|
kedaulatan
rokok
Oleh: Saiful Mahdi
“Indonesia adalah surga
bagi para perokok; Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan
baru, diam-diam menguasai kita” tulis Taufiq Ismail dalam
puisinya yang sarkastik tapi sangat memikat “Tuhan Sembilan
Senti”.
Aceh adalah saksi tak terbantahkan akan kebenaran isi puisi
tersebut. Orang Indonesia adalah perokok berat. Orang Aceh
adalah perokok maniak! Di saat gerakan separatis di atas
angin, kemerdekaan digembar-gemborkan akan tercapai segera:
“Tinggai si bak rukok teuk!” kata para propagandis pro
kemerdekaan. Kita lupa bahwa orang Aceh adalah perokok luar
biasa, dan rokok sebatang itu tak kunjung habis. Rokok yang
diisap memang sebatang, tapi tidak pernah berhenti! (Semoga
UUPA adalah berhentinya merokok orang Aceh yang panjang).
Di masa konflik, rokok bisa jadi ukuran hidup mati. Para
gerilyawan bisa mati karena lupa mematikan rokok di
persembunyiannya sehingga berhasil diendus tentara. Puntung
rokok bisa menuntun pencarian jejak di hutan. Perokok berat,
katanya, bisa hidup walaupun tak makan beberapa hari, tapi
bisa pusing kalau tidak merokok beberapa saat.
Harga diri pihak yang bertikai dan satuan-satuan perang di
Aceh bahkan sering diukur dengan “uang rokok”. Maka
berlombalah masing-masing pihak mengumpulkan “uang rokok”
lewat sumbangan, pungli di jalan, pajak nanggroe, dan
kutipan lainnya. Katanya, gerilyawan berjuang untuk rakyat
tanpa gaji dan pendapatan tetap, jadi wajarlah kalau rakyat
sekedar memberikan “uang rokok”. Para serdadu berjuang
melindungi rakyat, jauh dari keluarga, dengan gaji
pas-pasan, jadi wajarlah kalau mereka berharap sekedar “uang
rokok”. Belum lagi, dalam masing-masing satuan, prajurit dan
kopral harus setor ”uang rokok” untuk yang lebih senior di
angkatan masing-masing hingga ke para jendral.
Gerilyawan bisa bertahan dengan rokok di hutan-hutan.
Demikian juga dengan tentara di pinggir hutan. Karena
percaya rokok dapat mengurangi stres, tentara dan gerilyawan
saling menunggu dan mengintai dengan rokok di tangan. Tidak
jelas, apakah karena stres konflik yang tak tertahankan,
orang Aceh yang tidak ikut perang pun menjadi
perokok-perokok berat yang luar biasa.
Setelah konflik dan tsunami, kehadiran rokok kian nyata di
tengah-tengah orang Aceh. Kalau dulu rokok hanya teman para
perokok, kini rokok juga teman para guru dan pengambil
keputusan umum yang dulunya anti rokok. Dengan lihainya,
perusahaan rokok justru memilih mambangun kembali fasilitas
pendidikan dan kebudayaan yang biasanya, paling tidak secara
institusional, anti rokok. Di Banda Aceh, perusahaan rokok
tidak berlomba membangun, katakanlah, bioskop dan fasilitas
hiburan yang menjadi “habitat tradisional” nya, tapi
membangun ikon-ikon pendidikan dan kebudayaan seperti
sekolah dan perpustakaan. Sungguh sebuah ironi bahwa SMP
terbaik di Kota Banda Aceh dibangun oleh salah satu
perusahaan rokok terbesar dan paling agresif di Indonesia.
Perokok kini dengan bangga bisa mengatakan “Kami ikut
mendanai rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh!” Minimal
seperti seloroh teman-teman kalau akan merokok di sela-sela
kesibukannya “Mari kita meningkatkan pendapatan negara lewat
cukai rokok, demi lancarnya rekonstruksi dan pembangunan.”
Pendapatan dari cukai rokok konon memang sangat besar.
Selain itu, ada ribuan petani tembakau yang tergantung pada
industri ini. Juga ada ratusan ribu buruh yang melinting
rokok cigaret yang dibanggakan Indonesia. Kalau bicara
ekonomi, industri ini jelas trickle down effect-nya. Belum
lagi kalau bicara perputaran uang di dunia periklanan yang
dimuntahkan oleh perusahaan rokok.
Konon, pejabat walikota Banda Aceh yang baru termasuk yang
paling bersemangat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Jika sumber lain seret, orang awam bisa mereka-reka
betapa besarnya potensi iklan rokok dari reklame sepanjang
jalan di Banda Aceh dan kota lainnya. Pengamatan sepintas
saja sudah menunjukkan bahwa reklame rokok adalah rajanya
pendapatan Dispenda Kota Banda Aceh, diikuti iklan jasa
telekomunikasi seperti ponsel dan sim card dan reklame
kenderaan roda dua.
Jika orang datang dari luar Aceh, iklan rokok sudah
menyambut sejak bandara di Blang Bintang hingga sampai di
pusat kota dan sejauh orang sanggup berkeliling. Semua
jembatan yang dilalui juga dipenuhi ornamen iklan rokok.
Umbul-umbul berbagai jenis rokok marak di seluruh sudut
kota. Jalan-jalan protokol yang indah penuh dengan iklan
rokok. Bahkan trotoar yang dibangun untuk pejalan kaki
banyak yang telah dikorbankan untuk menegakkan papan
bilboard ukuran raksasa yang berisi iklan rokok. Ukuran
papan iklan rokok yang lebih kecil wujud dalam bentuk nama
toko sampai ke pelosok kampung.
Hampir semua tamu dari luar yang pernah datang ke Aceh pasca
tsunami punya kesimpulan yang sama tentang kegilaan merokok
orang Aceh. Sehingga salah satu tips yang sering diberikan
untuk temannya yang akan datang ke Aceh adalah: “Kalau mau
ke Aceh, bawalah banyak pakaian, sabun dan sampo. Karena
setiap habis bertemu orang Aceh Anda harus ganti baju, mandi
dan keramas untuk menghilangkan bau rokok!”
Mungkin karena besarnya sumbangan dari rokok untuk
“pembangunan”, maka para perokok merasa boleh
mentang-mentang. Perokok seenaknya merokok di tempat-tempat
umum, di dalam ruangan, bahkan ruang ber-AC. Perokok merasa
berhak merokok di dalam kenderaan umum, di rumah sakit, di
sekolah dan di kantor-kantor untuk publik. Mungkin mereka
merasa “Kami lah para penguasa di kota ini. Karena kamilah
yang menjalankan kota ini. Bahkan sekolah anak-anak Anda pun
kami yang bangun!”
Menjelang 17 Agustus, kota seperti biasa diwarnai dengan
bendera dan umbul-umbul merah putih. Suasana kota jadi lebih
semarak dan indah. Tapi keindahan itu disela oleh makin
maraknya umbul-umbul dan iklan rokok! Seolah bersaing,
semarak iklan rokok mengalahkan atau, setidaknya, sama
dengan semaraknya warna-warni pesta peringatan kemerdekaan.
Adakah ini berarti kedaulatan negara telah diambil alih oleh
kedaulatan rokok!?
|
|