Back to Home

»

OPINI »
FILSAFAT PENDIDIKAN ACEH: MATERIALISME ATAU CET LANGET
Oleh: saifuddin Dhuhri Lc, MA

Penulis adalah Dosen STAI Negeri Malikushaleh Lhokseumawe.
Email: Saidput@yahoo.com

 

Abstract

This paper is written to describe a real situation of Acehnese education in nowadays. Materialism is fundamental ground of Acehnese education which based on the philosophy of market-driven expediency. It may succeed in producing more and more materialist, but has the inherent weakness in overcoming social disharmony that would ensue. This education is focus on commercialization of most things in life, while students graduated from any schools, first emerged from their thought which have been educated, where do I sell my graduated certificate for a job?

Muslims have all the necessary resources to develop science, technology, and build their economies and industries. The problem lays in the fact that Muslims lack of an istikhlaf attitude and mentality to pursue creative scientific knowledge and development. We consider that we need to change an education system to reflect the prevailing attitude, culture and historical legacy of a country. It always takes into account the norms and values of the mainstream society.

 

 

I.  Pendahuluan

Mari kita pertanyakan kembali, kenapa kita mengajar dan mendirikan lembaga pendidikan? Adakah diantara kita menjawab: "karena ingin mendapatkan uang", atau "ingin menjadi orang berstatus sosial tinggi sebagai dosen dan pegawai negeri". Kenapa mendirikan suatu lembaga pendidikan jika kita tidak punya konsep awal dan tujuan pendidikan, matang dan dapat dipertanggung jawabkan?

Sulit sekali menjawab pertanyaan diatas dengan jujur sesuai dengan perintah agama dan anjuran kemanusiaan. Mempertanyakan lebih mendalam lagi berarti konyol, tidak mempertanyakan lagi berarti dungu dan bodoh.

Karena sesungguhnya hari ini adalah masa-masa kemunduran Aceh. Masa dimana kita terpuruk di bidang politik (depolitisasi), ekonomi (eksploitasi), budaya (pelumpuhan budaya), dan juga agama (sekularisme). Aceh telah kehilangan semua identitasnya dalam bidang-bidang tersebut. Hari ini adalah juga masa dimana Aceh berhadapan dengan konflik (sosial) yang sangat panjang, yang menyebabkan hilangnya ribuan nyawa manusia dan banyak harta benda. Dalam masa-masa ini juga potensi sumber daya manusia Aceh terus berkurang, Aceh kehilangan pemimpin-pemimpin cerdas, Aceh juga kehilangan ilmuan-ilmuan. Kemunduran ini juga ternyata turut menghilangkan adat dan identitas yang selama ini sangat melekat yaitu Islam.[1]

Fakta yang tidak terbantahkan adalah pendidikan kita tidak ada landasan teorinya, tidak ada perencanaan, kita mencoba menwujudkan impian cet langet dan mempraktekkannya dalam seluruh jaringan saraf kita, urat nadi dan nafas kehidupan. Tanpa perencanaan dan teori dalam arti seperangkat alasan yang rasional, konsisten dan saling berhubungan. Maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan meuka lheuh na.

 “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”. (Dr. Gunning yang dikutip Langeveld 1955).

Sewajibnya, hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi anak didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.

 

II.  Kenyataan Pendidikan Kita

Pendidikan kita menunjukkan bahwasanya seorang yang pintar mendapat posisi sebagai raja dalam masyarakat dan diantara individu.  Karena itu, kehadiran orang pintar disisi masyarakat sangat diidam-idamkan. Masyarakat, orang kaya, pemerintah daerah telah menunjukkan komitmen yang sesuai dengan keinginan diatas, baik pengorbanan materi maupun pengorbanan mental dan tenaga, tujuannya adalah menglahirkan orang pintar.

Berkat usaha itu, masyarakat Aceh telah memiliki puluhan professor, ratusan doktor dan hampir ribuan master. Keberhasilan ini mestinya menjadi kebanggaan masyarakat dan pendidikan di Aceh, karena kehadiran orang pintar yang menjamak tadi akan memberi kontribusi yang sangat beharga untuk pembangunan peradaban Aceh masa sekarang dan masa yang akan datang.

Pada kenyataannya, apakah dengan begitu banyaknya orang pintar telah memberi sumbangsih yang berarti terhadap kesejahteraan ummat, kemajuan pendidikan dan pembangunan masa depan bersama?

Penulis ragu ataupun pesimis, kita akan memiliki tokoh yang punya jiwa dan keteguhan yang kuat untuk membangun dan memperjuangkan kebahagian dan pendidikan manusia dan bangsanya seperti : Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854), Immanuel Kant (1724-1804), George Wilhelm Friedrich Hegel, (1770-1831) ataupun Friedrich Wilhelm Nietzsche, (1844-1900) berkat usaha, semangat, pikiran  mereka, tanah kelahirannya Jerman yang telah hancur lebur dan rata dengan tanah bersama semua penghuninnya di akhir perang dunia pertama dan kedua, bangsa Jerman tetap memiliki jiwa yang kuat dan rasa cinta dan kesetiakawanan yang tidak lebur untuk membangun Jerman dan memberikan tatapan indah kedamain kepada masa depan generasinya .

Meskipun sejarah perang dan kekacauan yang dimiliki Aceh tidak begitu berbeda dengan Jerman, namun apakah kita punya tokoh pendidikan yang setia dan berani hidup tanpa materi sebagai mana layaknya hidup tokoh-tokoh pendidik diatas?

Bila kenyataan kehidupan kita sekarang ini menunjukkan tidaklah lebih baik dari masa sebelumnya meskipun diantara kita ada orang-orang pintar sebanyak ini, atau malah sebelumnya dalam sejarah, lebih teratur dan sejahtera walaupun tanpa professor, doktor. Lalu alasan dan fakta apa yang menyebabkan terperogoknya pendidikan dan intelektual-intelektual kita?, kenapa kehadiran para intelektual tidak bisa merubah hidup kita menjadi lebih baik?

Karena dua jawaban pertanyaan diatas menunjukkan "tidak", maka haruslah kita pertanya lagi tentang sistem dan kurikulum pendidikan kita, kualitas orang pitar kita dan struktur masyarakat kita. Artinya, ada ketimpangan terhadap pendidikan, pendidik dan struktur masyarakat.

Pendidikan kita adalah pendidikan yang tidak berorientasi untuk mendidik emosi dan spiritual, tetapi merupakan pendidikan yang hanya terfokuskan pada kecerdasan akal dan logika saja (intelektual). Kurikulum, pengajaran dan kehendak masyarakat menunjukkan mereka sudah puas dan menganggap telah tercapai target bila seorang anak didik berprestasi dengan nilai-nilai yang excellent.

Lembaga pendidikan yang menjamur, jumlah anak didik yang tidak terhitung, lulusan yang membludak semakin mewarnai lembaran pendidikan, ini perlu dipertanyakan lagi. Beragamnya lembaga pendidikan mengakibatkan tidak terkontrol kurikulum dan mutu pendidik, terpecahnya pendidikan dari swasta dan negeri, pendidikan agama negeri dan swasta, pendidikan umum, dayah, balai pengajian, diniyah menunjukkan semakin rumitnya gambaran pendidikan kita, pendidikan yang tumbuh bagaikan semak-belukar, tanpa aturan, standar mutu dan syarat-syarat keilmuan. Akibatnya adalah pendidikan kita akan memproduk manusia-manusia yang premature, busung-lapar dan kerdil dari standar pendidikan di negara lain.

Dilain pihak, pendidikan kita adalah pendidikan supermarket, lihat saja bagaimana kebijakan suatu universitas, yang menentukan standar universitas adalah pada berapa bayaran dari mahasiswa, istilahnya adalah "semakin banyak penawaran maka semakin mahal harga suatu barang" demikian juga dengan mata kuliah, jurusan dan fakultas, jika banyak yang mendaftar ke suatu universitas maka bayaran pun semakin mahal, sebaliknya semakin sedikit peminat suatu lembaga pendidikan maka semakin murah bayarannya, bandingkan saja berapa bayaran Fakultas Kedokteran dengan Fakultas Dakwah, atau bagaimana perbedaan pembayaran STAI dengan Universitas misalnya. Dari hal ini maka tepat sekali dikatakan bahwa mutu pendidikan kita adalah ditentukan oleh uang, sesuai dengan masyarakatnya yang berkharakter materialisme. Maka tak dapat dihindari bahwa menjadi orang terdidik adalah milik orang-orang yang beruang, tetapi orang miskin harus tetap statusnya si-miskin, papa, bodoh, sengsara, tertindas dan sebagainya.

Kita telah uraikan bagaimana rumitnya pendidikan kita, tetapi sesungguhnya kita belum menyentuh pokok masalah. Bagi penulis pokok permasalahan terhadap terpuruknya pendidikan kita adalah karena materialistis masyarakat kita. Ketika masyarakat materialistis maka kecendrungan masyarakat itu akan berorientasi uang, dalam hadis maja Aceh dikatakan: "Meunyoe urueng kaya mulia bak wareih, meunyoe ureung gasien meukuwien lam tapeih", dalam ungkapan lainnya: "Bukoen sayang lon kaloen boh drien aneuk meukiewieng asoe meutumpoek, menyoe urueng kaya lee that urueng ngieng, menyoe urueng gasien disipak lam lhoek",. Ungkapan lebih kasar lagi, terutama dalam perjodohan: "Na peng Na inoeng, hana peng hana inoeng". Dalam hadis maja lain "Jak beutreoh eu beudeuh, bek rugoe meuh  sakeet hatee". "Nikmat tuhan brie ubee paleut, tabloe han ek ta lakei han ta teujeut".

Meskipun beberapa ungkapan diatas belum tentu tepat mengambarkan karakter materialisme orang Aceh, tetapi gambaran dilapangan sangat banyak yang mendukung tentang materialisme orang Aceh. Setiap masyarakat yang materialisme maka secara gamblang akan memiliki beberapa karakter lain, diantaranya adalah kecendrungan kelogika lebih tinggi ketimbang kekedewasaan mental. Begitu juga dalam hal spiritual, kecendrungan beragama mereka lebih hanya berupa simbol-simbol ritual bukan pengamalan isi dan pemahaman agama itu sendiri. Seperti pelaksanaan maulid Nabi, khanduri blang, khanduri udep, khanduri matee, kecendrungan memakai simbol-simbol agama, seperti peci, redak, kain sarung dan sebagainya.

Memang sudah menjadi kenyataan bahwa kecendrungan materialisme yang tinggi mengakibatkan masyarakat kita menjadi masyarakat bungkam terhadap nilai-nilai luhur dan budi  mulia, sebagaimana juga pengamalan agama lebih cendrung nuansa politik dan ekonomi, alhasil akhlak mulia; kejujuran (tidak berdusta), menghormati orang lain, menghargai kehendak dan jati diri yang lain, kerja-sama dalam membangun dan akhlak lainnya terabaikan sama sekali.

Karena pola pikir materialistik, maka siapapun baik pendidik, anak didik dan lembaga pendidikan akan melahirkan produk yang handal untuk menerima uang, tapi tidak pandai dalam menjalani proses untuk menghasilkan uang, mereka gagal menjadi orang-orang yang bermental dewasa, berspritual hakiki dan setia kepada nilai. Kalau begitu kenyataan, maka pendidik yang materialisme, lembaga materialisme dan masyarakat materialisme, sungguh sangat mustahil dapat menjadikan kita masyarakat yang makmur dan sejahtera sentosa.

Keberhasilan seseorang lebih ditentukan oleh sejauh mana kedewasaan mental dia dalam berinteraksi dengan orang lain dan sekuat mana hablum minallah dibinanya, daripada keberhasilan seseorang ditentukan oleh  kadar minim atau kuatnya kecerdasan intelektual. Demikian juga suatu suku, bangsa dan negara akan maju atau mundur ditentukan oleh banyak atau minimnya karakter positif yang mereka miliki.

Ketika sistem pendidikan kita hanya dilandaskan kepada target kecerdasan intelektual, maka selama itu juga kemajuan kita menjadi suatu yang mustahil, meski kita memiliki berpuluh-puluh ribu professor dan berjuta-juta doktor, semua mustahil, kecuali kita  masih tetap setia dengan nilai-nilai dan tidak berbohong.

 

III.  Perbedaan Pendidikan Negara Maju Dengan Negara Terbelakang

Sistem pendidikan dinegara lain, adalah sistem yang holistik, integral, yaitu pendidikan seutuhnya meliputi keceradasan intelektual, spritual dan emosional. Sehingga kalau kita sintesakan apa saja yang membedakan antara maju dengan terbelakang suatu bangsa, jawabannya adalah karena perbedaan tingkat pendidikan kedewasaan emosional dan etika sosial.

Maju mundur suatu negara bukan tergantung pada muda atau lamanya umur negara tersebut, contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin), disisi lain, Singapura, Kanada, Australia dan New Zealand negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin[i].

Selanjutnya Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menajadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. daratannya, 80 persen berupa pengunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan, tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara "industri terapung" yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekpor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat, tetapi Swiss mampu menjadi negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia. Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban, tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia

Para ahli dari negara maju yang menyelidiki negara terbelakang berpendapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan: ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Karena para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa. Perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan berikut:

Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari

Kejujuran dan integritas

Bertanggung jawab

Hormat pada aturan & hukum masyarakat

Hormat pada hak orang/warga lain

Cinta pada pekerjaan

Berusaha keras untuk menabung & investasi

Mau bekerja keras

Tepat waktu[2]

Di Negara kita yang terbelakang dan miskin, sedikit sekali manusia yang mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. Karena kita dan generasi-genarasi kita yang terdidik dengan materialisme, munafik dan cilet-cilet.

Materialisme Pendidikan dan munafik pendidik kita melahirkan anak didik yang tidak ada kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita pantas membangun dan maju disegala bidang. Kalau kita tetap mempertahankan sistem kita yang sekarang, maka seharusnya kita tidak usah gundah dan sendih dengan koruptor-koruptor, diktator-diktator dan manusia-manusia yang serakah lahir disekitar kita, karena pendidikan ivestasi masa depan. Namun bila kehadiran mereka diharapkan lebih baik dan indah, maka janganlah pelihara  anak srigala, jika suatu saat kemudian kamu takut digigit srigala dewasa yang buas.

 

IV.        Teori-Teori  pendidikan

Ada tiga tipe fokus yang dilakukan dalam pendidikan, yaitu; materi pengajaran, anak didik/siswa atau mahasiswa dan yang terakhir model memfokuskan kepada mahasiswa dan materi pelajaran sekaligus.

Mendidik dengan hanya mementingkan dimensi mata pelajaran saja, tanpa memperdulikan aspek anak didik; seperti akhlak, kehadiran, disiplin dan penampilan anak didik adalah model pendidikan yang sifatnya untuk anak didik yang jumlah anak didik banyak, tidak terjangkau oleh ruang dan waktu, sehingga standar kelulusan mahasiswa atau anak didik hanya ditentukan oleh penguasaan materi yang telah ditentukan oleh pendidik, artinya semakin tinggi penguasaan materi maka akan semakin tinggi kelas dan derajat anak didik.

Pendidik maupun anak didik tidak perlu menghiraukan kedisiplinan, kehadiran, khitmat kepada guru, apalagi mengenal guru atau dosen pendidik mereka, tugas utama pendidik adalah mengarang buku, minimal diktat. Sedangkan pihak universitas, memeriksakan kelayakan buku pegangan tersebut yang diwakilkan kepada badan tertentu misalnya: Lembaga Pengendalian Mutu, hai`atul tadris wa ta`lim. Setiap tahunnya badan ini akan selalu mengadakan penyeleksian terhadap buku-buku pengangan yang dikarang calon dosen, karena syarat utama menjadi pendidik atau dosen adalah menjadi pemenang dalam penseleksian buku pegangan yang diseleksi lembaga universitas.

Standar buku pegangan berbeda antara universitas dengan universitas lainnya, paling kurang mereka memakai target memenuhi dua potensi dasar yang dikandung dalam buku pegangan tersebut, pertama potensi hafalan dan kedua potensi nalar. Harapan universitas adalah jika mahasiswa telah menguasai buku pengangan tersebut maka mahasiswa telah dibekali semua kemampuan dasar tentang objek tertentu dari mata kuliah.

Biasanya model yang dilakukan dalam pembuatan buku pegangan adalah; buku pegangan harus telah menjelaskan tentang segala pengertian-pengertian, idrak al-tassawur (concepts), tentang sesuatu berkenaan dengan ilmu yang dipelajarinya dan kata-kata kunci dalam pelajaran tersebut. Untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang suatu kata maka harus dicari segala kata-kata lain yang memiliki makna yang sama atau serupa. Setelah kata-kata yang serupa atau  sama ditemukan maka dicari perbedaan makna dari kata-kata tersebut dengan makna kata yang sedang dicari. Untuk bisa menemukan kesamaan dan perbedaan antara kata tadi mesti menganalisa dengan membagi-bagi setiap kata tersebut kepada lima kulliyat yang digunakan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri atau konsep dengan mengunakan "kulliyat khamsah". Lima kulliyah itu adalah: [1] Nau' (species), [2] jins (genus), [3] fashl (differentia), [4] 'aradh 'aam (common accidence) dan [5] 'aradh khas (proper accidence).  Menganalisa seluruh hal yang mungkin dikandung oleh makna kata disebut jami` dan membeda setiap hal dengan essence maka tadi disebut mani`.

Disamping itu, buku itu harus juga menjelaskan tentang tasdiq, idrak al-tasdiq (composition). Maksudnya adalah setiap mahasiswa dipastikan setelah mempelajari buku pengangan tersebut bisa membuat gabungan-gabungan kata berupa mengandung kebenaran-kebenaran tertentu yang dikandungi ilmu tersebut, seperti: kalimat badihi dan dharuri (A Priori, analytic, The necessary) dan harus bisa menghasilkan juga thesis, anti thesis dari ilmu yang sama, apakah thesis-thesis tersebut dihasilkan melalui logika, experimental ataupun gabungan keduanya (reflektif). Target ini dianggap telah tercapai bila mahasiswa dapat membuat kebenaran-kebenaran A posteriori, synthetic dan contingent (kebenaran nadhari)[ii].

            Model ini menuntut mahasiswa kemandirian yang luar biasa. Mahasiswa dipaksakan menjadi dewasa, dia harus mawas, karena lulus atau tidak lulus dia hanya ditentukan oleh dirinya sendiri. Mereka tidak diawasi sama sekali.

            Bisa kita pastikan bahwa model ini juga tidak terjalin hubungan psikologis antara pendidik dengan anak didik; kenal mengenal, pribadi, kasih-sayang dan bela-membela. Konsekwansinya adalah sangat positif, pendidik tidak pernah dapat dipengaruhi oleh mahasiswa/anak didik atau orang tua didik, dan dosen tidak terpengaruh oleh subjek lain dalam memberi nilai kepada anak didiknya. Pada dasarnya dosen tidak punya hak memberi nilai dan menentukan mahasiswa lulus ataupun tidak lulus, hak dosen adalah mengajar, memastikan anak didik mampu menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan dan menyetorkan soal-soal final ujian kepada haitul tadrus wal ta`lim dalam lebih dari tiga lipat soal yang akan diujiankan, sedangkan yang menentukan soal mana yang akan keluar dari sekian banyak soal pilihan yang diberikan dosen, lulus tidak lulus mahasiswa adalah lembaga haitul tadrus watt a`lim dan beberapa dosen structural yang terlibat langsung dalam peningkatan mutu universitas.

            Sistem belajar ini juga berbeda sekali dengan sistem dikenal dalam bentuk SKS, mahasiswa bila berasil menyelesaikan semua mata kuliah atau minimal dua mata kuliah dalam satu tahun maka ia akan naik kelas, tetapi bila tidak lulus tiga atau lebih dari mata kuliah dalam satu tahun maka ia harus mengulang lagi ke tahun depan untuk menyelesaikan mata kuliah yang tertinggal (sistem al-Azhar),sedangkan di lain tempat (di Universitas Qurawiyien, Maroko) harus mengulangi semua mata kuliah, meski yang tinggal hanya tiga mata kuliah. Sistem ini juga tidak menyeleksi mahasiwa baru yang mendaftar ke universitas, jumlah mahasiswa untuk setiap lokal tidak dibatasi dengan ketat, tidak ada peraturan mesti bertatap muka dengan dosen dan lain-lain.

            Masa-masa ujian adalah masa yang sangat sakral, suasana berubah seratus persen dari sebelumnya, karena jumlah mahasiswa yang tinggal berjumlah besar terfokus pada suatu tempat, tentunya suasana bukan hanya terjadi diantara mahasiswa saja tetapi terbawa juga pada suasana kehidupan sekitar kediaman mahasiswa dan universitas. 

            Ujian dilaksanakan setahun sekali atau dua kali, lama ujian tergantung banyak dan sedikitnya mata kuliah, umumnya mata kuliah setiap tingkat perkuliahan mencapai kurang lebih 15 mata kuliah. Ujian dilaksanakan sehari satu mata kuliah dengan ketentuan seminggu dua atau tiga hari ujian, jadi dua atau tiga mata kuliah dilaksanakan dalam seminggu, maka ujian bisa berlangsung sebulan sampai satu bulan setengah.

            Ujian berlansung dengan sangat ketat, dijaga paling kurang tiga lapis, panitia pengawai dari pegawai universitas; mereka terus menerus berada diruang ujian, pengawas dari tingkat dosen; mereka mengotrol secara bergeliran setiap ruang ujian dan pengawas pihak keamanan (polisi). Posisi duduk dalam ujian berjarak kurang lebih setengah  hingga satu meter. Setiap mata kuliah diujiankan tiga sampai lima  jam, untuk beberapa mata kuliah diujiankan dengan lisan lebih dahulu.

Bila ada yang melanggar dalam ujian diberikan hukuman yang tegas, mencontek dicabut dari ruangan ujian dan tidak diperbolehkan ikut ujian untuk dua tahun mendatang, setelah itu diberkan kesempatan sekali lagi bila gagal di drop-outkan. Memalsukan dokumen nilai, keterangan kuliah, tanda tangan dosen berakibat fatal, dimahkamahkan dan dipenjara sesuai dengan jenis kesalahan yang dilakukan dan kemudian dipulangkan. Karena demikian ketatnya peraturan tidak mengherankan dari 100 persen peserta ujian, hanya 40 bahkan 25 persen saja yang berhasil naik tingkat.

            Model diatas adalah model yang khususnya dipakai untuk pendidikan tingkat strata satu keatas dan sering diterapkan di universitas-unversitas terkemuka dan terpopular, seperti al-Azhar di Mesir, Universitas Qurawiyien di Maroko[iii], Universitas Zaitunah di Tunisia dan beberapa universitas lainnya di Jerman.

            Model kedua adalah kebalikan model diatas yang menfokuskan kepada anak didik. Keberhasilan dan kegagalan pendidikan selalu ditentukan oleh kualitas subjektif anak didik, pendidikan ini sangat mengutamakan sikap, tingkah-laku, hubungan psychologis dan fisik antara anak didik dengan pendidik, kualitas penguasaan materi tidak begitu menentukan terhadap sukses dan tidak suksesnya anak didik. Dari naturenya pendidikan ini sangat cocok untuk pendidikan tingkat kanak-kanak hingga Sekolah Menenggah Pertama (SMP), sedangkan menengah keatas sudah perlu dimodifikasikan dengan penambahan aspek kognitif.

            Pada dasarnya, pendidikan pola kedua ini adalah pendidikan yang membina kecerdasan emosional atau disebut juga dengan pendidikan karakter, namun pola pertama diatas adalah pendidikan kecerdasan intelektual. Pola kedua ini sangat berguna untuk anak didik permulaan (dari Tingkat Kanak-kanak/TK hingga Sekolah Tingkat Pertama), karena sesungguhnya nabi sendiri pada dasarnya mementingkan sekali pendidikan emosional sejak dini (dalam kandungan), sehingga wajar saja nabi bersabda: "sesungguhnya tidaklah saya diutuskan kecuali untuk memperbaiki akhlak". Dalam hadist lain: "Dalam tubuh terdapat sepotong daging (hati), apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya dan apabila ia rusak maka rusaklah badan itu seluruhnya. Sepotong daging itu adalah hati".  (HR. Bukhari dan Muslim[iv]).

Inti pendidikan karakter adalah; suatu masyarakat akan sukses mengapai kemajuannya jika mayoritas masyarakatnya berkharater positif, sebaliknya jika mayoritas masyarakat berkarakter negatif, maka dapat dipastikan masyarakat itu tidak bisa maju. Hal ini dikarenakan suatu masyarakat yang berkarakter positif, mereka sudah memiliki modal dasar untuk mengapai kemajuan, seperti sifat jujur, mandiri, bekerja-sama, patuh pada peraturan, bisa dipercaya dan lain-lain. Sifat-sifat positif diatas memastikan suatu masyarakat bisa bekerja sama, dipercaya, mementingkan kepada orang lain, bisa diatur, bila hal tadi memungkinkan dilakukan dalam masyarakat maka secara pasti sebuah peradaban dapat dibangun.

Sebaliknya,s masyarakat yang mayoritas berkarakter negatif maka masyarakat ini tidak dapat dibangun, apalagi menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi. Karena karakter negatif yang mereka lakukan dapat menghambat kerjasama antara intern dan extern, tidak dapat dipercaya, begitu juga tidak rajin, tidak punya etos kerja dan lain-lain yang akan menghambat masyarakat ini untuk maju. Maka pendidikan karakter dalam rangka mencapai tujuan tersebut, yaitu; bagaimana menciptakan mayoritas masyarakat berkarakter positif.

Rendahnya kredibilitas bangsa kita dimata dunia international adalah cerminan dari perilaku  individu-individu yang tidak berkarakter, sehingga berdampak negatif terhadap pengelolaan negara, korporasi, sistem hukum,  yang akhirnya akan menurunkan daya saing Indonesia, dan seterusnya membuat indonesia terpuruk  secara sosial, ekonomi, dan budaya. [v].

Penulis berasumsi, bahwa penerapan model pendidikan yang hanya mefokuskan kepada materi kuliah cocok hanya diterapkan di tingkat strata pertama (tingkat Pendidikan Tinggi/PT), dan pendidikan karakter dan kecerdasan emosional perlu dilaksanakan sejak tingkat kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Adapun model ketiga yaitu; menerapkan sistem SKS (Sistem Kredit Semester), yang menilai segi subjektif dan objektif sistem belajar mengajar atau pemfokusan terhadap anak didik dan materi kuliah sekaligus adalah pendidikan yang umumnya ditetapkan di dunia sekarang. Dari sejak adanya hingga sekarang, sistem SKS ini telah terjadi modifikasi-modifikasi untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimiliki sebelumnya.

Paling tidak pendidikan ini membangun paradigma pendidikan baru, menjadikan anak didik anak yang berpengetahuan (learning to know), membuat anak didik menjadi manusia (learning to be), membentuk kepedulian untuk berbuat (learning to do), dan mengajak mereka untuk dapat hidup bersama di tengah masyarakat (learning to live together).

             

 

 


                                                DAFTAR PUSTAKA

 i  Hafas Furqani, Aceh Dan Kesadaran Sejarah, Aceh Institute, 2005   

ii Makalah, The First world, Diterjemahkan oleh  boedi dayono, januari 2004 dan di edit  sony s wibowo, maret 2006

iii  Ibid

iv  Lihat buku Immanuel Kant, The Critique of Pure Reason.

Hasil Observasi penulis selama menjalani pendidikan di dua universitas tersebut.

vi  Shahih Bukhari

vii Ratna, Megawangi, Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa, Hal: 6, Bp Migas, Star Energy, Jakarta, 1994.

 
TULISAN TERKAIT:

 » Aceh dan Kesadaran Sejarah (28/Nov/05)
  
 Oleh: Hafas Furqani