HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 030707|
RASA
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

TERNYATA, di segala sudut gampong tersedia fenomena-fenomena untuk seseorang bisa mengenal cinta dengan lebih mendalam. Fenomena-fenomena ini, bisa saja berbeda dengan apresiasi orang kebanyakan, sebagaimana yang terlihat di televisi yang ditonton tiap waktu.

Tapi sebuah tontonan, pada akhirnya bisa merubah pandangan banyak orang dari yang ditonton. Dari yang semula pandangan, lambat-laun bisa menjadi perilaku. Semakin sering perilaku tertentu dilakukan, orang-orang akan melakukannya secara lebih luas, terus menjadi sebuah kelaziman.

Ketika suatu perilaku sudah menjadi kelaziman, terlepas benar atau tidak benar, bagus atau tidak bagus, tepat atau tidak tidak tepat, maka menjadi aneh bila itu tidak diikuti.

Salah satu contoh yang bisa dilihat, adalah pandangan banyak orang tentang cinta. Bahwa cinta, seolah-olah hanya tersedia satu saluran saja: orang-orang yang mencintai pasangannya yang lawan jenis. Orang-orang yang memiliki cinta, digambarkan dari orang-orang yang memiliki pasangannya.

Bagaimana mekarnya sebuah cinta, juga akan mengikuti kapling seperti itu. Jangan heran bila dari televisi ketika menyiarkan diskusi orang-orang yang bercinta, masalah yang sering diangkat seputar berapa kali sudah memeluk pasangan, memberi ciuman, dan sebagainya.

Dalam masyarakat yang sudah terlalu maju, remaja-remaja yang bercinta sudah tidak bermasalah lagi ketika mencium pasangannya di depan orang lain. Perilaku ini adalah perilaku yang dibudayakan sehingga menjadi kelaziman. Maka ketika seorang tidak mencium pasangannya, sering dianggap tidak memiliki rasa cinta.

Pandangan seperti ini, sudah diketahui oleh orang-orang gampong. Wajar, mata tak pernah lekang dari televisi, sehingga tayangan menjadi alat ukur baru tentang masalah benar atau tidak benar, bagus atau tidak bagus, tepat atau tidak tepat. Tayangan sangat cepat menyebar, untuk kemudian bisa jadi menjadi gejala baru dalam sebuah masyarakat dan bila orang dominan tidak mengikuti yang sudah lazim itu, maka itu dianggap sebagai keanehan.

Cinta dalam bentuk lain terlihat lewat berbagai tayangan televisi. Tayangan kekerasan di televisi, telah menyebabkan korban orang-orang yang menontonnya untuk meniru berbagai gaya di televisi. Orang-orang yang sedang belajar tentang segala kemiringan, juga akan terbantu dengan berbagai tayangan yang miring dari sebuah televisi.

Semua sepakat bahwa pendekatan kekerasan adalah menunda permasalahan, ketimbang menyelesaikan segala permasalahan secara tuntas. Tapi bukankah ketika suatu permasalahan sudah (dianggap) menjadi kelaziman, maka akan aneh bila orang tidak mengikutinya.

Anak-anak gampong adalah anak-anak yang aneh bila pada hari-hari besar, mereka tidak memiliki mainan senjata. Anak-anak yang suka tayangan Smackdown akan mencoba jurus-jurusnya, bila tidak sanggup untuk teman-temannya, maka itu akan dipraktekkan untuk adik-adiknya.

Apa yang terjadi pada remaja kita? Adalah tentang bagaimana berhasil menumpahkan perasaan untuk orang-orang yang dicintainya (pasangan). Beginilah cinta yang dikenal dan menjadi dominan. Padahal, cinta tidak sesempit itu.

Suatu kali, orang gampong bercerita bagaimana cintanya kepada anaknya, yang tidak semua anak akan membalasnya dengan sepenuh kasih. Ini seperti seekor hewan yang menjilat-jilat anaknya, tapi cukup sering, anaknya ketika besar akan menanduknya dari belakang.

Leumo akan mengejar manusia bila mengganggu anaknya, apalagi leumo kupong yang dikenal bengis. Ayam juga akan melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya yang burik.

Orang yang tersadar makna cinta, juga akan melihat bagaimana makhluk bertingkah polah. Dari hewan sekalipun.[ST]