ATI-hati,
selama ini, semangat mencari teman untuk mesum dapat
dilakukan lewat berbagai media. Internet, sudah
menyediakan banyak fasilitas, seseorang bisa saling
bertukar gambar apa saja. Bahwa ketelanjangan tubuh pun
dapat dibagi lewat yang namanya internet.
Fasilitas
yang ada dalam massangger, misalnya. Dengan
ngobrol jarak-jauh, teman yang masuk dalam sekejap
saling mengenal tanpa mengenal batas. Dari gampong
pun bisa mendapatkan teman dengan segera. Prasyarat,
tentu saja jaringan internet. Ini menjadi bagian
implikasi negatif sebuah kemajuan teknologi.
Di samping
yang negatif, tentu banyak yang positif. Internet bisa
menjadi jaringan dakwah juga. Membagi pengetahuan agama,
misalnya, juga dapat dilakukan melalui internet. Seorang
teman, bahkan membuat sebuah website pribadi yang
isinya, khusus masalah kajian-kajian agama.
Banyak yang
positif dari hadirnya sebuah teknologi. Walau di antara
itu, ada yang negatif. Ibarat sebuah pisau, bisa
digunakan untuk kebaikan, tapi ada orang yang
menggunakannya untuk kejahatan. Begitu juga dengan
internet, bisa untuk kebaikan, juga bisa dipergunakan
untuk kejahatan dan hal-hal yang tidak baik.
Syahdan,
pada pasal ini saya ingin melihat sesuatu yang negatif,
yang barangkali dapat menjadi pengalaman bagi orang
lain. Khususnya ngobrol lewat internet. Ini
menjadi ruang untuk menjalin persahabatan zaman baru.
Pun demikian, chatting juga bisa menjadi ruang
untuk mencari perselingkuhan baru secara maya.
Sekitar
tiga tahun lalu, ketika saya masih tinggal di Jakarta,
saya mempunyai seorang teman yang mengelola internet di
sekitar Rawamangun. Sebagai pengelola, tentu ia
mempunyai banyak waktu untuk chatting. Ngobrol
dan mencari teman dengan tanpa dibatasi teritori,
bukanlah masalah. Tapi apa yang terjadi bila teman baru
yang didapatkan itu rela membuka pakaiannya di depan
webcam.
Itu menjadi
masalah. Saya membayangkan, bagaimana bila ada saudara
saya, teman saya, atau bahkan orang gampong saya
yang seperti itu. Teman saya yang di Jakarta itu,
merupakan corak orang yang ternyata mendapat kesenangan
secara maya. Kesenangan yang buruk, yang tidak patut
dicontoh oleh orang lain.
Setelah
tsunami, Aceh menjadi kawasan yang sangat terbuka secara
maya. Kemajuan itu, seperti yang saya katakan, sama
sekali bukan masalah. Namun kenyataannya, ada orang yang
mengambil implikasi negatif ketimbang positif. Ketika
chatting sudah menjadi ruang baru bagi sebagian muda
di Aceh untuk mencari teman dari seluruh jagad, ada
sebagian yang mempergunakan untuk berkomunikasi yang
jorok-jorok.
Sudah
menjadi kenyataan baru, melalui chatting, banyak
orang yang sudah tidak canggung untuk mempergunakan
kata-kata yang jorok. Di nanggroe kita ini, saya
juga pernah mendapat teman yang membagi-bagi keindahan
tubuhnya. Ini menjadi masalah baru yang berpotensi
merusak tatanan kehidupan di Aceh.
Solusinya,
tentu bukan dengan melarang internet. Tapi bagaimana
implikasi negatif dari internet itu bisa ditekan. Dalam
zaman sekarang, internet sudah menjadi kebutuhan
penting. Alur komunikasi dan informasi menjadi sangat
lancar, dan menjadi makna penting dari kehadiran
teknologi ini.
Semuanya
terletak pada manusianya. Orang yang menggunakan
teknologilah yang menentukan untuk tujuan apa sebuah
kemajuan teknologi itu dipergunakan. Untuk tujuan
positifkah? Untuk tujuan negatifkah? Yang jelas, orang
tua, memiliki tugas baru untuk menjaga anak-anaknya dari
pengaruh negatif dari kemajuan teknologi komunikasi dan
informasi ini.
Semisal mencari teman baru di dunia maya, seorang anak
harus diingatkan untuk selalu berhati-hati. Untuk selalu
waspada agar tidak mudah tergoda.[ST]