HAJI,
tepatnya, menunaikan haji ke Baitullah, adalah
salah satu rukun Islam yang lima itu. Pertama,
ada yang namanya syahadat, pengakuan, seseorang
yang Muslim meyakini dengan hati dan merefleksikan dalam
perilaku, bahwa “tiada Tuhan selain Allah, Muhammad
adalah Rasul Allah.”
Seseorang
yang sudah meyakini Allah sebagai Tuhan, makanya tidak
ada kekuasaan lain yang sama dengan Tuhan. Tidak ada
yang menyerahkan kuasa kepada sesuatu yang lain.
Orang-orang yang percaya kepada kekuasaan lain, selain
kekuasaan Tuhan, maka sesungguhnya, orang itu adalah
seperti belum bersyahadat.
Muhammad
adalah seorang tokoh idola, contoh teladan, orang yang
paling berpengaruh. Sebagaimana, Michael Hart (1985),
dalam bukunya, menempatkan Muhammad dalam tokoh pertama
dalam seratus tokoh dunia paling berpengaruh.
Nah, apa
yang terlihat sekarang ini, ketika ada orang lebih
memandang tokoh-tokoh yang tidak jelas sebagai idola.
Dalam perjalanan zaman, kita melihat banyak hal yang
tidak masuk akal.
Kedua,
menunaikan shalat. Selain yang wajib lima waktu, masih
ada shalat sunat yang berbagai macam. Dalam agama, kita
sebenarnya dibentangkan berbagai jalan kebaikan, walau
sepanjang zaman, banyak orang yang tidak mengambil
jalan-jalan kebaikan itu.
Shalat,
menjadi salah satu ruang khusus ketika seorang manusia
ingin menatapi kekuasaan yang sebenarnya, Yang Maha
Besar. Namun orang-orang kerap tidak mempersoalkan
bagaimana penampilan di waktu shalat, ketepatan waktunya,
dan sebagainya, mungkin seperti yang dilakukan ketika
berhadapan dengan orang-orang besar.
Ketiga,
menunaikan zakat. Bahwa dalam diri kita dan harta yang
dimiliki, ada sebagian hak orang lain yang membutuhkan.
Dalam hidup, kita selalu diingatkan bahwa ada orang lain
yang berkekurangan di sekeliling kita. Masalahnya,
sejauhmana kita bisa menangkap itu.
Ketika
banyak persoalan tentang kemiskinan, di gampong
kita, banyak orang yang mendapatkan harta yang melimpah.
Bahkan cukup sering, kita lihat ada orang-orang yang
bisa tersenyum lepas di sekeliling orang-orang yang
tidak cukup makan.
Keempat,
berpuasa. Dalam ilmu kesehatan, ini dapat menjadi
semacam obat. Puasa menjadi cermin bagaimana sangat
konteks sebuah pesan agama: makanlah sebelum lapar,
hentikanlah (makan) sebelum kenyang.
Apa yang
kita lihat, ketika banyak makanan kita lihat berserak di
tempat-tempat sampah?. Orang-orang yang kenyang juga
memiliki nafsu makan seperti orang yang tidak pernah
melihat makanan. Di tempat-tempat makan, saksikanlah
betapa banyak makanan yang mubazir.
Kelima,
haji. Khusus bagi orang-orang yang berada. Tapi selalu
ada peringatan dari awal, bahwa menyelesaikan kemiskinan
di dalam diri dan keluarga kita justru lebih utama dari
perjalanan haji ke Mekkah-Madinah.
Kita
diingatkan bahwa mengumpulkan uang untuk berhaji,
sementara di sekeliling kita banyak orang yang melarat,
itu sebentuk ketidaktuntasan dari ibadah. Maka baiknya
menyelesaikan dulu kemiskinan di sekeliling kita. Konon
lagi kalau berhaji dengan uang yang bersumber dari utang.
Tapi siapa yang peduli, saat dunia sedang cenderung
berbagai macam haji. Orang-orang yang akan dicalonkan
untuk memimpin gampong pun, dari bisik-bisik,
juga sudah mempertanyakan haji.
Dalam konteks ini, berkaitan dengan adanya gelar H
sebelum namanya.(ST)