|
» |
SENI
BER-NGO DI ACEH
(THE ART OF NGO-ING
IN ACEH)
Oleh:
Jonatan Lassa
“NGOs are not things but processes and instead of asking what an
NGO is, the more appropriate question then becomes how ‘NGO-ing’
is done.”
Dorothea Hilhorst
(NGO bukan benda tapi proses dan daripada menanyakan apa itu NGO,
lebih tepat pertanyaannya adalah bagaimana ber-NGO dilakukan)
Bahwa NGOs/CSOs/CBOs
lokal, juga INGOs, donor dan masyarakat dunia sudah berkontribusi
dalam pembangunan kembali Aceh adalah kenyataan. Pemerintah
Indonesia dan masyarakat Aceh jelas terbantukan dengan global
solidarity yang terbangun seketika ketika media global
mengkomunikasikan bencana Tsunami 26 Desember 2006. Lalu, adakah
kritik yang konstruktif/solutif, karena sudah terlalu banyak
kritik yang counter productive bagi LSM/NGOs/OMS di Aceh?
Tulisan ini bisa dianggap sebagai kritik terhadap diri/komunitas
sendiri sebagai bagian dari OMS (organisasi masyarakat sipil).
Judul di
atas, dipinjam dari Dorothea Hilhorst, yang dipresentasikan dalam
workshop Ethnography of Aid and Development, di Kroasia
setahun silam. Keunikan Hilhorst ketika mendefinisikan apakah NGO,
dia merujuk pada pengalaman empirik bahwa, suatu NGO bisa menjadi
pemberi jasa, benteng ideology (an ideological bastion),
sumber penghidupan (livelihood) dan lapangan kerja, ruang
bagi perjuangan perempuan dan kaum marginal, garda pemersatu dalam
keragaman kultur, agama dan ideologi, birokrat baru, sebuah
keluarga, sebuah lembaga. Bagi yang ‘anti’ NGO, bisa dipasang
sederet predikat yang lebih vulgar, seperti “penjual kemiskinan”,
“pedagang bencana”, hegemoni baru, dst.
Argumentasi menarik dari Hilhorst adalah bahwa “kehidupan
keseharian” suatu NGO, memberikan proxy bagi kita untuk
memahami existensi dan dinamika sebuah NGO. Penelitian terhadap
NGOs tidak dapat dibatasi pada kecirian organisasi formal,
struktur, laporan, statement visi-misi, kertas dan perencanaan
strategi semata, melainkan harus ditarik pada praktek hidup sehari-hari
baik secara internal maupun eksternal. Dia menyebut realitas
keseharian kerja-kerja NGO sebagai “inner working”, yang di
dalamnya seluruh klaim atas nilai, visi, komitment atas perubahan
sosial terefleksi.
Seni ber-NGO
(the art of NGO-ing) kerap diwarnai pujian, tetapi tidak
sedikit kritik dan sinisme. Kritik dan
refleksi bahwa NGOs hidup karena keniscayaan krisis, dan karenanya
perlunya penciptaan keberlanjutan krisis secara sengaja bukanlah
sesuatu yang dekonstruktif sebaliknya konstruktif. Setidaknya
menurut hemat penulis, karena kesadaran ini memberikan kesempatan
bagi NGOs tidak secara brutal memanipulasi krisis, sebaliknya
mengelola krisis-krisis menjadi kesempatan bagi perubahan sosial
positif relatif.
Sama
halnya dengan kontroversi kata “swadaya” di dalam “Lembaga Swadaya
Masyarakat” (LSM). Seberapa swadayanya LSM? Adakah indikator ke-swadaya-an
LSM dalam urusan keseharian? Ataukah, dengan bahasa yang relatif ‘kasar’,
apakah LSM hidup dari remah-remah ‘kue’ pembangungan? Bagaimana
dengan LSM dunia ke tiga, yang kerap hidup dari ‘sumbangan’ donor
luar? Apakah mereka “swadaya” ketika secara
”berkelanjutan” bergantung pada dana luar negeri?
Sinisme
lainnya adalah “dewa kemanusiaan”, “dewa pembangunan”.
Alih-alih menjadi dewa penyelamat, sesungguhnya
kemiskinan dan kenestapaanlah yang meneguhkan eksistensi dan
keberlanjutan mereka.
Relevansi
kritik dan sinisme di atas bisa memberikan amunisi yang memperkaya
pengalaman ber-NGO agar NGO mampu menjadi sadar-kritis,
konstruktif, serta kontributif nyata bagi pembangunan dan
perubahan sosial ke arah positif;
From Donor Driven to
Partners’ Driven
Agenda
pembangunan kembali Aceh khususnya, daerah-daerah bencana dan
konflik di negara dunia ke tiga umumnya tidak bisa dilepaskan dari
pengaruh external (donor, INGOs, UNs dsb.). Kapasitas pembiayaan
rekonstruksi, rehabilitasi, re-development adalah salah
satu faktor serius bagi para aktor lokal terkesan menjadi
powerless dalam agenda setting dan skenario re-development
dan re-konstruksi.
Di titik
ini, asing (modal, donor, INGOs, UNs) tidak bisa dipandang secara
simplistik dan reduktif sebagai ‘the devil’ dan pembawa
‘evil’. Lepas dari adanya potensi negatif untuk kontra
pembangunan, mereka juga berpotensi sebagai ‘dewa pembangunan’.
Kemitraan sejajar dan saling mengerti menjadi solusi agar kita
tidak terjebak dalam “asing” dan “bukan asing”, “mereka dan kita”.
Perlu ditilik mengapa lokal NGOs menjadi “kita” sedangkan donor
menjadi “mereka”.
Relasi
donor-mitra/NGO jarang menjadi objek amatan yang serius. Steven
Sampson, seorang peneliti antropologi bantuan, mengatakan bahwa
‘donor kerap diliputi oleh aura mistrius’.
Bagi lokal NGOs yang mencari dana dan
inspirasi, donor mungkin terlihat “luar biasa”, karena menjadi
sumber kebaikan, uang, sesuatu yang menarik dan penuh kuasa.
Secara naif donor dianggap “can do no
wrong”. Sebaliknya, sebagian NGOs,
sesuai dengan pengalaman mereka, donor dianggap sebagai sesuatu
yang “menyeramkan”, penyebab dari segala masalah dan kegagalan;
kerap dituduh bermuka dua, tidak jujur, dan korup.
Tulisan
ini tidak dimaksudkan untuk menjawab debat seputar donor-mitra.
Sebaliknya, dimaksudkan untuk membuka ruang diskusi seputar relasi
donor-mitra dalam konteks pembangunan di Aceh. Baik mitra lokal
dan asing maupun negara sama-sama bekerja menjamin dan memenuhi
hak-hak korban Tsunami dan konflik. Perubahan nyata di level
komunitas terkena dampak konflik dan tsunamilah adalah akibat dari
efektifitas intervensi LSM/NGOs baik lokal maupun internasional.
Kesan dan
persepsi adanya “sub-ordinasi” NGOs Aceh di hadapan donor dan
INGOs, tidak bisa secara gegabah dianggap sebagai sebuah
kebersalahan besar. “Sub-ordinasi” ini muncul karena klaim seputar
kapasitas lokal, yang oleh dirinya sendiri mengakui ‘tidak
memiliki kapasitas’ yang didukung oleh keseharian pengalaman
relasi NGOs-Donor yang menunjukan bahwa penguatan kapasitas lokal
(karena minimnya kapasitas) merupakan agenda utama.
Donor Fatique dan
Dana Pembangunan Aceh: 5 Tahun Mendatang
Ketika
BRR ‘sibuk dan pusing’ berpikir keras bagaimana menghabiskan dana
dengan baik dalam proses rekonsntruksi dan rehabilitasi, dengan
dana yang 66%nya adalah dana luar negeri, di belahan dunia
lainnya, UN juga dipusingkan dengan bagaimana mencari dana bagi
rekonstruksi dan rehabilitasi untuk 19,000 korban banjir di
Tanzania, 60,000an pengungsi internal di Timor Leste, jutaan orang
yang kelaparan di Afrika Barat, rehabilitasi dan rekonstruksi
rumah untuk 200,000 rumah di Jogja akibat gempa. Bila argumentasi
yang lain seperti skenario terburuk dampak perubahan iklim dunia
terhadap meningkatnya bencana dunia adalah benar maka donor
fatique adalah sebuah keniscayaan.
Tantangan jangka panjang pembangunan kembali Aceh tentunya akan
terbentur pada ketersediaan anggaran. CSOs Aceh mengalami semacam
“anomali” di mana, banyak NGOs/CBOs lokal yang menganut sistim
pendanaan “multi funding” dengan “by accidents”, dan bukan
“by design”; realitas yang lain, yang menggambarkan
perbedaan akses atas funding support luar negeri serta
kesenjangan antara sesama NGOs; dengan angka pertumbuhan NGOs yang
tinggi paska bencana maupun MoU Helsinki merupakan soal
tersendiri, karena perbedaan waktu start dan strategi dalam
marketing organisasi. Akibatnya, banyak NGOs tersebut hidup tanpa
funding support walaupun diperkirakan ada potensi-potensi
baru yang menjadi tantangan tersendiri bagi NGOs yang sudah
established. Atas kenyataan inilah, dibutuhkan sebuah local
think tank yang bisa menjembatani kesenjangan antara OMS
lokal dengan memainkan peran dan agenda pengembangan kapasitas
lokal secara lebih sistimatis dan strategis.
Local think tank –
sebuah kebutuhan!
Urgensitas lahirnya sebuah OMS yang berfungsi sebagai local
thinks tank sedang dinanti. Kehadiran lembaga-lembaga yang
diklaim sebagai local thinks tank disambut baik karena
diharapkan mampu mengisi gap dan sisi yang tidak diisi oleh
agenda penguatan kapasitas dari lembaga-lembaga nasional,
internasional dan donor.
Atribut
local think tanks bukan hanya mengundang banyak tanya dan
rasa ingin tahu, tetapi juga pembuktian atas banyak hal termasuk
konsistensi kerja dan gerak yang tidak terjadi “by accidents”
atau “by orders”, tetapi seperti argumentasi Hilhorst,
mampu menjadi contoh hidup dalam kehidupan keseharian sebagai
sebuah OMS yang ideal dalam berbagai aras baik kualitas program,
teknis pengetahuan, maupun kapasitas sumberdaya orang dan
kelembagaan. (Lihat Annex 1: Hasil assessment Hivos untuk CSO
capacity building di Aceh). The Art of NGO-ING yang ideal,
dinantikan dilihat dalam diri Impact.
Issue-isue pembangunan berkelanjutan, keterkaitan bencana dan
pembangunan seperti tercantum di dalam Hyogo Framework for
Actions, keterkaitan perubahan iklim dunia, lingkungan dan
pembangunan, konflik dan pembangunan, dan batasan privatisasi
resiko, merupakan sedikit contoh issue yang tidak terdengar di
tingkatan CSOs local di Aceh. Lembaga think-tank harusnya
progressive dan adaptive terhadap issue global dengan membangun
telekoneksi lokal di Aceh.
Konsekuensinya, alokasi sumberdaya manusia dalam lembaga seperti
ini tidak bisa lakukan secara “tradisional” dalam pengertian bahwa
visinya tidak bisa dibatasi oleh ekspektasi kerdil anggotanya
semata, tetapi visi demi perubahan status quo, dan
“kemarahan-kemarahan” produktif demi kejayaan Aceh.
Menutup
tulisan ini, saya mengutip guyonan seorang teman yang mengatakan
bahwa “bila kamu mau cari data konflik Aceh, jangan pergi ke lokal
NGOs tapi klik saja
www.conflictanddevelopment.org yang dikelolah Bank Dunia”.
“Lebih lengkap datanya”, demikian ia bertutur. Guyonan ini adalah
sindiran produktif, yang memaksa sebuah lembaga local think
tanks betul-betul mampu mentransformasi dirinya sebagai sumber
inspirasi, informasi, rujukan dan kebajikan dalam banyak hal yang
“open defined”.
Paper ini dipersembahkan untuk Strategic Planning IMPACT,
Banda Aceh 15 Juni 2006. Isinya merupakan hasil refleksi dan
pengalaman HIVOS dalam bekerja sama dengan CSOs/NGOs di Aceh
selama 18 bulan.
Lihat Paper Steven Sampson berjudul “WHAT IS A DONOR?”
dipublikasikan di Newsletter of the European Association of
Social Anthropology, Dec. 2002.
|