ALAM
kehidupan kita, terlalu banyak kata-kata unggul.
Bertebar. Mulai dari bibit unggul, sampai sekolah
unggul. Masalahnya, mengenai hasil, selalu bermasalah
dengan keunggulan. Kurang unggul.
Di
mana-mana, hasil panen bermasalah akhir-akhir ini.
Berbagai kambing hitam pun muncul. Mulai dari kekurangan
air, tak maksimalnya pupuk, dan tak terawat dari hama.
Pestisida pun dipilih mengiringi jalan bertanam, hingga
meraung-raung dalam hasilnya yang kemudian dimakan dan
direproduksi manusia.
Menurut
orang tua di gampong, sangat wajar kalau sejak
anak-anak sekalipun, sekarang ini, sudah terlanjur
banyak merasakan penyakit. Segala hal didominasi makanan
berkandung kimiawi; minuman, makanan, sampai makanan
ringan yang tak henti dikonsumsi.
Seorang
teman yang baru pulang kuliah di Barat, berkata: di
sekeliling kita, dunia sudah tidak sehat, karena manusia
tidak membina hubungan yang harmonis dengan alam
sekelilingnya. Makanan dan minuman berlabel megah pun,
yang di sekeliling kita, didominasi oleh zat-zat asing
hingga berat diterima tubuh.
Menjadi
wajar, bila akhir-akhir ini, kita melihat tubuh-tubuh
manusia yang cepat sekali keropos. Rontok. Kalau orang
zaman, umurnya bisa lewat seratus tahun, maka
rasionalnya secara biologis, tidak banyak kandungan
zat-zat berbahaya di dalam tubuh mereka.
Dari segi
ketahanan tubuh juga berbeda. Makanan yang baik dimbangi
pula oleh gerakan yang aktif. Selama ini, berbagai
kendaraan tersedia hingga orang-orang sudah terlalu
sedikit menggerakkan tubuhnya.
Tubuh orang
zaman itu adalah unggul, walau apa yang dimakan, menurut
lingkungan kita yang modern, tidak dikategorikan unggul.
Mereka kerja berat hanya makan ubi. Tapi bukankah itu
lebih baik dari minum susu yang tertera berkalori tinggi
sementara dibungkus dengan zat pelindung yang berbahaya?
Apalagi bila pergi ke warung, keude, sampai
mall, aneka warna makanan tersusun di rak-rak.
Ini
menyangkut interpretasi, hingga kita, sepertinya harus
kembali menyusun konsepsi unggul yang lebih rasional.
Masuk akal. Bibit unggul, sementara hasilnya tak unggul,
karena pengolahannya dengan bantuan racun, sama saja
akhirnya. Sedangkan bibit biasa-biasa saja, prosesnya
benar, alat bantunya bukan racun, hasilnya bisa unggul
dan mampu membantu manusia untuk unggul.
Dalam
pendidikan, proses seperti ini juga harus menjadi
perhatian. Sekolah unggul tak perlu diperbanyak. Yang
dibutuhkan adalah guru-guru unggul yang tersebar sampai
ke pelosok gampong. Kalau keunggulan itu hanya
ditumpuk di beberapa bagian saja, maka yang unggul hanya
sebagian. Lagi pula, memberi tumpuk yang lebih untuk
yang unggul, sementara yang di pedalaman tertumpuk
dengan ketidakunggulannya, maka itu perilaku tak adil
besar yang kita lakukan.
Bayangkan
kalau unggul ada di mana-mana. Anak Panteraja, anak
Samalanga, anak Tapaktuan, Beutong, misalnya, tiba-tiba
dari sana lahir banyak orang yang cerdas dan penting
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Unggul seperti
inilah yang penting. (ST)