ANAK-anak
di gampong seperti saya, sangat tidak sabar
menunggu masa panen tiba, saat padi di sawah penduduk
mulai menguning. Ada beberapa sebab, paling tidak:
Pertama, begitu panen, anak-anak punya pendapatan
lewat aktivitas yang bernama pileh pade.
Anak-anak membantu membawa padi yang sudah dipotong ke
tempat yang dibuat tumpuk-tumpuk yang seperti rumah
kecil. Setelah selesai, semua berbanja dan masing-masing
akan diberikan beberapa nibai (kumpulan batang
padi yang sudah diikat) untuk menjadi milik si anak.
Mereka akan mengumpulkan, membawa pulang ke rumah untuk
kemudian dirontokkan (ceumeulho) lalu dijual.
Masa lalu
sangat berbeda, anak-anak seusia saya sangat sulit
mendapat uang untuk jajan. Makanya ada perbedaan wajah
anak-anak begitu panen tiba. Mereka memiliki uang untuk
berbelanja. Dan itu sangat jarang didapat. Biasanya
hanya setahun sekali.
Kedua,
batang-batang padi yang
sudah dipotong akan dipilih yang besar-besar untuk
dibuat alat tiup yang menghasilkan suara-suara. Waktu
saya masih kecil alat itu namanya seurune. Batang
padi (dipilih yang besar), dibersihkan, dilobangi dengan
bentuk tertentu agar menghasilkan suara yang beraneka.
Para penemu
suara dari batang padi yang akhirnya bernama seurune
itu, sudah pasti tidak ditemukan dalam sejarah alat
musik. Padahal orang-orang yang pada awal hingga
menemukan bunyi itu, membutuhkan pikiran-pikiran,
analisa-analisa, praktek-praktek, hingga sampai kepada
suara yang diinginkan.
Setiap
pembuat seurune, juga butuh imajinasi-imajinasi
yang tidak mudah. Mungkin imajinasi itu sama ketika
orang memikirkan untuk membuat seruling, beduk, gitar,
organ, dan alat musik lainnya. Sama-sama butuh imajinasi.
Tapi seurune adalah alat dari kampung yang
dipandang kampungan oleh orang-orang yang mengaku tidak
kampung.
Prosesnya
pun menyebar dengan lambat. Tak ada bantuan tenologi
informasi dan komunikasi. Bisa jadi, antara satu kampung
dengan kampung lain, proses penyebaran seurune
berlangsung lambat.
Sama
seperti ilmu-ilmu kampung tentang pengumuman. Kenyataan
adanya kekayaan lokal yang namanya kampanye ie beuna,
juga berlangsung lambat. Namun berdaya tahan lama.
Sama
seperti seurune, konsep lokal tentang ie beuna
juga tidak banyak mendapat perhatian. Konsep itu
hanya dibutuhkan ketika ada kegiatan-kegiatan eksplorasi
kekayaan lokal. Sesudah itu, tidak lagi menjadi wacana
yang terus meluas.
Ie beuna
tetap jadi kekayaan
masyarakat tertentu, dan jarang dikampanyekan secara
luas agar juga menjadi kekayaan dan pengetahuan bagi
yang lain. Alasannya sederhana, mungkin karena itu,
informasi yang lahir dari kampung.
Seurune
juga demikian. Gegap
gempita baru ada ketika seurene yang berbasis
tidak kamung lahir dan dimunculkan. Alat bantunya mesin.
Kalkulasinya sangat matematis. Prediksinya sudah
diperkirakan jauh-jauh hari.
Seurune
ini, akan berbunyi bila
diperkirakan ada suatu peristiwa yang telah dianalisis
sebelumnya. Semacam pemberitahuan. Seolah kalkulasi ini
tidak pernah salah.
Pada
akhirnya, di kampung kita, kenyataan itu pernah terbalik.
Tidak ada kejadian apa-apa, tapi seurune
berbunyi. Alat teknologi itu, dikatakan sedang terganggu.
Masalahnya, orang-orang yang menjadi ribut dan panik.
Gaduh dan riuh.
Kejadian seperti ini, tidak pernah diprediksi. Inilah
bedanya dengan anak-anak seusia saya dulu, ketika habis
panen ramai-ramai ke sawah mencabut batang padi dan
mengolahnya menjadi alat yang mengeluarkan suara dan
enak didengar. Orang-orang tidak akan memaki para peniup
seurune itu.(ST)