HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 090807|
SOSIAL
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

DALAM hidup manusia, ada tiga hubungan yang sangat penting dan memiliki makna sesuai konteksnya. Ada yang namanya hubungan kita dengan Allah (hablumminallah). Ada yang namanya hubungan kita antarsesama manusia (hablumminannas). Ada juga yang namanya hubungan kita dengan makhluk selain manusia.

Ibarat tali dari simpul yang satu, maka ketiga hubungan ini saling berkaitan. Hubungan dengan Allah, menyadarkan orang agar turi droe. Orang yang tidak mau berhubungan dengan Pencipta seperti tampak pada ketidakmauan melakukan perintah, lewat jalan dan proses yang sudah ditentukan, maka sebenarnya ingin menunjukkan kuasa diri, yang sebenarnya bukan apa-apa dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang sebenarnya pemilik kuasa.

Orang yang tidak melakukan kewajiban kepada Allah adalah orang-orang yang secara sadar sedang memproklamirkan seolah-olah ia punya kuasa dari diri sendiri. Padahal tidak, karena semua kekuasaan itu datangnya hanya dari Tuhan seru sekalian alam.

Orang-orang yang hanya menuntut hak dari Allah, adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak tahu mensyukuri nikmat. Tidak tahu untung. Padahal Allah, bila mau mengambil segala sesuatu yang kita punya, bisa dilakukan dalam sekejab. Karena Allah memang pemilik kuasa yang sebenarnya.

Sementara hubungan sesama manusia, menyiratkan ketidakmungkinan hidup sendiri di jagad ini. Ini sebenarnya mendapat nilai yang sangat besar dalam kehidupan. Dalam berbagai konteks, ada keteraturan yang sangat humanis.

Ajaran agama mengajarkan pentingnya diam dari membicarakan orang lain. Namun agama juga mengingatkan, pentingnya berbicara untuk mengingatkan orang-orang yang di sekitar kita yang salah langkah.

Dengan tegas, agama meminta kita hidup bermasyarakat, yang lebih baik dari menepi di tempat yang sepi. Hidup bermasyarakat memungkinkan orang melakukan banyak amalan dalam hidupnya. Kehidupan ini adalah amalan, bila diikuti dengan keikhlasan.

Amalan tidak selalu berhubungan dengan materi. Menunjuk kebaikan tidak harus dengan kekayaan uang. Sungguh, dalam agama menyediakan potensi amalan yang ironisnya tidak semua manusia menggarapnya.

Masih ada manusia yang saling menyakiti sesama manusia. Padahal itu jelas lebih hina walau sehari-hari para pengupat itu juga melakukan ibadah. Ada aturan yang manis dalam agama. Kita harus menjaga perasaan orang lain. Apalagi perbuatan-perbuatan yang merugikan secara fisik.

Hubungan yang lainnya adalah dengan makhluk yang selain manusia. Alam harus dijaga agar terawat. Karena hak pemanfaatan alam harus memperhitungkan kerugian bagi sesama manusia dan tidak menzalimi keberadaan alam itu sendiri.

Alam tidak bisa berbicara. Namun gejolaknya bisa terlihat lewat tanda-tanda. Bencana yang terjadi, selalu ada sebabnya. Ibarat sebuah rumah, Allah sudah mengatur penempatan alam sedemikian rupa.

Lalu, masihkah kita mempertanyakan seberapa besar rahmat-Nya?
(ST)