INI
adalah cerita lama, yang lahir kembali orang yang baru
seperti Safiah. Namanya Munah. Perihal sudah membeli
sebuah HP. Ia ingin bersaing dengan Safiah. “Memang aku
miskin, tapi aku bisa juga seperti Safiah, minimal dalam
pemakaian HP,” pikirnya. Dibelilah HP, yang sebenarnya
berawal dari kisah Safiah –lalu ia juga mengulang
seperti itu. Ceritanya begini.
Saban malam
di Bulan Puasa, Safiah, janda kaya di Gampong
Seulaseh, mengadakan pertemuan dengan orang-orang
selevelnya. Semua ibu-ibu yang datang memiliki
handphone (HP).
“Masa sih,
aku kaya begini tak punya HP,” begitu kira-kira pikir
Safiah.
Belum lagi,
Safiah menerima kata-kata yang kurang sedap dari ibu-ibu;
pelit, tak tahu kebutuhan, gatek (gagap
teknologi).
Safiah tentu tak mau malu. Segera saja dialokasikan
sejumlah uang untuk itu; sebuah HP. Bila perlu yang
nampak lebih gagah dan wah, dari yang lain.
Benar saja,
ia langsung ke kota untuk membeli HP yang sebesar
bungkusan susu. Ya, biar lengkap dah! Bisa komunikasi,
kirim pesan, bicara, bahkan kirim gambar. Tentu lengkap
dengan kamera.
Dalam hati
ia mulai membayangkan banyaknya kegunaan bila ada kamera
di dalamnya; bisa buat film, bisa casting, dan
sebagainya. Kok terlambat ia mengetahuinya. Kalau mau
yang jahil-jahil, juga bisa instant. Seperti
beberapa artis Indonesia yang membuat film porno,
padahal mereka belum menikah. Mereka merekam adegan syur
di ranjang di dalam kamera; lalu dibagi-bagikan!
(Kini, apa
yang pernah dilakukan beberapa artis itu, ketularan sama
pelajar. Mereka juga merekam adegan-adegan syur mereka
sendiri du HP).
Empat hari sebelum hari raya tiba, Safiah sudah memiliki
HP. Tak lekang di tangan. Kemana-mana, ia selalu
menenteng. Padahal tasnya ada. Tapi kalau dalam tas sih,
tak ada yang bisa melihat. Nada panggil juga distell
dengan suara maksimal. Ya, biar semua orang bisa
dengar. Apalagi, dalam HP-nya juga tersedia berbagai
macam irama.
Tumben! Malam ke-28, Safiah ikut tarawih. Sesuatu yang
tak pernah dilaksanakannya selama sebulan itu. Saat
masuk, pengurus meunasah sudah mengingatkan untuk
tak membuat gaduh; dengan berbagai suara.
Tapi HP
Safiah tetap aktif.
Ia menyuruh
pula beberapa kolega untuk menghubunginya selagi ia di
meunasah. Beberapa kali, jamaah menoleh. Ia tak peduli,
yang penting orang tahu kalau ia sudah memiliki HP
–suatu barang yang di Gampong Seulaseh sebagai
sesuatu yang sedikit langka; padahal di Gampong
Baroh, anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK) pun sudah pakai
HP.
Sejak saat itu, Safiah merasakan reaksi-reaksi
yang kemudian melahirkan sensasi-sensasi. Ada
kepercayaan baru, tambah pengalaman, dan tentu,
meuteumpok pengetahuan. Ia sudah tahu cara mengirim
short massage service (SMS). Ia juga sudah tahu
cara kirim multy massage service (MMS). Safiah
juga sudah kenal polyphonic, three-g, dan
video streaming.
Dengan HP baru itu, Safiah benar-benar merasa
sangat luar biasa. Ia sudah bisa mendowload
berbagai tawaran SMS untuk mengirim pesan ke kolega,
memakai televisi, dan sebagainya.
Safiah
tiba-tiba merasa terkejut. Dua hari sebelum lebaran, ia
menerima sebuah SMS; “Aneuk cempala ateuh bak panah,
saboh that ceudah yang mirah dada. Lon ngoen gata saling
peumeuah, mangat jeut beukah ubena desya. Seulamat uroe
raya.”
“O… kirim
selamat uroe raya lewat SMS,” pikir Safiah tiba-tiba.
Dan, tak
perlu lagi datang dari pintu ke pintu. Kirim SMS saja.
Apalagi kalau ada yang sedikit mengganjal, ia kirim saja
lewat SMS. Mumpung dapat momentum; hari raya.
Yang pertama ia kirim, untuk Haji Subi, duda
gampong yang sedikit disukai Safiah. Ia mengirim
pesan; “Dalam ketenangan jiwa mengalun Qalam Illahi,
pada tutur bahasa tersirat kerinduan hati. Tak ternilai
kata yang indah, selain maaf darimu di hari yang fitrah
ini. Selamat hari raya!”
Safiah
juga mengirim SMS untuk Toke Safa, lelaki yang sewaktu
masih remaja sangat dicintainya. Ia menulis begini;
“Apabila ada langkah yang membekas lara, kata-kata yang
merangkai dusta, dan sikap yang menorah luka, di hari
yang fitrah ini saya mohon maaf padamu. Semoga Allah
selalu bersama kita!”
Untuk kawan-kawannya Safiah mengirim pesan;
“mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya idul
fitri. Pat ranup yang hana mirah, pat peuneurah yang
hana bajoe, mungken lon tuan na salah, hana bak awai
teuntee na bak dudoe (di mana sirih yang tak memerah,
di mana penyepit yang tak berganjal, mungkin saya ada
salah, tiada di awal tentu ada di akhir).”
Untuk saudaranya, ia kirim; “Ramphak langet
kareuna bintang, ramphak blang karena peunula, ranphek
kayee karena cadeung, ramphak ureung karena syedara
(cantik langit karena bintang, cantik sawah karena ada
tanaman, cantik pohon karena cabang, cantik orang karena
kaum saudara). Di hari yang mulia ini, mohon maaf lahir
dan batin, serta selalu dalam lindungan Illahi untuk
kembali ke fitrah.”
Untuk teungku keusyik, Safiah menulis
pesan seperti ini; “Cantik nian kain kebaya, dipakai
orang pergi ke pecan. Bulan Ramadhan sudahlah usai,
salah dan khilaf mohon maafkan.”
Untuk bekas pacarnya yang lain, Safiah
mengirimkan; “Manakala hati selalu menduga, adakala pena
salah menggores, di hari yang penuh baraqah, mohon maaf
lahir dan batin. Semoga Allah melimpahkan hidayah serta
mengantar kita kepada fitrah, Amien.”
Untuk teungku imuem, Safiah merangkai
kata; “Kuala raja rap bineh laot, takawe eungkot
jikap jeunara. Meuah desya lon nyang ka uliket, bek
meusangkot paot di padang mahsya (muara raja dekat
pinggir pantai, kita kail ikan dapat Jenara. Maaf dosaku
yang di belakang, jangan bersangkut-paut di padang
mahsyar).”
Safiah
juga masih menyimpan SMS; “Pajan masa boh timen
taplah, mungken wate grah ngoen uroe tutoeng. Nyoe keuh
masa lon lakee meuah, pat na salah beu Tuhan peu ampon
(Kapan buah timun dibelah, mungkin waktu dahaga kala
terik mentari. Saat inilah saya minta maaf, di mana ada
salah agar Tuhan ampuni).”
Safiah
malah mendata seluruh nomor HP yang ada padanya. Kesemua
nomor ia kirimkan pesan; “Ranub kuneng lon susoen lam
bate, pineung ngoen gambe dalam ceurana, meuah desya lon
baten ngoen lahe, gantoe lon hade bak uroe raya (sirih
kuning saya susun dalam bate, pinang dengan gambir dalam
cerana, maaf dosaku batin dan lahir, ganti saya hadir
pada hari raya).”
Entah
berapa ratus SMS yang ia kirimkan. Masalah biaya, tentu
tak terlalu menjadi soal. Toh semua kartu seluler saling
berkejar memberi kemudahan. Dari kartu berkemas
sachet, sampai pulsa murah dengan harga sekian dapat
sekian.
Setelah mengirim semua itu, Safiah bergegas
mempersiapkan segala hal untuk menyambut tamu hari raya
di rumah. Ia sudah menyimpulkan tak akan mengunjungi
rumah orang.
“Sudah saya
kirim SMS, sudah saya minta maaf, sudah saya ucapkan
selamat hari raya, ngapain lagi saya kunjungi dari rumah
ke rumah,” begitu Safiah bergumam.
Malam lebaran, saat orang lain bertakbiran,
Safiah berdiam di rumah menunggu SMS. Tentu, atas semua
SMS yang sudah dikirim ke orang-orang yang jumlahnya
beratus itu. Sejak malam itu, matanya tak lekang di HP.
“Mungkin
ada SMS yang masuk.”
Tapi sampai
hari kelima lebaran, SMS-SMS yang ditunggu, tak juga
datang.
Tak ada yang bertamu ke rumah Safiah, walau ia
sudah mempersiapkan banyak makanan-minuman. Tetangga
sekalipun. Padahal selama lebaran, rumah-rumah orang di
Gampong Seulaseh bersesak. Mereka saling
berkunjung satu sama lain.
Tapi tidak
di rumah Safiah.
Safiah
belum juga mengerti, walau semua orang Gampong Seulaseh
sudah begitu mempertanyakan, “ada apa dengan Safiah?”[]
Catatan:
Beberapa SMS dalam tulisan ini
adalah SMS yang saya terima dari kerabat, guru, sahabat,
dan kolega (maaf, telah kugunakan).