ANYAK
negara yang sudah lama meninggalkan kemajuan senjata
untuk berperang secara konvensional. Perang dengan
berhadap-hadapan, sudah lama ditinggalkan, walau sampai
sekarang ada beberapa negara yang masih melakukannya,
termasuk negara beradab sekelas Amerika Serikat dan
sekutunya di negeri Iraq dan Afghanistan atas nama
terorisme. Beberapa kawasan Islam seperti Palestina,
juga masih berkecamuk perang.
Tapi secara
umum, banyak negara sudah mulai meninggalkan perang
konvensional. Ada perang baru yang ternyata lebih
dahsyat dan ini bisa masuk hingga ke pelosok gampong.
Perang baru itu, sama sekali tidak menggunakan senjata
semisal rudal, senjata M-16 atau Ak-47, meriam, dan
sebagainya.
Bagai ada
sebuah kesepakatan, banyak negara dijagad sudah
menghentikan perang konvensional yang menggunakan
senjata seperti itu. Perang dengan rudal, menggunakan
meriam, membawa bom, menumpahkan peluru lewat senapan,
sebagiannya sudah selesai. Perang model seperti itu
dianggap terlalu mudah terdeteksi.
Memasuki
abad ke-21, perang baru dimulai. Basisnya teknologi
informasi. Maka sejak perang dingin, persaingan antar
blok sudah termasuk perang model ini. runtuhnya Uni
Soviet kian melapangkan jalan bagi blok Amerika Serikat
dan sekutunya untuk menjadi satu-satunya kekuatan dan
“memproklamirkan” diri sebagai polisi dunia.
Amerika
seperti tak ada tanding. Peran perang teknologi
informasi ternyata begitu berpengaruh. Tak hanya bidang
politik, tapi juga budaya. Mulai dari ekonomi, sampai ke
pertahanan.
Perang baru
adalah perang kecerdasan yang tidak digunakan pada
tempatnya. Tak bisa dibayangkan bila tanpa pengetahuan,
bagaimana penjahat di dunia maya mendapat harta
berlipat-lipat dari pencurian uang di rekening-rekening
penyimpanan uang. Orang yang mencuri dengan membobol
kartu kredit. Sampai proses pencucian uang.
Itu menjadi
bentuk-bentuk kejahatan yang juga berwajah maya.
Wajahnya sulit dideteksi. Tapi tidak kurang
menggelisahkan.
Bayangkan
kalau sebuah website tiba-tiba dibobol dan diisi
dengan berbagai gambar hantu-blau. Para hacker
menjadi salah satu pihak dalam perang teknologi ini. Ini
juga sangat membahayakan, mungkin sama bahayanya dengan
bentuk perang secara konvensional.
Banyak
negara yang memandang penguasaan teknologi menjadi
ukuran dalam keberhasilan memenangkan perang abad ke-21.
Bila banyak negara lain yang tergantung gara-gara
penguasaan teknologi di suatu negara, maka negara yang
tinggi teknologi itu bisa menekan aspek-aspek tertentu
sesuai kehendaknya. Syukur bila ada negara baik yang mau
membantu tanpa pretensi apapun. Tapi masih adakah negara
yang seperti itu?
Kemajuan
teknologi lalu digambarkan dengan sejauhmana ketepatan
dan kecepatan sebuah informasi. Negara-negara yang nyata
berbuat salah semisal menyerang negara lain, bisa
menutupi kesalahannya dengan berbagai statement
di medianya. Nah, negara maju, memandang penguasaan
media juga menjadi cermin sejauhmana mereka akan menjadi
salah satu pemenang dalam pertarungan dunia yang
sepertinya semakin hebat di masa depan.
Menenangkan
dunia dengan sebuah statement, tentu sebagai
cermin dari sebuah kemenangan perang. Negara-negara
seperti itu, sama polanya dengan kehidupan beberapa
artis yang bermoral jelek, yang menggunakan media pada
saat mereka berbuat sedikit baik. Artis-artis yang
dikenal tidak santun sekalipun, tiba-tiba terlihat di
televisi seperti seorang penyejuk yang sedang
menceramahi umatnya.
Ini menjadi
contoh bagaimana kemenangan perang dalam bentuk baru di
abad ini, sama sekali tak lagi lewat sebentuk senjata
konvensional.[ST]