HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 110607|
TEMUAN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UNCI yang paling penting dalam kebudayaan, adalah proses belajar. Manusia dengan kebudayaannya harus terus-menerus belajar. Mulai dari ide atau gagasan, aktivitas, atau hasil kebudayaan fisik. Semuanya adalah proses belajar.

Makanya sebuah kebudayaan tidak pernah berhenti. Berhenti, berarti mati. Dan, ibarat manusia dengan tingkah lakunya, maka kebudayaan juga tak pernah berhenti. Namun dalam kenyataan, ada proses gesekan, pengenalan, dan ekspansi, pada akhirnya juga proses belajar.

Untuk menandai bagaimana proses belajar ini berperan, terutama untuk melihat dengan temuan-temuan besar dalam masyarakat. Di dunia mana pun, hadirnya sebuah temuan, membutuhkan belajar terus-menerus. Dan itu terus terjadi sejak dari fase-fase kebudayaan masa silam, yang klimaksnya paska perang dunia kedua, dimana segala penjajahan sudah mulai ditolak.

Antara perilaku penjajahan dengan yang dijajah, sama-sama butuh proses belajar. Ditolak dalam konsep kuasa, tak lantas ada penolakan dalam konsep-konsep baru. Itulah yang terus terjadi. Penjajahan dalam terminologi teritorial, bisa jadi sudah meninggal dunia. Lalu siapa yang dapat berpaling dari kenyataan adanya penjajahan modern dengan bentuk dan pernak-perniknya hingga sekarang ini.

Bahwa sebuah temuan, selalu menghadirkan kemudahan dan kemudharatan sekaligus. Pergantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin, dengan demikian tak hanya memudahkan para pemilik peruntungan, karena pada saat yang sama, orang-orang yang hidup dengan tenaga akan sekarat kebutuhan hidupnya.

Itulah yang terjadi. Dalam masyarakat Aceh, ketika ricecocker menjadi kebutuhan hampir semua keluarga, maka semua orang sudah dituntut untuk memiliki uang dan sudah menghemat waktu dan tenaga yang seharusnya dipergunakan untuk mencari kayu bakar.

Penggunaan kompor gas sudah menghilangkan beberapa wilayah kerja penting dalam masyarakat Aceh, semisal kondisi rumah yang tidak perlu lagi dibedakan antara ruang tamu dan dapur. Padahal dalam rumah dengan pembagian ruangnya, merupakan cermin ada yang terbuka dan ada yang tertutup.

Kenyataan inilah yang menyebabkan masa sekarang, masih ada orang-orang yang menentang boleh-tidaknya ada kamar mandi di dalam rumah. Karena dalam pikiran sebagian orang, tempat buang hajat yang bersatu dengan kamar mandi, berimplikasi kepada pengamalan dalam lingkup tertentu dalam konteks ibadah.

Demikian juga misalnya dengan banyaknya air minum isi ulang, mengubah pola aktivitas orang Aceh yang memiliki tradisi tersendiri dalam pengambilan air minum. Tersedianya air minum isi ulang, juga mengubah pola dari adanya keharusan adanya kegiatan masak air terlebih dahulu.

Penemuan-penemuan baru dalam konteks kebutuhan rumah tangga, juga membebankan pada wilayah yang lain. Semua memakai teknologi, arus listrik lalu menjadi kebutuhan penting dan harus dihemat karena daya tampung yang terbatas. Di Koran, kita baca adanya pengumuman untuk mengurangi pemakaian aliran listrik.

Energi listrik dengan bahan bakar minyak sudah mulai bermasalah dan menipis, juga sedang dirundung kemalangan karena semakin sedikit sumbernya. Lalu berbagai sumber alternatif pun dihadirkan. Dan, masyarakat yang memakainya, tak pernah berhenti untuk terus-menerus belajar. Minimal untuk mempergunakannya.[ST]