AMPAI
sekarang, orang-orang masih selalu menyebut pusat atau
tidak pusat. Dalam berbagai bidang; kesenian, keagamaan,
sosial, pendidikan, politik, ekonomi, pemerintahan, dan
sebagainya.
Ada
pembayangan bahwa pusat saja yang bisa mencapai segala-galanya.
Padahal, paradigma berfikir seperti ini sudah berusaha
diubah dengan kenyataan reformasi. Orang-orang mulai
sadar pada saat itu, bahwa banyak keanekaragaman yang
tidak bisa diseragamkan.
Dalam
pendidikan, daerah harus memaknai potensi lokalnya,
sehingga tidak semua ukuran harus terpusat. Karena semua
wilayah punya potensi masing-masing, fasilitas, keadaan
sosial dan geografis yang berbeda.
Sungguh
tidak logis bila ilmu pertanian diperkuat pada anak-anak
pesisir yang seharusnya diperkuat dengan ilmu perikanan
dan kelautan. Karena kenyataan hidup akan sangat
membantu seseorang memahami konsekuensi dan
keberlanjutan kehidupan dalam konteks yang lebih luas.
Gerakan
ekonomi sudah menampakkan kemajuan, dengan memperkuat
ekonomi kecil dan menengah. Itulah fondasi ekonomi yang
sesungguhnya, dan pengukuran pendapatan perkapital
menjadi rasional. Tidak mengukur pendapatan beberapa
orang dengan kekayaan mereka yang luar biasa, lalu
dibagi rata termasuk dengan sebagian orang yang sama
sekali tidak berpendapatan.
Dalam
pemerintahan, masing-masing daerah punya kekuatan
sendiri. Ada gampong, ada marga, ada
desa, ada nagari, dan sebagainya. Ini
kenyataan yang berakar dari sosial-budaya yang nyata,
hingga para pendiri bangsa merumuskan konsep Bhinneka
Tunggal Ika.
Dalam
berkesenian juga demikian. Dengan 17.800 pulau dan lebih
600 suku di Nusantara kita, tidak mungkin diwakilkan
oleh beberapa tradisi saja. Kearifan lokal kita yang
kaya, akan didapat bila semua kenyataan ini kita kaji
dan menggambarkan betapa makmurnya Nusantara, dari segi
ini.
Ini semacam
tawaran untuk melihat bahwa banyak orang lain di
sekeliling mereka. Dengan itu mereka lahir, dengan itu
mereka hidup dan berkehidupan, dan dengan itu pula
mereka akan mati.
Semua
kekayaan ini adalah keagungan Tuhan yang tiada tara.
Tentu, jangan berhenti mensyukurinya, terutama dengan
sikap dan perilaku kita, mengelompokkan yang satu
sebagai penting dan yang lain sebagai tidak penting.
Sepertinya,
semua kekayaan di sekeliling kita menjadi penting
dimaknai, sekaligus menjadi penting untuk disyukuri.
Maka ia akan bermakna. (ST)