ELAMA tiga dasawarsa
terakhir, Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya dalam rangka
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Departemen Kesehatan
telah menyelenggarakan serangkaian reformasi di bidang kesehatan guna
meningkatkan pelayanan kesehatan dan menjadikannya lebih efisien, efektif
serta terjangkau oleh masyarakat. Berbagai model pembiayaan kesehatan,
sejumlah program intervensi teknis bidang kesehatan, serta perbaikan
organisasi dan manajemen telah diperkenalkan.
Namun demikian walau sudah
didapat banyak kemajuan, keadaan kesehatan masyarakat Indonesia masih
tertinggal dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Timbulnya
berbagai bencana telah menyebabkan kondisi kesehatan di Indonesia makin
terpuruk. Rangkaian bencana yang terjadi juga turut menyumbang berbagai
masalah baru di bidang kesehatan yang menyita perhatian berbagai pihak dan
semakin memperparah situasi kesehatan di tanah air.
Kondisi yang tidak jauh berbeda
juga terjadi di Aceh. Konflik yang berkepanjangan yang terjadi di Aceh sejak
1980-an telah menciptakan benih-benih masalah yang siap meledak kapan saja.
Hal tersebut diperparah lagi dengan terjadinya bencana gempa dan gelombang
tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.
|
Salah satu masalah
kesehatan di Indonesia adalah masalah gizi buruk yang telah menjadi isu
hangat dalam tiga dasawarsa terakhir. Data
pemetaan skala nasional menunjukkan bahwa di 72% kabupaten di Indonesia
ditemukan balita dengan gizi kurang. Data
Departemen Kesehatan tahun 2005 menyebutkan 4,5 juta balita di negeri
ini kekurangan gizi. Dari total tersebut, 3.5 juta anak berasal dari
keluarga miskin. Masalah gizi yang sering ditemukan adalah anemia gizi
besi, kekurangan zat yodium, dan kekurangan Vitamin A.
Selanjutnya, 50% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia
sedangkan kematian ibu hamil akibat komplikasi mencapai 20.000 jiwa per
tahun. |
 |
|
REPRO blontankpoer.blog.com |
|
|
Orang yang kekurangan gizi mudah
terinfeksi penyakit dan bahkan bisa dibayangi resiko kematian. Dengan
kondisi seperti ini, dapat dijelaskan bahwa permasalahan gizi buruk bukan
hanya berkutat pada kurangnya asupan makanan pada anak-anak, akan tetapi
faktor kesehatan ibu juga turut mempengaruhi di samping faktor ekonomi.
Berbagai penelitian kesehatan
menunjukkan fakta yang tak terbantahkan bahwa akibat dari gizi buruk sangat
mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang kurang dapat
menyebabkan berbagai permasalahan dan penyakit pada usia belia anak, yang
pada gilirannya mempengaruhi kualitas hidup si anak sampai dewasa.
Sungguh sebuah ironi, semua kasus
gizi buruk ini masih terjadi setelah hampir 20 tahun Konvensi Hak Anak
(KHA) disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20
November 1989. Konvensi ini mengatur bahwa anak-anak berhak untuk
mendapatkan dan menikmati status kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dan
untuk memperoleh sarana-sarana perawatan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Di sisi yang lain, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak juga mengatur hak-hak anak di bidang kesehatan
dengan jelas.
Berdasarkan dua dasar hukum
tersebut, dengan demikian, dapat dipastikan bahwa selama ini hak-hak anak
Indonesia (dan Aceh) belum terpenuhi secara memadai dan merata.
Berita-berita di media masa tentang anak-anak yang mengalami gizi buruk
hingga busung lapar menunjukkan bahwa masih banyak kewajiban kita terhadap
mereka yang belum kita penuhi.
Akar masalah
Bila dikaji lebih mendalam, kita
dapat menemukan akar permasalahan yang menciptakan kondisi seperti ini di
dalam masyarakat kita. Salah satu akar masalah (nasional) tersebut adalah
krisis ekonomi, sosial dan politik. Ketiga bidang tersebut memegang peranan
yang sangat menentukan kondisi bangsa. Tiga bidang tersebut juga harus
saling mendukung, ketika salah satu bidang tersebut mengalami krisis, maka
bidang-bidang yang lain akan menerima efeknya.
| Keberlanjutan
dari salah satu krisis tersebut dapat menciptakan pengangguran, inflasi,
rawan pangan, dan kemiskinan. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan
persoalan-persoalan serius di masyarakat, seperti kurangnya keberdayaan
perempuan dan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumberdaya masyarakat. |
|
|
Jadi, masalah gizi buruk sangat terkait dengan kondisi sosial yang lain,
seperti pertanian, ekonomi, kesempatan kerja, budaya dan bahkan politik.
Dari sisi produksi dan ketersediaan pangan, Aceh termasuk cukup, bahkan bisa
dikatakan surplus namun kelebihan tersebut tidak dapat diakses oleh semua
masyarakat secara merata. Faktor distribusi yang tidak merata menyebabkan
tidak terjaminnya ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga. Masih banyak
ditemukan keluarga yang tidak mampu mengakses pangan sesuai kebutuhannya,
yang terkait dengan kemampuan/daya beli keluarga. Krisis ekonomi yang
dialami Indonesia pada tahun 1997 berakibat sangat serius dalam menurunkan
kemampuan ekonomi/daya beli keluarga di Indonesia, termasuk di Aceh.
Masalah gizi buruk merupakan
masalah yang berkelanjutan dan telah terjadi dalam waktu yang begitu lama di
Aceh. Beberapa langkah antisipatif telah dilaksanakan oleh pemerintah
melalui Departemen Kesehatan. Akan tetapi korban masih tetap berjatuhan.
Pra penandatanganan damai, masalah
gizi buruk hanya diketahui oleh pihak-pihak tertentu saja. Alasan yang
sangat logis pada saat itu adalah kondisi keamanan yang tidak mendukung.
Petugas kesehatan tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima
kepada masyarakat. Di sisi yang lain, masyarakat tidak mendapatkan pelayanan
disaat mereka sedang membutuhkan. Kembali pada alasan yang sama bahwa
konfliklah yang menciptakan keadaan seperti itu.
Dengan kondisi seperti ini,
pendataan anak-anak yang menderita gizi buruk hanya dilaksanakan di daerah
yang dekat dengan perkotaan, sedangkan untuk daerah pedalaman kerap luput
dari pendataan. Padahal, banyak anak-anak yang menderita gizi buruk di
daerah yang jauh dari perkotaan.
Faktor lain yang turut mendukung
timbulnya gizi buruk yaitu masyarakat tidak menerima informasi kesehatan
dikarenakan oleh rendahnya akses ke pusat pelayanan kesehatan, seperti
posyandu (pos pelayanan terpadu) maupun puskesmas (pusat kesehatan
masyarakat). Informasi yang tidak sampai atau tidak diterima oleh masyarakat
mengakibatkan perilaku kesehatan (termasuk pola asuh/perawatan ibu dan anak)
serta pelayanan kesehatan yang rendah dan lingkungan yang buruk/tidak sehat
sehingga mengakibatkan timbulnya infeksi.
Konflik yang berkepanjangan juga
turut menhancurkan tatanan ekonomi. Bertambahnya masyarakat yang berada di
bawah garis kemiskinan menyebabkan masyarakat tidak dapat mengkonsumsi
makanan yang layak dan bergizi. Hal ini menyebabkan kurangnya asupan makanan
dan gizi pada anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.
Berpijak dari uraian singkat
sejumlah penyebab timbulnya gizi buruk tersebut, dapat diambil beberapa
langkah yang strategis dan dinamis mengingat kondisi keamanan di Aceh
semakin membaik. Di sisi yang lain, banyaknya bantuan dari berbagai pihak
untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi jawaban yang rasional
dan logis, termasuk untuk bidang kesehatan.
Program penanganan
dan tantangannya
Secara umum
program-program penanganan masalah kurang gizi dapat dikelompokkan menjadi
progam jangka panjang dan program bantuan pangan darurat yang bersifat
jangka pendek. Pendekatan program bervariasi antara pendekatan dari bidang
kesehatan, ekonomi, dan pertanian. Di bidang kesehatan, pemerintah antara
lain mempunyai program pemantauan pertumbuhan balita dan pemberian makanan
tambahan melalui program posyandu. Sejumlah LSM juga telah menerapkan progam
positive defiance yang melibatkan ibu-ibu dalam penyusunan menu
makanan kaya gizi yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga. Selain
itu, program taman keluarga, pengembangan lahan pertanian, dan industri
rumah tangga juga telah diperkenalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan
meningkatkan pendapatan keluarga. Umumnya sasaran progam gizi adalah ibu dan
anak.
Penyebaran
program oleh LSM dan lembaga bantuan internasional belakangan ini banyak
yang ke wilayah timur Indonesia dan daerah bencana alam seperti Aceh-–
menyusul bencana Tsunami pada tahun 2004.
Melihat
sejumlah program penanganan masalah gizi buruk oleh bermacam pihak ini,
timbul pertanyaan mengapa masih saja banyak kasus kurang gizi di negeri
kita. Adakah hal-hal signifikan yang terlewatkan oleh kita selama ini?
Pengamatan sepintas menunjukkan banyak program yang masih bersifat top
down di mana masyarakat dijadikan obyek program, bukan sebagai subyek.
Secara umum, program edukasi kesehatan masih bersifat instruktif. Masih
kurang banyak pendidikan partisipatif yang dikembangkan bersama masyarakat.
Hal ini menyebabkan program-program tersebut tidak mempunyai pengaruh yang
berkelanjutan.
Dari segi
indikator pencapaian program, banyak yang masih berorientasi jangka pendek.
Keberhasilan progam diukur dari indikator-indikator fisik dan kurang
mendorong perubahan perilaku. Hal ini terutama pada program yang terbatas
pada pemberian makanan tambahan dan suplemen vitamin. Pada program yang
belum menerapkan sistem monitoring yang baik, program tampak bagus pada
awalnya saja tetapi hasil akhir program tidak menunjukkan perbaikan yang
berarti.
Selain itu,
sebagian besar pelaku program masih bertindak sendiri secara sektoral. Belum
banyak yang mencoba untuk berkolaborasi dengan pihak di sektor lain. Padahal
kolaborasi lintas sektor akan lebih mengoptimalkan program penanganan
masalah gizi ini. Kemitraan lintas sektor juga memungkinkan para pihak untuk
mengatasi kendala dalam pelaksanaan program secara bersama. Dengan semakin
banyak pihak yang peduli dan mau berperan dalam penanganan masalah gizi
buruk, saya melihat potensi yang besar ke depan untuk penyebarluasan program
gizi dan penyempurnaan program ke arah yang lebih berkelanjutan dan seimbang
antara pendekatan preventif dan kuratif. Jika tidak, kelaparan, busung
lapar dan gizi buruk akan terus menjadi aib kemanusiaan kita semua!(maimun)
Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |
Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan
isi website ini dengan menyebutkan nama penulis asli dan "Aceh Institute"
sebagai sumbernya dengan link
www.acehinstitute.org
::
Kembali ke Artikel |