AMPIR
setiap hari kucing lewat jalan itu, ia selalu melihat
tikus-tikus got keluar berlarian sambil
kejar-kejaran bersama beberapa kawannya. Saat pertama
kali melewatinya, seekor kucing sempat kaget. O,
ternyata ada tikus yang sebesar badannya.
“Di sini sepertinya banyak
sekali ceurapee,” kucing, awalnya mencoba
bertanya-tanya.
“Tapi sepertinya itu bukan
ceurapee. Ceurapee nggak seperti itu,”
pikirnya lagi.
“Apalagi, ceurapee tak bisa
hidup di tengah kota. Tapi, apakah ini kota?” tanya
kucing lagi dalam hati.
Ya, seperti kucing itu,
mungkin tak semua orang tahu ceurapee. Binatang
yang mirip tikus, tapi ekor panjang dan cantik
membedakannya dengan tikus. Orang-orang yang memelihara
ayam, sangat takut pada ceurapee. Pasalnya
ceurapee tak sungkan-sungkan memangsa ayam.
Pemangsa ayam yang lain, ular
misalnya, juga takut sama ceurapee. Soalnya,
ceurapee sangat suka dengan mata ular yang (mungkin)
lezat. Makanya kalau jumpa ular, selalu mata yang dicari.
Pernah Apa Ali di
Gampong Baroh, memelihara ratusan ekor ayam di
belakang rumahnya. Hampir tiap hari ada saja dua-tiga
ayamnya yang hilang. Tak berbekas. Orang gampong
tahu, itu pasti dimakan ceurapee.
Dalam memakan mangsa,
ceurapee jarang meninggalkan bekas. Bukan karena
ditolong sesama kawannya, seperti rimueng pluek
dengan beberapa mengejar seekor kuda, dalam acara satwa
di siaran televisi. Ceurapee memang profesional.
Ia sengaja tak meninggalkan bekas, biar besoknya ia bisa
dengan leluasa memangsanya lagi karena sang empunya tak
tahu kalau perliharaannya habis satu persatu.
Untung Apa Ali
sedikit sigap dalam menjaga harta. Tiap pagi dan sore ia
tak lupa mendata. Ya, semacam menghitunglah. Ayamnya
dihitung dari keluar geureupoh, sampai kembali ke
geureupoh lagi. Saat ayam-ayam keluar dan pulang
untuk makan.
Masalahnya, ceurapee
lebih profesional. Geureupoh Apa Ali
dibobol dengan rapi. Ceurapee sudah lama
mempelajari celah-celah dari geureupoh Apa Ali
itu. Jadi mangsanya selalu saja raib. Ia selalu lolos.
Kalau tidak jeli begini, ayam-ayam akan habis dengan
sendirinya.
Di Gampong Baroh,
karena terilhami profesionalisme ceurapee, ada
seorang pelawak, Amat namanya, sekarang dipanggil dengan
Amat Ceurapee. Karena ia pandai membuat orang
sampai tertawa terpingkal.
Beda dengan tikus, gaya
mangsanya meninggalkan jejak. Maka seringkali, tikus
bisa terkena jebakan. Kalau ia makan buah-buahan, dari
makanan rendahan seperti kulit pisang, sampai buah mewah
seperti apel, tak pernah habis ia makan. Dalam hal
makan, ia memang mirip tupee yang membobol buah
kelapa menjadi boh lupieng.
Bukan hanya buah-buahan,
tikus memakan ikan asin pun selalu meninggalkan bekas.
Sisa ikan asin disebarkan ke rata tempat, sehingga tak
jarang menebarkan bau yang tak sedap. Tahu ‘kan, bau
ikan asin baru menyengat mengundang nafsu makan bila
digoreng di siang hari saat sinar mentari terik sekali.
Lawannya pasti kuah leumak (kuah santan seperti
masakan Minang). Apalagi siang-siang bulan Puasa.
Saat semua rumah sudah
gundah dengan ulah sang tikus, warga gampong
sepakat untuk membasminya. Ada yang menggunakan racun,
lem tikus, kandang perangkap, sampai memelihara kucing
yang mampu dan mau mengejar tikus.
Di rumah yang banyak
anak-anak, sudah pasti pemilik rumah tak akan
menggunakan racun, karena bisa berbahaya bagi semuanya.
Di rumah yang banyak barang elektronik, menggunakan lem
tikus juga bukan pilihan yang baik, karena resiko
terserempet ke barang-barang itu saat tikus
melawan-ronta. Di rumah yang sedikit sempit, model
perangkap juga tak begitu bagus bagi tata letak rumah.
Banyak rumah kemudian
memelihara kucing untuk menggunakan jasanya. Modal tak
banyak yang harus dikeluarkan, karena makanan kucing
juga bekas pemilik rumah makan –ketimbang terbuang.
Kucing juga tak harus dibeli. Banyak orang gampong
seberang yang memang berkarung-karung membuang
kucing ke gampong ini.
Resikonya, kucing kerap
tak jujur dalam menjalankan tugas. Ikan-ikan yang
melelehkan liur, tak dilihatnya bila di depan tuan.
Giliran pemilih rumah lengah, ia tak hanya melahap
ikan-ikannya, tapi juga membawa lari piring-piringnya.
Celakanya, kucing juga
kerap meninggalkan bekas. Tulang-tulang ikan yang tak
habis dimakan, ditinggalkan meusiseue begitu saja
di sembarang tempat. Kalau itu, tuan masih sangat
mentolerir. Tapi yang sedikit menyebalkan, bangkai tikus
juga ditinggalkan sembarangan. Itu ‘kan bisa
menghilangkan nafsu makan tuannya?
Marwan, anak Apa
Ali, suatu waktu sampai marah besar saat di bawah tempat
tidurnya ada kepala tikus.
“Sudah resiko kita dalam menggunakan
jasa kucing,” begitu Apa Ali mencairkan suasana
dalam rumahnya.
Rupanya, Apa Ali
masih sangat bangga biar kucing membuat beberapa
masalah. Apalagi dapat kepala tikus, itu akan efektif
sekali untuk menghitung jumlah tikus yang berhasil
dimangsa; juga terlihat tikusnya yang cekatan dan
berani.
Sampai suatu waktu,
tikus-tikus sudah tak ditemui di rumahnya. Apa
Ali sudah sangat lega. Persoalan tikus sudah selesai,
walau gangguan ceurapee masih kerap terjadi.
Walau harus menanggung makan kucing, tak masalah, karena
tikus berhasil dibasmi.
Mendekati bulan Puasa
lalu, di Gampong Tunong terjadi wabah penyakit.
Setelah diteliti dokter, ternyata penyakit itu
disebarkan tikus. Banyak warga terkena. Beberapa kali
dilakukan operasi besar-besaran mengejar tikus, tapi
tikusnya tak kelihatan berkurang.
Sang Kepala Gampong
pun membuat kontes. Ketika sampai ke telinga Apa
Ali ada kontes mengejar tikus, ia jingkrak kegirangan.
“Saya akan dapat uang besar tahun
ini. Ya, dekat uroe raya (hari raya) pula,”
pikirnya.
Wajar ia girang. Pasalnya, ia
memiliki seekor kucing piaraan yang sangat cerdas dan
berani dalam menangkap tikus.
Kontes itu pun diterima
dengan segera. Kontrak perjanjian segera diteken antara
Apa Ali dan keusyik. Lalu kucing pun mulai
dilepaskan untuk beroperasi. Sang kucing kaget bukan
main, saat melihat puluhan kucing di sana tapi tak
berbuat apa-apa. Mereka tak seperti mengejar tikus. Tapi
ia tak peduli. Ia menyisir gampong, tak ditemukan
sisa-sisa kepala. Tak ada juga bulu-bulu yang jadi
penanda. Tak ada pula gigi yang jadi penunjuk.
Di sudut jalan, ia mundur
beberapa langkah. Ternyata seekor tikus yang sebesar
badannya, sedang menuju ke arah kucing itu. Sambil
berbalik arah, melirik kucing-kucing lain yang menonton
fenomena itu dengan tenang, kucing Apa Ali
mengambil langkah seribu.
Kok bisa? Bingung ‘kan?. Kini,
tikus-tikus got jauh lebih berani ketimbang
kucing Apa Ali. Apa Ali tak terlihat lagi
di muka umum ketika kucingnya menceritakan ada tikus
yang sebesar ceurapee.[ST]