HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 190607|
VIRGIN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UA atau tiga tahun yang lalu, film layer lebar yang berjudul “Virgin” masih diiringi dengan perdebatan yang luar biasa. Itu sangat merusak, kata pengamat moral. Biarkan setiap perbedaan berekspresi, kata orang yang sedang berekspresi. Ini adalah bagian dari ekspresi keindahan (yang murahan), kata pembuat film. Harus dimatikan, kata orang yang gelisah melihat tayangan televisi akhir-akhir ini.

Sekarang, film “Virgin” sudah menjadi tayangan di televisi Indonesia. Dalam layar lebar, dengan mengandalkan bioskop dan kepingan video compact disc (VCD), mungkin penontonnya terbatas. Katika film itu menjadi tayangan televisi, maka remaja dari pelosok pun dapat mendengar dengusan nafas gadis dalam film yang mengobral birahi.

Penonton meledak. Kemungkinan seperti itu, ketika televisi menjadi ruang selanjutnya. Alasannya sangat sederhana. Banyak orang yang sudah tidak mampu untuk pergi ke bioskop. Banyak orang yang akan berfikir dua kali untuk membeli VCD karena harus membeli juga pemutarnya. Sementara di televisi, siapa saja ditonton. Televisi ada di mana-ana. Warung-warung kopi pinggiran pun, serta rumah singgah anak-anak dan tua jompo, tersedia televisi dengan berbagai saluran.

Ada perubahan pandangan. Televisi tidak memutar saat perdebatan memuncak. Mereka punya alasan tersendiri waktu itu. Tapi kini ketika pilihan itu sudah diambil, juga memiliki alasan tersendiri.

Jelasnya, “Virgin” kemudian sudah tidak lagi menjadi perdebatan. Kalau ditilik ke belakang pun, sebenarnya perdebatan “Virgin” adalah upaya memperkecil kenyataan. Di mana setiap televisi punya tayangan yang sangat eksploitatif terhadap tubuh perempuan. Beragam tayangan, mulai dari film, sinetron, konser, sampai talkshow dan berbagai infotainment.

Ironisnya, eksploitasi itu tidak banyak ditentang. Penentangan itu sendiri, seperti satu bagian yang subjektif, dipandang tidak rasional. Ketika organisasi keagamaan menentang eksploitasi terhadap tubuh perempuan dalam berbagai bentuk, hal itu kemudian dicurigai.

Gayung tidak selalu bersambut, karena pada kenyataannya, kepentingan mengepungi kampung dalam berbagai bentuk (dan bahkan pesanan). Masih ditambah lagi dengan paradoks-paradoks dan dilema. Isu-isu perempuan makin diangkat dengan alasan perempuan sebagai kelompok rentan. Namun kerentanan ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok yang lebih besar dan kelompok yang mengatakan perempuan sebagai pihak rentan mendukungnya dengan penuh semangat.

Apa yang dapat dipikirkan dari sini, bahwa dunia memang sangat tidak adil. Dalam dunia, orang-orang pun masih berdebat tentang keadilan. Sepertinya, keadilan sendiri pun sudah gersang, hingga dengan diri pun, konsep-konsep seperti itu masih terus diperdebatkan. (ST)