HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 120507
TINGKAH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ALAM konferensi, yang dilaksanakan untuk menyelesaikan debat dalam konferensi pers yang membahas rencana pelaksanaan konferensi, terlihat beberapa pemandangan yang menarik –bahkan sangat menarik. Hal ini menjadi penting untuk disebut, karena kelindan ini juga harus dipahami lambat laun akan menjadi masalah serius.

Pertama, orang-orang intelektual, di dalam pertemuan ada yang melaksanakan rapat lam rapat. Di dalam ruang, orang-orang juga membicarakan persoalannya sendiri yang tidak ada hubungan dengan pelaksanaan konferensi. Banyak orang yang terganggu gara-gara itu karena tidak bisa mengikuti acara dengan khitmad.

Kedua, belum lagi orang-orang yang tidak menurunkan volume bunyi handphone-nya. Penerima panggilan lewat telepon seluler, berbicara keras-keras hingga orang-orang yang ikut konferensi juga akan tertuju perhatiannya kepada penerima panggilan. Bagi orang-orang yang mengikuti konferensi dengan serius, itu sangat mengganggu perhatian mereka.

Ketiga, pada saat pembukaan acara, orang tampak tumpah-ruah seisi ruangan. Selidik punya selidik, ternyata karena banyak pejabat dari kuta yang hadir. Pada kenyataannya, peserta yang turun drastis pada hari kedua dan seterusnya. Banyak ruang kosong terlihat. Padahal itu sudah diboking.

Orang-orang yang dibiayai perjalanannya ke gampong itu, pada akhirnya seperti menjadi momentum kunjungan, ketimbang untuk mengikuti seluruh bagian isi konferensi. Penginapan dengan kasur yang empuk, juga sangat berpengaruh orang-orang yang jarang tidur di tempat yang bagus. Waktu acara sedang berlangsung, banyak yang memilih berguling-guling di tempat tidur.

Yang jelas, ada sebagian peserta yang tidak ikut membahas persoalan yang timbul dalam konferensi pers yang membahas rencana pelaksanaan konferensi. Ini jadi contoh tidak baik dalam perjalanan dinamika di tingkat gampong. Bisa saja ini disebut sebagai preseden buruk.

Keempat, tak semua orang asing yang hadir ke sana itu sebagai orang-orang yang berkualitas. Namun, dasar orang gampong, yang mengira semua orang luar itu semuanya pandai-cerdas. Momentum ini juga jadi ajang foto-foto bagi mereka yang tujuannya untuk melancong.

Kelima, orang-orang asing itu juga ada yang tidak menghargai pandangan dan keyakinan orang-orang gampong. Padahal mereka tahu, itu harus dihargai. Ibarat kata pepatah: di mana bumi di pijak, di situ bumi dijunjung. Pada kenyataannya, ada di antara mereka yang berpakaian tidak sopan.

Keenam, ternyata konferensi ini juga menjadi ruang bagi orang-orang oportunis untuk saling bertemu dan memperlihatkan wajah kebaikannya, sebagai berjasa dalam upaya membangun kembali gampong menuju masa depan.

Tapi tidak ada yang perlu digelisahkan dengan berbagai fenomena yang terihat itu. Apalagi sampai harus takut. Biasanya, waktu yang menguak semua tingkah, baik benar maupun tidak benar.

Dalam konteks ini, juga tidak terlalu penting untuk memperdebatkan bagaimana mengukur kebenaran lewat enam fenomena di atas, karena bila itu yang akan dibahas lagi, sungguh butuh satu konferensi lagi untuk bisa terakomodir semuanya. Sebagai catatan, ketika konferensi kembali dilaksanakan, sekali atau berapa kali, tidak memberi jaminan bahwa semua masalah akan selesai.

Sangat sedikit orang yang memahami bahwa semua proses, sebenarnya adalah momentum untuk belajar: belajar dari ketertinggalan, belajar dari kegelisahan, atau bisa jadi belajar lewat hati nurani.[ST]