ERUNTUNG,
Aceh terletak pada lokasi yang sangat strategis. Selat
Malaka, yang membentang sebelah Utara kawasan Aceh,
adalah jalur lalu lintas laut internasional paling
penting sepanjang sejarah manusia.
Jalur
transportasi, salah satu yang sangat menentukan sebuah
kawasan maju atau tidak, terkenal atau tidak. Masa
sekarang, hal ini bisa dibuktikan, di mana
kawasan-kawasan gampong yang jauh dari lalu
lintas jalan raya Banda Aceh – Medan, pada akhirnya
tidak berkembang.
Posisi kota
Jantho, salah satunya. Sebagai kota, katakanlah pusat
ekonomi, Jantho berpotensi tidak berkembang. Karena
jalur transportasi sentralnya kering. Padahal jalur lalu
lintas menyebabkan mobilitas orang yang padat.
Sama
seperti Kota Meureudu, yang berada di pedalaman Simpang
Tiga. Kawasan itu juga tidak berkembang, kalau dilihat
dari upaya meningkatkan gerak roda ekonomi.
Bayangkan
dengan satu kawasan yang bernama Saree. Di sana, sejak
dua dekade yang lalu, sudah mulai menampakkan
perkembangan ekonomi yang penting di masa depan.
Kuncinya,
jalur transportasi akan sangat menentukan sebuah kawasan
untuk perkembangan ekonominya. Di sepanjang jalan Banda
Aceh – Medan, misalnya, sangat memungkinkan masyarakat
gampong mendirikan warung-warung kecil yang unik
dan menawarkan sesuatu yang khas kepada orang lain,
karena sepanjang waktu, di jalan raya, ada orang yang
lalu-lalang.
Mengapa
banyak kawasan pada akhirnya mati?
Umumnya,
karena membayangkan bahwa pusat pemerintahan itu sebagai
pusat ekonomi. Padahal, kalau saja semua tempat menjadi
pusat ekonomi yang menggerakkan roda perekonomian
masyarakat, itu akan sangat membantu tingkat
kesejahteraan.
Kawasan-kawasan seperti itu, tidak harus berada satu
kawasan dengan pusat pemerintahan. Di banyak negara
maju, konsep ini sudah mulai dijalankan. Pusat
pemerintahan, letaknya di lokasi yang terpisah dari
pasar.
Nah, di
Aceh, Indonesia, bahkan negara-negara berkembang tidak
demikian. Pusat pemerintahan berada dalam kawasan untuk
menggerakkan ekonomi. Sehingga yang tampak sekarang
adalah, antara lokasi kerja dengan lokasi minum kopi,
hampir tidak bisa dibedakan.
Lokasi
seperti ini juga yang terlihat dalam Kerajaan Aceh masa
lalu. Kontak dagang berada di pelabuhan. Sedangkan pusat
kerajaan berada di lokasi terpisah. Namun sama-sama
terang-benderang. Banyak pelabuhan sebagai pusat kontak
dagang di Aceh yang berkembang dan berujung kepada
kemapanan ekonomi.
Lokasi
strategis, juga menyebabkan Aceh sebagai singgahan
banyak orang. Ibarat kita mau naik ke rumah, selalu
harus melewati serambi rumah. Begitulah Aceh. Letak yang
selalu bersentuhan dengan mata-mata global. Dipenuhi
catatan tentang pelabuhan, di sanalah banyak orang
bertemu muka.
Orang-orang
yang menunaikan ibadah haji, transit di Aceh beberapa
waktu. Di pelabuhan tersedia fasilitas, lalu masuk ke
dalam, tersedia pula banyak suguhan. Bukankah saat itu,
di Aceh juga banyak lembaga pendidikan besar?
Keberadaan
berbagai fasilitas tersebut, menggenapi berbagai hal
yang dibutuhkan oleh orang penyinggah. Karena inilah,
Aceh wajar disebut seramoe. Bila selain di
pelabuhan, Aceh tak menyediakan banyak hal yang lain,
mungkin seramoe itu tak pantas ditabal.[ST]