BASYAH,
pemuda taat dari Gampong Seulaseh, akhir-akhir ini
kelihatan sibuk sekali. Tak seperti biasanya. Lazimnya,
Basyah hanya sibuk ke kebun di bineh gle. Di sana,
Basyah memelihara sekitar 50 ekor ayam gampong.
Ayam-ayam itu, diberi makan dengan umpan kota, yang
disebut baja ayam, agar selalu bertelur.
Telur-telur
itu, dikocok dengan air kopi bercampur susu. Rasanya
nikmat sekali. Pecandu telur setengah matang, tiap pagi
juga menunggu banyak telur di warung Apa Baka di
sekitar pinggir gampong.
Sulit
sekali mendapatkan boh manok gampong. Tapi yang
benar-benar boh manok gampong, seperti yang
ditemukan banyak pemilik ayam dari beurandang
tiap bangun pagi.
“Sekarang
ini, boh manok tanpa baja, itu sulit sekali,” kata
Apa Baka.
“Boh manok
itu, ada rona merahnya,” katanya.
Termasuk si
Basyah, ia tak memberi ayam dengan lhoek (dedak)
dan keureumeuih u (ampas kelapa) lagi. Basyah
sudah menggantinya dengan baja. Dengan umpan kota itu.
Tak jelas,
kenapa orang di Gampong Seulaseh menyebut umpan sebagai
pakan ayam itu sebagai baja. Padahal, baja itu
berkelamin logam. Sebutan lain di Gampong Seulaseh,
untuk pupuk juga disebut baja.
Tentunya,
termasuk pakan ayam yang diberikan Basyah untuk ayamnya
itu.
“Basyah
‘kan juga kepingin ayamnya bertelur banyak-banyak,” ujar
Apa Baka, lagi.
Begitulah
aktivitas Basyah. Memelihara 50 ekor ayam. Selain itu,
Basyah masih mengelola 128 batang pohon coklat (kakau).
Coklat itu ditanam di sela-sela kandang ayamnya.
Dulu,
Basyah bahkan sibuk dengan menanam palawija. Sehabis
panen blang, Basyah rajin menanam palawija di
persawahan. Padahal, jarang masyarakat gampong
yang menanam palawija sehabis panen padi di sawah. Tapi
dulu, Basyah rajin melakukannya.
Kini,
kesibukan itu sudah jarang terlihat. Basyah bahkan sudah
jarang terlihat meuleuhop tubuhnya. Kesibukan
Basyah seperti sudah berganti dari hari-hari biasanya.
Dalam
minggu ini, Basyah sampai tiga kali bolak-balik ke
kantor polisi. Basyah baru saja selesai mengurus surat
keterangan catatan kriminal (SKCK) dari kantor polisi.
Minggu
sebelumnya, Basyah sibuk memfotokopi ijazahnya. Ya,
ijazah sekolah menengah umum. Lalu ia membawa ke sekolah
untuk dilegalisir oleh kepala sekolah.
Minggu
sebelum itu, Basyah mondar-mandir di kantor pajak untuk
mengurus nomor pembayaran wajib pajak (NPWP). Padahal
Basyah hanya masyarakat biasa, yang pajak bumi dan
bangunan hanya Rp.50 ribu pertahun.
Hari-hari
sebelum itu, Basyah sibuk mengisi tiga macam formulir.
Membuat akte kelahiran, sampai memperbarui kartu
keluarga di kecamatan. Membuat catatan penduduk dari
camat.
Pokoknya,
orang-orang Gampong Seulaseuh, melihat Basyah menjadi
orang yang sibuk. Belum lagi, dari pendiam, kini Basyah
menjadi orang yang banyak berbicara. Dari jarang duduk
di warung kopi, menjadi pembayar orang yang minum kopi,
lalu bercerita banyak, sementara orang-orang Gampong
Seulaseh berutang mendengarkannya karena Basyah sudah
membayar kopi mereka.
Berhari-hari
seperti itu. Pagi-pagi, Basyah sudah berpakaian rapi
lalu pergi entah kemana. Naik bus, pulang-pergi, dengan
tas jinjing di tangannya. Berwarna hitam. Orang-orang
gampong tak pernah tahu ada apa di dalam tas itu.
Dari sayup,
orang-orang gampong hanya mendengar kabar, kalau
saat ini musim pemilihan orang-orang telah tiba. Mereka
dipilih untuk menduduki beberapa kursi yang diperebutkan.
Namanya kursi basah, atau bisa bernama apa saja.
Para
pengisi kursi itu, seperti keharusan untuk banyak
berbicara. Semua berebut untuk mencari pendukung
ramai-ramai. Semakin ramai pendukung, semakin besar
kesempatan memperoleh kursi.
Basyah
ternyata telah menjadi salah satu orang yang berebut
kursi basah itu. Makanya ia selalu membayar kopi
orang-orang yang setiap pagi nongkrong di warung
Apa Baka. Orang-orang tak lagi meminum boh
manok gampong milik Basyah. Walau Basyah cukup
sering membayarnya.
“Aku mau
menjadi politikus,” kata Basyah, suatu pagi.
“Makanya
aku butuh dukungan. Biar aku bisa membangun Gampong
Seulaseh,” sambungnya.
Basyah lupa,
banyak orang sepertinya yang berjanji lalu membayar kopi
mereka di pagi datang. Padahal mereka tidak akan
memilihnya lagi. Mereka akan memilih orang lain yang
bukan poli tikus.
Tapi Basyah
tetap tak mengerti.[ST]