HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 210407|
RUMAN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

RUMAN, sebuah kata untuk menggambarkan wajah. Itu makna teks. Orang yang manis, akan dikatakan sebagai mameh ruman. Dalam kehidupan sosial di gampong, ruman sangat penting untuk memperlihatkan tanda. Bila ada sesuatu yang pahit, diperlihatkan lewat wajah yang kerut. Kroet ruman. Secara kasar disebutkan sebagai jumoh phet.

Menjadi berbeda bila ada yang menyebut benci ruman. Kalau dalam masyarakat intelektual, bila seseorang sudah dihinggapi dengan benci ruman, maka itu akan ditunjukkan lewat berbantah-bantahan dalam hal apa saja. Yang penting bantah. Tepat atau tidak, masuk akal atau tidak, sama sekali tak penting.

Ini terjadi karena seseorang sudah terlanjur benci ruman. Maka soal benar tidak itu tak penting. Yang jelas, selalu menghantam.

Benci ruman berpotensi untuk seterusnya terjadi pembunuhan karakter orang lain. Orang yang berdiri gagah memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, bisa saja dikatakan sebagai oportunis, bila sudah terlanjur di benci ruman.

Suasana benci ruman itu, sangat kentara terlihat dalam pelaksanaan syariat Islam di tempat kita. Kenyataan benci ruman, lalu dibungkus dengan menggandeng isu-isu tertentu yang secara global sedang berusaha dikembangkan. Pendomplengan lsu lain seperti sebuah trend, agar upaya yang sebenarnya melawan syariat Islam menjadi samar-samar.

Orang Aceh membutuhkan syariat Islam. Namun ada beberapa bagian yang perlu mendapat perhatian dan itu perlu diperbaiki. Tapi dalam kenyataan benci ruman, dikatakan menolak syariat Islam dan dikatakan orang Aceh tak butuh syariat Islam.

Secara global, suasana benci ruman juga terjadi terhadap orang-orang berjanggut, orang-orang bercadar, berjilbab, berbaju panjang. Banyak negara yang mengklaim dirinya beradab, ternyata melarang perempuan berjilbab dan menutup dirinya dengan layak. Orang-orang yang mengklaim beradab, juga sangat gelisah dengan orang-orang yang memelihara janggutnya.

Benci rumanlah yang menyebabkan Islam terlanjur dikaitkan dengan kenyataan terorisme. Ada beberapa kelompok Islam konservatif, lalu dikatakan sebagai Islam. Berapa banyak kelompok lain yang konservatif, karena itu tidak benci ruman, maka jarang disorot. Padahal gerakan konservatif tak hanya ada dalam agama Islam.

Belum lagi beberapa negara yang menggunakan hukum Islam, secara global selalui dicurigai. Masih lumayan kalau tak selalu dikat-kaitkan dengan keberadaan terorisme. Itu turut dikampanyekan secara meluas.

Seorang yang benci ruman kepada tetangganya, maka orang itu tak akan pernah berhenti membicarakan yang buruk-buruk dari tetangganya itu. Tak pernah benar apa yang dilakukan tetangga. Benci ruman telah menyebabkan mata menjadi buta untuk melihat kebaikan-kebaikan yang dilakukan.

Benci ruman, di masa-masa mendatang, sepertinya makin kental. Tak hanya di tingkat kawasan. Tapi juga di tingkat global.[ST]