EORANG
pemuda di Jurong Baroh gampong saya, hatinya
benar-benar sedang berbunga-bunga. Pasalnya, anak
perempuan Pocut Marwah yang baru sebulan tinggal di
gampong selalu tersenyum kepadanya.
Anak
perempuan itu, namanya Wati, lama tinggal di Jakarta.
Orang tuanya, saat gampong sedang dilanda
masa-masa pahit, lebih memilih tinggal di sana bersama
keluarga besarnya. Rumah mereka sangat besar. Maklum,
satu kemenakannya adalah artis terkenal, yang sudah
bermain banyak sinetron.
Banyak
keluarganya masih tinggal di gampong, lalu
setelah tsunami, berketetapan hati untuk pulang ke
gampong, karena mereka berfikir, gampong
itulah yang bagus dijadikan pilihan sebagai tempat
kehidupan.
Sudah enam
tahun di Jakarta, Wati yang lulusan PDPK di Darussalam,
tak juga mendapat pekerjaan tetap. Beberapa kali kerja
kontrak, dibayar hanya cukup untuk ongkos angkutan kota.
Akhirnya, Wati juga lebih sering berada di rumah.
Sebenarnya
banyak tawaran bagus kepada Wati. Masalahnya, Wati itu
anak dari gampong yang tak mengerti banyak hal.
Bahasa Inggrisnya tak fasih. Pernah malah mau dijadikan
manajer sepupunya itu yang artis, tapi karena tidak
lancar berbahasa Inggris, jadi tidak dipakai.
Sepupunya
itu, namanya Suarni, jadwalnya selalu padat. Kalau tidak
syuting, ia selalu menghabiskan malam bersama
teman-temannya. Entah di mana. Yang jelas, kerap ia
pulang menjelang subuh dan diantar oleh banyak orang.
Otomatis, ia bangun menjelang dhuhur. Selalu seperti
itu. Begitu bangun, lalu kembali menyusun jadwal
syutingnya lagi.
Karena
banyak kelemahan itu, dan bermusyawarah dengan seluruh
keluarganya, maka Wati sekeluarga pulanglah ke
gampong. Seperti kebiasaan hidup di Jakarta yang
selalu menebar senyum, di gampong, Wati juga
seperti itu. Selalu menebar senyum, kepada siapa saja.
Apalagi ia tahu, senyum itu sebagai sebentuk ibadah.
Kalau di
Jakarta, sebuah senyum yang diberikannya, tidak selalu
diharapkan sebagai ibadah. Di kota besar semacam
Jakarta, orang-orang memang seperti ada keharusan untuk
selalu menebar pesona.
Berbeda
dengan di gampong, yang selalu berperilaku
kiban crah meunan beukah. Kalau ada yang bengis
kepada orang-orang, maka bila bertemu orang-orang,
seseorang akan memilih menghindar agar tak bertatapan
muka.
Di kuta,
umumnya tidak seperti itu. Bengis sekalipun, bila di
depan orang, seseorang akan berusaha keras menampakkan
wajah senyumnya. Apalagi seorang artis, gayanya, konon
lagi di depan kamera, akan menjaga image-nya
mati-matian. Persoalan di belakang menjadi berbeda
dengan kenyataan sebenarnya, dianggap bukan masalah.
Yang penting, tebar pesona banyak-banyak.
Mungkin,
perilaku Wati di gampong sangat berbeda
pretensinya. Maka apa yang terjadi ketika ia selalu
senyum di gampong? Seorang pemuda sekelas Abdoeh,
yang tak pernah keluar gampong, menganggap lain
senyuman itu.
Abdoeh,
lalu menerima berbagai kesan. Mulailah ia rapi sedikit
demi sedikit. Pasalnya, dalam pikirannya, seorang gadis
dari Jakarta selalu memberi senyum kepadanya. Bila ia
berjalan bersama beberapa temannya yang juga pemuda
gampong, matanya tidak pernah lepas dari rumah di
bineh jurong itu.
Orang
sekelas Abdoeh, tentu tak punya keberanian untuk
menanyakan kebenaran terhadap hal-hal seperti itu yang
di gampong masih dianggap tabu. Terus, ia hanya
menyimpan sendiri di dalam hati.
Pokoknya,
hatinya benar-benar berbunga. Hingga suatu kali ia
memberanikan diri menyuruh orang tuanya untuk melamar
Wati. Ketika orang tua menanyakan mengapa harus Wati.
Abdoeh, dengan percaya diri mengungkapkan Wati sangat
suka kepadanya, pasalnya ia selalu senyum.
Pada hari
orang tuanya pergi ke rumah Wati, Abdoeh lalu
menceritakan kepada banyak orang kalau sebentar lagi
Wati akan menjadi miliknya. Bahkan, ia bercerita dengan
penuh semangat kepada Samsuar yang sebenarnya sudah
menjadi pacar Wati. Samsuar adalah lelaki yang sudah
lama juga tinggal di kuta.
Abdoeh
bahkan tak menangkap tanda ketika orang tuanya pulang ke
rumah dengan wajah tertunduk. Abdoeh masih gencar
bercerita kepada banyak orang perihal Wati yang suka
kepadanya. Hanya karena senyuman. Padahal, orang tuanya
sudah tertunduk di rumah.
Ada-ada
saja![ST]