SUATU hari,
di suatu tempat, terjadi perbincangan dengan seorang
teman. Tidak serius. Diskusi itu berlangsung sambil
ketawa-ketawa. Orang-orang yang tidak pernah mendapat
suasana ini, tentu akan menjadi asing baginya.
Hal yang
didiskusikan juga ruang yang sederhana. Seputar masalah
kelahiran, perkawinan, dan kematian. Sepertinya, secara
umum manusia akan mengerti bahwa tiga hal itu
(kelahiran, perkawinan, kematian), adalah tiga proses
besar (yang sangat besar) dalam hidup manusia.
Seorang
teman, memulai dengan sebuah mantik. Kalau kelahiran,
anak-anak yang lahir selalu menangis. Benar-benar
menangis. Itu adalah kenyataan. Sementara di luar itu,
orang-orang yang menunggu kelahiran anak, selalu
melahirkan senyum. Itu juga sebagai kenyataan.
Pertanyaan
sang teman, bagaimana mengukur tingkat kebahagiaan di
satu pihak (diwakili dengan senyuman penunggu) dengan
kesedihan (diwakili dengan tangisan anak) di pihak
lain?.
Teman yang
lain menggugat. Katanya, tidak benar tangisan anak itu
sebagai kesedihan. Artinya apa? Bahwa kesedihan, tidak
selalu digambar dengan adanya tangisan. Demikian juga
sebaliknya, kesedihan tidak selalu dapat terwakili
dengan tangisan.
Sanggahan
itu, kemudian menjadi logis. Terlepas benar atau salah.
Karena menurut ilmu kesehatan, tangisan anak bermanfaat
untuk membantu proses awal pernapasan sang anak.
Tapi
lupakan tentang anak. Mari kita fokus kepada kesedihan
dan kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan berulang ketika
perkawinan berlangsung. Perkawinan, antara orang yang
melakukan pesta dengan orang-orang sekelilingnya,
dominan merasakan bahagia. Makanya selalu dihiasi dengan
adanya pesta-pesta.
Ada juga
satu teman yang protes. Katanya, pesta tidak selalu
menjadi cermin dari bahagia. Orang-orang yang sedang
berpesta, sebenarnya hanya jadi batu loncatan untuk
melupakan sejenak berbagai masalah. Setelah itu,
berbagai hal mengepung lagi di sekitarnya.
Tapi
sepertinya ada dua hal yang berbeda: perkawinan dan
pesta. Kalau pesta mungkin belum tentu dapat menjadi
obat, tidak sama posisinya ketika orang melihat
perkawinan. Makanya ada orang kawin yang tidak ada pesta.
Satu lagi,
dalam lingkungan yang sedang mengalami kematian, orang
yang ditinggalkan selalu dalam keadaan duka, sedangkan
yang mati, kita tidak tahu: senyum atau tidak. Yang
terakhir, itu menyangkut yang tidak terlihat. Yang
nampak senyum waktu meninggal, apakah orang yang
meninggal itu bisa dikategorikan sebagai bahagia?
Wallahu aklam.
Sang teman
kembali protes. Katanya, apakah semua yang ditinggalkan
akan selalu merasakan duka saat ada kematian. Menurutnya,
belum tentu.
Kalau ini,
saya tidak memiliki komentar. Yang jelas, dalam
kehidupan manusia, tiga hal itu bertukar-tukar. Tiga
peristiwa itu sebagai suatu yang besar dalam hidup
manusia. Semua orang, seyogianya mengalami ketiga siklus
kehidupan itu. Namun, khusus perkawinan, belum tentu.
Sebab kematian tak selalu datang di waktu tua. Kematian
bisa saja dialami oleh orang yang baru lahir atau yang
belum nampak tubuhnya ke permukaan bumi.(ST)