HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 090707|
REFLEKSI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

HAJI, tepatnya, menunaikan haji ke Baitullah, adalah salah satu rukun Islam yang lima itu. Pertama, ada yang namanya syahadat, pengakuan, seseorang yang Muslim meyakini dengan hati dan merefleksikan dalam perilaku, bahwa “tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah.”

Seseorang yang sudah meyakini Allah sebagai Tuhan, makanya tidak ada kekuasaan lain yang sama dengan Tuhan. Tidak ada yang menyerahkan kuasa kepada sesuatu yang lain. Orang-orang yang percaya kepada kekuasaan lain, selain kekuasaan Tuhan, maka sesungguhnya, orang itu adalah seperti belum bersyahadat.

Muhammad adalah seorang tokoh idola, contoh teladan, orang yang paling berpengaruh. Sebagaimana, Michael Hart (1985), dalam bukunya, menempatkan Muhammad dalam tokoh pertama dalam seratus tokoh dunia paling berpengaruh.

Nah, apa yang terlihat sekarang ini, ketika ada orang lebih memandang tokoh-tokoh yang tidak jelas sebagai idola. Dalam perjalanan zaman, kita melihat banyak hal yang tidak masuk akal.

Kedua, menunaikan shalat. Selain yang wajib lima waktu, masih ada shalat sunat yang berbagai macam. Dalam agama, kita sebenarnya dibentangkan berbagai jalan kebaikan, walau sepanjang zaman, banyak orang yang tidak mengambil jalan-jalan kebaikan itu.

Shalat, menjadi salah satu ruang khusus ketika seorang manusia ingin menatapi kekuasaan yang sebenarnya, Yang Maha Besar. Namun orang-orang kerap tidak mempersoalkan bagaimana penampilan di waktu shalat, ketepatan waktunya, dan sebagainya, mungkin seperti yang dilakukan ketika berhadapan dengan orang-orang besar.

Ketiga, menunaikan zakat. Bahwa dalam diri kita dan harta yang dimiliki, ada sebagian hak orang lain yang membutuhkan. Dalam hidup, kita selalu diingatkan bahwa ada orang lain yang berkekurangan di sekeliling kita. Masalahnya, sejauhmana kita bisa menangkap itu.

Ketika banyak persoalan tentang kemiskinan, di gampong kita, banyak orang yang mendapatkan harta yang melimpah. Bahkan cukup sering, kita lihat ada orang-orang yang bisa tersenyum lepas di sekeliling orang-orang yang tidak cukup makan.

Keempat, berpuasa. Dalam ilmu kesehatan, ini dapat menjadi semacam obat. Puasa menjadi cermin bagaimana sangat konteks sebuah pesan agama: makanlah sebelum lapar, hentikanlah (makan) sebelum kenyang.

Apa yang kita lihat, ketika banyak makanan kita lihat berserak di tempat-tempat sampah?. Orang-orang yang kenyang juga memiliki nafsu makan seperti orang yang tidak pernah melihat makanan. Di tempat-tempat makan, saksikanlah betapa banyak makanan yang mubazir.

Kelima, haji. Khusus bagi orang-orang yang berada. Tapi selalu ada peringatan dari awal, bahwa menyelesaikan kemiskinan di dalam diri dan keluarga kita justru lebih utama dari perjalanan haji ke Mekkah-Madinah.

Kita diingatkan bahwa mengumpulkan uang untuk berhaji, sementara di sekeliling kita banyak orang yang melarat, itu sebentuk ketidaktuntasan dari ibadah. Maka baiknya menyelesaikan dulu kemiskinan di sekeliling kita. Konon lagi kalau berhaji dengan uang yang bersumber dari utang.

Tapi siapa yang peduli, saat dunia sedang cenderung berbagai macam haji. Orang-orang yang akan dicalonkan untuk memimpin gampong pun, dari bisik-bisik, juga sudah mempertanyakan haji.

Dalam konteks ini, berkaitan dengan adanya gelar H sebelum namanya.(ST)