HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 290607|
TV
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ERA ini adalah era kebebasan teknologi informasi. Tinggal beberapa gampong saja yang tidak sampai siaran televisi. Kawasan-kawasan itu, dianggap masih ketinggalan karena tidak bisa menikmati siaran televisi.

Kawasan-kawasan yang sudah sampai saluran televisi, dianggap sebagai kawasan yang maju. Sebagai kawasan yang maju, sudah tentu, banyak melihat gambar dan tayang. Mulai bangun dari tidur sampai dengan tidur lagi, ada saja acara di televisi.

Sebagian jam tayang dihabiskan untuk menyiarkan para selebritis. Berbagai acara diada-adakan untuk mendapatkan berita kemana mereka pergi, dengan siapa mereka bercumbu, untuk siapa mereka memberi senyum, makan apa mereka, berapa pendapatan mereka, harga pakaian yang dipakai, kemewahan pesta yang dilaksanakan, dan sebagainya.

Ketika sinetron hampir mencapai puncak kemajuan, itu juga menjadi tontonan yang luar biasa padat jam tayangnya. Semenjak pagi sudah tersedia sinetron, sampai larut malam. Anak-anak, menjadi manusia yang paling terjajah karena tidak ada piranti untuk melindungi semua mereka dari tontonan-tontonan yang seyogianya hanya pantas ditonton oleh orang dewasa semata.

Dalam konteks ini, kita menyaksikan ada hal yang menggelisahkan. Jauh dari kesan sebagai upaya membentuk karakter bangsa dan membangun nilai-nilai agama dan sosial.

Nilai pendidikan yang positif, sudah berkurang porsinya di televisi. Informasi hanya untuk menyeimbangkan persaingan yang semakin sengit antara kelompok pemilik. Daya jual, bertumpu pada dunia hiburan. Itulah yang dikemas sekarang ini, sehingga pemirsa dan penonton di kondisikan sebagai pihak yang merasa benar-benar membutuhkan.

Lihatlah tayangan hiburan di televisi, saban hari, berkisar 10-19 jam tayang. Tayangan sinetron selalu berada di jadwal padat penonton, sambung menyambung sampai tiga atau empat judul.

Sinetron dengan berbagai rupa, menampakkan lima hal penting yang harus dikoreksi, yakni: (a) eksploitasi yang sangat berlebihan terhadap tubuh perempuan –walau tak ada gugatan yang berarti dari mereka yang memperjuangkan martabat perempuan; (b) nilai-nilai agama dan sosial yang kurang diperhatikan –walau masih kurang gugatan dari agamawan dan para sukarelawan; (c) unsur seks, baik perilaku maupun cakapan yang hadir di setiap judul –walau diakui kita sebagai kawasan Timur yang tabu terhadap seks; (d) sering menggambarkan kondisi yang wah, kemewahan, hebat, dan hal-hal yang wah lainnya –walau di sekeliling cukup banyak masyarakat yang masih payah dan melarat; (e) memproduksi gagasan-gagasan luar dengan sedikit atau bahkan kurang reserve –walau diakui banyak gagasan luar ada juga yang menindas ketimbang menyelamatkan.

Lengkap. Apalagi perkembangan sinetron juga memuaskan selera dengan berusaha membentuk trend. Sekarang ini, sinetron religius mendominasi televisi, dengan berdasar pada fakta dan disusun lewat tayangan yang kerap membodohkan ketimbang menjadi nilai-nilai yang penting dalam kehidupan.

Sebelumnya, sinetron horor mendapat tempat di Indonesia. Berbagai bentuk sinetron diproduksi, walau beberapa di antaranya dikecam oleh sebagian masyarakat. Media, sepertinya juga membentuk kondisi itu, di mana semakin dikecam, daya jualnya semakin bagus.

Berbagai tayangan reality show, juga hadir seiring dengan masing-masing televisi sudah mendesain produknya. Tayangan suatu reality show, bahwa tak hanya ditayangkan pada hari puncak, tapi di hari-hari biasa sudah dimulai dengan menayangkan proses keseharian peserta dari bangun tidur sampai bangun lagi.

Lalu yang dominan adalah infotainment. Akibatnya, berita-berita menjadi berkurang karena semua perlu berita selebritis. Ada konser dangdut, rock, dan pop. Perempuan di dalamnya seperti sangat enjoy dengan memakai pakaian setengah telanjang. Goyang-goyang dangdut sudah seronok. Berbagai acara konser diinginkan menghadirkan warna berbeda dan tak jarang, menzalimi keyakinan orang-orang yang tidak bisa menerimanya. Belum lagi konser ekslusif dengan menghadirkan artis papan atas.

Berbagai tayangan kriminal sudah didesain juga seperti sebuah sinetron. Kesan yang ditimbulkan bisa bermacam-macam karena kasus kriminal umumnya berdasarkan pengakuan dan cerita saksi, jadi kemungkinan berbias sangat besar.

Semua bentuk tayangan, akhirnya dapat dipahami sebagai bentuk dari upaya terobosan karena ingin menghadirkan tayangan yang laku. Persaingan antar televisi sudah sangat tinggi. Inilah yang mengakibatkan pemilik sudah kurang kreasi. Tayangan-tayangan yang hadir kemudian mengikuti ketidakmampuan dalam mengkreasi.

Inilah bentuk lain dari televisi, di mana kawasan-kawasan yang tidak mendapatkan siarannya, akan diberi cap sebagai kawasan yang tak maju.[ST]