HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 100707|
UKURAN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SUATU hari, di suatu tempat, terjadi perbincangan dengan seorang teman. Tidak serius. Diskusi itu berlangsung sambil ketawa-ketawa. Orang-orang yang tidak pernah mendapat suasana ini, tentu akan menjadi asing baginya.

Hal yang didiskusikan juga ruang yang sederhana. Seputar masalah kelahiran, perkawinan, dan kematian. Sepertinya, secara umum manusia akan mengerti bahwa tiga hal itu (kelahiran, perkawinan, kematian), adalah tiga proses besar (yang sangat besar) dalam hidup manusia.

Seorang teman, memulai dengan sebuah mantik. Kalau kelahiran, anak-anak yang lahir selalu menangis. Benar-benar menangis. Itu adalah kenyataan. Sementara di luar itu, orang-orang yang menunggu kelahiran anak, selalu melahirkan senyum. Itu juga sebagai kenyataan.

Pertanyaan sang teman, bagaimana mengukur tingkat kebahagiaan di satu pihak (diwakili dengan senyuman penunggu) dengan kesedihan (diwakili dengan tangisan anak) di pihak lain?.

Teman yang lain menggugat. Katanya, tidak benar tangisan anak itu sebagai kesedihan. Artinya apa? Bahwa kesedihan, tidak selalu digambar dengan adanya tangisan. Demikian juga sebaliknya, kesedihan tidak selalu dapat terwakili dengan tangisan.

Sanggahan itu, kemudian menjadi logis. Terlepas benar atau salah. Karena menurut ilmu kesehatan, tangisan anak bermanfaat untuk membantu proses awal pernapasan sang anak.

Tapi lupakan tentang anak. Mari kita fokus kepada kesedihan dan kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan berulang ketika perkawinan berlangsung. Perkawinan, antara orang yang melakukan pesta dengan orang-orang sekelilingnya, dominan merasakan bahagia. Makanya selalu dihiasi dengan adanya pesta-pesta.

Ada juga satu teman yang protes. Katanya, pesta tidak selalu menjadi cermin dari bahagia. Orang-orang yang sedang berpesta, sebenarnya hanya jadi batu loncatan untuk melupakan sejenak berbagai masalah. Setelah itu, berbagai hal mengepung lagi di sekitarnya.

Tapi sepertinya ada dua hal yang berbeda: perkawinan dan pesta. Kalau pesta mungkin belum tentu dapat menjadi obat, tidak sama posisinya ketika orang melihat perkawinan. Makanya ada orang kawin yang tidak ada pesta.

Satu lagi, dalam lingkungan yang sedang mengalami kematian, orang yang ditinggalkan selalu dalam keadaan duka, sedangkan yang mati, kita tidak tahu: senyum atau tidak. Yang terakhir, itu menyangkut yang tidak terlihat. Yang nampak senyum waktu meninggal, apakah orang yang meninggal itu bisa dikategorikan sebagai bahagia? Wallahu aklam.

Sang teman kembali protes. Katanya, apakah semua yang ditinggalkan akan selalu merasakan duka saat ada kematian. Menurutnya, belum tentu.

Kalau ini, saya tidak memiliki komentar. Yang jelas, dalam kehidupan manusia, tiga hal itu bertukar-tukar. Tiga peristiwa itu sebagai suatu yang besar dalam hidup manusia. Semua orang, seyogianya mengalami ketiga siklus kehidupan itu. Namun, khusus perkawinan, belum tentu. Sebab kematian tak selalu datang di waktu tua. Kematian bisa saja dialami oleh orang yang baru lahir atau yang belum nampak tubuhnya ke permukaan bumi.(ST)