HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 050607|
PUSAT
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

AMPAI sekarang, orang-orang masih selalu menyebut pusat atau tidak pusat. Dalam berbagai bidang; kesenian, keagamaan, sosial, pendidikan, politik, ekonomi, pemerintahan, dan sebagainya.

Ada pembayangan bahwa pusat saja yang bisa mencapai segala-galanya. Padahal, paradigma berfikir seperti ini sudah berusaha diubah dengan kenyataan reformasi. Orang-orang mulai sadar pada saat itu, bahwa banyak keanekaragaman yang tidak bisa diseragamkan.

Dalam pendidikan, daerah harus memaknai potensi lokalnya, sehingga tidak semua ukuran harus terpusat. Karena semua wilayah punya potensi masing-masing, fasilitas, keadaan sosial dan geografis yang berbeda.

Sungguh tidak logis bila ilmu pertanian diperkuat pada anak-anak pesisir yang seharusnya diperkuat dengan ilmu perikanan dan kelautan. Karena kenyataan hidup akan sangat membantu seseorang memahami konsekuensi dan keberlanjutan kehidupan dalam konteks yang lebih luas.

Gerakan ekonomi sudah menampakkan kemajuan, dengan memperkuat ekonomi kecil dan menengah. Itulah fondasi ekonomi yang sesungguhnya, dan pengukuran pendapatan perkapital menjadi rasional. Tidak mengukur pendapatan beberapa orang dengan kekayaan mereka yang luar biasa, lalu dibagi rata termasuk dengan sebagian orang yang sama sekali tidak berpendapatan.

Dalam pemerintahan, masing-masing daerah punya kekuatan sendiri. Ada gampong, ada marga, ada desa, ada nagari, dan sebagainya. Ini kenyataan yang berakar dari sosial-budaya yang nyata, hingga para pendiri bangsa merumuskan konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam berkesenian juga demikian. Dengan 17.800 pulau dan lebih 600 suku di Nusantara kita, tidak mungkin diwakilkan oleh beberapa tradisi saja. Kearifan lokal kita yang kaya, akan didapat bila semua kenyataan ini kita kaji dan menggambarkan betapa makmurnya Nusantara, dari segi ini.

Ini semacam tawaran untuk melihat bahwa banyak orang lain di sekeliling mereka. Dengan itu mereka lahir, dengan itu mereka hidup dan berkehidupan, dan dengan itu pula mereka akan mati.

Semua kekayaan ini adalah keagungan Tuhan yang tiada tara. Tentu, jangan berhenti mensyukurinya, terutama dengan sikap dan perilaku kita, mengelompokkan yang satu sebagai penting dan yang lain sebagai tidak penting.

Sepertinya, semua kekayaan di sekeliling kita menjadi penting dimaknai, sekaligus menjadi penting untuk disyukuri. Maka ia akan bermakna. (ST)