DALAM
hidup manusia, ada tiga hubungan yang sangat penting dan
memiliki makna sesuai konteksnya. Ada yang namanya
hubungan kita dengan Allah (hablumminallah). Ada
yang namanya hubungan kita antarsesama manusia (hablumminannas).
Ada juga yang namanya hubungan kita dengan makhluk
selain manusia.
Ibarat tali dari simpul yang satu, maka ketiga hubungan
ini saling berkaitan. Hubungan dengan Allah, menyadarkan
orang agar turi droe. Orang yang tidak mau
berhubungan dengan Pencipta seperti tampak pada
ketidakmauan melakukan perintah, lewat jalan dan proses
yang sudah ditentukan, maka sebenarnya ingin menunjukkan
kuasa diri, yang sebenarnya bukan apa-apa dibandingkan
dengan kekuasaan Allah yang sebenarnya pemilik kuasa.
Orang yang tidak melakukan kewajiban kepada Allah adalah
orang-orang yang secara sadar sedang memproklamirkan
seolah-olah ia punya kuasa dari diri sendiri. Padahal
tidak, karena semua kekuasaan itu datangnya hanya dari
Tuhan seru sekalian alam.
Orang-orang yang hanya menuntut hak dari Allah, adalah
orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak tahu mensyukuri
nikmat. Tidak tahu untung. Padahal Allah, bila mau
mengambil segala sesuatu yang kita punya, bisa dilakukan
dalam sekejab. Karena Allah memang pemilik kuasa yang
sebenarnya.
Sementara hubungan sesama manusia, menyiratkan
ketidakmungkinan hidup sendiri di jagad ini. Ini
sebenarnya mendapat nilai yang sangat besar dalam
kehidupan. Dalam berbagai konteks, ada keteraturan yang
sangat humanis.
Ajaran agama mengajarkan pentingnya diam dari
membicarakan orang lain. Namun agama juga mengingatkan,
pentingnya berbicara untuk mengingatkan orang-orang yang
di sekitar kita yang salah langkah.
Dengan tegas, agama meminta kita hidup bermasyarakat,
yang lebih baik dari menepi di tempat yang sepi. Hidup
bermasyarakat memungkinkan orang melakukan banyak amalan
dalam hidupnya. Kehidupan ini adalah amalan, bila
diikuti dengan keikhlasan.
Amalan tidak selalu berhubungan dengan materi. Menunjuk
kebaikan tidak harus dengan kekayaan uang. Sungguh,
dalam agama menyediakan potensi amalan yang ironisnya
tidak semua manusia menggarapnya.
Masih ada manusia yang saling menyakiti sesama manusia.
Padahal itu jelas lebih hina walau sehari-hari para
pengupat itu juga melakukan ibadah. Ada aturan yang
manis dalam agama. Kita harus menjaga perasaan orang
lain. Apalagi perbuatan-perbuatan yang merugikan secara
fisik.
Hubungan yang lainnya adalah dengan makhluk yang selain
manusia. Alam harus dijaga agar terawat. Karena hak
pemanfaatan alam harus memperhitungkan kerugian bagi
sesama manusia dan tidak menzalimi keberadaan alam itu
sendiri.
Alam tidak bisa berbicara. Namun gejolaknya bisa
terlihat lewat tanda-tanda. Bencana yang terjadi, selalu
ada sebabnya. Ibarat sebuah rumah, Allah sudah mengatur
penempatan alam sedemikian rupa.
Lalu, masihkah kita mempertanyakan seberapa besar
rahmat-Nya? (ST)