HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 150407|
SESUAI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

BAHASA, disesuaikan menurut perkembangan zaman. Di gampong kita dikenal adanya ungkapan kiasan. Itu sebagai sebentuk penyesuaian. Orang yang mencuri, dikatakan panyang jaroe. Banyak kiasan yang ada. Secara logika, ungkapan kiasan mungkin akan dipergunakan untuk menegur orang secara langsung, agar orang-orang tersebut tidak menaruh dendam.

Para endatu telah mengajukan banyak kesantunan. Itu yang dapat kita tangkap. Namun dalam perkembangan, bolak-balik bahasa menjadi pilihan. Ada pengamat yang bahkan berani memprediksi, bahwa di tahun-tahun yang akan datang, keahlian berbahasa menjadi penting di dalam kehidupan yang carut-marut ini.

Lihatlah secara global, bagaimana negara maju membuat tergantung negara-negara tertinggal. Negara-negara tertinggal yang miskin, umumnya memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Namun mereka tak punya kemampuan untuk melakukan eksplorasi. Lalu diturun-tangankanlah para awak negara maju, yang bila ditimbang-timbang, akhirnya lebih dari setengah hasil alam menjadi milik negara pendatang. Buya krueng teudong-dong, muruwa tamong meuraseuki. Itulah yang kemudian terlihat. Apalagi banyak orang lokal yang nyatanya jauh tertinggal dalam hal segala kompetisi.

Ketertinggalan itu sangat masuk akal mengingat berbagai faktor pendukung untuk menunjang pendidikan sangat kurang di sana. Seorang anak kampung yang tak punya buku pelajaran, lalu dikompetisikan dengan anak bukan kampung yang tiap hari masuk-keluar laboratorium, otomatis kalah dalam kompetisi fisika, dan sebagainya.

Bayangkan bila dalam keterbatasan itu, masih ada orang-orang berotak brilian, seperti kemampuannya Habibie pada waktu itu.

Ironisnya, ketika satu-dua anak kampung yang pandai dan sekolah ke luar negeri, ketika pulang ke kampungnya, lebih memilih mengabdi ke negeri maju ketimbang membantu masyarakat di kampung sendiri. Tak jarang, kemudian menjadi juru kampanye bantuan dari negara-negara kaya kepada negara-negara miskin. Padahal sebenarnya itu sebentuk utang, tapi dikatakan bantuan, sebagiannya dengan perantara rasionalisasi oleh para intelektual. Barangkali, jumlah bunganya, dalam beberapa waktu, akan sama dengan jumlah uang pinjaman yang dikatakan sebagai bantuan itu.

Bahasa, benar-benar telah memperlihatkan kemapanan dalam bentuknya sendiri. Negara-negara pemberi utang karena disebut sebagai bantuan, terlihat mereka benar-benar terkesan sebagai malaikat. Ini tentu tidak sebanding dengan jumlah bunga yang harus ditutupi, hingga benar-benar menampakkan mereka seperti lintah darat.

Dengan bahasa, disebutkan ada harapan pemakaian kata-kata yang bernilai rasa. Ada kata-kata yang tepat dan sesuai yang dipergunakan untuk menyebutkan objek-objek tertentu. Lalu kalau pengucap kata-kata tak menggunakan yang tepat dan sesuai itu, para pengungkap akan tersinggung, yang mendengarnya.

Mati hanya disebut untuk sekelas binatang. Para preman menggunakan bahasa mampus. Para orang yang bertahta dibahasakan dengan mangkat. Sedang manusia biasa hanya pantas disandangkan dengan meninggal dunia. Dalam masa-masa sulit di gampong kita, sering terdengar kata-kata wafat, gugur, syahit dan tewas, yang disebutkan oleh masing-masing pendukungnya.

Semua kata, akhirnya bisa ditentukan siapa pengucapnya. Menyebut untuk orangnya, tentu berbeda untuk menyebut kepada orang yang dianggap sebagai musuh. Itulah yang terlihat di tempat kita dalam waktu yang lama sekali.

Katanya, untuk memanusiakan manusia. Sehingga pelacur menjadi tunasusila; gelandangan-tunawisma; pembantu-tunawisma.

Kita seperti takut terhadap cela, karena barangkali ada kepentingannya. Namun perasaan orang-orang di luar itu, kerap tak penting untuk didengarkan pendapatnya.[ST]