Back to Home

»

Rafli, seniman Aceh yang terus melejit dengan mengusung musik-musik Aceh orisinil. (Repro: Serambi Indonesia)MUSIK ACEH DALAM FENOMENA ZAMAN
Oleh: Masriadi Sambo

Pemimpin Redaksi Majalah SIMAK Unimal-Lhokseumawe

Email: s4mb0_himako@yahoo.co.id

 

 

Musik merupakan salah satu unsur seni yang paling cepat perkembangannya. Setiap daerah dan suku di Indonesia memiliki musik dengan ciri khas yang berbeda, demikian juga Aceh yang memiliki ciri khasnya tersendiri. Sebelum menginjakkan kaki di kota Lhokseumawe, saya selalu membanggakan Aceh secara keseluruhan pada saudara-saudara saya di Kutacane-Aceh Tenggara. Maklum, saat ini saya adalah orang rantauan di kota Gas Lhokseumawe.

Kebanggaan ini, timbul dengan mendengar cerita dari orang tua saya yang asli Aceh kelahiran Meurudu Kabupaten Pidie. Muncul satu tanda tanya besar dalam benak saya, mungkin juga anda, musik khas Aceh itu seperti apa? Melodi, kolaborasi alat musiknya seperti apa? Ketika saya mempertanyakan ini, mungkin kita baru sadar bahwa generasi muda Aceh saat ini kurang memahami musik daerahnya sendiri. Lagu khas Aceh, antara ada dan tiada.

Miris memang, namun inilah yang terjadi. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pemusik Aceh saat ini juga meninggalkan khas daerahnya. Mungkin mereka lupa mempertahankan khas musik itu. Sejauh ini, musik tradisional Aceh dengan khas tersendiri dan menggunakan alat-alat tradisional sangat sedikit jumlahnya. Sebut saja Rafli, seniman satu ini yang giat bersama KANDE-nya mempromosikan bahasa Aceh fasih dalam kidung-kidungnya. Bukan itu saja, Rafli juga dengan bangga menggunakan alat-alat tradisional, dan mengolah musik seiring permintaan pasar. Buktinya, musisi yang satu ini bisa merambah dunia isi Nada Sambung Pribadi (NSP) pada handphone dan terdaftar pada 1212-nya Telkomsel. Saya pikir ini prestasi yang sangat luar biasa. Sejak beberapa dekade, musik Aceh tidak pernah tembus pasaran nasional.

Mungkin ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Pertama, jumlah musisi Aceh yang mengibarkan bendera musik tradisional daerah ini sangat sedikit di Jakarta. Kita ketahui, Jakarta merupakan pusat perkembangan industri musik dari seluruh Indonesia. Saat ini, untuk Telkomsel hanya tiga lagu Aceh yang tersedia di dalam sistem mereka, yaitu Tuboh, Tabaca Seulawet dan Wasiet Mak. Jika di bandingkan dengan lagu daerah lainnya, seperti Batak, Minang dan Jawa. Jumlah ini sangat kecil. Jumlah lagu Jawa lebih banyak dibanding dengan jumlah lagu daerah lainnya dalam sistem NSP (Nada Sambung Pribadi) Telkomsel. Bukan itu saja, lagu jawa juga lebih terpublish ke media televisi. Muncul satu pertanyaan, mengapa Aceh tidak?

Kedua, musisi lokal Aceh dewasa ini terkontaminasi dengan selera musik luar. Sangat jarang kita bisa menikmati aliran musik Aceh murni pada saat ini, yang menjamur bahkan, aliran musik reggae house, disco ala Aceh, bahkan tidak jarang mentransletkan lagu India kedalam bahasa Aceh. Perlu diingat, untuk membudayakan musik suatu daerah maka harus dilakukan oleh masyarakat yang mendiami daerah itu sendiri. Kalau bukan kita, siapa yang ingin mempublish musik ini dan mempertahankan keasliannya.

Ketiga, pemilik dapur rekaman di Aceh, terlalu mudah mengorbit lagu-lagu para penyanyi. Bahkan, seorang penyanyi di Aceh dapat mengeluarkan dua album dalam satu tahun. Ini yang menjadi tanda tanya, begitu mudahkah untuk menggarap sebuah musik daerah? Saya fikir Tidak.  Idealnya, untuk menghasilkan sebuah album yang dapat dikatakan standart, membutuhkan waktu satu tahun. Satu tahun tersebut terdiri dari pemilihan lirik, bit, dan arasemen musik. Bukan musik dan lagu saja yang mulai hilang dari ingatan generasi daerah ini, namun alat musik tradisional seperti rebana, serunekale juga hampir “punah” ditelan perjalanan waktu.

Keempat, tidak adanya media televisi lokal di Aceh. Sejauh ini, menurut hemat saya, TVRI Banda Aceh dengan jam siar terbatas, belum mampu mengangkat lagu daerah. TV lokal telah dikibarkan diseluruh Indonesia paska tumbangnya rezim Soeharto dari tahta kejayaannya. Saat ini, saya mendengar kabar bahwa akan ada TV Lokal di Aceh dengan nama Aceh TV. Kita berharap Aceh TV, dapat mempublish lagu daerah khas Aceh kepasaran. Eksistensi lagu Jawa di pasaran nasional, bukan saja disebabkan karena mereka merupakan suku mayoritas di negeri ini. Namun, cenderung karena mereka memiliki media lokal yang jumlahnya sangat banyak, sebut saja beberapa diantaranya yaitu Surabaya TV, JakTV, Bandung TV, BaliTV dan TV lokal lainnya.

Kelima, secara umum, kita memang tidak dapat menghambat arus deras kemajuan teknologi. Terlebih lagi kemajuan teknologi dan industri rekaman. Banyaknya lagu dan musik “impor” dari luar, juga turut menjadi  faktor hilangnya khas musik Aceh. Hemat saya, orang Aceh tidak memiliki rasa percaya diri dalam mengembangkan musik daerahnya.

  

Musik Ngak Ngik Ngok

Saya menyebut musik yang berkembang di negeri ini adalah musik ngak ngik ngok. Petikan kalimat ngak ngik ngok ini saya ambil dari liputan majalah PANTAU yang

mengupas tentang Koes Plues bersaudara. Pada saat Soekarno berkuasa di negeri ini, dengan lantang singa mimbar itu melarang beredarnya musik ngak ngik ngok ini. Namun, bukan berarti “mengamini” tindakan Soekarno. Kita tahu, seni adalah sesuatu yang abstrak dan sulit di jabarkan dengan kata-kata.

Demikian juga untuk Aceh. Melarang beredarnya musik dengan aliran rock, pop alternatif, dan lain sebagainya bukanlah tindakan yang bijak. Namun, saat berbicara mengenai seni tradisional dalam hal ini kita spesifikasikan lagu daerah Aceh, membutuhkan pewarisan budaya seni itu sendiri. Sepertinya hal ini juga dialami oleh perkembangan lagu suku lainnya di Aceh. Sebagaimana kita ketahui Aceh terdiri dari suku-suku kecil didalamnya, yaitu suku Aceh (suku yang mendiami sebagian besar kabupaten pesisir), suku Alas (di Aceh Tenggara), suku Gayo (di Aceh Tengah, Tenggara, Bener Meriah dan Gayo Lues dan sebagian Aceh Tamiang) dan suku lainnya juga tidak mampu mempertahankan eksistensi musik daerahnya. Kembali muncul pertanyaan, apa yang sedang terjadi di dunia musik lokal Aceh?

Disisi lain, generasi muda daerah ini mulai enggan mendengarkan lagu daerahnya sendiri. Umumnya yang mengkonsumsi lagu india ala Aceh, rock ala Aceh dan lain sebagainya adalah masyarakat yang berada di pedalaman Aceh. Itupun jumlahnya sangat kecil sekali. Saya pernah bertanya pada seorang teman yang kebetulan merupakan pemain gitar di salah satu group band ternama di Lhokseumawe. Dengan nada miris dia mengatakan, kalau musisi Aceh saat ini asal-asalan dalam menciptakan lagu. Artinya, generasi muda Aceh juga mengharapkan agar seniman kita menciptakan karya yang orisinil dengan polesan warna asli musik Aceh.

Peluang pasar, saya pikir tidak layak untuk dijadikan alasan melakukan plagiat terhadap musik India, musik lagu Jawa, bahkan musik Barat sama sekali. Di negeri manapun, plagiat saya pikir tidak dibenarkan. Membuat karya sendiri akan menghadirkan kepuasan batin yang tiada taranya dan tidak dapat diukir dengan guratan tinta.

Paska tsunami dengan ratusan NGO yang berada di provinsi ini, saya pikir merupakan waktu yang tepat untuk merubah pola musik kita. Pola musik yang terlanjur meniru orang lain. Memperkenalkan Aceh dari segala sisi pada NGO asing maupun lokal dan nasional, mengapa tidak mulai dilakukan. Aceh for world (Aceh untuk dunia). Rasanya kalimat itu memang mimpi disiang bolong. Namun, jika elemen budayawan dan pengusaha Aceh yang beregerak dibidang industri musik bersatu, saya rasa ini bukanlah mimpi. Kita ketahui sejak jaman Iskandar Muda menjadi raja, Aceh mempunyai nama harum disepanjang Samudera Hindia. Mengapa tidak mengulang sejarah.

Perlu diingat, moment paska tsunami harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Rekonstruksi di Serambi Mekkah ini, bukan hanya dalam bidang perumahan dan sarana lainnya. Budaya dan seni atau lagu tradisional patut juga diperhatikan dan dilestarikan. Jika bukan kita (orang Aceh) siapa lagi yang hendak melakukannya.  Akhirnya, saya hanya dapat berharap pada pemerintah provinsi NAD dan BRR agar dapat memperhatikan hal ini. Kita menanti lahirnya sejuta musisi seperti Rafli, Muklis Nyawong, Ill Mantong dan musisi khas Aceh lainnya lahir di Serambi Mekkah ini. Khas musik Aceh patut dan layak di konsumsi oleh seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia. Mengapa tidak mencoba mempertahankannya. Semoga Aceh kedepan tetap menjadi Aceh yang memiliki indentitas lagu daerah dan mampu menembus pasaran nasional. Semoga.