HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 110507
UNTUNG
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ENCANA gempa dan gelombang tsunami yang terjadi pada Ahad, 26 Desember 2004, sudah lama berlalu. Akan tetapi, ekses bencana, telah meninggalkan berbagai persoalan yang hingga kini masih banyak tersisa.

Dalam sisi yang negatif, barangkali jelas bahwa tsunami menghancurkan kawasan di 17 wilayah, kabupaten dan kota yang ada di Aceh. Dari segi korban jiwa, jelas bahwa tsunami telah menewaskan lebih dari 250 ribu jiwa di seluruh dunia. Dari segi efek, tsunami telah membuat orang terperangah di seluruh jagad. Berbagai berita dan cerita di tanah bencana, telah melahirkan empati banyak orang. Tapi jarang ada yang mencatat jumlah orang yang menangis untuk daerah bencana dari masyarakat di seluruh jagad raya ini.

Di tengah kelamnya suasana sebagai sisi negatif dari bencana tsunami, ternyata pada saat yang sama, bencana juga bisa dilihat dalam sebentuk sisi positif. Ada berbagai masalah kemanusiaan yang akhirnya menjadi hikmah dari tsunami. Dialektika peradaban berlangsung, dan tsunami mengejutkan orang tentang banyak hal, banyak masalah, banyak persoalan.

Dalam konteks kemanusiaan, bencana tsunami menjadi awal sebuah proses dimulai. Jadilah momentum, yang banyak tersadar karenanya, juga ada yang makin kurang ajar setelah terjadinya bencana. Perkembangan baik dan buruk di sekitar kita, bisa terlihat dengan jelas. Musang-musan berbulu ayam, juga terus mengganti kulitnya.

Dalam ruang yang sangat terbatas, itu adalah hikmah. Orang-orang yang berperilaku buruk dan dengan bencana, wajah-wajah orang yang berperilaku buruk nampak jelas, itu menjadi hikmah juga. Jadi hikmah, bukan saja persoalan apa yang kita dapat dan berapa persen yang akan bertambah.

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan dana yang sangat besar. Kebutuhan besar dana untuk proses pembangunan kembali pascatsunami, diiringi pula dengan banyak kebutuhan yang harus dikeluarkan untuk para pelakunya. Orang-orang menyumbang dan untuk menyalurkan ada rasionalisasi pengeluaran dana. Jangan heran, dalam banyak hal, biaya operasional hampir sama dengan jumlah yang akan digunakan untuk sasaran program.

Di Aceh, orang-orang sudah berbicara tentang pendapatan. Melamar sebuah proyek mulia dalam menuntun korban tsunami untuk memperoleh hidupnya kembali, akan dilalui dengan kalkulasi jumlah bayaran yang berstandar internasional. Orang-orang yang baik, akan mengingat segala pendapatan itu sebagai hikmah dari 250 ribu lebih jiwa manusia yang pergi bersama gelombang.

Dalam keseharian, kita melihat orang-orang yang memakai jenis-jenis handphone yang langka, bermobil mewah saat datang ke tempat orang-orang yang belum semua terpenuhi hak-haknya.

Seharusnya dihindari membicarakan di mana kita akan makan. Perbanyaklah kita bertanya, bagaimana orang-orang akan makan, lewat proses perbaikan kehidupannya yang tak pernah henti.

Lahirnya kelas-kelas baru adalah kenyataan, bersamaan dengan lahirnya banyak rumah akan berkelas baru. Rumah makan berkelas, tentu berbeda dengan keberadaan rumah makan yang hanya menyediakan nasi bungkus saja.

Ini adalah masalah kemanusiaan yang baru bisa dimaknai ketika seseorang memiliki hati. Berpakaian mewah, walau dari hasil keringat sendiri, di tengah-tengah orang yang berpakaian lusuh, adalah gambaran tak punya hati.

Bayangkan bagaimana kita memakan mewah di atas standar, bila di samping kita ada pengemis yang nasibnya selalu kita teriakkan untuk diperbaiki. Ini adalah masalah hati. Ini adalah persoalan kemanusiaan.

Jelaslah, persoalan kemanusiaan tak saja ketika mengharamkan penindasan perilaku, namun juga harus mengharamkan sikap yang menindas perasaan. Orang-orang yang tidak bisa membedakan kenyataan ini, gambaran orang-orang yang mengalami penyakit: keterbelahan jiwa.

Itu juga harus menjadi hikmah. Semoga![ST]