ALAM
konferensi, yang dilaksanakan untuk menyelesaikan debat
dalam konferensi pers yang membahas rencana pelaksanaan
konferensi, terlihat beberapa pemandangan yang menarik
–bahkan sangat menarik. Hal ini menjadi penting untuk
disebut, karena kelindan ini juga harus dipahami lambat
laun akan menjadi masalah serius.
Pertama,
orang-orang intelektual, di dalam pertemuan ada yang
melaksanakan rapat lam rapat. Di dalam ruang,
orang-orang juga membicarakan persoalannya sendiri yang
tidak ada hubungan dengan pelaksanaan konferensi. Banyak
orang yang terganggu gara-gara itu karena tidak bisa
mengikuti acara dengan khitmad.
Kedua,
belum lagi orang-orang yang tidak menurunkan volume
bunyi handphone-nya. Penerima panggilan lewat
telepon seluler, berbicara keras-keras hingga
orang-orang yang ikut konferensi juga akan tertuju
perhatiannya kepada penerima panggilan. Bagi orang-orang
yang mengikuti konferensi dengan serius, itu sangat
mengganggu perhatian mereka.
Ketiga,
pada saat pembukaan acara, orang tampak tumpah-ruah
seisi ruangan. Selidik punya selidik, ternyata karena
banyak pejabat dari kuta yang hadir. Pada
kenyataannya, peserta yang turun drastis pada hari kedua
dan seterusnya. Banyak ruang kosong terlihat. Padahal
itu sudah diboking.
Orang-orang
yang dibiayai perjalanannya ke gampong itu, pada
akhirnya seperti menjadi momentum kunjungan, ketimbang
untuk mengikuti seluruh bagian isi konferensi.
Penginapan dengan kasur yang empuk, juga sangat
berpengaruh orang-orang yang jarang tidur di tempat yang
bagus. Waktu acara sedang berlangsung, banyak yang
memilih berguling-guling di tempat tidur.
Yang jelas,
ada sebagian peserta yang tidak ikut membahas persoalan
yang timbul dalam konferensi pers yang membahas rencana
pelaksanaan konferensi. Ini jadi contoh tidak baik dalam
perjalanan dinamika di tingkat gampong. Bisa saja
ini disebut sebagai preseden buruk.
Keempat,
tak semua orang asing yang hadir ke sana itu sebagai
orang-orang yang berkualitas. Namun, dasar orang
gampong, yang mengira semua orang luar itu semuanya
pandai-cerdas. Momentum ini juga jadi ajang foto-foto
bagi mereka yang tujuannya untuk melancong.
Kelima,
orang-orang asing itu juga ada yang tidak menghargai
pandangan dan keyakinan orang-orang gampong.
Padahal mereka tahu, itu harus dihargai. Ibarat kata
pepatah: di mana bumi di pijak, di situ bumi dijunjung.
Pada kenyataannya, ada di antara mereka yang berpakaian
tidak sopan.
Keenam,
ternyata konferensi ini juga menjadi ruang bagi
orang-orang oportunis untuk saling bertemu dan
memperlihatkan wajah kebaikannya, sebagai berjasa dalam
upaya membangun kembali gampong menuju masa
depan.
Tapi tidak
ada yang perlu digelisahkan dengan berbagai fenomena
yang terihat itu. Apalagi sampai harus takut. Biasanya,
waktu yang menguak semua tingkah, baik benar maupun
tidak benar.
Dalam
konteks ini, juga tidak terlalu penting untuk
memperdebatkan bagaimana mengukur kebenaran lewat enam
fenomena di atas, karena bila itu yang akan dibahas
lagi, sungguh butuh satu konferensi lagi untuk bisa
terakomodir semuanya. Sebagai catatan, ketika konferensi
kembali dilaksanakan, sekali atau berapa kali, tidak
memberi jaminan bahwa semua masalah akan selesai.
Sangat
sedikit orang yang memahami bahwa semua proses,
sebenarnya adalah momentum untuk belajar: belajar dari
ketertinggalan, belajar dari kegelisahan, atau bisa jadi
belajar lewat hati nurani.[ST]