RUMAH
tua itu sudah lama dijual. Pemilik yayasan
pendidikan di Lueng Putu membelinya dengan harga tinggi.
Entah berapa Rupiah pada tahun 1985. Padahal rumah itu
dikepung banyak kenangan. Orang-orang asing selalu
datang ke sini, karena rumah itu sangat mencerminkan
rumah orang di kampung.
Saat
pembuatan Film Cut Nya’ Dhien pun, rumah ini jadi salah
satu lokasi syutingnya. Saat itu, Bupati Pidie masih
dijabat oleh Nurdin Abdurrahman, dan ia jadi salah satu
panglima prang dalam film itu. Di sinilah,
pengambilan gambar rumah asli itu bermula.
Orang-orang
di kampung juga terlibat jadi pasukan, malam pembuatan
film. Mereka bangga sekali. Mereka juga memegang
senjata, mungkin sengaja dibuat seperti asli. Seperti
masa Belanda. Saat-saat pembuatan film, rumah ini
seperti mendapatkan suasana aslinya.
Namanya
Lampoih Kuta. Orang-orang di Panteraja sangat dekat
dengan nama itu. Pemiliknya sudah lama berdiam di
kuta. Mereka semua memilih berkehidupan di sana.
Karena sudah tidak ada yang menghuni, diputuskan rumah
itu dijual. Hanya rumah. Sedangkan tanahnya masih tetap
ada. Sementara di tanah itu dibangun rumah baru, dengan
warna kuta, bukan gampong.
Padahal,
orang-orang kampung ingin mempertahankan agar tetap ada
sampai tua. Tapi mau bilang apa, tidak ada orang-orang
gampong yang bisa menjamin untuk merawatnya
dengan benar. Mungkin kalau ada yang merawatnya,
pemiliknya pun tidak akan menjual.
Rumah,
kalau tidak dirawat, sangat cepat rusak. Rumah, semakin
berisi, sebenarnya semakin memperkokoh. Sama seperti
manusia yang (seyogianya) semakin matang di usia tua.
Itulah
orang-orang gampong. Masyarakat kampung memiliki
banyak kenangan di rumah itu. Ketika keluarga pemilik
rumah pulang ke kampung sesekali, semua orang Panteraja
akan datang ke sana. Diundang atau tidak. Rumah itu
bahkan seperti milik orang kampung. Dan mereka juga
ingin berbagi kenangan bila semua bertemu.
Bila lampu
depan hidup, selalu menjadi penanda bahwa ada orang di
sana. Maka orang-orang akan mendekat dan berbagi cerita.
Rumah tua
itu, adalah rumah Aceh yang kini sangat jarang terlihat
di kampung-kampung. Semua orang sudah membuat rumah
permanen. Rumoh batee. Itu seperti menjadi cermin
bagi maksud yang lain.
Orang-orang
yang ingin melihat rumah Aceh, akan datang ke beberapa
lokasi tertentu. Hanya beberapa tempat. Bahkan bila
pergi ke Banda Aceh, banyak orang yang sudah tidak tahu
lagi akan membawa ke mana familinya yang datang dari
kota bila ingin melihat rumah Aceh.
Hanya ada
satu tempat di pinggiran kota. Rumah yang dulu dihuni
Cut Nya’ Dhien. Kini, dikelola seperti diurus mesium
karena memang kelangkaannya yang sudah menonjol.
Bayangkan, rumah juga akan menjadi barang langka karena
kecenderungan orang-orang yang tidak lagi membuat rumah
seperti itu.
Jadi untuk
melihat rumah Aceh, orang-orang luar akan dibawa ke sana.
Tidak ada lagi di semua tempat seperti dulu. Di
kampung-kampung pun sudah jarang. Hanya tinggal
satu-dua.
Di Lueng
Putu sendiri, tiang rumah itu sudah dipotong. Tinggi
rumah itu sudah berbeda dengan rumah asli. Kesannya,
sudah pudoi. Tapi pilihan itu memang wajar karena
itu lembaga pendidikan dan banyak anak-anak yang akan
menggunakan bangunan itu.
Yang
langka, pada akhirnya menjadi menarik. Entah sampai
kapan!(ST)