Back to Home | OPINI LAINYA

»


FILSAFAT ACEH
Oleh: Saifuddin Dhuhri, Lc., MA

Penulis adalah Dosen Fak. Dakwah STAIN Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

 

Adakah kita orang Aceh berfikir? Bagaimana kita sebagai orang Aceh berfikir? Apa saja bukti kita berfikir?

          Sangat wajar kalau pertanyaan itu kita lontarkan kepada kita sendiri sebagai orang Aceh, sebagai manusia Aceh, manusia yang memang memiliki kharakteristik khusus, yaitu berfikir. Hal inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

            Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, maka tidak ada cara lain kecuali dengan dua hal: pertama; memahami filsafat Aceh sebagai wacana yang kita kaji. Kemudian setelah kita temukan kesimpulan pengertian filsafat itu, kita ambil bukti-bukti sejarah Aceh sebagai manusia yang berfikir dan berfilsafat. Yaitu menelusuri sejarah peradaban Aceh dan budayanya sehingga membawa kita ke kesimpulan yang lebih rasional.

            Umumnya filsafat dikenal angker, seperti nyawa tanpa tubuh, sebagian pelajar memaknai berfilsafat dengan gila atau mendekati kegilaan. Tetapi, memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam kata "filsafat" adalah suatu pekerjaan yang terlalu berani dan berlebihan! Filosof sendiri mengakui betapa susahnya membuat pengertian filsafat yang jami` mani`, demikian juga para peminat filsafat, mereka sulit mendefinisikan kata yang satu ini. Apa yang membuatnya demikian karena terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut, ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Tetapi, mari kita lanjutkan mencoba menerka apa itu filsafat, barangkali kita dapat menemukan pengertian filsafat sebenarnya melalui terkaan-terkaan sederhana.

Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos; pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya "cinta akan kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sesungguhnya akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.

Filsafat adalah suatu usaha untuk menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Penyelidikan filsafat lazimya dilakukan dengan berpikir secara  sistematis, radikal dan menyeluruh, dari suatu kesimpulan universal kepada kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Filsafat, "Ilmu tentang hakikat", supaya lebih lengkap, maka ada baiknya kita lihat pengertian filsafat menurut Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy. Menurut KattSoff, filsafat adalah berpikir secara kritis, universal,  sistematis, menghasilkan sesuatu yang runtut, rasional dan bersifat komprehensif.

Meskipun dengan cara sederhana, kita telah mendekati pengertian filsafat sebagaimana substansi filsafat itu sendiri. Berfilsafat artinya berfikir dengan teknik-teknik diatas untuk mencapai kebenaran. Ada tiga kunci dalam pengertian filsafat yaitu berfikir, adanya metode dan bertujuan mencapai kebenaran murni.

Dengan penjelasan diatas, penulis pikir pengertian filsafat mungkin sudah cukup jelas, tugas kita sekarang adalah, mencari literatur sejarah Aceh sebagai bukti bahwa kita punya filsafat atau sesungguhnya kita berfilsafat. Agar tidak jauh dari runtut pembahasan kita, mari kita ingat kembali bahwa tugas kita sekarang adalah menjawab pertanyaan: "Adakah kita orang Aceh berfikir? Bagaimana kita sebagai orang Aceh berfikir? Kenapa kita berfikir?".

Pertanyaan kita pertama adalah pertanyaan untuk menjawab ontology pemikiran Aceh, sedangkan yang kedua untuk memahami epistimology pemikiran Aceh, sedangkan yang terakhir adalah mencoba memahami sikap dan nilai berfikir dikalangan orang Aceh.

Meskipun judul kita adalah filsafat, tiga pertanyaan yang menjadi poros pembahasan kita adalah terfokus kepada pemikiran, kita asumsikan bahwa berfikir adalah tanda awal adanya filsafat, selanjutnya bila berfikir itu dilakukan dengan metode-metode disebut tadi (kritis, universal,  sistematis, menghasilkan sesuatu yang runtut, rasional dan bersifat komprehensif) dan bertujuan murni untuk kebenaran, maka pemikiran tadi menjadi filsafat.

Telaah literatur Aceh pertama ""Adakah kita orang Aceh berfikir?",  terus-terang kita akui sejarah Aceh banyak ditulis secara komplek oleh orang asing umumnya ketimbang putera daerah sendiri. Sejarah Aceh baru ditulis oleh pemiliknya pada akhir abad 19 dan permulaan abad 20, lagi pula, standar realibilas dan validitas data yang dipakai masih rendah dari tuntutan ilmiah. Pengertian Aceh selanjutnya masih diperdebatkan, apakah masih sama dengan pengertian clan atau bangsa. Kalau clan yang berarti suku, maka sesuai dengan makna suku adalah kumpulan manusia disuatu tempat yang berasal dari satu induk yang turun menurun dari keluarga menjadi gampong kemudian berkembang menjadi kelompok-kelompok yang banyak. Keturunan ini tentunya memiliki bawaan yang sama dari warisan nenek moyangnya, sehingga setiap anggota suku memiliki kesamaan DNA dan enscribe character lainnya. Dari pengertian itu jelas sekali bahwa nenek moyang orang Aceh bukan satu karena bentuk fisik dan karakter masyarakatnya sangat berbeda antara satu dengan lainnya.

Maka penulis sependapat dengan mereka yang mengatakan Aceh adalah bangsa, yaitu kumpulan manusia yang berbeda-beda asal-usulnya untuk kepentingan dan tujuan yang sama pada saat tertentu dalam sejarah. Buktinya sederhana sekali, perbedaan bentuk fisik, karakter sosial dan adanya beberapa bahasa adalah bukti yang nyata ada di dalam masyarakat kita.

Jika pemahaman dan bukti sederhana diatas kita akui sebagai realitas yang nyata, maka pertanyaan diatas telah terjawab, yaitu orang Aceh berfikir. Alasannya juga sederhana, tidak mungkin bangsa-bangsa yang berbeda berkumpul bersama disuatu tempat tanpa ada didahului  suatu pemikiran yang merencanakan pengumpulan penempatan itu terjadi, tidak mungkin perkumpulan itu akan kekal dan bertahan hingga berkesinambungan sampai  sekarang kecuali telah disatukan oleh satu landasan pikiran yang menjamin eksistensi kumpulan tersebut, juga tidak mungkin mereka membuat suatu tujuan yang sama, misalnya menyatukan kerajaan-kerajaan menjadi kerajaan Aceh, kecuali dilatarbelakangi pikiran yang sama. Jika anda masih tetap bersikeras bahwa orang Aceh tidak berpikir maka sama saja anda mengatakan seluruh orang Aceh itu sama bentuk fisik dan non fisiknya, orang Aceh tidak pernah ada dan kerajaan-kerajaan Aceh itu adalah sebuah khayalan. Tetapi kenyataan memihak kepada keberadaan tiga hal tadi, maka sebaiknya anda menerima saja kenyataan itu bahwa mereka berfikir.

Sekarang pertanyaan kedua menjadi tugas kita selanjutnya. "bagaimana orang Aceh berfikir?"

Penulis percaya bahwa pembaca sangat arif untuk menjawab pertanyaan diatas, jika masing-masing pembaca sudah ada jawaban maka kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk mejawab pertanyaan ini.  Namun, jika penulis harus juga menjawab pertanyaan itu, maka cara berfikir orang Aceh sebenarnya tidak sederhana, tidak pula rumit, tidak juga berarti "tidak-tidak", kalimat yang cocok barangkali adalah "ceulet-ceulet atau cet langet". Kenapa? Jawabannya selalu sederhana, karena pemikiran orang Aceh tidak kritis, universal,  sistematis, menghasilkan sesuatu yang runtut, rasional dan bersifat komprehensif. Sekaligus menjawab pertanyaan ketiga buktinya juga sederhana "karena umumnya hasil pemikiran orang Aceh tidak kritis, menyeluruh, sistematis, rasional, runtut dan komprehensif, kalau pun ada satu dua orang itu tidak bisa menjadi contoh bagi seluruh populasi orang Aceh.

Karena jawaban dua dan tiga adalah tidak, sedangkan pertama ya, maka apa hakikat berfikir ala Aceh itu? Karena pertanyaan dihadapan kita tentang hakikat kita pun harus menjawabnya dalam bentuk realitas sosial Aceh. Jika kita lacak jawaban itu dari literatur sejarah yang berbentuk karangan-karangan tokoh Aceh, nampaknya tidak mengwakili dan buku itu lebih bersifat syarah atau sambungan lidah dari pemikir Timur Tengah, seperti bekunya pemahaman Asy`ariyah, membatunya fiqh syafi`iyah dan maraknya tingkah laku tassawuf dalam masyarakat.

Kemungkinan rasional terakhir adalah melacak lewat hadist-hadist maja orang Aceh. Meskipun hadist ini berbentuk sya`ir dan pantun, namun sesungguhnya disitulah letak pokok pemikiran yang berhasil di bentuk melalui mulut ke mulut. Sesuai dengan filsafat yang objeknya tidak terbatas (demikian juga hadist maja yang terdapat dalam segala lini kehidupan masyarakat Aceh. Ada baiknya kita sebutkan beberapa saja yang mengambarkan dominan watak pemikiran dan karakter masyarakat Aceh:

A. Egalitaire/persamaan derajat sosial. Hadist maja ini merupakan semboyan kehidupan bersama orang Aceh yang mengambarkan bahwa orang Aceh tidak mengakui adanya kasta atau perbedaan kelas sosial dan jika dipaksa adanya kelas dalam masyarakat maka akan menyebabkan perang antara mereka sehingga berakhir dengan kematian, diantaranya ialah:

      1.   Udeep Saree Maté Syahid

      2.   Udeep beusaree, maté beusaban, saboeh kafan dalam keurenda
 

B.   Kuatnya pengorbanan untuk tangungannya.

La ila haillallah

Mérah pati ka patah teu ôet

Matee ma bak uleii jeungkie

Matee abie bak mita uengkôet
 

C.   Hadist maja mengambarkan karakteristik orang Aceh yang keras:

Kiwieng ateueng beuneung peuteupat

kiwieng ureung peudeung peuteupat

Meuteunggheing bék, meuleungkop jeut.

Lagéi crah meunan beukah
 

            Kata Iskandar Muda:

Buei hanjeut tapeusok bajei

Aséi hanjeut tapeusoek siluweu

Meunyoe ta peu ek jih keu guree

Ditroem geutanyoe dalam pageui

 

D.     Hadist maja sebagai pencegahan perbuatan yang merugikan orang lain:

        1. Tamsé ureung khianat

                        Meuwoe laknat ateuh tuboeh droe

 

        2.     Paléh teungku geuboh kitab

                            Paléh ureung meukat geuboeh keunira

                            Paléh utoeh geuboeh suenipat

                            Paléih nanggroe geuboeh adat
                            Pal
éh ureung geuboeh kada
 

E. Berorientasi kepada tradisi dan masa lalu. Artinya masyarakat Aceh lebih kuat mengakarkan kehidupan pada tradisi dan masa lalu sebagai hasil kebanggaan mereka.

      1.   Adat bak poe teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala,

                Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana“.

      2.   Patah-patah bara meunasah

      Jak ikat ngoen awé lilén

      Ata nyang kana beugot tapapah

      Leupah that payah bak tamita laén 

      3.   Maté aneuk meupat jeurat

      Maté adat hana pat ta mita laén

 

F.  Hadist maja lainnya mengambarkan egoisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti:

     1.   Leumo grop paya, guda cot ikue

     2.   Aséi  ék iték, anggoek meureuwa

     3.   Tajak ubé leut tapak, tadeuk ubé let puengong.
 

G.  Selain diatas, orang Aceh juga materialistik, sebagaimana gambaran dalam hadist maja ini:

      Na péng na inoeng

      Meunyoe ka teumbon ka meu ariet, meunyoe ka kaya ka kriet.

      Meunyoe ureung kaya mulia bak wareih

      Meunyoe ureung gasien meukuwien dalam tapeih

           

H.   Hadist maja yang mengambarkan watak malas berusaha

      1.   Kuwah beu leumak, u bék teuplah

      2.   Uleue beu matee, ranténg bek patah

      3.   Meudoa watei sakét

                        Meuratéip Watéi Geumpa

                        Seumbahnyan wajeb uroe Jum’at

                        Seubahnyan Sunat Uroe Raya

                        Manoe watéi meugreib
                        Beudeuh eih watei senja 

      4.   Lheuh bue, eih siat

      Meunan  adat ureung beu`oe

     5.    Pajoeh bu toeh ék

      Bék karu-karu

      Béi punggoeng béi pliek

      Béi geutiek bei phoeng

      Haaa ri haaa ri yooo.

 

I.    Pengambaran watak munafik

      1.   Ikeu bei bu,  dilikoet béi ék

      2.   Ta peucaya keu tika, tika ka meupiejeit

      Ta peucaya keu teungku, teungku ka meuseuleit. 

      3.   Lagei asei beulasoen,

      Ta bie bue pijeut

      Ta bie ee teumbon

 

            Dari hadist-hadist maja diatas, cukup memberikan gambaran kepada orang Aceh yang berpikir tetapi bukan berpikir untuk berfilsafat, tetapi berpikir untuk mencapai suatu tujuan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, orang Aceh lebih mengutamakan hasil daripada proses. Berorientasi kepada hasil dan berusaha untuk mendapatkan hasil tersebut dengan cara apa saja semisal dengan kekuatan (power), emosional atau bermuatan pemikiran dan lain sebagainya namun tetap saja proses tidak diutamakan. Bisa disebut, orang-orang inilah yang masuk katagori tidak sabar, malas, tidak kreatif, orientasi kepada sejarah dan materialis.

Sampai sekarang, cendekiawan Aceh pada umumnya masih banyak berfokus pada pola pikir yang praktis, demikian halnya dengan masyarakat Aceh yang masih hidup dengan pola pikir pragmatis, tetapi tidak berarti mereka pengikut Goerge Sarter atau Betrand Russel, mereka telah terbentuk demikian dikarenakan oleh faktor lingkungan dan perangkat masyarakat yang mengukungkungnya, padahal sesungguhnya Al-Quran dan hadist mengajarkan masyarakat dengan mengutamakan proses ketimbang hasilnya. Masyarakat didikan Rasulullah adalah msyarakat yang madani, baldatun thaibun warabbul ghafur.

 
  TULISAN LAINYA :
» MENGGUGAT ADAT MENGUATKAN AGAMA (30/08/06)
Oleh Saifuddin Dhuhri, Lc, MA | Dosen STAIN Lhokseumawe dan Peneliti Traditional Islamic Education dalam Sandwich Program Di Asian Studies, Australia National  University
Email:
saidput@yahoo.com
» FILSAFAT PENDIDIKAN ACEH; MATERIALISME ATAU CET LANGET (16/08/06)
Oleh: Saifuddin Dhuhri Lc, MA.