HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 250507|
Seuramoe
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ERUNTUNG, Aceh terletak pada lokasi yang sangat strategis. Selat Malaka, yang membentang sebelah Utara kawasan Aceh, adalah jalur lalu lintas laut internasional paling penting sepanjang sejarah manusia.

Jalur transportasi, salah satu yang sangat menentukan sebuah kawasan maju atau tidak, terkenal atau tidak. Masa sekarang, hal ini bisa dibuktikan, di mana kawasan-kawasan gampong yang jauh dari lalu lintas jalan raya Banda Aceh – Medan, pada akhirnya tidak berkembang.

Posisi kota Jantho, salah satunya. Sebagai kota, katakanlah pusat ekonomi, Jantho berpotensi tidak berkembang. Karena jalur transportasi sentralnya kering. Padahal jalur lalu lintas menyebabkan mobilitas orang yang padat.

Sama seperti Kota Meureudu, yang berada di pedalaman Simpang Tiga. Kawasan itu juga tidak berkembang, kalau dilihat dari upaya meningkatkan gerak roda ekonomi.

Bayangkan dengan satu kawasan yang bernama Saree. Di sana, sejak dua dekade yang lalu, sudah mulai menampakkan perkembangan ekonomi yang penting di masa depan.

Kuncinya, jalur transportasi akan sangat menentukan sebuah kawasan untuk perkembangan ekonominya. Di sepanjang jalan Banda Aceh – Medan, misalnya, sangat memungkinkan masyarakat gampong mendirikan warung-warung kecil yang unik dan menawarkan sesuatu yang khas kepada orang lain, karena sepanjang waktu, di jalan raya, ada orang yang lalu-lalang.

Mengapa banyak kawasan pada akhirnya mati?

Umumnya, karena membayangkan bahwa pusat pemerintahan itu sebagai pusat ekonomi. Padahal, kalau saja semua tempat menjadi pusat ekonomi yang menggerakkan roda perekonomian masyarakat, itu akan sangat membantu tingkat kesejahteraan.

Kawasan-kawasan seperti itu, tidak harus berada satu kawasan dengan pusat pemerintahan. Di banyak negara maju, konsep ini sudah mulai dijalankan. Pusat pemerintahan, letaknya di lokasi yang terpisah dari pasar.

Nah, di Aceh, Indonesia, bahkan negara-negara berkembang tidak demikian. Pusat pemerintahan berada dalam kawasan untuk menggerakkan ekonomi. Sehingga yang tampak sekarang adalah, antara lokasi kerja dengan lokasi minum kopi, hampir tidak bisa dibedakan.

Lokasi seperti ini juga yang terlihat dalam Kerajaan Aceh masa lalu. Kontak dagang berada di pelabuhan. Sedangkan pusat kerajaan berada di lokasi terpisah. Namun sama-sama terang-benderang. Banyak pelabuhan sebagai pusat kontak dagang di Aceh yang berkembang dan berujung kepada kemapanan ekonomi.

Lokasi strategis, juga menyebabkan Aceh sebagai singgahan banyak orang. Ibarat kita mau naik ke rumah, selalu harus melewati serambi rumah. Begitulah Aceh. Letak yang selalu bersentuhan dengan mata-mata global. Dipenuhi catatan tentang pelabuhan, di sanalah banyak orang bertemu muka.

Orang-orang yang menunaikan ibadah haji, transit di Aceh beberapa waktu. Di pelabuhan tersedia fasilitas, lalu masuk ke dalam, tersedia pula banyak suguhan. Bukankah saat itu, di Aceh juga banyak lembaga pendidikan besar?

Keberadaan berbagai fasilitas tersebut, menggenapi berbagai hal yang dibutuhkan oleh orang penyinggah. Karena inilah, Aceh wajar disebut seramoe. Bila selain di pelabuhan, Aceh tak menyediakan banyak hal yang lain, mungkin seramoe itu tak pantas ditabal.[ST]