HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 160707|
RUMAH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

RUMAH tua itu sudah lama dijual. Pemilik yayasan pendidikan di Lueng Putu membelinya dengan harga tinggi. Entah berapa Rupiah pada tahun 1985. Padahal rumah itu dikepung banyak kenangan. Orang-orang asing selalu datang ke sini, karena rumah itu sangat mencerminkan rumah orang di kampung.

Saat pembuatan Film Cut Nya’ Dhien pun, rumah ini jadi salah satu lokasi syutingnya. Saat itu, Bupati Pidie masih dijabat oleh Nurdin Abdurrahman, dan ia jadi salah satu panglima prang dalam film itu. Di sinilah, pengambilan gambar rumah asli itu bermula.

Orang-orang di kampung juga terlibat jadi pasukan, malam pembuatan film. Mereka bangga sekali. Mereka juga memegang senjata, mungkin sengaja dibuat seperti asli. Seperti masa Belanda. Saat-saat pembuatan film, rumah ini seperti mendapatkan suasana aslinya.

Namanya Lampoih Kuta. Orang-orang di Panteraja sangat dekat dengan nama itu. Pemiliknya sudah lama berdiam di kuta. Mereka semua memilih berkehidupan di sana. Karena sudah tidak ada yang menghuni, diputuskan rumah itu dijual. Hanya rumah. Sedangkan tanahnya masih tetap ada. Sementara di tanah itu dibangun rumah baru, dengan warna kuta, bukan gampong.

Padahal, orang-orang kampung ingin mempertahankan agar tetap ada sampai tua. Tapi mau bilang apa, tidak ada orang-orang gampong yang bisa menjamin untuk merawatnya dengan benar. Mungkin kalau ada yang merawatnya, pemiliknya pun tidak akan menjual.

Rumah, kalau tidak dirawat, sangat cepat rusak. Rumah, semakin berisi, sebenarnya semakin memperkokoh. Sama seperti manusia yang (seyogianya) semakin matang di usia tua.

Itulah orang-orang gampong. Masyarakat kampung memiliki banyak kenangan di rumah itu. Ketika keluarga pemilik rumah pulang ke kampung sesekali, semua orang Panteraja akan datang ke sana. Diundang atau tidak. Rumah itu bahkan seperti milik orang kampung. Dan mereka juga ingin berbagi kenangan bila semua bertemu.

Bila lampu depan hidup, selalu menjadi penanda bahwa ada orang di sana. Maka orang-orang akan mendekat dan berbagi cerita.

Rumah tua itu, adalah rumah Aceh yang kini sangat jarang terlihat di kampung-kampung. Semua orang sudah membuat rumah permanen. Rumoh batee. Itu seperti menjadi cermin bagi maksud yang lain.

Orang-orang yang ingin melihat rumah Aceh, akan datang ke beberapa lokasi tertentu. Hanya beberapa tempat. Bahkan bila pergi ke Banda Aceh, banyak orang yang sudah tidak tahu lagi akan membawa ke mana familinya yang datang dari kota bila ingin melihat rumah Aceh.

Hanya ada satu tempat di pinggiran kota. Rumah yang dulu dihuni Cut Nya’ Dhien. Kini, dikelola seperti diurus mesium karena memang kelangkaannya yang sudah menonjol. Bayangkan, rumah juga akan menjadi barang langka karena kecenderungan orang-orang yang tidak lagi membuat rumah seperti itu.

Jadi untuk melihat rumah Aceh, orang-orang luar akan dibawa ke sana. Tidak ada lagi di semua tempat seperti dulu. Di kampung-kampung pun sudah jarang. Hanya tinggal satu-dua.

Di Lueng Putu sendiri, tiang rumah itu sudah dipotong. Tinggi rumah itu sudah berbeda dengan rumah asli. Kesannya, sudah pudoi. Tapi pilihan itu memang wajar karena itu lembaga pendidikan dan banyak anak-anak yang akan menggunakan bangunan itu.

Yang langka, pada akhirnya menjadi menarik. Entah sampai kapan!(ST)