HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 220407|
PERUBAHAN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

APA yang mencengangkan akhir-akhir ini? Sepertinya, masalah perubahan sosial salah satunya. Perubahan dalam masyarakat kita terjadi begitu cepat. Tak hanya yang positif. Perubahan juga terjadi dalam bentuknya yang negatif.

Ayam goreng terdapat dimana-mana. Dari toko yang berlisensi dagang luar negeri, sampai kereta dorong di pinggir jalan. Tempat makan bertebar sepanjang jalan, dengan tempatan meja dan kursi yang khas. Pemahaman dalam komunitas terhadap alam menjadi berbeda seratus delapan puluh derajat.

Siaran televisi dari seluruh dunia bisa ditonton dengan cepat sampai ke pelosok gampong. Bahkan, dalam sebuah warung kopi di tempat-tempat tertentu, antara orang tua dan anak; antara mertua dan menantu; saling duduk sebahu untuk menonton siaran televisi yang kian hari juga kian menggelisahkan.

Betapa siaran televisi begitu cepat diterima oleh masyarakat gampong. Tepatnya mungkin bukan menerima, tapi terpengaruhi. Bayangkan, tahun 1990-an siaran televisi di Indonesia masih sangat terbatas. Hadirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sebagai televisi swasta pertama di Indonesia , membuat peta-peta yang tabu-tidak tabu, berubah dalam sekejap.

Beberapa tahun kemudian, televisi swasta lain mengikuti. Dalam dekade itu juga, antena parabola menjadi incaran masyarakat gampong yang dimulai dari warung kopi. Terlihatlah di mana-mana, warung kopi beratap rumbia, tapi di sampingnya berdiri gagah antena parabola.

Perubahan terjadi dalam hitungan tahun. Sangat cepat. Parabola yang mendapatkan beberapa siaran luar negeri, mencari incaran banyak pemuda. Film-film dari India yang perempuan-perempuannya selalu membuka pusarnya, menjadi tontotan yang paling favorit di banyak tempat.

Siaran-siaran televisi, di awal-awal masih mendapat gugatan dari beberapa orang yang menganggap siaran seperti itu masih tabu. Namun apa yang terjadi kemudian, aneuk mirah pun ikut menonton acara yang seperti itu.

Para jejaka atau perawan sudah tak sungkan membawa pacarnya ke rumah. Fenomena ini, sekitar 10 tahun lalu masih dianggap sebagai yang pantang. Tapi membaca berita dari kuta-kuta, ternyata banyak orang yang menyudahi kejejakaan dan keperawanannya di dalam rumahnya.

Seperti bukan lagi masalah. Seseorang sudah dengan mudah melepaskan kejejakaan dan keperawanan. Sesuatu yang dalam komunitas-komunitas tertentu masih sangat kuat dianggap sebagai kehormatan.

Belum lagi berbagai perilaku santun yang sudah menghilang dari masyarakat kita. Perilaku orang lain lalu menjadi incaran. Hingga banyak anak muda kita memakai anting-anting di telinga atau di hidung. Sementara yang mudi, semakin banyak yang suka memperlihatkan membagi-bagi keindahan tubuhnya.

Perubahan yang terjadi telah menyebabkan kaburnya batas antara sakral dan yang tidak sakral. Dalam dunia moderen, masalah tabu, masalah sakral, seperti diupayakan untuk dipermaklumkan, agar dilupakan seiring dengan berjalannya waktu.

Itulah perubahan. Itulah wajah lain dari kita.[ST]