DI jalan raya, menjadi
kawasan paling pas untuk memberi gambaran tentang ada
kerusakan sosial yang sedang terjadi di gampong kita.
Melihat jalan, karena konteksnya sosial. Di jalan ada
kepentingan umum dan itu bisa dipakai oleh siapa saja.
Makanya kalau melihat di jalan sudah menjadi lahan
parkir, itu sebentuk kerusakan sosial, bahwa ada orang
yang ingin menguasainya dengan tidak terbeban memarkir
kendaraan seenaknya. Banyak jalan yang sebenarnya sangat
luas untuk dilewati kendaraan, tapi tiba-tiba menjadi
sangat sempit karena sudah ada tempat parkir hingga
mencapai setengah jalan.
Dengan sangat mudah orang-orang menghentikan
kendaraannya. Padahal di belakang kendaraannya, pemilik
kendaraan lain juga butuh kenyamanan. Tapi siapa yang
peduli?.
Sepanjang jalan sudah ada para penjual makanan di
kanan-kirinya. Di atas trotoar yang sebenarnya
diperuntukkan bagi pejalan kaki. Tapi di banyak tempat,
sudah dijadikan orang-orang karena alasan mencari rezeki.
Seperti tidak ada yang mempertanyakan, di mana logika
kehidupan sosial di mana tempat umum adalah milik
sesama.
Seperti ada yang sudah mulai bergeser konsep: sosial
seolah berganti dengan pertanyaan, soe sial?
Seperti sudah melupakan perlunya keteraturan dalam
kehidupan demi kepentingan sesama manusia.
Banyak orang yang beralasan, rezeki bisa dicari di mana
saja. Sehingga untuk kepentingan perut, seseorang rela
mengkapling milik orang lainnya. Banyak tempat yang
sudah bertabur ketidakpekaan sosial seperti itu. Seperti
ada perlombaan untuk selalu menyatakan: biarkan saja soe
sial dalam kehidupan kita.
Ini adalah masalah hidup yang cenderung ada pergeseran
tentang kenyataan sosial. Di sini, di gampong kita,
sudah susah membedakan jalan yang satu arah dan jalan
dua arah. Karena seperti tidak ada lagi aturan, karena
terlihat siapa saja bebas memakainya. Bila sewaktu-waktu
mengalami kecelakaan, tidak jarang, yang seharusnya
bersalah, tapi berani membentak yang seharusnya memakai
jalan dengan benar.
Di jalan raya, waktu beberapa detik saja terlihat begitu
berharga, sehingga banyak pengendara yang tidak memberi
kesempatan pejalan kaki memotong jalan di depannya.
Tidak jarang para pengendara yang tidak mau memperlambat
kendaraannya, justru akan memaki para pejalan kaki yang
sebenarnya juga punya hak memakai jalan raya.
Rasa marah mudah sekali dilepaskan di jalan raya. Bila
ada yang tidak disukai, ada yang mau menatap dengan
murka wajah-wajah orang lain di sekitarnya. Orang-orang
yang lemah terjepit. Siapa yang peduli?.
Mungkinkah gejala yang disebutkan Francis Fukuyama
(2002) tentang modal sosial yang retak, sedang
menampakkan gejalanya di gampong kita? Rasa kekerabatan
yang selalu diagungkan di tanah ini, seperti
terbantahkan bila kita mengalami pengalaman pahit di
jalan raya.
Kepentingan umum seperti tidak lagi mulia di hadapan
semuanya. Sudah seharusnya ada yang mulai mengambil
peran untuk memperbaiki ikatan sosial kita yang
bermasalah itu. Paling tidak, memulainya dari
kasus-kasus yang tampak dari pemakaian jalan raya.
Yakinlah, kalau tidak dimulai sekarang, gampong kita
akan semakin jatuh ke jurang yang dalam. Percayalah!(ST)