BAHASA,
disesuaikan menurut perkembangan zaman. Di gampong
kita dikenal adanya ungkapan kiasan. Itu sebagai
sebentuk penyesuaian. Orang yang mencuri, dikatakan
panyang jaroe. Banyak kiasan yang ada. Secara
logika, ungkapan kiasan mungkin akan dipergunakan untuk
menegur orang secara langsung, agar orang-orang tersebut
tidak menaruh dendam.
Para endatu telah
mengajukan banyak kesantunan. Itu yang dapat kita
tangkap. Namun dalam perkembangan, bolak-balik bahasa
menjadi pilihan. Ada pengamat yang bahkan berani
memprediksi, bahwa di tahun-tahun yang akan datang,
keahlian berbahasa menjadi penting di dalam kehidupan
yang carut-marut ini.
Lihatlah secara
global, bagaimana negara maju membuat tergantung
negara-negara tertinggal. Negara-negara tertinggal yang
miskin, umumnya memiliki sumberdaya alam yang melimpah.
Namun mereka tak punya kemampuan untuk melakukan
eksplorasi. Lalu diturun-tangankanlah para awak negara
maju, yang bila ditimbang-timbang, akhirnya lebih dari
setengah hasil alam menjadi milik negara pendatang.
Buya krueng teudong-dong, muruwa tamong meuraseuki.
Itulah yang kemudian terlihat. Apalagi banyak orang
lokal yang nyatanya jauh tertinggal dalam hal segala
kompetisi.
Ketertinggalan itu sangat masuk akal mengingat berbagai
faktor pendukung untuk menunjang pendidikan sangat
kurang di sana. Seorang anak kampung yang tak punya buku
pelajaran, lalu dikompetisikan dengan anak bukan kampung
yang tiap hari masuk-keluar laboratorium, otomatis kalah
dalam kompetisi fisika, dan sebagainya.
Bayangkan bila
dalam keterbatasan itu, masih ada orang-orang berotak
brilian, seperti kemampuannya Habibie pada waktu itu.
Ironisnya, ketika
satu-dua anak kampung yang pandai dan sekolah ke luar
negeri, ketika pulang ke kampungnya, lebih memilih
mengabdi ke negeri maju ketimbang membantu masyarakat di
kampung sendiri. Tak jarang, kemudian menjadi juru
kampanye bantuan dari negara-negara kaya kepada
negara-negara miskin. Padahal sebenarnya itu sebentuk
utang, tapi dikatakan bantuan, sebagiannya dengan
perantara rasionalisasi oleh para intelektual.
Barangkali, jumlah bunganya, dalam beberapa waktu, akan
sama dengan jumlah uang pinjaman yang dikatakan sebagai
bantuan itu.
Bahasa, benar-benar
telah memperlihatkan kemapanan dalam bentuknya sendiri.
Negara-negara pemberi utang karena disebut sebagai
bantuan, terlihat mereka benar-benar terkesan sebagai
malaikat. Ini tentu tidak sebanding dengan jumlah bunga
yang harus ditutupi, hingga benar-benar menampakkan
mereka seperti lintah darat.
Dengan bahasa,
disebutkan ada harapan pemakaian kata-kata yang bernilai
rasa. Ada kata-kata yang tepat dan sesuai yang
dipergunakan untuk menyebutkan objek-objek tertentu.
Lalu kalau pengucap kata-kata tak menggunakan yang tepat
dan sesuai itu, para pengungkap akan tersinggung, yang
mendengarnya.
Mati hanya disebut
untuk sekelas binatang. Para preman menggunakan bahasa
mampus. Para orang yang bertahta dibahasakan dengan
mangkat. Sedang manusia biasa hanya pantas disandangkan
dengan meninggal dunia. Dalam masa-masa sulit di
gampong kita, sering terdengar kata-kata wafat,
gugur, syahit dan tewas, yang disebutkan oleh
masing-masing pendukungnya.
Semua kata,
akhirnya bisa ditentukan siapa pengucapnya. Menyebut
untuk orangnya, tentu berbeda untuk menyebut kepada
orang yang dianggap sebagai musuh. Itulah yang terlihat
di tempat kita dalam waktu yang lama sekali.
Katanya, untuk
memanusiakan manusia. Sehingga pelacur menjadi
tunasusila; gelandangan-tunawisma; pembantu-tunawisma.
Kita
seperti takut terhadap cela, karena barangkali ada
kepentingannya. Namun perasaan orang-orang di luar itu,
kerap tak penting untuk didengarkan pendapatnya.[ST]