HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 040607|
UNGGUL
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ALAM kehidupan kita, terlalu banyak kata-kata unggul. Bertebar. Mulai dari bibit unggul, sampai sekolah unggul. Masalahnya, mengenai hasil, selalu bermasalah dengan keunggulan. Kurang unggul.

Di mana-mana, hasil panen bermasalah akhir-akhir ini. Berbagai kambing hitam pun muncul. Mulai dari kekurangan air, tak maksimalnya pupuk, dan tak terawat dari hama. Pestisida pun dipilih mengiringi jalan bertanam, hingga meraung-raung dalam hasilnya yang kemudian dimakan dan direproduksi manusia.

Menurut orang tua di gampong, sangat wajar kalau sejak anak-anak sekalipun, sekarang ini, sudah terlanjur banyak merasakan penyakit. Segala hal didominasi makanan berkandung kimiawi; minuman, makanan, sampai makanan ringan yang tak henti dikonsumsi.

Seorang teman yang baru pulang kuliah di Barat, berkata: di sekeliling kita, dunia sudah tidak sehat, karena manusia tidak membina hubungan yang harmonis dengan alam sekelilingnya. Makanan dan minuman berlabel megah pun, yang di sekeliling kita, didominasi oleh zat-zat asing hingga berat diterima tubuh.

Menjadi wajar, bila akhir-akhir ini, kita melihat tubuh-tubuh manusia yang cepat sekali keropos. Rontok. Kalau orang zaman, umurnya bisa lewat seratus tahun, maka rasionalnya secara biologis, tidak banyak kandungan zat-zat berbahaya di dalam tubuh mereka.

Dari segi ketahanan tubuh juga berbeda. Makanan yang baik dimbangi pula oleh gerakan yang aktif. Selama ini, berbagai kendaraan tersedia hingga orang-orang sudah terlalu sedikit menggerakkan tubuhnya.

Tubuh orang zaman itu adalah unggul, walau apa yang dimakan, menurut lingkungan kita yang modern, tidak dikategorikan unggul. Mereka kerja berat hanya makan ubi. Tapi bukankah itu lebih baik dari minum susu yang tertera berkalori tinggi sementara dibungkus dengan zat pelindung yang berbahaya? Apalagi bila pergi ke warung, keude, sampai mall, aneka warna makanan tersusun di rak-rak.

Ini menyangkut interpretasi, hingga kita, sepertinya harus kembali menyusun konsepsi unggul yang lebih rasional. Masuk akal. Bibit unggul, sementara hasilnya tak unggul, karena pengolahannya dengan bantuan racun, sama saja akhirnya. Sedangkan bibit biasa-biasa saja, prosesnya benar, alat bantunya bukan racun, hasilnya bisa unggul dan mampu membantu manusia untuk unggul.

Dalam pendidikan, proses seperti ini juga harus menjadi perhatian. Sekolah unggul tak perlu diperbanyak. Yang dibutuhkan adalah guru-guru unggul yang tersebar sampai ke pelosok gampong. Kalau keunggulan itu hanya ditumpuk di beberapa bagian saja, maka yang unggul hanya sebagian. Lagi pula, memberi tumpuk yang lebih untuk yang unggul, sementara yang di pedalaman tertumpuk dengan ketidakunggulannya, maka itu perilaku tak adil besar yang kita lakukan.

Bayangkan kalau unggul ada di mana-mana. Anak Panteraja, anak Samalanga, anak Tapaktuan, Beutong, misalnya, tiba-tiba dari sana lahir banyak orang yang cerdas dan penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Unggul seperti inilah yang penting. (ST)