|
OPINI
»
FILSAFAT
PENDIDIKAN ACEH: MATERIALISME ATAU CET LANGET
Oleh: saifuddin Dhuhri Lc, MA
Penulis adalah Dosen STAI Negeri
Malikushaleh Lhokseumawe.
Email: Saidput@yahoo.com
Abstract
This paper is
written to describe a real situation of Acehnese education in
nowadays. Materialism is fundamental ground of Acehnese education
which based on the philosophy of market-driven expediency. It may
succeed in producing more and more materialist, but has the inherent
weakness in overcoming social disharmony that would ensue. This
education is focus on commercialization of most things in life,
while students graduated from any schools, first emerged from their
thought which have been educated, where do I sell my graduated
certificate for a job?
Muslims have
all the necessary resources to develop science, technology, and
build their economies and industries. The problem lays in the fact
that Muslims lack of an istikhlaf attitude and
mentality to pursue creative scientific knowledge and development.
We consider that we need to change an education system to reflect
the prevailing attitude, culture and historical legacy of a country.
It always takes into account the norms and values of the mainstream
society.
I. Pendahuluan
Mari
kita pertanyakan kembali, kenapa kita mengajar dan mendirikan
lembaga pendidikan? Adakah diantara kita menjawab: "karena ingin
mendapatkan uang", atau "ingin menjadi orang berstatus sosial tinggi
sebagai dosen dan pegawai negeri". Kenapa mendirikan suatu lembaga
pendidikan jika kita tidak punya konsep awal dan tujuan pendidikan,
matang dan dapat dipertanggung jawabkan?
Sulit
sekali menjawab pertanyaan diatas dengan jujur sesuai dengan
perintah agama dan anjuran kemanusiaan. Mempertanyakan lebih
mendalam lagi berarti konyol, tidak mempertanyakan lagi berarti
dungu dan bodoh.
Karena
sesungguhnya hari ini adalah masa-masa kemunduran Aceh. Masa dimana
kita terpuruk di bidang politik (depolitisasi), ekonomi (eksploitasi),
budaya (pelumpuhan budaya), dan juga agama (sekularisme).
Aceh telah kehilangan semua identitasnya dalam bidang-bidang
tersebut. Hari ini adalah juga masa dimana Aceh berhadapan dengan
konflik (sosial) yang sangat panjang, yang menyebabkan hilangnya
ribuan nyawa manusia dan banyak harta benda. Dalam masa-masa ini
juga potensi sumber daya manusia Aceh terus berkurang, Aceh
kehilangan pemimpin-pemimpin cerdas, Aceh juga kehilangan
ilmuan-ilmuan. Kemunduran ini juga ternyata turut menghilangkan adat
dan identitas yang selama ini sangat melekat yaitu Islam.
Fakta
yang tidak terbantahkan adalah pendidikan kita tidak ada landasan
teorinya, tidak ada perencanaan, kita mencoba menwujudkan impian
cet langet dan mempraktekkannya dalam seluruh jaringan saraf
kita, urat nadi dan nafas kehidupan. Tanpa perencanaan dan teori
dalam arti seperangkat alasan yang rasional, konsisten dan saling
berhubungan. Maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya
didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan meuka
lheuh na.
“Praktek
tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori
praktek hanya untuk orang-orang jenius”. (Dr. Gunning yang dikutip
Langeveld 1955).
Sewajibnya, hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan
pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi anak didik
dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari
pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta
intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya
ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan
adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu
mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai
dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.
II.
Kenyataan
Pendidikan Kita
Pendidikan kita menunjukkan bahwasanya seorang yang pintar mendapat
posisi sebagai raja dalam masyarakat dan diantara individu. Karena
itu, kehadiran orang pintar disisi masyarakat sangat diidam-idamkan.
Masyarakat, orang kaya, pemerintah daerah telah menunjukkan komitmen
yang sesuai dengan keinginan diatas, baik pengorbanan materi maupun
pengorbanan mental dan tenaga, tujuannya adalah menglahirkan orang
pintar.
Berkat
usaha itu, masyarakat Aceh telah memiliki puluhan professor, ratusan
doktor dan hampir ribuan master. Keberhasilan ini mestinya menjadi
kebanggaan masyarakat dan pendidikan di Aceh, karena kehadiran orang
pintar yang menjamak tadi akan memberi kontribusi yang sangat
beharga untuk pembangunan peradaban Aceh masa sekarang dan masa yang
akan datang.
Pada
kenyataannya, apakah dengan begitu banyaknya orang pintar telah
memberi sumbangsih yang berarti terhadap kesejahteraan ummat,
kemajuan pendidikan dan pembangunan masa depan bersama?
Penulis ragu ataupun pesimis, kita akan memiliki tokoh yang punya
jiwa dan keteguhan yang kuat untuk membangun dan memperjuangkan
kebahagian dan pendidikan manusia dan bangsanya seperti : Friedrich
Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854),
Immanuel
Kant (1724-1804), George Wilhelm Friedrich Hegel, (1770-1831)
ataupun Friedrich Wilhelm Nietzsche,
(1844-1900) berkat
usaha, semangat, pikiran mereka, tanah kelahirannya Jerman yang
telah hancur lebur dan rata dengan tanah bersama semua penghuninnya
di akhir perang dunia pertama dan kedua, bangsa Jerman tetap
memiliki jiwa yang kuat dan rasa cinta dan kesetiakawanan yang tidak
lebur untuk membangun Jerman dan memberikan tatapan indah kedamain
kepada masa depan generasinya .
Meskipun sejarah perang dan kekacauan yang dimiliki Aceh tidak
begitu berbeda dengan Jerman, namun apakah kita punya tokoh
pendidikan yang setia dan berani hidup tanpa materi sebagai mana
layaknya hidup tokoh-tokoh pendidik diatas?
Bila
kenyataan kehidupan kita sekarang ini menunjukkan tidaklah lebih
baik dari masa sebelumnya meskipun diantara kita ada orang-orang
pintar sebanyak ini, atau malah sebelumnya dalam sejarah, lebih
teratur dan sejahtera walaupun tanpa professor, doktor. Lalu alasan
dan fakta apa yang menyebabkan terperogoknya pendidikan dan
intelektual-intelektual kita?, kenapa kehadiran para intelektual
tidak bisa merubah hidup kita menjadi lebih baik?
Karena
dua jawaban pertanyaan diatas menunjukkan "tidak", maka haruslah
kita pertanya lagi tentang sistem dan kurikulum pendidikan kita,
kualitas orang pitar kita dan struktur masyarakat kita. Artinya, ada
ketimpangan terhadap pendidikan, pendidik dan struktur masyarakat.
Pendidikan kita adalah pendidikan yang tidak berorientasi untuk
mendidik emosi dan spiritual, tetapi merupakan pendidikan yang hanya
terfokuskan pada kecerdasan akal dan logika saja (intelektual).
Kurikulum, pengajaran dan kehendak masyarakat menunjukkan mereka
sudah puas dan menganggap telah tercapai target bila seorang anak
didik berprestasi dengan nilai-nilai yang excellent.
Lembaga pendidikan yang menjamur, jumlah anak didik yang tidak
terhitung, lulusan yang membludak semakin mewarnai lembaran
pendidikan, ini perlu dipertanyakan lagi. Beragamnya lembaga
pendidikan mengakibatkan tidak terkontrol kurikulum dan mutu
pendidik, terpecahnya pendidikan dari swasta dan negeri, pendidikan
agama negeri dan swasta, pendidikan umum, dayah, balai pengajian,
diniyah menunjukkan semakin rumitnya gambaran pendidikan kita,
pendidikan yang tumbuh bagaikan semak-belukar, tanpa aturan, standar
mutu dan syarat-syarat keilmuan. Akibatnya adalah pendidikan kita
akan memproduk manusia-manusia yang premature, busung-lapar dan
kerdil dari standar pendidikan di negara lain.
Dilain
pihak, pendidikan kita adalah pendidikan supermarket, lihat saja
bagaimana kebijakan suatu universitas, yang menentukan standar
universitas adalah pada berapa bayaran dari mahasiswa, istilahnya
adalah "semakin banyak penawaran maka semakin mahal harga suatu
barang" demikian juga dengan mata kuliah, jurusan dan fakultas, jika
banyak yang mendaftar ke suatu universitas maka bayaran pun semakin
mahal, sebaliknya semakin sedikit peminat suatu lembaga pendidikan
maka semakin murah bayarannya, bandingkan saja berapa bayaran
Fakultas Kedokteran dengan Fakultas Dakwah, atau bagaimana perbedaan
pembayaran STAI dengan Universitas misalnya. Dari hal ini maka tepat
sekali dikatakan bahwa mutu pendidikan kita adalah ditentukan oleh
uang, sesuai dengan masyarakatnya yang berkharakter materialisme.
Maka tak dapat dihindari bahwa menjadi orang terdidik adalah milik
orang-orang yang beruang, tetapi orang miskin harus tetap statusnya
si-miskin, papa, bodoh, sengsara, tertindas dan sebagainya.
Kita
telah uraikan bagaimana rumitnya pendidikan kita, tetapi
sesungguhnya kita belum menyentuh pokok masalah. Bagi penulis pokok
permasalahan terhadap terpuruknya pendidikan kita adalah karena
materialistis masyarakat kita. Ketika masyarakat materialistis maka
kecendrungan masyarakat itu akan berorientasi uang, dalam hadis
maja Aceh dikatakan: "Meunyoe urueng kaya
mulia bak wareih, meunyoe ureung gasien meukuwien lam tapeih",
dalam ungkapan lainnya: "Bukoen sayang lon kaloen boh drien
aneuk meukiewieng asoe meutumpoek, menyoe urueng kaya lee
that urueng ngieng, menyoe urueng gasien disipak lam lhoek",.
Ungkapan lebih kasar lagi, terutama dalam perjodohan: "Na
peng Na inoeng, hana peng hana inoeng". Dalam
hadis maja lain "Jak beutreoh eu beudeuh, bek rugoe meuh
sakeet hatee". "Nikmat tuhan brie ubee paleut, tabloe han ek
ta lakei han ta teujeut".
Meskipun
beberapa ungkapan diatas belum tentu tepat mengambarkan karakter
materialisme orang Aceh, tetapi gambaran dilapangan sangat banyak
yang mendukung tentang materialisme orang Aceh. Setiap masyarakat
yang materialisme maka secara gamblang akan memiliki beberapa
karakter lain, diantaranya adalah kecendrungan kelogika lebih tinggi
ketimbang kekedewasaan mental. Begitu juga dalam hal spiritual,
kecendrungan beragama mereka lebih hanya berupa simbol-simbol ritual
bukan pengamalan isi dan pemahaman agama itu sendiri. Seperti
pelaksanaan maulid Nabi, khanduri blang, khanduri udep, khanduri
matee, kecendrungan memakai simbol-simbol agama, seperti peci,
redak, kain sarung dan sebagainya.
Memang
sudah menjadi kenyataan bahwa kecendrungan materialisme yang tinggi
mengakibatkan masyarakat kita menjadi masyarakat bungkam terhadap
nilai-nilai luhur dan budi mulia, sebagaimana juga pengamalan agama
lebih cendrung nuansa politik dan ekonomi, alhasil akhlak mulia;
kejujuran (tidak berdusta), menghormati orang lain, menghargai
kehendak dan jati diri yang lain, kerja-sama dalam membangun dan
akhlak lainnya terabaikan sama sekali.
Karena
pola pikir materialistik, maka siapapun baik pendidik, anak didik
dan lembaga pendidikan akan melahirkan produk yang handal untuk
menerima uang, tapi tidak pandai dalam menjalani proses untuk
menghasilkan uang, mereka gagal menjadi orang-orang yang bermental
dewasa, berspritual hakiki dan setia kepada nilai. Kalau begitu
kenyataan, maka pendidik yang materialisme, lembaga materialisme dan
masyarakat materialisme, sungguh sangat mustahil dapat menjadikan
kita masyarakat yang makmur dan sejahtera sentosa.
Keberhasilan seseorang lebih ditentukan oleh sejauh mana kedewasaan
mental dia dalam berinteraksi dengan orang lain dan sekuat mana
hablum minallah dibinanya, daripada keberhasilan seseorang
ditentukan oleh kadar minim atau kuatnya kecerdasan intelektual.
Demikian juga suatu suku, bangsa dan negara akan maju atau mundur
ditentukan oleh banyak atau minimnya karakter positif yang mereka
miliki.
Ketika
sistem pendidikan kita hanya dilandaskan kepada target kecerdasan
intelektual, maka selama itu juga kemajuan kita menjadi suatu yang
mustahil, meski kita memiliki berpuluh-puluh ribu professor dan
berjuta-juta doktor, semua mustahil, kecuali kita masih tetap setia
dengan nilai-nilai dan tidak berbohong.
III. Perbedaan
Pendidikan Negara Maju Dengan Negara Terbelakang
Sistem
pendidikan dinegara lain, adalah sistem yang holistik, integral,
yaitu pendidikan seutuhnya meliputi keceradasan intelektual,
spritual dan emosional. Sehingga kalau kita sintesakan apa saja yang
membedakan antara maju dengan terbelakang suatu bangsa, jawabannya
adalah karena perbedaan tingkat pendidikan kedewasaan emosional dan
etika sosial.
Maju
mundur suatu negara bukan tergantung pada muda atau lamanya umur
negara tersebut, contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya
lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin),
disisi lain, Singapura, Kanada, Australia dan New Zealand negara
yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka
adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi
miskin[i].
Selanjutnya Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga
tidak menjamin negara itu menajadi kaya atau miskin. Jepang
mempunyai area yang sangat terbatas. daratannya, 80 persen berupa
pengunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan
peternakan, tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor
dua di dunia. Jepang laksana suatu negara "industri terapung" yang
besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan
mengekpor barang jadinya.
Swiss
tidak mempunyai perkebunan coklat, tetapi Swiss mampu menjadi negara
pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11
persen daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu
dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu perusahaan
makanan terbesar di dunia. Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi
dalam keamanan, integritas, dan ketertiban, tetapi saat ini
bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia
Para ahli dari negara maju
yang menyelidiki negara terbelakang berpendapat bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan: ras atau warna kulit
juga bukan faktor penting. Karena para imigran yang dinyatakan
pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat
produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa. Perbedaannya adalah
pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk
sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.
Berdasarkan analisis atas
perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas
penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar
kehidupan berikut:
Etika, sebagai prinsip
dasar dalam kehidupan sehari-hari
Kejujuran dan integritas
Bertanggung jawab
Hormat pada aturan & hukum
masyarakat
Hormat pada hak
orang/warga lain
Cinta pada pekerjaan
Berusaha keras untuk
menabung & investasi
Mau bekerja keras
Tepat waktu
Di Negara kita yang
terbelakang dan miskin, sedikit sekali manusia yang mematuhi prinsip
dasar kehidupan tersebut Kita bukan miskin (terbelakang) karena
kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita
Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak
baik. Karena kita dan generasi-genarasi kita yang terdidik dengan
materialisme, munafik dan cilet-cilet.
Materialisme Pendidikan dan munafik pendidik kita melahirkan anak
didik yang tidak ada kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip
dasar kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita pantas membangun
dan maju disegala bidang. Kalau kita tetap mempertahankan sistem
kita yang sekarang, maka seharusnya kita tidak usah gundah dan
sendih dengan koruptor-koruptor, diktator-diktator dan
manusia-manusia yang serakah lahir disekitar kita, karena pendidikan
ivestasi masa depan. Namun bila kehadiran mereka diharapkan lebih
baik dan indah, maka janganlah pelihara anak srigala, jika suatu
saat kemudian kamu takut digigit srigala dewasa yang buas.
IV.
Teori-Teori pendidikan
Ada
tiga tipe fokus yang dilakukan dalam pendidikan, yaitu; materi
pengajaran, anak didik/siswa atau mahasiswa dan yang terakhir model
memfokuskan kepada mahasiswa dan materi pelajaran sekaligus.
Mendidik dengan
hanya mementingkan dimensi mata pelajaran saja, tanpa memperdulikan
aspek anak didik; seperti akhlak, kehadiran, disiplin dan penampilan
anak didik adalah model pendidikan yang sifatnya untuk anak didik
yang jumlah anak didik banyak, tidak terjangkau oleh ruang dan waktu,
sehingga standar kelulusan mahasiswa atau anak didik hanya
ditentukan oleh penguasaan materi yang telah ditentukan oleh
pendidik, artinya semakin tinggi penguasaan materi maka akan semakin
tinggi kelas dan derajat anak didik.
Pendidik maupun
anak didik tidak perlu menghiraukan kedisiplinan, kehadiran, khitmat
kepada guru, apalagi mengenal guru atau dosen pendidik mereka, tugas
utama pendidik adalah mengarang buku, minimal diktat. Sedangkan
pihak universitas, memeriksakan kelayakan buku pegangan tersebut
yang diwakilkan kepada badan tertentu misalnya: Lembaga Pengendalian
Mutu, hai`atul tadris wa ta`lim. Setiap tahunnya badan ini
akan selalu mengadakan penyeleksian terhadap buku-buku pengangan
yang dikarang calon dosen, karena syarat utama menjadi pendidik atau
dosen adalah menjadi pemenang dalam penseleksian buku pegangan yang
diseleksi lembaga universitas.
Standar buku
pegangan berbeda antara universitas dengan universitas lainnya,
paling kurang mereka memakai target memenuhi dua potensi dasar yang
dikandung dalam buku pegangan tersebut, pertama potensi hafalan dan
kedua potensi nalar. Harapan universitas adalah jika mahasiswa telah
menguasai buku pengangan tersebut maka mahasiswa telah dibekali
semua kemampuan dasar tentang objek tertentu dari mata kuliah.
Biasanya model
yang dilakukan dalam pembuatan buku pegangan adalah; buku pegangan
harus telah menjelaskan tentang segala pengertian-pengertian,
idrak al-tassawur (concepts), tentang sesuatu berkenaan dengan
ilmu yang dipelajarinya dan kata-kata kunci dalam pelajaran tersebut.
Untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang suatu kata maka
harus dicari segala kata-kata lain yang memiliki makna yang sama
atau serupa. Setelah kata-kata yang serupa atau sama ditemukan maka
dicari perbedaan makna dari kata-kata tersebut dengan makna kata
yang sedang dicari. Untuk bisa menemukan kesamaan dan perbedaan
antara kata tadi mesti menganalisa dengan membagi-bagi setiap kata
tersebut kepada lima kulliyat yang digunakan untuk
mendefinisikan majhul tashawwuri atau konsep dengan
mengunakan "kulliyat khamsah". Lima kulliyah itu
adalah: [1] Nau' (species), [2] jins (genus), [3]
fashl (differentia), [4] 'aradh 'aam (common accidence)
dan [5] 'aradh khas (proper accidence). Menganalisa seluruh
hal yang mungkin dikandung oleh makna kata disebut jami` dan
membeda setiap hal dengan essence maka tadi disebut mani`.
Disamping itu,
buku itu harus juga menjelaskan tentang tasdiq, idrak al-tasdiq
(composition). Maksudnya adalah setiap mahasiswa dipastikan
setelah mempelajari buku pengangan tersebut bisa membuat
gabungan-gabungan kata berupa mengandung kebenaran-kebenaran
tertentu yang dikandungi ilmu tersebut, seperti: kalimat badihi
dan dharuri (A Priori, analytic, The necessary) dan harus
bisa menghasilkan juga thesis, anti thesis dari ilmu
yang sama, apakah thesis-thesis tersebut dihasilkan melalui
logika, experimental ataupun gabungan keduanya (reflektif).
Target ini dianggap telah tercapai bila mahasiswa dapat membuat
kebenaran-kebenaran A posteriori, synthetic dan contingent (kebenaran
nadhari)[ii].
Model
ini menuntut mahasiswa kemandirian yang luar biasa. Mahasiswa
dipaksakan menjadi dewasa, dia harus mawas, karena lulus atau tidak
lulus dia hanya ditentukan oleh dirinya sendiri. Mereka tidak
diawasi sama sekali.
Bisa
kita pastikan bahwa model ini juga tidak terjalin hubungan
psikologis antara pendidik dengan anak didik; kenal mengenal,
pribadi, kasih-sayang dan bela-membela. Konsekwansinya adalah sangat
positif, pendidik tidak pernah dapat dipengaruhi oleh mahasiswa/anak
didik atau orang tua didik, dan dosen tidak terpengaruh oleh subjek
lain dalam memberi nilai kepada anak didiknya. Pada dasarnya dosen
tidak punya hak memberi nilai dan menentukan mahasiswa lulus ataupun
tidak lulus, hak dosen adalah mengajar, memastikan anak didik mampu
menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan dan menyetorkan soal-soal final
ujian kepada haitul tadrus wal ta`lim dalam lebih dari tiga
lipat soal yang akan diujiankan, sedangkan yang menentukan soal mana
yang akan keluar dari sekian banyak soal pilihan yang diberikan
dosen, lulus tidak lulus mahasiswa adalah lembaga haitul tadrus
watt a`lim dan beberapa dosen structural yang terlibat
langsung dalam peningkatan mutu universitas.
Sistem belajar ini juga berbeda sekali dengan sistem dikenal dalam
bentuk SKS, mahasiswa bila berasil menyelesaikan semua mata kuliah
atau minimal dua mata kuliah dalam satu tahun maka ia akan naik
kelas, tetapi bila tidak lulus tiga atau lebih dari mata kuliah
dalam satu tahun maka ia harus mengulang lagi ke tahun depan untuk
menyelesaikan mata kuliah yang tertinggal (sistem al-Azhar),sedangkan
di lain tempat (di Universitas Qurawiyien, Maroko) harus mengulangi
semua mata kuliah, meski yang tinggal hanya tiga mata kuliah. Sistem
ini juga tidak menyeleksi mahasiwa baru yang mendaftar ke
universitas, jumlah mahasiswa untuk setiap lokal tidak dibatasi
dengan ketat, tidak ada peraturan mesti bertatap muka dengan dosen
dan lain-lain.
Masa-masa ujian adalah masa yang sangat sakral, suasana berubah
seratus persen dari sebelumnya, karena jumlah mahasiswa yang tinggal
berjumlah besar terfokus pada suatu tempat, tentunya suasana bukan
hanya terjadi diantara mahasiswa saja tetapi terbawa juga pada
suasana kehidupan sekitar kediaman mahasiswa dan universitas.
Ujian
dilaksanakan setahun sekali atau dua kali, lama ujian tergantung
banyak dan sedikitnya mata kuliah, umumnya mata kuliah setiap
tingkat perkuliahan mencapai kurang lebih 15 mata kuliah. Ujian
dilaksanakan sehari satu mata kuliah dengan ketentuan seminggu dua
atau tiga hari ujian, jadi dua atau tiga mata kuliah dilaksanakan
dalam seminggu, maka ujian bisa berlangsung sebulan sampai satu
bulan setengah.
Ujian
berlansung dengan sangat ketat, dijaga paling kurang tiga lapis,
panitia pengawai dari pegawai universitas; mereka terus menerus
berada diruang ujian, pengawas dari tingkat dosen; mereka mengotrol
secara bergeliran setiap ruang ujian dan pengawas pihak keamanan (polisi).
Posisi duduk dalam ujian berjarak kurang lebih setengah hingga satu
meter. Setiap mata kuliah diujiankan tiga sampai lima jam, untuk
beberapa mata kuliah diujiankan dengan lisan lebih dahulu.
Bila ada yang
melanggar dalam ujian diberikan hukuman yang tegas, mencontek
dicabut dari ruangan ujian dan tidak diperbolehkan ikut ujian untuk
dua tahun mendatang, setelah itu diberkan kesempatan sekali lagi
bila gagal di drop-outkan. Memalsukan dokumen nilai,
keterangan kuliah, tanda tangan dosen berakibat fatal, dimahkamahkan
dan dipenjara sesuai dengan jenis kesalahan yang dilakukan dan
kemudian dipulangkan. Karena demikian ketatnya peraturan tidak
mengherankan dari 100 persen peserta ujian, hanya 40 bahkan 25
persen saja yang berhasil naik tingkat.
Model
diatas adalah model yang khususnya dipakai untuk pendidikan tingkat
strata satu keatas dan sering diterapkan di universitas-unversitas
terkemuka dan terpopular, seperti al-Azhar di Mesir, Universitas
Qurawiyien di Maroko[iii],
Universitas Zaitunah di Tunisia dan beberapa universitas lainnya di
Jerman.
Model
kedua adalah kebalikan model diatas yang menfokuskan kepada anak
didik. Keberhasilan dan kegagalan pendidikan selalu ditentukan oleh
kualitas subjektif anak didik, pendidikan ini sangat mengutamakan
sikap, tingkah-laku, hubungan psychologis dan fisik antara
anak didik dengan pendidik, kualitas penguasaan materi tidak begitu
menentukan terhadap sukses dan tidak suksesnya anak didik. Dari
naturenya pendidikan ini sangat cocok untuk pendidikan tingkat
kanak-kanak hingga Sekolah Menenggah Pertama (SMP), sedangkan
menengah keatas sudah perlu dimodifikasikan dengan penambahan aspek
kognitif.
Pada
dasarnya, pendidikan pola kedua ini adalah pendidikan yang membina
kecerdasan emosional atau disebut juga dengan pendidikan karakter,
namun pola pertama diatas adalah pendidikan kecerdasan intelektual.
Pola kedua ini sangat berguna untuk anak didik permulaan (dari
Tingkat Kanak-kanak/TK hingga Sekolah Tingkat Pertama), karena
sesungguhnya nabi sendiri pada dasarnya mementingkan sekali
pendidikan emosional sejak dini (dalam kandungan), sehingga wajar
saja nabi bersabda: "sesungguhnya tidaklah saya diutuskan kecuali
untuk memperbaiki akhlak". Dalam hadist lain: "Dalam tubuh
terdapat sepotong daging (hati), apabila ia baik maka baiklah badan
itu seluruhnya dan apabila ia rusak maka rusaklah badan itu
seluruhnya. Sepotong daging itu adalah hati". (HR. Bukhari dan
Muslim[iv]).
Inti pendidikan
karakter adalah; suatu masyarakat akan sukses mengapai kemajuannya
jika mayoritas masyarakatnya berkharater positif, sebaliknya jika
mayoritas masyarakat berkarakter negatif, maka dapat dipastikan
masyarakat itu tidak bisa maju. Hal ini dikarenakan suatu masyarakat
yang berkarakter positif, mereka sudah memiliki modal dasar untuk
mengapai kemajuan, seperti sifat jujur, mandiri, bekerja-sama, patuh
pada peraturan, bisa dipercaya dan lain-lain. Sifat-sifat positif
diatas memastikan suatu masyarakat bisa bekerja sama, dipercaya,
mementingkan kepada orang lain, bisa diatur, bila hal tadi
memungkinkan dilakukan dalam masyarakat maka secara pasti sebuah
peradaban dapat dibangun.
Sebaliknya,s
masyarakat yang mayoritas berkarakter negatif maka masyarakat ini
tidak dapat dibangun, apalagi menjadi masyarakat yang berperadaban
tinggi. Karena karakter negatif yang mereka lakukan dapat menghambat
kerjasama antara intern dan extern, tidak dapat dipercaya, begitu
juga tidak rajin, tidak punya etos kerja dan lain-lain yang akan
menghambat masyarakat ini untuk maju. Maka pendidikan karakter dalam
rangka mencapai tujuan tersebut, yaitu; bagaimana menciptakan
mayoritas masyarakat berkarakter positif.
Rendahnya
kredibilitas bangsa kita dimata dunia international adalah cerminan
dari perilaku individu-individu yang tidak berkarakter, sehingga
berdampak negatif terhadap pengelolaan negara, korporasi, sistem
hukum, yang akhirnya akan menurunkan daya saing Indonesia, dan
seterusnya membuat indonesia terpuruk secara sosial, ekonomi, dan
budaya.
[v].
Penulis berasumsi,
bahwa penerapan model pendidikan yang hanya mefokuskan kepada materi
kuliah cocok hanya diterapkan di tingkat strata pertama (tingkat
Pendidikan Tinggi/PT), dan pendidikan karakter dan kecerdasan
emosional perlu dilaksanakan sejak tingkat kanak-kanak hingga
sekolah menengah atas.
Adapun model
ketiga yaitu; menerapkan sistem SKS (Sistem Kredit Semester), yang
menilai segi subjektif dan objektif sistem belajar mengajar atau
pemfokusan terhadap anak didik dan materi kuliah sekaligus adalah
pendidikan yang umumnya ditetapkan di dunia sekarang. Dari sejak
adanya hingga sekarang, sistem SKS ini telah terjadi
modifikasi-modifikasi untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang
dimiliki sebelumnya.
Paling tidak
pendidikan ini membangun paradigma pendidikan baru, menjadikan anak
didik anak yang berpengetahuan (learning to know), membuat
anak didik menjadi manusia (learning to be), membentuk
kepedulian untuk berbuat (learning to do), dan mengajak
mereka untuk dapat hidup bersama di tengah masyarakat (learning
to live together).
DAFTAR PUSTAKA
i
Hafas Furqani,
Aceh Dan Kesadaran Sejarah, Aceh Institute, 2005
ii
Makalah, The First world,
Diterjemahkan oleh boedi dayono, januari 2004 dan di edit sony s
wibowo, maret 2006
iii Ibid
iv
Lihat buku Immanuel Kant, The Critique of Pure Reason.
V Hasil
Observasi penulis selama menjalani pendidikan di dua universitas
tersebut.
vi
Shahih Bukhari
vii
Ratna, Megawangi, Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat Untuk
Membangun Bangsa, Hal: 6, Bp Migas, Star Energy, Jakarta, 1994. |