|
Oase 090207
TARI SAMAN
Oleh:
Saiful Mahdi
|
|

Tarian Likok
Pulok yang dinamis (Foto
M. GELORA SAPTA/"PR") |
atu ciri menarik dari tari Aceh adalah bahwa ia
dilakukan secara berkelompok. Seudati yang heroik
dilakukan oleh delapan orang. Saman, sebagian
menyebutnya “tari tangan seribu” alias “a thousand
hand dance” yang rampak dan dinamis biasanya
dilakukan oleh sepuluh orang laki-laki atau sepuluh
orang perempuan. Likok Pulok juga demikian,
walaupun bisa juga ditarikan delapan atau dua belas
orang. Tari Ranub Lampuan yang indah untuk
memuliakan tamu biasanya dilakukan oleh enam atau
delapan dara Aceh. Tak ada
tari Aceh yang dilakukan sendiri alias secara solo.
Apakah karena orang Aceh tidak berani
menari sendiri? Rasanya bukan. Karena konon orang Aceh
punya keberanian individu yang hebat.
Tak kurang Sang Pramoedya mengakuinya.
”Orang Madura beraninya carok, orang Jawa kalau
berantam suka tawuran, tapi orang Aceh punya
keberanian individual yang luar biasa” begitu kira-kira
kata Pram dalam salah satu wawancara menjelang akhir
hayatnya.
Saat Perang Aceh, ketika perlawanan
pasukan Aceh mulai lemah, pasukan kolonial Belanda
sering diamuk pejuang Aceh secara individu sehingga
dikenal "Atjehnese murder" (Atjeh-moord).
Fenomena yang sama pernah muncul dimasa DOM dan aneka
operasi militer serdadu Indonesia di Aceh 1980-an ke
atas.
Ciri khas lainnya aneka tarian Aceh
adalah adanya syekh (pemimpin) dan kadang-kadang
juga aneuk syech, semacam wakil atau asisten dari
syech. Ini bisa jadi ada hubungannya dengan kosep
imam dan amir dalam Islam yang mempunyai
wajah unik tersendiri di Aceh. Bahwa setiap kelompok
lebih dari satu orang, harus memilih satu orang
pemimpin. Jika dua orang melakukan perjalanan, maka
salah satunya dipilih jadi amir perjalanan.
Konsep pemimpin dalam Islam juga mewujud
dengan jelas dalam shalat berjamaah yang
sangat demokratis dan egaliter, yang konon menjadi
sumber inspirasi pencipta Likok Pulok. Siapa saja
boleh menghadap Tuhan-nya di barisan terdepan di
belakang imam atau bahkan menjadi imamnya. Siapa pun
bisa jadi imam asal memenuhi syarat yang dapat dipenuhi
siapa saja yang mau belajar dan mengamalkannya.
Makmum, pengikut imam, harus ikut gerakan imam. Tapi
makmum bisa mengingatkan jika imam lupa. Bila imam,
maaf, kentut, siapapun di belakang imam boleh
menggantikannya dan imam dengan kesadaran snediri harus
mundur. Imam perlu jamaah. Sebaliknya, jamaah tidak
jalan tanpa imam. Karena itu, tarian Aceh adalah tarian
berjemaah!
Dalam beberapa gerakannya, seperti dalam
tari Seudati dan Ranub Lampuan, ”konsep
ruang berupa titik-sentral-di-tengah-lingkaran”
seringkali muncul. Margaret
Kartomi, profesor seni tradisional Nusantara dari
Australia menuliskan:
“…the central point-in-a-circle
concept of space is believed to have its
parallels in Perso-Arabic thinking and points to Aceh's
links with Persian, Moghul, Turkish, and Arabic cultures
over the past millennium. It governs mosque-centred town
planning, some visual art designs and some formations of
dancers and musicians who circle around their leader at
the centre point.” (Kartomi 2004)
Tak salah rasanya jika kita katakan
bahwa tari Aceh adalah salah satu wujud peradaban Aceh.
Bagaimana Aceh memandang dirinya di tengah peradaban
Persia, Moghul, Turki, dan Arab terlihat dalam konsep
ruang tari Aceh. Mewujud juga dalam perencanaan
gampong dan kota dimana mesjid adalah titik pusatnya,
baik secara fisik maupun mental.
Syeikh, amir, atau imam menentukan
gerakan dinamis dan serempak tarian jamaahnya. Maju
bersama, mundur, duduk, bersila seperti dalam Saman;
berjingkrak, bahkan berlari dengan bersemangat seperti
dalam Seudati. Lemah gemulai dan lembut seperti
dalam Ranub Lampuan. Dibantu aneuk syeikh,
seorang syeikh menentukan irama, emosi, dan gerak
para penarinya.
Kerjasama dan saling percaya antara
syeikh dengan para penarinya adalah keniscayaan.
Tak ada tari Aceh tanpa kerjasama
dan saling percaya. Tari kehilangan keindahan dan
pesonanya. Coba bayangkan tangan, tubuh, kepala yang
saling berbenturan di tengah kegesitan gerakan serempak
Tari Saman! Taripun buyar. Taripun kehilangan
eksistensinya!
Seperti tarian Aceh, orang Aceh
bisa maju dan mempesona jika dia
berjamaah. Kelemahannya, setiap jamaah sangat rentan
terhadap ”bisikan syeitan”. Jika satu penari khianat
karena kepentingan pribadi atau kena rayuan dari luar
tarian—dan ini sangat mudah dalam dunia yang makin
hedonistik ini, maka rusaklah seluruh tarian. Penari
bisa terpengaruh atau dibeli. Kalau satu terbeli,
shaf jamaah bolong. Kalau shaf jarang setan bisa
lewat!
Seperti tarian Aceh, orang Aceh
bisa maju dan bahagia jika syeikh-nya
adalah imam yang berilmu, tegas, tapi juga demokratis
dan terbuka. Banyak orang Aceh masih menderita sampai
sekarang karena Aceh sudah lama kehilagan pemimpin yang
bisa memimpin gerak maju rakyatnya. Seperti Tari Saman
atau Likok Pulok tanpa syeikh.
Selama ini, pemimpin Aceh juga banyak
yang pelupa. Adalah kewajiban rakyat yang tahu untuk
mengingatkannya, seperti kewajiban makmum
mengingatkan imam yang lupa dalam shalat
jamaahnya. Supaya jamaah tidak perlu bubar; supaya
tarian tetap rampak mempesona.
Semoga Aceh tidak (lagi) mendapat imam
yang suka kentut ketika sedang berjamaah; dan tidak ada
(lagi) syeikh yang kehilangan suara di tengah puncak
semangat para penarinya. Jika ada, semoga sang imam tahu
diri untuk mundur dan ada yang mau maju menggantikannya!(Saiful
Mahdi)