HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 120607|
Senam
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

AGI kawula muda, tiap hari ahad pagi sudah memiliki aktivitas baru. Berbondong-bondong ke sebuah lapangan untuk bersenam. Sebenarnya, senam itu diperuntukkan untuk orang-orang yang berjenis kelamin perempuan. Khusus perempuan. Tapi terlihat banyak lelaki yang mengikutinya.

Selidik punya selidik, ternyata perempuan banyak yang memakai pakaian senam yang superketat, dengan kaos yang serba tanggung. Hingga banyak anak muda yang tergiur untuk mengikutinya. Sengaja para pemuda tidak berbanja di barisan depan. Umumnya, mereka memilih barisan yang paling belakang.

Ketika mulai bersenam, banyak perempuan yang tersibak bagian belakangnya. Kata orang Aceh, peurincuennya kelihatan. Malah celana dalamnya pun kelihatan. Entah karena itu, banyak pemuda yang lebih memilih tempat di belakang ketimbang di depan.

Orang-orang yang ikut senam pun selalu bertambah dari Ahad ke Ahad. Lapangan yang dulunya terasa sangat lebar, kini penuh dengan lautan manusia yang bersenam. Kebanyakan adalah yang muda-muda.

Entah siapa yang memelopori, yang jelas, senam itu berlangsung seperti ada panitianya. Ada pengeras suara, ada pengatur musiknya, ada pengatur geraknya, dan ada pengatur barisannya.

Sebenarnya bukan pada senamnya, tapi pada keganjilannya. Senam, tentu sangat baik bagi kesehatan. Tapi kalau senam akan menganggu kesehatan yang lain, tentu juga tidak sehat hasilnya.

Seperti tak ada orang yang berusaha mengatur agar orang-orang yang ikut menjaga kesopanan. Kalaulah perempuan sudah suka memakai pakaian yang superketat dengan kaos tanggung, seyogianya ada orang yang mengatur agar pemuda tak mengambil posisi di barisan belakang.

Atau, kalau memang senam itu hanya untuk perempuan, sudah seharusnya ada yang memberi ketegasan: pemuda, siapapun dia, tidak boleh ikut, titik. Tapi nyatanya, tidak ada. Senam untuk pemudi, tapi pemuda ikut. Walaupun masih bisa dipertanyakan alasan para pemuda ikut senam-senam untuk pemudi itu.

Yang jelas, senam berjalan dengan semarak, bila diukur dengan jumlah orang yang datang selalu bertambah. Barangkali, para pemuda pun memberitahukan kepada teman-temannya yang lain, bahwa di sana ada senam untuk para pemudi, dan umumnya mereka memakai pakaian superketat dengan kaos tanggung.

Saya pernah ditanyakan oleh beberapa teman perempuan, tentang: apa yang salah dengan pakaian? Kalau pertanyaan hanya sebatas itu, barangkali ada energi untuk menjawab. Tapi ketika ada seorang teman akrab saya menanyakan: ada apa kalau perempuan ingin memperlihatkan keindahan tubuhnya? Nah, itu yang saya tidak bisa jawab apa-apa.

Para pemuda juga sudah cenderung memakai pakaian-pakaian tanggung. Banyak bulu tubuh mereka yang kelihatan. Mungkin saja, para pemuda ingin menampakkan keindahan tubuhnya juga.

Inilah yang terjadi di sebuah lapangan tempat bersenam. Barangkali ada orang-orang yang menanyakan hal yang seperti saya ungkapkan. Tentu, tanggapan orang-orang yang mendengar itu, pasti memiliki tanggapan yang berbagai-ragam.

Konon lagi orang-orang yang sudah menjadwalkan bersenam di lapangan itu tiap hari ahad pagi. Bukan di lapangan yang lain. Itu namanya, tidak sehat. Padahal senam adalah untuk kesehatan.

Maafkan bila ternyata mata saya salah melihat![ST]