EBERAPA
hari lalu, saya mendapat pengalaman menggelikan dari
sebuah rapat. Rapat yang saya maksud adalah musyawarah,
bukan makna kata, yang berarti krap. Sengaja saya
perjelas, karena di sekeliling gampong saya ada
fenomena asing yang terlihat selama ini. Ketika ada
pasangan anak muda lewat di jalan raya, pasti ada
celutuk: meu sipade hana cre!
Ada
pemandangan lazim di jalan, di mana anak-anak muda yang
berpasang-pasang naik kendaraan, itu akan memeluk erat
pasangannya. Itu bukan hanya pasangan yang sudah menikah,
yang belum menikah pun sangat banyak. Makanya
orang-orang yang lihat, mengatakan, tak ada ruang sebiji
padi pun antara tempat duduk lelaki dan perempuan.
Nah, ini
bukan cerita tentang krap atau rapat, yang
bisa jadi bermakna dekat. Tulisan ini ingin melihat
sebuah musyawarah, sebuah rapat yang berlangsung di
sebuah tempat. Waktu menandatangani absen, saya sempat
melihat siapa saja yang mengikutinya. Ternyata,
kebanyakan adalah orang-orang yang bergelar.
Dalam
musyawarah itu, yang terjadi adalah saling berbicara.
Jadi siapa saja tak ada yang larang untuk mengatakan
sesuatu, terutama kepada orang-orang yang di sampingnya.
Tujuan
musyawarah itu untuk membahas berbagai persoalan di
antara mereka. Sebagai pembahasan, tentu ada yang
memberi pendapat, ada yang mengoreksi, dan ada yang
menerima saja tanpa memberi komentar apa-apa. Namun
sebuah musyawarah, di mana pun, selalu menuntut untuk
tidak ada rapat dalam rapat.
Yang
terjadi di sana, walau diikuti oleh orang-orang bergelar,
ternyata banyak rapat dalam rapat. Sehingga yang terjadi
bukan pembahasan, tapi adanya banyak pembicaraan.
Bukankah
ini menjadi lucu?
Rapat di
bale bineh blang saja untuk membahas rencana
khanduri blang, tidak pernah berlangsung seperti
itu. Padahal peserta rapat adalah orang-orang
gampong. Seharusnya, dalam rapat yang dihadiri oleh
orang-orang bergelar, bisa berlangsung lebih cemerlang
lagi.
Rupanya
rapat yang bagus tak selalu dijamin oleh pesertanya yang
bergelar. Dawa bisa terjadi di komunitas apa
saja. Dalam dawa, menjadi tidak jelas siapa yang
dipimpin dan siapa yang memimpin. Dalam suasana seperti
itu, sangat rentan untuk terjadi saling sak-meusak
tubee.
Sesekali,
bagi Anda yang belum pernah melihat gilingan air tebu,
lihatlah bagaimana tebu yang satu selalu berhimpit
dengan tebu yang lain. Jangan pernah bermimpi akan
mendapat satu jenis air tebu bila konsepnya seperti itu.
Orang gampong pun akan arif, untuk memberi
kesempatan untuk orang lain bila ingin menikmati air
tebu kepunyaan diri.
Dalam rapat
juga begitu. Ada pemberian ruang berupa kesempatan untuk
orang lain, akan melahirkan kesempatan untuk diri
sendiri.
Pimpinan
rapat harus mengerti hal itu, kalau tidak, janganlah
memimpin rapat. Dalam rapat yang saya ikuti, pimpinan
rapat justru tidak mengerti suasana. Maka ada banyak
rapat dalam rapat.
Suasana
juga lambat laun menjadi berbeda. Kursi yang tersedia di
dalam ruangan awalnya terisi penuh. Namun tak berapa
lama, hilang satu persatu. Kursi jadi kosong. Hanya
tinggal beberapa orang saja.
Bayangkan
bila rapat orang-orang yang bergelar saja seperti itu![ST]