MENURUT
orang-orang gampong saya, sekarang sudah
banyak orang yang umurnya sudah tua, tapi mereka
sebenarnya tidak tuha. Usia bertambah, perilaku
tak berubah. Dari bahasa, antara tua dan tuha,
sama saja maksudnya.
Tapi orang
di gampong memiliki pemahaman yang berbeda ketika
mengucapkan itu. Usia sudah tua, tapi perilaku tidak
tuha, itu dapat menjadi contoh. Ada orang yang sudah
semakin tua, tapi perangainya semakin buruk.
Bila ada
orang yang seperti ini, orang-orang sudah mulai mengait-ngait
dengan bau tanah. Dari segi usia, usia tua semakin dekat
dengan ajal. Walau dalam agama selalu dipesan bahwa ajal
itu tidak pada usia. Anak-anak pun banyak yang mendapat
ajal. Seperti buah kelapa, yang jatuh itu tak hanya yang
sudah riek, tapi yang sedang mekar sekalipun
jatuh.
Jelasnya,
ada perbedaan antara tua dan yang muda. Seperti padi,
biasanya yang masih hijau itu, berdirinya masih tegap
seperti memandang langit. Tapi yang sudah menguning,
pelan-pelan padi akan menunduk.
Orang-orang
yang tua tapi tidak pernah menunduk, itu melawan
perjalanan waktu. Demikian juga sebaliknya, bukan
berarti yang muda tidak ada yang menunduk. Tapi jarang.
Dalam hal kebijaksanaan, harus diakui, yang tua memiliki
kemampuan lebih untuk itu.
Bila
berhadapan dengan masalah, tingkat kesabaran juga
berbeda. Bila ada kasus di gampong semisal
kedapatan orang yang melakukan pencurian, maka itu
menjadi urusan anak muda, sementara penyelesaiannya baru
urusan orang tua. Begitu yang sering terlihat di
mana-mana.
Orang-orang
yang kedapatan bermesum di luar nikah juga begitu.
Giliran menangkap dan memandikan, itu seolah-olah
menjadi urusannya para anak muda. Ketika semua prosesi
yang mereka anggap benar itu sudah dilaksanakan, baru
kemudian diserahkan kepada orang tua. Orang tua
gampong yang kemudian melaksanakan format
penyelesaian.
Orang-orang
tua sering ditempatkan pada kemampuan menyelesaikan
masalah. Inilah yang berbeda antara tua dengan tuha.
Seorang yang berumur, belum tentu mampu menyelesaikan
sebuah persoalan, maka itu tak dianggap tuha.
Untuk menyelesaikan sebuah masalah, tentu harus mengerti
masalah. Orang tua tapi tidak mengerti masalah, juga
tidak termasuk tuha. Logikanya, bagaimana bisa
menyelesaikan masalah, bila tidak mengerti masalah.
Mengerti
sebuah masalah, tentu saja karena proses belajar. Sama
seperti kehidupan yang merupakan proses belajar yang
berlangsung terus-menerus. Karena memahami sebagai
proses belajar, seseorang akan mengerti bahwa dalam
dirinya masih berpotensi ada kekurangan. Orang-orang
yang mengerti dirinya ada potensi berkekurangan, maka
saat mengambil sebuah keputusan, tidak akan lupa untuk
melihat kanan-kiri.
Orang yang tuha ada kebijaksanaan, yang lahir
dari berbagai perhitungan dan pertimbangan. Kalau tidak
demikian, maka belum dapat disebut tuha.[ST]