|
VISI
| |
We go where
our vision is
(Kita menuju kemanapun visi
kita mengarahkan).
Joseph Murphy |
|
Menurut Shipley (2000) istilah visi dan proses membangun
visi (visioning) adalah istilah yang semakin
populer dalam praktek dan teori perencaaan dewasa ini,
khususnya 10-15 tahun terakhir. Walaupun makna dan
definisi kedua istilah ini masih terus diperdebatkan,
masyarakat banyak, mulai perencana sampai para aktor
organisasi masyarakat dan aktivis LSM, merujuk kedua
istilah ini sebagai macam-macam teknik perencanaan
strategis dan tujuan utama berbagai diskusi tentang
perencanaan.
Menurut Tools for Development (DFID: 2002), sebuah
manual yang berisi kumpulan teknik aktivitas dan
intervensi pembangunan yang dijadikan acuan oleh banyak
pekerja rekostruksi di Aceh, visioning adalah
sebuah teknik untuk membantu kelompok aktor (stakeholders)
dalam membangun visi bersama untuk masa depannya. Dengan
demikian, visi dapat dijelaskan sebagai “cara pandang
seseorang atau sekelompok orang tentang konstruksi masa
depannya”. Bagi sebuah kelompok masyarakat, visi,
dengan demikian, adalah keinginan atau cita-cita bersama (shared
vision).
Wawasan Malaysia 2020 atau Visi
Malaysia 2020, terlepas dari perdebatan di antara orang
Malaysia sendiri, adalah contoh visi yang aplikatif:
“By
the year 2020, Malaysia can be united nation, with a
confident Malaysian society, infused by strong moral and
ethical values, living in the society that is democratic,
liberal and tolerant, caring, economically just and
equitable, progressive and prosperous, and in full
possession of an economy that is competitive, dynamic,
robust and resilient.”
(Pada
tahun 2020, Malaysia adalah sebuah bangsa bersatu dengan
masyarakat yang percaya diri, didorong oleh nilai-nilai
moral dan etika yang kuat, masyarakat yang demokratis,
toleran dan liberal, peduli, adil dan sejajar secara
ekonomi, maju dan sejahtera, dan dalam kepemilikan penuh
sebuah ekonomi yang kompetitif, dinamis, kokoh dan mandiri)
Untuk
sebuah instansi teknis, saya suka Visi Dinas
Kesehatan DKI Jakarta: “Masyarakat di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta mempunyai akses terhadap palayanan
kesehatan klinis dan kesehatan masyarakat yang manusiawi,
adil dan bermutu sejajar dengan pelayanan kesehatan
kota-kota besar maju di dunia.” Contoh sebuah visi yang
jelas, terukur dan strategis.
Visi
Universitas Syiah Kuala yang
terbaru juga sudah lebih aplikatif setelah mendapat
sentuhan tenaga-tenaga muda yang terampil dalam
perencanaan strategis: “Menjadikan Universitas
Syiah Kuala sebagai salah satu universitas terkemuka di
Asia Tenggara dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, menghasilkan lulusan yang berkualitas serta
menunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika”
Selanjutnya perhatikan Visi Aceh Institute:
“Terciptanya budaya keilmuan dan tradisi kritis dalam
masyarakat Aceh melalui keterlibatan aktif komunitas
intelektual yang independen, berintegritas, dan responsif
terhadap dinamika dalam masyarakat.” Visi ini adalah versi
hasil workshop perencanaan strategis tahun 2006.
Dibandingkan visi awal, visi ini memandang Aceh Institute
lebih terbuka. Komunitas intelektual Aceh sejatinya
hanyalah bagian masyarakat yang ingin berbuat untuk masa
depan Aceh yang lebih baik, dan jelas bukan satu-satunya.
Sebuah
visi, walaupun merupakan visi bersama sekelompok
masyarakat dan mestinya dibangun secara partisipatoris,
sangat erat kaitannya dengan pemimpin. Visi mencerminkan
kedalaman dan keluasan pemahaman yang memungkinkan untuk
mendeteksi dan membentangkan pola-pola dan
kecenderungan-kecenderungan di masa depan, yang membimbing
pemimpin untuk membawa organisasinya memasuki masa depan.
Jadi
visi adalah pemberi arah kemana sebuah organisasi --termasuk
organisasi sebuah kawasan, kota, kabupaten ataupun
propinsi--akan di bawa oleh pemimpinnya. Dengan adanya
arah yang jelas maka pemimpin akan fokus ke arah yang
telah ditetapkan tersebut, sehingga tidak asal bergerak
atau ad hoc dalam megambil kebijakan. Mengacu
sukses dalam dunia bisnis, misalnya, psikolog Amerika,
Martin Rutte menulis pada tahun 1993: “seorang pemimpin
sejati harus melihat dirinya sebagai pahlawan yang membawa
visi ke dunia”. Karena itu, sangat penting
mempertanyakan “Siapakah calon pemimpin Aceh Baru yang
paling visioner?” seperti polling di website ini. (By: Saiful Mahdi)
|
|