Dua artikel terdahulu oleh Khairul
Rijal “Ekonomi
Aceh 2008: Antara Investasi dan Inflasi” (Aceh Institute, 09/01/08) dan
Syurkani Ishak Kasim “Menatap
Ekonomi Aceh: Antara Harapan Investasi dan Inflasi Tinggi” (Aceh
Institute, 11/01/08) telah membahas permasalahan inflasi tinggi yang terjadi
di Aceh saat ini dan kaitannya dengan niat pemerintah mengundang investor
asing ke Aceh dan tantangan ekonomi Aceh di tahun 2008 secara umum.
Artikel ini dengan keprihatinan yang sama menguraikan bahwa inflasi
sebenarnya telah lama menjadi bahasan menarik di Aceh, tetapi malangnya
pemerintah Aceh belum mempunyai program kerja yang jelas untuk mengatasi
masalah tersebut. Inflasi yang sekarang mencapai 11 persen sebenarnya bukan
fenomena baru di Aceh, khususnya setelah Aceh di landa tsunami pada 26
desember 2004. Praktis setelah itu kita tidak pernah merasakan harga barang
turun atau stabil di Aceh. Harga barang dan jasa sedikit demi sedikit naik.
Mulanya, kita menyangka bahwa inflasi tersebut hanya bersifat sementara
dengan jangka waktu paling lama satu tahun, karena memang alami di negara
manapun didunia; keadaan ekonomi setelah bencana adalah tidak stabil.
Apalagi perekonomian Aceh yang tertutup dari perdagangan internasional (small-closed
economy).
Inflasi memang tidak dapat dielakkan. Banda Aceh saja pada tahun 2005,
inflasinya mencapai 41.5 persen. Barang-barang agak langka karena gudang,
toko, atau pabrik ada yang rusak, pasokan barang dari luar tidak lancar
karena masalah transportasi, di sisi lain produsen tidak langsung memulai
usahanya karena harus mengganti alat-alat produksinya yang rusak, dan juga
masalah lainnya. Umumnya penyebab inflasi setelah bencana adalah karena ada
gangguan dari sisi penyaluran barang dan jasa (supply shock).
Aceh belum pernah punya pengalaman mengatasi masalah inflasi. Bencana yang
terjadi terlalu besar dengan masalah yang ditinggalkan terlalu banyak. Aceh
bagaikan harus memulai dari nol untuk segala struktur kehidupannya, tidak
hanya ekonomi, tetapi juga budaya, sosial, politik, birokrasi,
infrastruktur, perumahan, pendidikan, dan lain sebagainya. Semua aspek
kehidupan masyarakat harus dibenahi. Persoalan ekonomi, seperti
pengangguran, inflasi, produktifitas yang rendah, adalah sebagian masalah
dari masalah lain yang perlu dihadapi. Karena itu, dengan segala
keterbatasan yang ada adalah dipahami kalau pemerintah Aceh dalam tahun
pertama kurang konsen terhadap isu pemulihan ekonomi. Apalagi persoalan
politik kemudian muncul setelah MoU ditandatangani dimana diantara efek
perdamaian Aceh adalah pergantian kekuasaan. Praktis, perhatian terhadap
masalah ekonomi sedikit diabaikan, dan inflasi belum dapat diatasi dengan
sempurna.
Namun demikian, masalah yang dihadapi Aceh sedikit ringan dengan kehadiran
bantuan asing yang melimpah ruah. Agenda utamanya adalah membantu Aceh pasca
tsunami. Bantuan yang ditawarkan meliputi segala sendi kehidupan Aceh, mulai
dari membangun kembali infrastruktur yang rusak sampai bantuan psikologi
menaikkan semangat orang Aceh. Kerja-kerja rekonstruksi dan rehabilitasi
perlu melibatkan banyak pihak. Aceh menjadi lahan subur para pencari kerja
dari berbagai belahan dunia. Nikmat ini turut dirasakan sebagian penduduk
Aceh. Masalah penggangguran sedikit teratasi dengan adanya bantuan asing.
Produktifitas masyarakat kembali normal. Petani, nelayan, pedagang,
pengusaha kembali menjalankan aktifitas nya seperti biasa dengan modal dan
alat baru. Bahkan sebagian mereka bisa meningkatkan hasil yang diperoleh
dengan bantuan dan penyuluhan NGO.
Namun, disisi lain, harga barang tidak kunjung stabil, inflasi masih begitu
tinggi di Aceh. Padahal, lapangan pekerjaan sudah terbuka lebar, pendapatan
masyarakat meningkat, produktifitas Aceh kembali normal. Kehadiran NGO lokal
dan asing dengan segudang uang dipercayai sebagai awal masalah inflasi.
Rakyat kemudian menciptakan adagium “harga NGO”. Dan memang benar, teori
ekonomi yang diusung kaum monetarist menyebut inflation is just a
monterary phenomena. Jumlah uang beredar yang terlalu banyak tetapi
tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan ekonomi untuk memproduksi barang dan
jasa di Aceh menimbulkan masalah inflasi. Nilai mata uang akan jatuh akibat
jumlah uang beredar terlalu banyak (over supply).
Di sisi lain, kemampuan sebagian masyarakat bergaji besar membeli barang
dengan harga apapun turut mendorong naiknya harga barang. Pedagang yang
rakus akan cenderung meningkatkan harga dalam kondisi ekonomi seperti ini
untuk mengauk keuntungan sebanyak mungkin. Toh, dengan harga semahal
ini pun, orang sanggup membeli.
Masalah lain yang ditimbulkan adalah jurang pendapatan (income gap)
semakin ketara di Aceh, antara kota dan gampong, antara Banda Aceh
dan kabupaten lainnya. Mereka yang mempunyai kemampuan bahasa Inggris dan
berpendidikan tinggi direkrut bekerja di NGO dan menikmati gaji tinggi,
namun mayoritas rakyat awam yang tidak punya kemahiran dan tingkat
pengetahuan rendah terpaksa bekerja di sektor lain dengan bayaran yang
rendah bahkan ada yang tidak bekerja sama sekali. Gaji yang diterima tidak
sanggup membeli barang sebagaimana si pekerja NGO. Namun mekanisme pasar
hanya berpihak kepada mereka yang punya uang. Hanya mereka yang mampu
membayar yang berhak menikmati barang dan jasa. Ironisnya walaupun ada
income gap di Aceh, inflation gap tidak terjadi. Harga barang dan
jasa di daerah hampir-hampir sama dengan Banda Aceh. Walaupun Banda Aceh
pusat penyebab inflasi, efeknya turut dirasakan oleh belahan Aceh lainnya.
Sekarang rakyat banyak menanggung beban inflasi sementara pendapatan yang
mereka terima sangat rendah.
Penyelesaian inflasi?
Inflasi adalah suatu perkara normal dalam perjalanan ekonomi (business
cycles). Tidak ada negara yang bebas dari masalah inflasi karena memang
siklus ekonomi kadang naik dan kadang turun dipengaruhi oleh berbagai faktor
internal dan eksternal, faktor ekonomis dan non ekonomis, seperti politik
dan lain sebagainya. Inflasi juga bukanlah suatu masalah ekonomi yang tidak
bisa diselesaikan. Tinggal saja ia menuntut kepada si pengambil kebijakan
cermat melihat penyebabnya dan cermat mengambil kebijakan strategis
mengatasinya.
Inflasi yang disebabkan oleh supply shock misalnya bisa diatasi
dengan menambah pasokan barang sampai memenuhi permintaan konsumen. Ini bisa
dilakukan oleh pemerintah dan swasta. Pemerintah bisa melakukan operasi
pasar, menggelar jualan sembako murah, memberikan izin impor barang-barang
tertentu yang dinilai langka di Aceh, memberikan bantuan uang operasional
memulai usaha, benih dan bibit unggul kepada petani untuk meningkatkan hasil
produktifitas beras, sayur, buah-buahan dan lain-lain guna memenuhi
kebutuhan domestik, menetapkan harga maksimum dan menindak pedagang rakus
yang menganggu proses aliran barang.
Inflasi yang disebabkan money supply shock hanya bisa diatasi oleh
pemerintah. Cuma pemerintah yang punya otoritas mengontrol money supply dan
efek yang ditimbulkannya. Ini bisa dilakukan seperti dengan menetapkan gaji
minimum dan maksimum dengan jurang perbedaan yang tidak banyak. Katakanlah
ada yang tidak setuju menetapkan gaji maksimum bagi mereka yang bekerja di
NGO, maka gaji minimum harus ditetapkan bagi mereka yang bekerja di sektor
lain. Atau pemerintah daerah meningkatkan tunjangan gaji PNS atau memberikan
gaji bonus dari pada menghamburkan uang yang melimpah ruah ke sektor yang
tidak jelas. Karena PNS dan mereka yang berpendapatan tetap adalah juga
golongan yang paling terasa dampak inflasi.
Atau bisa juga dengan mengalirkan uang yang kebanyakannya beredar di Banda
Aceh kedaerah Aceh lainnya dengan membangun proyek infrastruktur dan
mempekerjakan penduduk lokal. Sehingga uang akan beredar di sana dan
digunakan untuk memutar usaha di daerah tersebut. Atau mewajibkan bank-bank
yang beroperasi di Aceh menyalurkan 80 persen dana tabungan masyarakat yang
menggunung kepada pedagang, petani, nelayan, pengusaha Aceh menjalankan
perekonomian. Karena, inflasi mungkin juga disebabkan oleh naiknya
permintaan agregate yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi masyarakat (demand-pull
inflation). Kalau ini penyebabnya, maka ia adalah signal bahwa ekonomi
sedang melakukan ekspansi. Produsen (petani, nelayan, pengusaha) biasanya
akan meningkatkan produksi mereka guna memenuhi peningkatan sektor
permintaan tersebut untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Perbankan
berperanan menyalurkan dananya kepada produsen untuk membantu proses
produksi yang dijalankan.
Gerakan membayar zakat juga bisa menjadi alternatif mengurangi income gap
dan ketimpangan distribusi ekonomi di Aceh. Uang zakat tersebut bisa kita
bagi-bagikan kepada penduduk Aceh lainnya yang miskin dan dha’if ekonominya.
Tapi, sekarang berapa banyak orang bergaji besar yang sadar membayar zakat?
Inflasi Tahun 2008?
Runtutan inflasi yang terjadi setelah tsunami malangnya tidak pernah diambil
pelajaran oleh si pengambil kebijakan. Padahal inflasi adalah bencana
ekonomi yang dampaknya sama besar dengan tsunami. Apalagi kalau inflasi
tersebut bersifat jangka panjang. Ia bisa mengarah kepada stagflasi,
penurunan ekonomi sekaligus inflasi.
Sampai saat ini inflasi terus terjadi di Aceh. Setelah mencapai 9,45 persen
di tahun 2006, inflasi sekarang mencapai puncaknya 11 persen. Inflasi yang
sudah menembusi dua digit dipercayai oleh sebagian ekonom sulit untuk
dipulihkan. Apalagi dengan kondisi ekonomi dunia yang kurang menguntungkan
akhir-akhir ini. Inflasi Aceh bukan lagi sebuah fenomena lokal dan lebih
mudah diatasi seperti yang terjadi setelah tsunami. Penyebabnya sekarang
bukan hanya karena faktor internal tetapi juga eksternal.
Inflasi yang terjadi saat ini adalah juga dampak dari inflasi yang sekarang
melanda dunia. Tahun 2007 ditutup dengan harga minyak dunia mencapai 100
dolar AS per barel. Harga yang paling tinggi yang pernah terjadi. Ramai
ekonom dunia meramal di tahun 2008 ekonomi dunia akan mengalami kontraksi
karena masalah inflasi. Ini karena perekonomian dunia sangat bergantung
kepada minyak. Kalau harga minyak naik, maka tidak bisa tidak, harga barang
lainnya akan naik. Biaya produksi yang tinggi menyebabkan produsen menaikkan
harga barang atau mengurangi kapasitas produksi. Ditambah lagi, Indonesia
sudah menjadi net importer minyak selama beberapa tahun. Produksi minyak
dalam negeri tidak lagi mencukupi permintaan minyak dalam negeri.
Sebagiannya harus di impor yang mengakibatkan harga minyak akan naik. Ini
tentu merumitkan lagi proses pemulihan inflasi.
Namun demikian bukan berarti pemerintah boleh lepas tangan. Yang penting
dilakukan sekarang adalah menemukan jalan keluar masalah inflasi. Untuk itu,
tim ekonomi gubernur perlu segera melakukan identifikasi penyebab inflasi
baik karena faktor internal atau eksternal, yang bersifat jangka pendek dan
jangka panjang. Kemudian berdasarkan identifikasi tersebut kita mencoba
menemukan jawabannya. Inflasi yang disebabkan oleh faktor internal berbeda
penyelesaiannya dengan yang eksternal. Inflasi yang bersifat jangka pendek
berbeda dengan jangka panjang. Penyelesaian masalah inflasi tidak akan rumit
setelah kita temukan masalahnya. Pemerintah Aceh, di awal tahun 2008, perlu
konsentrasi menyelesaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor lokal-internal
Aceh dan bersifat jangka pendek. Targetnya adalah inflasi Aceh mencapai 6
persen atau tidak jauh berbeda dengan inflasi nasional. Setelah adanya
perubahan, langkah-langkah strategis dan bersifat jangka panjang mesti
disusun pula untuk merancang perubahan ekonomi Aceh kedepan yang berpihak
kepada masyarakat kecil.
Harapan kita tentunya pemerintah tidak melihat inflasi yang sekarang terjadi
sebagai sesuatu yang bersifat sementara, karena kita mengalami inflasi lebih
dari tiga tahun. Inflasi sudah harus ditekan di tahun 2008. Sehingga rakyat
Aceh benar-benar bisa pulih dan bangkit dari derita tsunami yang telah
mencapai tiga tahun. Wallahu a’lam. [hf/helb/ai]
Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |
DILARANG mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan
isi website ini dengan tidak menyebutkan nama penulis asli dan "Aceh Institute"
sebagai sumbernya dengan link
www.acehinstitute.org
::
Kembali ke Artikel |