UA
atau tiga tahun yang lalu, film layer lebar yang
berjudul “Virgin” masih diiringi dengan
perdebatan yang luar biasa. Itu sangat merusak, kata
pengamat moral. Biarkan setiap perbedaan berekspresi,
kata orang yang sedang berekspresi. Ini adalah bagian
dari ekspresi keindahan (yang murahan), kata pembuat
film. Harus dimatikan, kata orang yang gelisah melihat
tayangan televisi akhir-akhir ini.
Sekarang,
film “Virgin” sudah menjadi tayangan di televisi
Indonesia. Dalam layar lebar, dengan mengandalkan
bioskop dan kepingan video compact disc (VCD),
mungkin penontonnya terbatas. Katika film itu menjadi
tayangan televisi, maka remaja dari pelosok pun dapat
mendengar dengusan nafas gadis dalam film yang mengobral
birahi.
Penonton
meledak. Kemungkinan seperti itu, ketika televisi
menjadi ruang selanjutnya. Alasannya sangat sederhana.
Banyak orang yang sudah tidak mampu untuk pergi ke
bioskop. Banyak orang yang akan berfikir dua kali untuk
membeli VCD karena harus membeli juga pemutarnya.
Sementara di televisi, siapa saja ditonton. Televisi ada
di mana-ana. Warung-warung kopi pinggiran pun, serta
rumah singgah anak-anak dan tua jompo, tersedia televisi
dengan berbagai saluran.
Ada
perubahan pandangan. Televisi tidak memutar saat
perdebatan memuncak. Mereka punya alasan tersendiri
waktu itu. Tapi kini ketika pilihan itu sudah diambil,
juga memiliki alasan tersendiri.
Jelasnya, “Virgin”
kemudian sudah tidak lagi menjadi perdebatan. Kalau
ditilik ke belakang pun, sebenarnya perdebatan “Virgin”
adalah upaya memperkecil kenyataan. Di mana setiap
televisi punya tayangan yang sangat eksploitatif
terhadap tubuh perempuan. Beragam tayangan, mulai dari
film, sinetron, konser, sampai talkshow dan
berbagai infotainment.
Ironisnya,
eksploitasi itu tidak banyak ditentang. Penentangan itu
sendiri, seperti satu bagian yang subjektif, dipandang
tidak rasional. Ketika organisasi keagamaan menentang
eksploitasi terhadap tubuh perempuan dalam berbagai
bentuk, hal itu kemudian dicurigai.
Gayung
tidak selalu bersambut, karena pada kenyataannya,
kepentingan mengepungi kampung dalam berbagai bentuk
(dan bahkan pesanan). Masih ditambah lagi dengan
paradoks-paradoks dan dilema. Isu-isu perempuan makin
diangkat dengan alasan perempuan sebagai kelompok rentan.
Namun kerentanan ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok
yang lebih besar dan kelompok yang mengatakan perempuan
sebagai pihak rentan mendukungnya dengan penuh semangat.
Apa yang
dapat dipikirkan dari sini, bahwa dunia memang sangat
tidak adil. Dalam dunia, orang-orang pun masih berdebat
tentang keadilan. Sepertinya, keadilan sendiri pun sudah
gersang, hingga dengan diri pun, konsep-konsep seperti
itu masih terus diperdebatkan. (ST)