APA yang mencengangkan
akhir-akhir ini? Sepertinya, masalah perubahan sosial
salah satunya. Perubahan dalam masyarakat kita terjadi
begitu cepat. Tak hanya yang positif. Perubahan juga
terjadi dalam bentuknya yang negatif.
Ayam goreng terdapat dimana-mana.
Dari toko yang berlisensi dagang luar negeri, sampai
kereta dorong di pinggir jalan. Tempat makan bertebar
sepanjang jalan, dengan tempatan meja dan kursi yang
khas. Pemahaman dalam komunitas terhadap alam menjadi
berbeda seratus delapan puluh derajat.
Siaran televisi dari seluruh dunia
bisa ditonton dengan cepat sampai ke pelosok gampong.
Bahkan, dalam sebuah warung kopi di tempat-tempat
tertentu, antara orang tua dan anak; antara mertua dan
menantu; saling duduk sebahu untuk menonton siaran
televisi yang kian hari juga kian menggelisahkan.
Betapa siaran televisi begitu cepat
diterima oleh masyarakat gampong. Tepatnya
mungkin bukan menerima, tapi terpengaruhi. Bayangkan,
tahun 1990-an siaran televisi di Indonesia masih sangat
terbatas. Hadirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI)
sebagai televisi swasta pertama di
Indonesia , membuat peta-peta yang tabu-tidak
tabu, berubah dalam sekejap.
Beberapa tahun kemudian, televisi
swasta lain mengikuti. Dalam dekade itu juga, antena
parabola menjadi incaran masyarakat gampong yang
dimulai dari warung kopi. Terlihatlah di mana-mana,
warung kopi beratap rumbia, tapi di sampingnya berdiri
gagah antena parabola.
Perubahan terjadi dalam hitungan
tahun. Sangat cepat. Parabola yang mendapatkan beberapa
siaran luar negeri, mencari incaran banyak pemuda.
Film-film dari
India yang perempuan-perempuannya selalu membuka
pusarnya, menjadi tontotan yang paling favorit di banyak
tempat.
Siaran-siaran televisi, di awal-awal
masih mendapat gugatan dari beberapa orang yang
menganggap siaran seperti itu masih tabu. Namun apa yang
terjadi kemudian, aneuk mirah pun ikut menonton
acara yang seperti itu.
Para jejaka atau perawan sudah tak
sungkan membawa pacarnya ke rumah. Fenomena ini, sekitar
10 tahun lalu masih dianggap sebagai yang pantang. Tapi
membaca berita dari kuta-kuta, ternyata banyak
orang yang menyudahi kejejakaan dan keperawanannya di
dalam rumahnya.
Seperti bukan lagi masalah. Seseorang
sudah dengan mudah melepaskan kejejakaan dan keperawanan.
Sesuatu yang dalam komunitas-komunitas tertentu masih
sangat kuat dianggap sebagai kehormatan.
Belum lagi berbagai perilaku santun
yang sudah menghilang dari masyarakat kita. Perilaku
orang lain lalu menjadi incaran. Hingga banyak anak muda
kita memakai anting-anting di telinga atau di hidung.
Sementara yang mudi, semakin banyak yang suka
memperlihatkan membagi-bagi keindahan tubuhnya.
Perubahan yang terjadi telah
menyebabkan kaburnya batas antara sakral dan yang tidak
sakral. Dalam dunia moderen, masalah tabu, masalah
sakral, seperti diupayakan untuk dipermaklumkan, agar
dilupakan seiring dengan berjalannya waktu.
Itulah perubahan. Itulah wajah lain
dari kita.[ST]