ENCANA
gempa dan gelombang tsunami yang terjadi pada Ahad, 26
Desember 2004, sudah lama berlalu. Akan tetapi, ekses
bencana, telah meninggalkan berbagai persoalan yang
hingga kini masih banyak tersisa.
Dalam sisi
yang negatif, barangkali jelas bahwa tsunami
menghancurkan kawasan di 17 wilayah, kabupaten dan kota
yang ada di Aceh. Dari segi korban jiwa, jelas bahwa
tsunami telah menewaskan lebih dari 250 ribu jiwa di
seluruh dunia. Dari segi efek, tsunami telah membuat
orang terperangah di seluruh jagad. Berbagai berita dan
cerita di tanah bencana, telah melahirkan empati banyak
orang. Tapi jarang ada yang mencatat jumlah orang yang
menangis untuk daerah bencana dari masyarakat di seluruh
jagad raya ini.
Di tengah
kelamnya suasana sebagai sisi negatif dari bencana
tsunami, ternyata pada saat yang sama, bencana juga bisa
dilihat dalam sebentuk sisi positif. Ada berbagai
masalah kemanusiaan yang akhirnya menjadi hikmah dari
tsunami. Dialektika peradaban berlangsung, dan tsunami
mengejutkan orang tentang banyak hal, banyak masalah,
banyak persoalan.
Dalam
konteks kemanusiaan, bencana tsunami menjadi awal sebuah
proses dimulai. Jadilah momentum, yang banyak tersadar
karenanya, juga ada yang makin kurang ajar setelah
terjadinya bencana. Perkembangan baik dan buruk di
sekitar kita, bisa terlihat dengan jelas. Musang-musan
berbulu ayam, juga terus mengganti kulitnya.
Dalam ruang
yang sangat terbatas, itu adalah hikmah. Orang-orang
yang berperilaku buruk dan dengan bencana, wajah-wajah
orang yang berperilaku buruk nampak jelas, itu menjadi
hikmah juga. Jadi hikmah, bukan saja persoalan apa yang
kita dapat dan berapa persen yang akan bertambah.
Proses
rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan dana yang
sangat besar. Kebutuhan besar dana untuk proses
pembangunan kembali pascatsunami, diiringi pula dengan
banyak kebutuhan yang harus dikeluarkan untuk para
pelakunya. Orang-orang menyumbang dan untuk menyalurkan
ada rasionalisasi pengeluaran dana. Jangan heran, dalam
banyak hal, biaya operasional hampir sama dengan jumlah
yang akan digunakan untuk sasaran program.
Di Aceh,
orang-orang sudah berbicara tentang pendapatan. Melamar
sebuah proyek mulia dalam menuntun korban tsunami untuk
memperoleh hidupnya kembali, akan dilalui dengan
kalkulasi jumlah bayaran yang berstandar internasional.
Orang-orang yang baik, akan mengingat segala pendapatan
itu sebagai hikmah dari 250 ribu lebih jiwa manusia yang
pergi bersama gelombang.
Dalam
keseharian, kita melihat orang-orang yang memakai
jenis-jenis handphone yang langka, bermobil mewah
saat datang ke tempat orang-orang yang belum semua
terpenuhi hak-haknya.
Seharusnya
dihindari membicarakan di mana kita akan makan.
Perbanyaklah kita bertanya, bagaimana orang-orang akan
makan, lewat proses perbaikan kehidupannya yang tak
pernah henti.
Lahirnya
kelas-kelas baru adalah kenyataan, bersamaan dengan
lahirnya banyak rumah akan berkelas baru. Rumah makan
berkelas, tentu berbeda dengan keberadaan rumah makan
yang hanya menyediakan nasi bungkus saja.
Ini adalah
masalah kemanusiaan yang baru bisa dimaknai ketika
seseorang memiliki hati. Berpakaian mewah, walau dari
hasil keringat sendiri, di tengah-tengah orang yang
berpakaian lusuh, adalah gambaran tak punya hati.
Bayangkan
bagaimana kita memakan mewah di atas standar, bila di
samping kita ada pengemis yang nasibnya selalu kita
teriakkan untuk diperbaiki. Ini adalah masalah hati. Ini
adalah persoalan kemanusiaan.
Jelaslah,
persoalan kemanusiaan tak saja ketika mengharamkan
penindasan perilaku, namun juga harus mengharamkan sikap
yang menindas perasaan. Orang-orang yang tidak bisa
membedakan kenyataan ini, gambaran orang-orang yang
mengalami penyakit: keterbelahan jiwa.
Itu juga
harus menjadi hikmah. Semoga![ST]