HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 200507|
Peucicap
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

DA dua ingatan tiba-tiba yang mencuat kembali, ketika mendengar kata-kata meucicap, yakni: Pertama, Haji Umar dalam film komedi Aceh yang paling laris, “Eumpang Breuh” sangat sering menyebut meucicap. Ini sesuai dengan tampilan Haji Umar di film komedi Aceh itu, sebagai sosok temperamen yang memiliki darah tinggi. Sehingga jangankan dengan manusia, dengan ayam dan timba sekalipun akan menjadi lawan.

Kedua, saat kemenakan saya bersama orang tuanya pulang ke gampong, orang tua saya langsung pergi ke dapur dan mengambil sedikit air, lalu menaruh gula di dalamnya, kemudian ditempelkan di bibir aneuk kumuen.

Ternyata bukan cuma mak, beberapa keluarga yang lain yang dikunjungi keluarga abang saya, turut mempersiapkan air gulanya untuk ditempelkan pada bibir anak itu.

Ketika menempelkan air gula, biasanya orang tua berkata: “Nyoe, lagee mameh ie nyoe, meunan syit beu mameh ruman ngoen buet gata teuma” (Ini, seperti manis air ini, begitu juga akan manis wajah dan perilaku kamu nanti).

Itulah peucicap. Itulah proses ingatan. Barangkali sama dengan seseorang yang baru lahir, di gampong-gampong akan dikumandangkan azan atau iqamah. Bila anak laki-laki akan dikumandangkan azan, sedangkan anak perempuan dibacakan iqamah.

Saat-saat itu, biasanya, orang tua yang bermasalah dengan kemampuan agamanya, akan bergeser beberapa langkah. Orang lain akan mafhum. Jadi bila ada yang tidak bisa membaca azan atau iqamah, tentu, ketika bayi sedang dimandikan, maka si ayah akan mengambil tempat di pinggir. Otomatis, orang lain yang ada di sana, akan mengambil peran untuk membaca azan atau iqamah.

Ini juga semacam proses ingatan. Anak-anak sejak dini sudah diperingatkan untuk deunge bang. Bila ada orang, yang kemudian bakhil dan sampai-sampai tak menaruh perhatian terhadap suara azan, orang-orang akan langsung menegur: “Peu hana geubang watee manyak keuh?” (Apa tak di azan waktu kecilmu?).

Begitu juga orang-orang yang bakhil, bila terlalu over bakhilnya dari orang lain, maka pasti akan ditanyakan orang: “Ngoen peue geupeucicap kah watee ubeud keuh?” (Dengan apa kamu diingatkan waktu kecil?).

Dalam sebuah lingkungan sosial, bila seseorang mendapat pertanyaan seperti ini, maka orang itu sudah berada dalam kategori yang luar biasa. Orang-orang, lambat laun akan meminimalisir hubungan sosialnya.

Lalu, apa artinya seseorang yang tanpa lingkungan sosial? Tidak ada artinya. Seseorang yang sudah dianggap sebagai penyakit masyarakat, maka orang lain akan menjauh.

Inilah salah satu ketakutan bagi masyarakat gampong. Mereka tak ingin dicap sebagai penyakit masyarakat, lewat pertanyaan-pertanyaan: “Peu hana geu bang kah?” Atau “Peu hana geu peucicap kah?”[ST]