HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 060607|
SOSIALISASI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

AYA, sama seperti banyak orang lain, berasal dari gampong yang aktivitas keseharian cukup beragam sejak kecil. Pernah merasakan proses pembajakan sawah, sampai memberi makan beberapa ternak peliharaan. Pernah ikut dalam ceumeulho ramai-ramai bersama orang gampong, lewat kerjasama yang namanya meuripee, juga pernah buhuek dalam sungai karena kedalaman sungai di lokasi-lokasi tertentu di gampong masih ditemui.

Bersama teman, waktu kecil, pernah berkelahi gara-gara persoalan sepele, lalu meminta maaf. Masa-masa di sekolah madrasah ibtidayah, main perang-perangan. Atau pernah main tak-tak galah di pantai sungai.

Hidup terus berlangsung. Usia terus beranjak. Kebutuhan semakin meningkat. Pola permainan juga terus berubah. Sebagian permainan di gampong-gampong sudah hampir tak pernah terlihat lagi. Proses kerinduan terhadap gampong, bisa jadi tak lagi kental karena suasana gampong juga sangat cepat berubah.

Sebagian orang-orang gampong pun berusaha meninggalkan nilai-nilai kampung. Karena berbagai sebab dan alasan. Yang jelas, bentangan perubahan dari perjalanan hidup, terus saja terjadi. Pola terus berputar-putar dan sewaktu-waktu, kita bahkan hampir tidak sadar bahwa beberapa perjalanan sebenarnya pernah kita lalui.

Orang-orang yang lupa diri, sebenarnya tidak sadar dari proses perjalanan itu. Dalam lingkup yang lebih sakral, sebenarnya sebuah kehidupan tak selalu membentang sajadah panjang tentang cerita-cerita keemasan. Sebuah kehidupan juga tidak mungkin lekang dari sesekali terpercik lumpur hitam dan berbau.

Inilah hidup. Inilah kehidupan. Ada yang di atas dan ada yang di bawah. Orang-orang yang sadar diri adalah orang-orang yang selalu memahami proses kehidupan seperti itu. Dalam rentang perjalanan itulah, proses pengenalan berlangsung dalam kehidupan manusia.

Proses ini juga berlangsung dalam dunia yang selain manusia. Hewan misalnya. Ketika kecil, saya pernah memberi makanan ayam dan bebek, memiliki tanda masing-masing dari proses pengenalan itu. Bayangkan, ketika yang dipanggil dengan tanda ayam, maka bebek jarang bergerak ke arah kita.

Mereka tahu diri, bahwa sinyal yang mereka tangkap, bukan memanggil mereka. Sinyal itu diperuntukkan bagi yang selain mereka. Lantas, mengapa ada makhluk berakal tidak memahami proses kehidupan seperti ini, salah satunya merebut hak, padahal yang diumumkan bukan haknya.

Ini aneh. Sangat aneh. Walau sepanjang kehidupan manusia, hal-hal aneh juga terjadi di sekitar kita. Padahal aneh adalah barang baru, yang hadir membentuk suasana baru.

Dalam kehidupan ayam dan bebek, aneh bila ada di antara mereka yang tak terpengaruh bila melihat ada komunitasnya yang disembelih manusia pada saat khanduri-khanduri. Suara mereka melengking. Makanya, orang-orang yang ingin menghindari keanehan bagi binatang, akan menyembelih hewannya di tempat yang terpisah dari komunitas mereka.

Dalam kehidupan manusia, begitulah seharusnya berlangsung. Hal-hal aneh jangan diperlihat di depan manusia, apalagi di depan keluarga, karena itu akan mengganggu dan memberi suasana baru. Dengan demikian, program-program yang aneh bagi manusia, sudah selayaknya tak diperuntukkan bagi manusia. Kalau tidak, ayam dan bebek akan berkata: manusia kok aneh!(ST)