SEJAK abad ke-16, para pemikir sudah
mulai memaparkan banyak hal tentang sebab-sebab
perubahan sosial. Sambung-menyambung dari satu pemikir
ke pemikir lain sesudahnya. Ada yang menerima dan ada
yang membantah. Namun perlu dicatat, ihwal semacam ini
sudah lama dimulai.
Antar elemen seperti melakukan
tarik-menarik. Para ahli sosial dengan gagah mengatakan
beberapa hal yang menyebabkan perubahan sosial, seperti
pertambahan atau berkurangnya penduduk, penemuan baru,
konflik dalam masyarakat, atau revolusi. Di luar diri
manusia, ada beberapa sebab seperti bencana alam,
peperangan, dan pengaruh budaya asing.
Dalam kapling ekonomi, ada istilah,
ada gula ada semut. Sumber pendapatan diciptakan untuk
mengundang hadirnya banyak orang; menetap, beranak-pinak,
dan mendapatkan pendapatan yang tinggi.
Di luar masalah pertambahan penduduk
karena terbukanya sumber-sumber pendapatan baru,
timbullah persaingan antar satu sama lain. Ada yang
terpakai dan ada yang tersisih. Sebagian orang yang
tersisih, dominannya adalah orang yang berkemampuan
kurang atau pas-pasan. Ketika tuntutan hidup
mengharapkan lebih, terjadilah banyak hal yang tidak
diharapkan.
Banyak orang berlomba-lomba menggapai
lokasi yang memiliki peluang kerja besar. Untuk menuju
ke sana akan digunakan dengan berbagai cara. Tak jarang,
orang yang datang ke sebuah kawasan dengan modal
beberapa kali makan dan sangat berharap sumber
pendapatan akan didapat dengan
segera. Namun apa yang terjadi ketika tempat
kerja semua menolak, lalu menahan lapar di kawasan yang
alamnya tidak dikenal.
Rumah-rumah di tanah lapang juga
makin meningkat. Padahal ketika datang berharap banyak
hal akan didapat di sana .
Orang-orang gampong mulai
tergiur ketika membaca berita di
kuta
sudah banyak gula-gula. Banyak orang yang rela
meninggalkan kawasannya dengan berbagai kekayaan yang
dimiliki. Tapi ketika harapan tinggal harapan, orientasi
hidup sangat berpotensi untuk berubah.
Ada hukum sebab-akibat. Kata
orang-orang, untuk memiliki pendapatan mau melakukan apa
saja, kerja apa saja. Hidup terus bergeser dan
pertimbangan baik-buruk mengikuti jalannya kehidupan
yang semakin hari ternyata semakin menghadirkan banyak
godaan.
Seperti kata ahli sosial, ada sebab,
kalau tidak sungguh tak mungkin perubahan datang sebagai
akibat. Tsunami datang, pekerja mempunyai peluang.
Tuntutan-tuntutan menyebabkan banyak kondisi keseharian
yang harus berubah. Nilai uang semakin kecil, pendapatan
besar, otomatis, harga barang juga semakin meningkat.
Bagi sebagian orang sudah semakin
mudah untuk mendapatkan uang –mungkin setara dengan
begitu mudah uang itu dihabiskan. Tapi
coba kita bayangkan orang yang sangat susah untuk
mendapatkan uang –sebagaimana begitu susahnya ia harus
mengeluarkannya untuk segala kebutuhan yang terus
menumpuk.
Di gampong kita, orang sudah
menggunakan uang gila-gilaan, hingga yang tidak mampu
akan memiliki dua peluang saja: bertahan dengan
ketidakcukupan atau menghindar untuk menyetujui
bentuk-bentuk perubahan baru.[ST]