HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 030607|
PROVOKASI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

EORANG remaja laki-laki, mendekatkan mulutnya ke mulut seorang remaja perempuan, lalu menggigit makanan ringan dari mulut remaja perempuan itu.

Di waktu yang lain, remaja perempuan menutup matanya pelan-pelan dan membiarkan remaja laki-laki dengan menggunakan mulutnya menghisap permen yang ada di mulut remaja perempuan.

Dua warna perilaku itu, terlihat dalam iklan. Lewat televisi. Tiap hari kita menyaksikannya. Bahkan seorang kita, bisa melihat adegan itu berkali-kali dalam sehari.

Remaja-remaja di gampong kita juga melihat dengan sempurna iklan itu. Setiap saat. Kesannya, sudah biasa-biasa saja. Seperti sudah tidak ada lagi yang patut dikhawatirkan.

Iklan, dengan demikian, menampakkan salah satu warnanya: provokatif. Hal yang sama sering terlihat dalam banyak film dan sinetron dalam siaran televisi yang hampir 24 jam perhari kita tonton terus-menerus, dengan penuh penghayatan bisa dinikmati oleh remaja-remaja pelosok tentang perilaku-perilaku yang bermasalah.

Ini adalah semacam peta, tentang sejauhmana remaja dan orang tua punya resistensi terhadap hal-hal yang seperti itu. Ada hal yang dilematis di sana, lahirnya kebencian, tapi tak kurang orang yang membutuhkan. Lagi pula, mau resistensi terhadap apa dan untuk apa, terus bagaimana?

Di gampong, ternyata ada orang yang butuh, di tengah kumpulan orang-orang membenci tayangan-tayangan seperti itu. Prinsipnya diyakini, bahwa itu bisa merusak. Namun tayangan itu masuk sendiri ke rumah kita –atau bahkan dalam kamar pribadi kita yang ada siaran televisinya.

Ada yang butuh, karena memang dari waktu ke waktu, sangat sedikit orang yang menggugatnya secara tegas. Hal-hal murahan it uterus saja berlangsung dan itu semacam pembayangan bahwa di masa depan, banyak hal-hal yang tidak seharusnya lalu menjadi standar yang biasa-biasa saja.

Atau, para penjual produk memang lagi rusak? Sehingga tidak ada pertimbangan lain, selain keuntungan ekonomi, yang dikalkulasi dengan laba. Menggunakan media agak miring, tapi kalau bisa mendatangkan keuntungan materi, seperti dianggap tidak menjadi masalah.

Di tayangan-tayangan pun sering terlihat, orang-orang yang berperilaku dalam iklan mencerca orang-orang yang mencoba-coba mengingatkan. Wajar, perhitungan perut, periuk makannya yang akan terganggu.

Siapa yang salah? Ketika sebuah siaran televisi juga ada pelaku, pemilik, dan pengawas. Lalu di mana peran masing-masing kalau kemudian perut yang menjadi ukuran? Masihkah televisi menjadi ruang pencerahan peradaban bangsa?

Adanya perilaku-perilaku remaja kita yang ingin mencoba-coba hal yang baru adalah bias. Sangat manusiawi, naluri orang dipenuhi oleh gelombang besar rasa ingin tahu. Di sinilah ada iman, ketika sejauhmana seseorang mampu menghalau kemiringan yang makin mengental dalam kenyataan hidup.

Abad ini, bahkan abad-abad sebelumnya, penggoda iman selalu dating dari delapan penjuru mata angin. Setiap zaman, kemungkaran selalu hadir menurut zamannya. Ironisnya, kemungkaran yang hadir, sebagian karena berbagai ruang yang memberi kesempatan secara sah dan meyakinkan untuk itu.

Bahkan secara tidak sadar, berbagai ruang itu yang mengajarkan anak-anak gampong untuk mendapatkan berbagai kenikmatan, yang tidak sah sekalipun.

Nah, siapa yang salah? (ST)