DA
dua ingatan tiba-tiba yang mencuat kembali, ketika
mendengar kata-kata meucicap, yakni: Pertama,
Haji Umar dalam film komedi Aceh yang paling laris,
“Eumpang Breuh” sangat sering menyebut meucicap.
Ini sesuai dengan tampilan Haji Umar di film komedi Aceh
itu, sebagai sosok temperamen yang memiliki darah
tinggi. Sehingga jangankan dengan manusia, dengan ayam
dan timba sekalipun akan menjadi lawan.
Kedua,
saat kemenakan saya bersama orang tuanya pulang ke
gampong, orang tua saya langsung pergi ke dapur dan
mengambil sedikit air, lalu menaruh gula di dalamnya,
kemudian ditempelkan di bibir aneuk kumuen.
Ternyata
bukan cuma mak, beberapa keluarga yang lain yang
dikunjungi keluarga abang saya, turut mempersiapkan air
gulanya untuk ditempelkan pada bibir anak itu.
Ketika
menempelkan air gula, biasanya orang tua berkata: “Nyoe,
lagee mameh ie nyoe, meunan syit beu mameh ruman ngoen
buet gata teuma” (Ini, seperti manis air ini, begitu
juga akan manis wajah dan perilaku kamu nanti).
Itulah
peucicap. Itulah proses ingatan. Barangkali sama
dengan seseorang yang baru lahir, di gampong-gampong
akan dikumandangkan azan atau iqamah. Bila anak
laki-laki akan dikumandangkan azan, sedangkan anak
perempuan dibacakan iqamah.
Saat-saat
itu, biasanya, orang tua yang bermasalah dengan
kemampuan agamanya, akan bergeser beberapa langkah.
Orang lain akan mafhum. Jadi bila ada yang tidak bisa
membaca azan atau iqamah, tentu, ketika bayi sedang
dimandikan, maka si ayah akan mengambil tempat di
pinggir. Otomatis, orang lain yang ada di sana, akan
mengambil peran untuk membaca azan atau iqamah.
Ini juga
semacam proses ingatan. Anak-anak sejak dini sudah
diperingatkan untuk deunge bang. Bila ada orang,
yang kemudian bakhil dan sampai-sampai tak menaruh
perhatian terhadap suara azan, orang-orang akan langsung
menegur: “Peu hana geubang watee manyak keuh?”
(Apa tak di azan waktu kecilmu?).
Begitu juga
orang-orang yang bakhil, bila terlalu over
bakhilnya dari orang lain, maka pasti akan ditanyakan
orang: “Ngoen peue geupeucicap kah watee ubeud keuh?”
(Dengan apa kamu diingatkan waktu kecil?).
Dalam
sebuah lingkungan sosial, bila seseorang mendapat
pertanyaan seperti ini, maka orang itu sudah berada
dalam kategori yang luar biasa. Orang-orang, lambat laun
akan meminimalisir hubungan sosialnya.
Lalu, apa
artinya seseorang yang tanpa lingkungan sosial? Tidak
ada artinya. Seseorang yang sudah dianggap sebagai
penyakit masyarakat, maka orang lain akan menjauh.
Inilah
salah satu ketakutan bagi masyarakat gampong.
Mereka tak ingin dicap sebagai penyakit masyarakat,
lewat pertanyaan-pertanyaan: “Peu hana geu bang kah?”
Atau “Peu hana geu peucicap kah?”[ST]