TERNYATA,
di segala sudut gampong tersedia
fenomena-fenomena untuk seseorang bisa mengenal cinta
dengan lebih mendalam. Fenomena-fenomena ini, bisa saja
berbeda dengan apresiasi orang kebanyakan, sebagaimana
yang terlihat di televisi yang ditonton tiap waktu.
Tapi sebuah
tontonan, pada akhirnya bisa merubah pandangan banyak
orang dari yang ditonton. Dari yang semula pandangan,
lambat-laun bisa menjadi perilaku. Semakin sering
perilaku tertentu dilakukan, orang-orang akan
melakukannya secara lebih luas, terus menjadi sebuah
kelaziman.
Ketika
suatu perilaku sudah menjadi kelaziman, terlepas benar
atau tidak benar, bagus atau tidak bagus, tepat atau
tidak tidak tepat, maka menjadi aneh bila itu tidak
diikuti.
Salah satu
contoh yang bisa dilihat, adalah pandangan banyak orang
tentang cinta. Bahwa cinta, seolah-olah hanya tersedia
satu saluran saja: orang-orang yang mencintai
pasangannya yang lawan jenis. Orang-orang yang memiliki
cinta, digambarkan dari orang-orang yang memiliki
pasangannya.
Bagaimana
mekarnya sebuah cinta, juga akan mengikuti kapling
seperti itu. Jangan heran bila dari televisi ketika
menyiarkan diskusi orang-orang yang bercinta, masalah
yang sering diangkat seputar berapa kali sudah memeluk
pasangan, memberi ciuman, dan sebagainya.
Dalam
masyarakat yang sudah terlalu maju, remaja-remaja yang
bercinta sudah tidak bermasalah lagi ketika mencium
pasangannya di depan orang lain. Perilaku ini adalah
perilaku yang dibudayakan sehingga menjadi kelaziman.
Maka ketika seorang tidak mencium pasangannya, sering
dianggap tidak memiliki rasa cinta.
Pandangan
seperti ini, sudah diketahui oleh orang-orang
gampong. Wajar, mata tak pernah lekang dari
televisi, sehingga tayangan menjadi alat ukur baru
tentang masalah benar atau tidak benar, bagus atau tidak
bagus, tepat atau tidak tepat. Tayangan sangat cepat
menyebar, untuk kemudian bisa jadi menjadi gejala baru
dalam sebuah masyarakat dan bila orang dominan tidak
mengikuti yang sudah lazim itu, maka itu dianggap
sebagai keanehan.
Cinta dalam
bentuk lain terlihat lewat berbagai tayangan televisi.
Tayangan kekerasan di televisi, telah menyebabkan korban
orang-orang yang menontonnya untuk meniru berbagai gaya
di televisi. Orang-orang yang sedang belajar tentang
segala kemiringan, juga akan terbantu dengan berbagai
tayangan yang miring dari sebuah televisi.
Semua
sepakat bahwa pendekatan kekerasan adalah menunda
permasalahan, ketimbang menyelesaikan segala
permasalahan secara tuntas. Tapi bukankah ketika suatu
permasalahan sudah (dianggap) menjadi kelaziman, maka
akan aneh bila orang tidak mengikutinya.
Anak-anak
gampong adalah anak-anak yang aneh bila pada
hari-hari besar, mereka tidak memiliki mainan senjata.
Anak-anak yang suka tayangan Smackdown akan
mencoba jurus-jurusnya, bila tidak sanggup untuk
teman-temannya, maka itu akan dipraktekkan untuk
adik-adiknya.
Apa yang
terjadi pada remaja kita? Adalah tentang bagaimana
berhasil menumpahkan perasaan untuk orang-orang yang
dicintainya (pasangan). Beginilah cinta yang dikenal dan
menjadi dominan. Padahal, cinta tidak sesempit itu.
Suatu kali,
orang gampong bercerita bagaimana cintanya kepada
anaknya, yang tidak semua anak akan membalasnya dengan
sepenuh kasih. Ini seperti seekor hewan yang
menjilat-jilat anaknya, tapi cukup sering, anaknya
ketika besar akan menanduknya dari belakang.
Leumo
akan mengejar manusia bila mengganggu anaknya, apalagi
leumo kupong yang dikenal bengis. Ayam juga akan
melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya yang burik.
Orang yang
tersadar makna cinta, juga akan melihat bagaimana
makhluk bertingkah polah. Dari hewan sekalipun.[ST]