ERA
ini adalah era kebebasan teknologi informasi. Tinggal
beberapa gampong saja yang tidak sampai siaran
televisi. Kawasan-kawasan itu, dianggap masih
ketinggalan karena tidak bisa menikmati siaran televisi.
Kawasan-kawasan yang sudah sampai saluran televisi,
dianggap sebagai kawasan yang maju. Sebagai kawasan yang
maju, sudah tentu, banyak melihat gambar dan tayang.
Mulai bangun dari tidur sampai dengan tidur lagi, ada
saja acara di televisi.
Sebagian
jam tayang dihabiskan untuk menyiarkan para selebritis.
Berbagai acara diada-adakan untuk mendapatkan berita
kemana mereka pergi, dengan siapa mereka bercumbu, untuk
siapa mereka memberi senyum, makan apa mereka, berapa
pendapatan mereka, harga pakaian yang dipakai, kemewahan
pesta yang dilaksanakan, dan sebagainya.
Ketika
sinetron hampir mencapai puncak kemajuan, itu juga
menjadi tontonan yang luar biasa padat jam tayangnya.
Semenjak pagi sudah tersedia sinetron, sampai larut
malam. Anak-anak, menjadi manusia yang paling terjajah
karena tidak ada piranti untuk melindungi semua mereka
dari tontonan-tontonan yang seyogianya hanya pantas
ditonton oleh orang dewasa semata.
Dalam
konteks ini, kita menyaksikan ada hal yang
menggelisahkan. Jauh dari kesan sebagai upaya membentuk
karakter bangsa dan membangun nilai-nilai agama dan
sosial.
Nilai
pendidikan yang positif, sudah berkurang porsinya di
televisi. Informasi hanya untuk menyeimbangkan
persaingan yang semakin sengit antara kelompok pemilik.
Daya jual, bertumpu pada dunia hiburan. Itulah yang
dikemas sekarang ini, sehingga pemirsa dan penonton di
kondisikan sebagai pihak yang merasa benar-benar
membutuhkan.
Lihatlah
tayangan hiburan di televisi, saban hari, berkisar 10-19
jam tayang. Tayangan sinetron selalu berada di jadwal
padat penonton, sambung menyambung sampai tiga atau
empat judul.
Sinetron
dengan berbagai rupa, menampakkan lima hal penting yang
harus dikoreksi, yakni: (a) eksploitasi yang sangat
berlebihan terhadap tubuh perempuan –walau tak ada
gugatan yang berarti dari mereka yang memperjuangkan
martabat perempuan; (b) nilai-nilai agama dan sosial
yang kurang diperhatikan –walau masih kurang gugatan
dari agamawan dan para sukarelawan; (c) unsur seks, baik
perilaku maupun cakapan yang hadir di setiap judul
–walau diakui kita sebagai kawasan Timur yang tabu
terhadap seks; (d) sering menggambarkan kondisi yang wah,
kemewahan, hebat, dan hal-hal yang wah lainnya –walau di
sekeliling cukup banyak masyarakat yang masih payah dan
melarat; (e) memproduksi gagasan-gagasan luar dengan
sedikit atau bahkan kurang reserve –walau diakui
banyak gagasan luar ada juga yang menindas ketimbang
menyelamatkan.
Lengkap.
Apalagi perkembangan sinetron juga memuaskan selera
dengan berusaha membentuk trend. Sekarang ini,
sinetron religius mendominasi televisi, dengan berdasar
pada fakta dan disusun lewat tayangan yang kerap
membodohkan ketimbang menjadi nilai-nilai yang penting
dalam kehidupan.
Sebelumnya,
sinetron horor mendapat tempat di Indonesia. Berbagai
bentuk sinetron diproduksi, walau beberapa di antaranya
dikecam oleh sebagian masyarakat. Media, sepertinya juga
membentuk kondisi itu, di mana semakin dikecam, daya
jualnya semakin bagus.
Berbagai
tayangan reality show, juga hadir seiring dengan
masing-masing televisi sudah mendesain produknya.
Tayangan suatu reality show, bahwa tak hanya
ditayangkan pada hari puncak, tapi di hari-hari biasa
sudah dimulai dengan menayangkan proses keseharian
peserta dari bangun tidur sampai bangun lagi.
Lalu yang
dominan adalah infotainment. Akibatnya,
berita-berita menjadi berkurang karena semua perlu
berita selebritis. Ada konser dangdut, rock, dan pop.
Perempuan di dalamnya seperti sangat enjoy dengan
memakai pakaian setengah telanjang. Goyang-goyang
dangdut sudah seronok. Berbagai acara konser diinginkan
menghadirkan warna berbeda dan tak jarang, menzalimi
keyakinan orang-orang yang tidak bisa menerimanya. Belum
lagi konser ekslusif dengan menghadirkan artis papan
atas.
Berbagai
tayangan kriminal sudah didesain juga seperti sebuah
sinetron. Kesan yang ditimbulkan bisa bermacam-macam
karena kasus kriminal umumnya berdasarkan pengakuan dan
cerita saksi, jadi kemungkinan berbias sangat besar.
Semua
bentuk tayangan, akhirnya dapat dipahami sebagai bentuk
dari upaya terobosan karena ingin menghadirkan tayangan
yang laku. Persaingan antar televisi sudah sangat
tinggi. Inilah yang mengakibatkan pemilik sudah kurang
kreasi. Tayangan-tayangan yang hadir kemudian mengikuti
ketidakmampuan dalam mengkreasi.
Inilah
bentuk lain dari televisi, di mana kawasan-kawasan yang
tidak mendapatkan siarannya, akan diberi cap sebagai
kawasan yang tak maju.[ST]