HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 130607|
Tuha
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

MENURUT orang-orang gampong saya, sekarang sudah banyak orang yang umurnya sudah tua, tapi mereka sebenarnya tidak tuha. Usia bertambah, perilaku tak berubah. Dari bahasa, antara tua dan tuha, sama saja maksudnya.

Tapi orang di gampong memiliki pemahaman yang berbeda ketika mengucapkan itu. Usia sudah tua, tapi perilaku tidak tuha, itu dapat menjadi contoh. Ada orang yang sudah semakin tua, tapi perangainya semakin buruk.

Bila ada orang yang seperti ini, orang-orang sudah mulai mengait-ngait dengan bau tanah. Dari segi usia, usia tua semakin dekat dengan ajal. Walau dalam agama selalu dipesan bahwa ajal itu tidak pada usia. Anak-anak pun banyak yang mendapat ajal. Seperti buah kelapa, yang jatuh itu tak hanya yang sudah riek, tapi yang sedang mekar sekalipun jatuh.

Jelasnya, ada perbedaan antara tua dan yang muda. Seperti padi, biasanya yang masih hijau itu, berdirinya masih tegap seperti memandang langit. Tapi yang sudah menguning, pelan-pelan padi akan menunduk.

Orang-orang yang tua tapi tidak pernah menunduk, itu melawan perjalanan waktu. Demikian juga sebaliknya, bukan berarti yang muda tidak ada yang menunduk. Tapi jarang. Dalam hal kebijaksanaan, harus diakui, yang tua memiliki kemampuan lebih untuk itu.

Bila berhadapan dengan masalah, tingkat kesabaran juga berbeda. Bila ada kasus di gampong semisal kedapatan orang yang melakukan pencurian, maka itu menjadi urusan anak muda, sementara penyelesaiannya baru urusan orang tua. Begitu yang sering terlihat di mana-mana.

Orang-orang yang kedapatan bermesum di luar nikah juga begitu. Giliran menangkap dan memandikan, itu seolah-olah menjadi urusannya para anak muda. Ketika semua prosesi yang mereka anggap benar itu sudah dilaksanakan, baru kemudian diserahkan kepada orang tua. Orang tua gampong yang kemudian melaksanakan format penyelesaian.

Orang-orang tua sering ditempatkan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Inilah yang berbeda antara tua dengan tuha. Seorang yang berumur, belum tentu mampu menyelesaikan sebuah persoalan, maka itu tak dianggap tuha.

Untuk menyelesaikan sebuah masalah, tentu harus mengerti masalah. Orang tua tapi tidak mengerti masalah, juga tidak termasuk tuha. Logikanya, bagaimana bisa menyelesaikan masalah, bila tidak mengerti masalah.

Mengerti sebuah masalah, tentu saja karena proses belajar. Sama seperti kehidupan yang merupakan proses belajar yang berlangsung terus-menerus. Karena memahami sebagai proses belajar, seseorang akan mengerti bahwa dalam dirinya masih berpotensi ada kekurangan. Orang-orang yang mengerti dirinya ada potensi berkekurangan, maka saat mengambil sebuah keputusan, tidak akan lupa untuk melihat kanan-kiri.

Orang yang tuha ada kebijaksanaan, yang lahir dari berbagai perhitungan dan pertimbangan. Kalau tidak demikian, maka belum dapat disebut tuha.[ST]