HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 040507|
Senjata(1)
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ANYAK negara yang sudah lama meninggalkan kemajuan senjata untuk berperang secara konvensional. Perang dengan berhadap-hadapan, sudah lama ditinggalkan, walau sampai sekarang ada beberapa negara yang masih melakukannya, termasuk negara beradab sekelas Amerika Serikat dan sekutunya di negeri Iraq dan Afghanistan atas nama terorisme. Beberapa kawasan Islam seperti Palestina, juga masih berkecamuk perang.

Tapi secara umum, banyak negara sudah mulai meninggalkan perang konvensional. Ada perang baru yang ternyata lebih dahsyat dan ini bisa masuk hingga ke pelosok gampong. Perang baru itu, sama sekali tidak menggunakan senjata semisal rudal, senjata M-16 atau Ak-47, meriam, dan sebagainya.

Bagai ada sebuah kesepakatan, banyak negara dijagad sudah menghentikan perang konvensional yang menggunakan senjata seperti itu. Perang dengan rudal, menggunakan meriam, membawa bom, menumpahkan peluru lewat senapan, sebagiannya sudah selesai. Perang model seperti itu dianggap terlalu mudah terdeteksi.

Memasuki abad ke-21, perang baru dimulai. Basisnya teknologi informasi. Maka sejak perang dingin, persaingan antar blok sudah termasuk perang model ini. runtuhnya Uni Soviet kian melapangkan jalan bagi blok Amerika Serikat dan sekutunya untuk menjadi satu-satunya kekuatan dan “memproklamirkan” diri sebagai polisi dunia.

Amerika seperti tak ada tanding. Peran perang teknologi informasi ternyata begitu berpengaruh. Tak hanya bidang politik, tapi juga budaya. Mulai dari ekonomi, sampai ke pertahanan.

Perang baru adalah perang kecerdasan yang tidak digunakan pada tempatnya. Tak bisa dibayangkan bila tanpa pengetahuan, bagaimana penjahat di dunia maya mendapat harta berlipat-lipat dari pencurian uang di rekening-rekening penyimpanan uang. Orang yang mencuri dengan membobol kartu kredit. Sampai proses pencucian uang.

Itu menjadi bentuk-bentuk kejahatan yang juga berwajah maya. Wajahnya sulit dideteksi. Tapi tidak kurang menggelisahkan.

Bayangkan kalau sebuah website tiba-tiba dibobol dan diisi dengan berbagai gambar hantu-blau. Para hacker menjadi salah satu pihak dalam perang teknologi ini. Ini juga sangat membahayakan, mungkin sama bahayanya dengan bentuk perang secara konvensional.

Banyak negara yang memandang penguasaan teknologi menjadi ukuran dalam keberhasilan memenangkan perang abad ke-21. Bila banyak negara lain yang tergantung gara-gara penguasaan teknologi di suatu negara, maka negara yang tinggi teknologi itu bisa menekan aspek-aspek tertentu sesuai kehendaknya. Syukur bila ada negara baik yang mau membantu tanpa pretensi apapun. Tapi masih adakah negara yang seperti itu?

Kemajuan teknologi lalu digambarkan dengan sejauhmana ketepatan dan kecepatan sebuah informasi. Negara-negara yang nyata berbuat salah semisal menyerang negara lain, bisa menutupi kesalahannya dengan berbagai statement di medianya. Nah, negara maju, memandang penguasaan media juga menjadi cermin sejauhmana mereka akan menjadi salah satu pemenang dalam pertarungan dunia yang sepertinya semakin hebat di masa depan.

Menenangkan dunia dengan sebuah statement, tentu sebagai cermin dari sebuah kemenangan perang. Negara-negara seperti itu, sama polanya dengan kehidupan beberapa artis yang bermoral jelek, yang menggunakan media pada saat mereka berbuat sedikit baik. Artis-artis yang dikenal tidak santun sekalipun, tiba-tiba terlihat di televisi seperti seorang penyejuk yang sedang menceramahi umatnya.

Ini menjadi contoh bagaimana kemenangan perang dalam bentuk baru di abad ini, sama sekali tak lagi lewat sebentuk senjata konvensional.[ST]