kita tidak menggugat, maka kita berarti mengaminkan sebagai perempuan yang diposisikan seperti sebiji permen. Percayalah![ST]