HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 230407|
SEBAB
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SEJAK abad ke-16, para pemikir sudah mulai memaparkan banyak hal tentang sebab-sebab perubahan sosial. Sambung-menyambung dari satu pemikir ke pemikir lain sesudahnya. Ada yang menerima dan ada yang membantah. Namun perlu dicatat, ihwal semacam ini sudah lama dimulai.

Antar elemen seperti melakukan tarik-menarik. Para ahli sosial dengan gagah mengatakan beberapa hal yang menyebabkan perubahan sosial, seperti pertambahan atau berkurangnya penduduk, penemuan baru, konflik dalam masyarakat, atau revolusi. Di luar diri manusia, ada beberapa sebab seperti bencana alam, peperangan, dan pengaruh budaya asing.

Dalam kapling ekonomi, ada istilah, ada gula ada semut. Sumber pendapatan diciptakan untuk mengundang hadirnya banyak orang; menetap, beranak-pinak, dan mendapatkan pendapatan yang tinggi.

Di luar masalah pertambahan penduduk karena terbukanya sumber-sumber pendapatan baru, timbullah persaingan antar satu sama lain. Ada yang terpakai dan ada yang tersisih. Sebagian orang yang tersisih, dominannya adalah orang yang berkemampuan kurang atau pas-pasan. Ketika tuntutan hidup mengharapkan lebih, terjadilah banyak hal yang tidak diharapkan.

Banyak orang berlomba-lomba menggapai lokasi yang memiliki peluang kerja besar. Untuk menuju ke sana akan digunakan dengan berbagai cara. Tak jarang, orang yang datang ke sebuah kawasan dengan modal beberapa kali makan dan sangat berharap sumber pendapatan akan didapat dengan segera. Namun apa yang terjadi ketika tempat kerja semua menolak, lalu menahan lapar di kawasan yang alamnya tidak dikenal.

Rumah-rumah di tanah lapang juga makin meningkat. Padahal ketika datang berharap banyak hal akan didapat di sana .

Orang-orang gampong mulai tergiur ketika membaca berita di kuta sudah banyak gula-gula. Banyak orang yang rela meninggalkan kawasannya dengan berbagai kekayaan yang dimiliki. Tapi ketika harapan tinggal harapan, orientasi hidup sangat berpotensi untuk berubah.

Ada hukum sebab-akibat. Kata orang-orang, untuk memiliki pendapatan mau melakukan apa saja, kerja apa saja. Hidup terus bergeser dan pertimbangan baik-buruk mengikuti jalannya kehidupan yang semakin hari ternyata semakin menghadirkan banyak godaan.

Seperti kata ahli sosial, ada sebab, kalau tidak sungguh tak mungkin perubahan datang sebagai akibat. Tsunami datang, pekerja mempunyai peluang. Tuntutan-tuntutan menyebabkan banyak kondisi keseharian yang harus berubah. Nilai uang semakin kecil, pendapatan besar, otomatis, harga barang juga semakin meningkat.

Bagi sebagian orang sudah semakin mudah untuk mendapatkan uang –mungkin setara dengan begitu mudah uang itu dihabiskan. Tapi coba kita bayangkan orang yang sangat susah untuk mendapatkan uang –sebagaimana begitu susahnya ia harus mengeluarkannya untuk segala kebutuhan yang terus menumpuk.

Di gampong kita, orang sudah menggunakan uang gila-gilaan, hingga yang tidak mampu akan memiliki dua peluang saja: bertahan dengan ketidakcukupan atau menghindar untuk menyetujui bentuk-bentuk perubahan baru.[ST]