EORANG
remaja laki-laki, mendekatkan mulutnya ke mulut seorang
remaja perempuan, lalu menggigit makanan ringan dari
mulut remaja perempuan itu.
Di waktu
yang lain, remaja perempuan menutup matanya pelan-pelan
dan membiarkan remaja laki-laki dengan menggunakan
mulutnya menghisap permen yang ada di mulut remaja
perempuan.
Dua warna
perilaku itu, terlihat dalam iklan. Lewat televisi. Tiap
hari kita menyaksikannya. Bahkan seorang kita, bisa
melihat adegan itu berkali-kali dalam sehari.
Remaja-remaja di gampong kita juga melihat dengan
sempurna iklan itu. Setiap saat. Kesannya, sudah
biasa-biasa saja. Seperti sudah tidak ada lagi yang
patut dikhawatirkan.
Iklan,
dengan demikian, menampakkan salah satu warnanya:
provokatif. Hal yang sama sering terlihat dalam banyak
film dan sinetron dalam siaran televisi yang hampir 24
jam perhari kita tonton terus-menerus, dengan penuh
penghayatan bisa dinikmati oleh remaja-remaja pelosok
tentang perilaku-perilaku yang bermasalah.
Ini adalah
semacam peta, tentang sejauhmana remaja dan orang tua
punya resistensi terhadap hal-hal yang seperti itu. Ada
hal yang dilematis di sana, lahirnya kebencian, tapi tak
kurang orang yang membutuhkan. Lagi pula, mau resistensi
terhadap apa dan untuk apa, terus bagaimana?
Di
gampong, ternyata ada orang yang butuh, di tengah
kumpulan orang-orang membenci tayangan-tayangan seperti
itu. Prinsipnya diyakini, bahwa itu bisa merusak. Namun
tayangan itu masuk sendiri ke rumah kita –atau bahkan
dalam kamar pribadi kita yang ada siaran televisinya.
Ada yang
butuh, karena memang dari waktu ke waktu, sangat sedikit
orang yang menggugatnya secara tegas. Hal-hal murahan it
uterus saja berlangsung dan itu semacam pembayangan
bahwa di masa depan, banyak hal-hal yang tidak
seharusnya lalu menjadi standar yang biasa-biasa saja.
Atau, para
penjual produk memang lagi rusak? Sehingga tidak ada
pertimbangan lain, selain keuntungan ekonomi, yang
dikalkulasi dengan laba. Menggunakan media agak miring,
tapi kalau bisa mendatangkan keuntungan materi, seperti
dianggap tidak menjadi masalah.
Di
tayangan-tayangan pun sering terlihat, orang-orang yang
berperilaku dalam iklan mencerca orang-orang yang
mencoba-coba mengingatkan. Wajar, perhitungan perut,
periuk makannya yang akan terganggu.
Siapa yang
salah? Ketika sebuah siaran televisi juga ada pelaku,
pemilik, dan pengawas. Lalu di mana peran masing-masing
kalau kemudian perut yang menjadi ukuran? Masihkah
televisi menjadi ruang pencerahan peradaban bangsa?
Adanya
perilaku-perilaku remaja kita yang ingin mencoba-coba
hal yang baru adalah bias. Sangat manusiawi, naluri
orang dipenuhi oleh gelombang besar rasa ingin tahu. Di
sinilah ada iman, ketika sejauhmana seseorang mampu
menghalau kemiringan yang makin mengental dalam
kenyataan hidup.
Abad ini,
bahkan abad-abad sebelumnya, penggoda iman selalu dating
dari delapan penjuru mata angin. Setiap zaman,
kemungkaran selalu hadir menurut zamannya. Ironisnya,
kemungkaran yang hadir, sebagian karena berbagai ruang
yang memberi kesempatan secara sah dan meyakinkan untuk
itu.
Bahkan
secara tidak sadar, berbagai ruang itu yang mengajarkan
anak-anak gampong untuk mendapatkan berbagai
kenikmatan, yang tidak sah sekalipun.
Nah, siapa
yang salah? (ST)