UNCI
yang paling penting dalam kebudayaan, adalah proses
belajar. Manusia dengan kebudayaannya harus terus-menerus
belajar. Mulai dari ide atau gagasan, aktivitas, atau
hasil kebudayaan fisik. Semuanya adalah proses belajar.
Makanya
sebuah kebudayaan tidak pernah berhenti. Berhenti,
berarti mati. Dan, ibarat manusia dengan tingkah lakunya,
maka kebudayaan juga tak pernah berhenti. Namun dalam
kenyataan, ada proses gesekan, pengenalan, dan ekspansi,
pada akhirnya juga proses belajar.
Untuk
menandai bagaimana proses belajar ini berperan, terutama
untuk melihat dengan temuan-temuan besar dalam
masyarakat. Di dunia mana pun, hadirnya sebuah temuan,
membutuhkan belajar terus-menerus. Dan itu terus terjadi
sejak dari fase-fase kebudayaan masa silam, yang
klimaksnya paska perang dunia kedua, dimana segala
penjajahan sudah mulai ditolak.
Antara
perilaku penjajahan dengan yang dijajah, sama-sama butuh
proses belajar. Ditolak dalam konsep kuasa, tak lantas
ada penolakan dalam konsep-konsep baru. Itulah yang
terus terjadi. Penjajahan dalam terminologi teritorial,
bisa jadi sudah meninggal dunia. Lalu siapa yang dapat
berpaling dari kenyataan adanya penjajahan modern dengan
bentuk dan pernak-perniknya hingga sekarang ini.
Bahwa
sebuah temuan, selalu menghadirkan kemudahan dan
kemudharatan sekaligus. Pergantian tenaga manusia
menjadi tenaga mesin, dengan demikian tak hanya
memudahkan para pemilik peruntungan, karena pada saat
yang sama, orang-orang yang hidup dengan tenaga akan
sekarat kebutuhan hidupnya.
Itulah yang
terjadi. Dalam masyarakat Aceh, ketika ricecocker
menjadi kebutuhan hampir semua keluarga, maka semua
orang sudah dituntut untuk memiliki uang dan sudah
menghemat waktu dan tenaga yang seharusnya dipergunakan
untuk mencari kayu bakar.
Penggunaan
kompor gas sudah menghilangkan beberapa wilayah kerja
penting dalam masyarakat Aceh, semisal kondisi rumah
yang tidak perlu lagi dibedakan antara ruang tamu dan
dapur. Padahal dalam rumah dengan pembagian ruangnya,
merupakan cermin ada yang terbuka dan ada yang tertutup.
Kenyataan
inilah yang menyebabkan masa sekarang, masih ada
orang-orang yang menentang boleh-tidaknya ada kamar
mandi di dalam rumah. Karena dalam pikiran sebagian
orang, tempat buang hajat yang bersatu dengan kamar
mandi, berimplikasi kepada pengamalan dalam lingkup
tertentu dalam konteks ibadah.
Demikian
juga misalnya dengan banyaknya air minum isi ulang,
mengubah pola aktivitas orang Aceh yang memiliki tradisi
tersendiri dalam pengambilan air minum. Tersedianya air
minum isi ulang, juga mengubah pola dari adanya
keharusan adanya kegiatan masak air terlebih dahulu.
Penemuan-penemuan baru dalam konteks kebutuhan rumah
tangga, juga membebankan pada wilayah yang lain. Semua
memakai teknologi, arus listrik lalu menjadi kebutuhan
penting dan harus dihemat karena daya tampung yang
terbatas. Di Koran, kita baca adanya pengumuman untuk
mengurangi pemakaian aliran listrik.
Energi
listrik dengan bahan bakar minyak sudah mulai bermasalah
dan menipis, juga sedang dirundung kemalangan karena
semakin sedikit sumbernya. Lalu berbagai sumber
alternatif pun dihadirkan. Dan, masyarakat yang
memakainya, tak pernah berhenti untuk terus-menerus
belajar. Minimal untuk mempergunakannya.[ST]