AYA,
sama seperti banyak orang lain, berasal dari gampong
yang aktivitas keseharian cukup beragam sejak kecil.
Pernah merasakan proses pembajakan sawah, sampai memberi
makan beberapa ternak peliharaan. Pernah ikut dalam
ceumeulho ramai-ramai bersama orang gampong,
lewat kerjasama yang namanya meuripee, juga
pernah buhuek dalam sungai karena kedalaman
sungai di lokasi-lokasi tertentu di gampong masih
ditemui.
Bersama
teman, waktu kecil, pernah berkelahi gara-gara persoalan
sepele, lalu meminta maaf. Masa-masa di sekolah madrasah
ibtidayah, main perang-perangan. Atau pernah main
tak-tak galah di pantai sungai.
Hidup terus
berlangsung. Usia terus beranjak. Kebutuhan semakin
meningkat. Pola permainan juga terus berubah. Sebagian
permainan di gampong-gampong sudah hampir tak
pernah terlihat lagi. Proses kerinduan terhadap
gampong, bisa jadi tak lagi kental karena suasana
gampong juga sangat cepat berubah.
Sebagian
orang-orang gampong pun berusaha meninggalkan
nilai-nilai kampung. Karena berbagai sebab dan alasan.
Yang jelas, bentangan perubahan dari perjalanan hidup,
terus saja terjadi. Pola terus berputar-putar dan
sewaktu-waktu, kita bahkan hampir tidak sadar bahwa
beberapa perjalanan sebenarnya pernah kita lalui.
Orang-orang
yang lupa diri, sebenarnya tidak sadar dari proses
perjalanan itu. Dalam lingkup yang lebih sakral,
sebenarnya sebuah kehidupan tak selalu membentang
sajadah panjang tentang cerita-cerita keemasan. Sebuah
kehidupan juga tidak mungkin lekang dari sesekali
terpercik lumpur hitam dan berbau.
Inilah
hidup. Inilah kehidupan. Ada yang di atas dan ada yang
di bawah. Orang-orang yang sadar diri adalah orang-orang
yang selalu memahami proses kehidupan seperti itu. Dalam
rentang perjalanan itulah, proses pengenalan berlangsung
dalam kehidupan manusia.
Proses ini
juga berlangsung dalam dunia yang selain manusia. Hewan
misalnya. Ketika kecil, saya pernah memberi makanan ayam
dan bebek, memiliki tanda masing-masing dari proses
pengenalan itu. Bayangkan, ketika yang dipanggil dengan
tanda ayam, maka bebek jarang bergerak ke arah kita.
Mereka tahu
diri, bahwa sinyal yang mereka tangkap, bukan memanggil
mereka. Sinyal itu diperuntukkan bagi yang selain
mereka. Lantas, mengapa ada makhluk berakal tidak
memahami proses kehidupan seperti ini, salah satunya
merebut hak, padahal yang diumumkan bukan haknya.
Ini aneh.
Sangat aneh. Walau sepanjang kehidupan manusia, hal-hal
aneh juga terjadi di sekitar kita. Padahal aneh adalah
barang baru, yang hadir membentuk suasana baru.
Dalam
kehidupan ayam dan bebek, aneh bila ada di antara mereka
yang tak terpengaruh bila melihat ada komunitasnya yang
disembelih manusia pada saat khanduri-khanduri.
Suara mereka melengking. Makanya, orang-orang yang ingin
menghindari keanehan bagi binatang, akan menyembelih
hewannya di tempat yang terpisah dari komunitas mereka.
Dalam
kehidupan manusia, begitulah seharusnya berlangsung.
Hal-hal aneh jangan diperlihat di depan manusia, apalagi
di depan keluarga, karena itu akan mengganggu dan
memberi suasana baru. Dengan demikian, program-program
yang aneh bagi manusia, sudah selayaknya tak
diperuntukkan bagi manusia. Kalau tidak, ayam dan bebek
akan berkata: manusia kok aneh!(ST)