HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 100507
TANDA (1)
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

EORANG pemuda di Jurong Baroh gampong saya, hatinya benar-benar sedang berbunga-bunga. Pasalnya, anak perempuan Pocut Marwah yang baru sebulan tinggal di gampong selalu tersenyum kepadanya.

Anak perempuan itu, namanya Wati, lama tinggal di Jakarta. Orang tuanya, saat gampong sedang dilanda masa-masa pahit, lebih memilih tinggal di sana bersama keluarga besarnya. Rumah mereka sangat besar. Maklum, satu kemenakannya adalah artis terkenal, yang sudah bermain banyak sinetron.

Banyak keluarganya masih tinggal di gampong, lalu setelah tsunami, berketetapan hati untuk pulang ke gampong, karena mereka berfikir, gampong itulah yang bagus dijadikan pilihan sebagai tempat kehidupan.

Sudah enam tahun di Jakarta, Wati yang lulusan PDPK di Darussalam, tak juga mendapat pekerjaan tetap. Beberapa kali kerja kontrak, dibayar hanya cukup untuk ongkos angkutan kota. Akhirnya, Wati juga lebih sering berada di rumah.

Sebenarnya banyak tawaran bagus kepada Wati. Masalahnya, Wati itu anak dari gampong yang tak mengerti banyak hal. Bahasa Inggrisnya tak fasih. Pernah malah mau dijadikan manajer sepupunya itu yang artis, tapi karena tidak lancar berbahasa Inggris, jadi tidak dipakai.

Sepupunya itu, namanya Suarni, jadwalnya selalu padat. Kalau tidak syuting, ia selalu menghabiskan malam bersama teman-temannya. Entah di mana. Yang jelas, kerap ia pulang menjelang subuh dan diantar oleh banyak orang. Otomatis, ia bangun menjelang dhuhur. Selalu seperti itu. Begitu bangun, lalu kembali menyusun jadwal syutingnya lagi.

Karena banyak kelemahan itu, dan bermusyawarah dengan seluruh keluarganya, maka Wati sekeluarga pulanglah ke gampong. Seperti kebiasaan hidup di Jakarta yang selalu menebar senyum, di gampong, Wati juga seperti itu. Selalu menebar senyum, kepada siapa saja. Apalagi ia tahu, senyum itu sebagai sebentuk ibadah.

Kalau di Jakarta, sebuah senyum yang diberikannya, tidak selalu diharapkan sebagai ibadah. Di kota besar semacam Jakarta, orang-orang memang seperti ada keharusan untuk selalu menebar pesona.

Berbeda dengan di gampong, yang selalu berperilaku kiban crah meunan beukah. Kalau ada yang bengis kepada orang-orang, maka bila bertemu orang-orang, seseorang akan memilih menghindar agar tak bertatapan muka.

Di kuta, umumnya tidak seperti itu. Bengis sekalipun, bila di depan orang, seseorang akan berusaha keras menampakkan wajah senyumnya. Apalagi seorang artis, gayanya, konon lagi di depan kamera, akan menjaga image-nya mati-matian. Persoalan di belakang menjadi berbeda dengan kenyataan sebenarnya, dianggap bukan masalah. Yang penting, tebar pesona banyak-banyak.

Mungkin, perilaku Wati di gampong sangat berbeda pretensinya. Maka apa yang terjadi ketika ia selalu senyum di gampong? Seorang pemuda sekelas Abdoeh, yang tak pernah keluar gampong, menganggap lain senyuman itu.

Abdoeh, lalu menerima berbagai kesan. Mulailah ia rapi sedikit demi sedikit. Pasalnya, dalam pikirannya, seorang gadis dari Jakarta selalu memberi senyum kepadanya. Bila ia berjalan bersama beberapa temannya yang juga pemuda gampong, matanya tidak pernah lepas dari rumah di bineh jurong itu.

Orang sekelas Abdoeh, tentu tak punya keberanian untuk menanyakan kebenaran terhadap hal-hal seperti itu yang di gampong masih dianggap tabu. Terus, ia hanya menyimpan sendiri di dalam hati.

Pokoknya, hatinya benar-benar berbunga. Hingga suatu kali ia memberanikan diri menyuruh orang tuanya untuk melamar Wati. Ketika orang tua menanyakan mengapa harus Wati. Abdoeh, dengan percaya diri mengungkapkan Wati sangat suka kepadanya, pasalnya ia selalu senyum.

Pada hari orang tuanya pergi ke rumah Wati, Abdoeh lalu menceritakan kepada banyak orang kalau sebentar lagi Wati akan menjadi miliknya. Bahkan, ia bercerita dengan penuh semangat kepada Samsuar yang sebenarnya sudah menjadi pacar Wati. Samsuar adalah lelaki yang sudah lama juga tinggal di kuta.

Abdoeh bahkan tak menangkap tanda ketika orang tuanya pulang ke rumah dengan wajah tertunduk. Abdoeh masih gencar bercerita kepada banyak orang perihal Wati yang suka kepadanya. Hanya karena senyuman. Padahal, orang tuanya sudah tertunduk di rumah.

Ada-ada saja![ST]