| |
|
Penulis tidak mengajak untuk membenci Masjid
Baiturrahman sebagai sebuah karya arsitektural besar di Aceh.
Namun melalui artikel ini penulis akan berusaha memberikan beberapa contoh dan kritik terhadap
beberapa
masjid di Malaysia, yang dipahami sebagai produk dari pergeseran
dan penafsiran yang salah terhadap arsitektur Islam. Tulisan ini berusaha menguraikan berbagai masalah dari berbagai kesalahan pada
pemilihan bahasa arsitektur masjid-masjid serta implikasinya terhadap pola pikir, imej dan pemahaman umat Islam di
Indonesia. |
|
|
|
SEBAGAI sebuah negeri yang baru menerapkan Syariat
Islam di Indonesia, tentu Aceh
perlu melakukan berbagai pembenahan di berbagai sektor.
Keberhasilan perjuangan untuk penerapan Syariat Islam di negeri
Serambi Mekkah ini tidak seharusnya menjadikan kita menepuk dada,
namun diperlukan sebuah kerja keras bagi membuktikan keyakinan dan
keimanan kita, bahwa pelaksanaan Syariat Islam merupakan solusi
dari berbagai masalah yang ada pada masyarakat Aceh.
Arsitektur merupakan salah satu aspek penting dan perlu mendapatkan perhatian yang serius. Penggunaan
bahasa arsitektural yang tepat dan ekspresi bangunan yang sesuai
dengan semangat Islam, mutlak diperlukan guna memberikan warna
dalam pembentukkan wajah dan elemen fisik dari berbagai bangunan
dan ruang publik yang ada di Aceh. Artikel ini akan berusaha memberikan beberapa contoh dan kritik terhadap beberapa
masjid di Malaysia, yang dipahami sebagai produk dari pergeseran
dan penafsiran yang salah terhadap Arsitektur Islam. Ia akan
berusaha menguraikan berbagai masalah dari berbagai kesalahan pada
pemilihan bahasa Arsitektur masjid-masjid ini dan bagaimana
implikasinya terhadap pola pikir, imej dan pemahaman umat Islam di
Indonesia.
Masalah “inferiority kompleks” atau rasa
rendah diri ini begitu serius, karena dalam praktek perancangan
masjid modern di Indonesia dewasa ini masyarakat memiliki
kecenderungan untuk menghendaki perancangan masjid sebagaimana
yang mereka lihat pada masjid-masjid baru di Malaysia tersebut.
Krisis Revivalisme pada Perancangan Masjid di
Malaysia
Kalau kita lihat berbagai perancangan masjid dan
bangunan Arsitektur Islam di Malaysia dewasa ini, kita akan
menemukan sebuah lompatan-lompatan yang luar biasa. Berbagai
pembangunan masjid besar dan megah menghiasi berbagai penjuru kota
di Malaysia. Di satu sisi tentu hal ini menggembirakan hati kita
sebagai seorang Muslim, namun di sisi lain, fenomena ini tentu
memberikan sebuah perasaan risau dan tanda tanya. Penulis melihat,
terdapat satu masalah serius dari berbagai perancangan masjid
tersebut, yakni dari segi penggunaan bahasa arsitektural dan
ekspresi bangunan yang digunakan. Mengapa bahasa arsitektural yang
digunakan adalah bahasa Arsitektur Timur Tengah, Turki, Iran dsb.
Mengapa harus dibuat sedemikian besar dan megah? Mengapa harus
sedemikian mahal?
Pada kasus di lapangan, pemilihan bahasa
arsitektur ini ternyata berimplikasi besar terhadap berbagai
perancangan masjid yang penulis temukan di lapangan. Banyak klien
kaya di Indonesia yang kemudian menghendaki bangunan masjid yang
sebesar dan semegah yang ada di Malaysia tersebut. Sebagai orang
yang pernah mengalami pendidikan arsitektur, penulis memahami
implikasi dan efek negatif dari pemikiran ini. Karenanya merupakan
suatu kewajiban bagi penulis untuk menjelaskan apa yang penulis
pahami dari maraknya penggunaan bahasa arsitektur Timur Tengah
(revivalisme Timur Tengah) ini sebagai pelajaran bagi kita semua.
Masalah pertama yang menjadi akar dari
permasalahan revivalisme dalam tipologi masjid di Malaysia adalah
masalah inferiority complex atau perasaan rendah diri. Ini
biasanya muncul dalam masalah keislaman dari pembuat Masjid
tersebut terhadap Umat Islam yang ada di Timur Tengah. Perasaan
ini beranggapan bahwa Islam yang ada di Timur Tengah jauh lebih
baik dari Islam yang ada di Asia Tenggara, terutama Malaysia,
karena Islam yang ada di Timur Tengah lebih dekat kepada
Rasulullah SAW. Perasaan rendah diri ini kemudian berimplikasi
dalam banyak hal, salah satunya dalam perancangan sebuah Masjid.
Sebab lain dari revivalisme tipologi masjid ini
adalah pendekatan tradisional, bahwa kondisi ideal Islam adalah
kondisi di masa lampau (standar kebudayaan Islam terletak pada
masa lampau). Masalahnya, contoh arsitektural yang diambil
bukanlah pada zaman Rasulullah, sahabat atau Khulafaur Rasyidin,
namun pada masa dimana peradaban Islam dianggap mengalami
kejayaan, yang biasanya dipahami sebagai Turki Ustmani atau
Safavid di Persia.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, zaman
Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dianggap sebagai suatu masa
dimana pembinaan sebuah bangunan atau arsitektural sebagai suatu
hal yang tidak berguna. Masa ini dalam sejarah Islam dianggap
sebagai sebuah masa “kevakuman” dalam karya-karya arsitektur,
karenanya produk-produk arsitektural pada masa ini tidak dapat
dikatakan sebagai suatu produk arsitektur Islam. Inilah yang
kemudian menyebabkan banyak arsitek yang kemudian mengambil
tipologi masjid-masjid pada zaman Turki Ustmani dan Safavid di
Persia sebagai rujukan dari desain-desain mereka.

Rekonstruksi Masjid
Rasulullah dengan berbagai
aktivitas dan semangat ke-Islamannya
Revivalisme pada prinsipnya adalah pembangkitan
kembali apa yang pernah ada di masa lampau. Metode ini sebenarnya
dapat menjadi suatu sumber ide dan inspirasi dalam sebuah
perancangan. Namun ketika ia lebih merupakan sebuah penjiplakan
dan imitasi, maka sebagaimana telah disebutkan sebelumnya akan
membawa banyak masalah baik dari segi akar intelektual, imej yang
ditimbulkan dan aplikasinya dalam perancangan.
Jika masalah yang pertama lebih merupakan sebab
dari seluruh krisis revivalisme dalam tipologi sebuah masjid dan
lebih berbicara dalam tatanan konsep, maka masalah-masalah yang
ada berikutnya lebih merupakan suatu hal yang aplikatif dan tampak
pada sebuah bangunan.
Masalah kedua dari suatu proses plagiat yang
terjadi dalam tipologi sebuah masjid adalah krisis imej
atau simbol
pada sebuah masjid. Masalah ini biasanya direpresentasikan dengan
penggunaan kubah, menara, mihrab dan elemen masjid lainnya.
Jika kita kaji berbagai ayat Al-Qur-an dan hadits serta berbagai
sumber otentik dari prinsip nilai-nilai Islam lainnya, maka kita
akan mendapati sebuah kenyataan bahwa tidak ada batasan yang baku
dari perancangan sebuah masjid. Elemen-elemen masjid sebagaimana
yang disebutkan sebelumnya, lebih merupakan sebuah produk dari
pemikiran Islam yang terlahir dari interaksi antara
prinsip-prinsip dasar Islam dengan pemikiran masyarakat ketika
itu. Artinya ia bukanlah prinsip yang asas dari Islam itu sendiri.
Jika kita lihat beberapa masjid seperti Masjid
Putrajaya, Masjid Shah Alam, Masjid Wilayah dan Masjid UTM,
kita akan mendapati sebuah kenyataan bahwa aspek simbol dan imej
ini begitu diutamakan, sehingga mengorbankan banyak hal terutama
biaya. Pada Masjid Putra kita mendapati penggunaan kubah Iran
lengkap dengan segala ukiran dan ornamennya yang pasti mahal, baik
dari segi pembuatannya maupun perawatannya tanpa sebuah fungsi
yang jelas selain pembentuk imej dan simbol. Pada kasus Masjid
Shah Alam dan Masjid UTM, selain kubahnya yang pasti mahal, kita
juga mendapati banyak sekali menara hasil jiplakan dari blue
mosque dan masjid lainnya pada masa Turki Ustmani yang
tidak memperhitungkan fungsi dan biaya yang harus dikeluarkan.
Sekali lagi, alasan utamanya adalah imej dan simbolisme. Hal yang
sama juga akan kita temui dalam Masjid Wilayah, Masjid UIA dan
banyak masjid sejenisnya.
Masalah ketiga yang menjadi inti masalah dari
proses penjiplakan ini adalah bergesernya fungsi Masjid. Pada
awalnya, fungsi masjid adalah sebagai pusat pembangunan masyarakat
pada masa Rasulullah, menjadi sebuah rumah Tuhan dan tempat ibadah
saja. Pada berbagai Masjid di Malaysia dan juga di wilayah lainnya
mesjid selain berfungsi sebagai tempat ibadah malah hanya menjadi
monumen dan simbol negara sebagaimana pada kasus Masid Putra dan
Masjid Shah Alam.
Masalah ini merupakan masalah yang sangat krusial
dan penting, karena ia tidak hanya berhubungan dengan masalah
arsitektural dari masjid saja, namun ikut mempengaruhi bagaimana
anatomi dan perkembangan masyarakat Islam. Masalah ini ikut
menentukan dan membentuk kualitas masyarakat Islam.
Di masa lampu, ketika Masjid berperan sebagai
pusat pembangunan masyarakat, sebagaimana masjid Rasulullah dan
masjid-masjid kampung dahulu, kita mendapati sebuah sistem
masyarakat yang sangat rapat dan interaktif. Masyarakat biasa
berkumpul, berdiskusi dan bekerjasama di dalam masjid. Banyak
masalah yang dapat dibicarakan serta diselesaikan bersama-sama
sehingga masjid sebagai sentral interaksi masyarakat bekerja
dengan baik.
Pada kasus Masjid UTM, kita mendapati sebuah
konsep tentang Rumah Tuhan yang berimplikasi dalam perancangan
hingga pemilihan bahan dari masjid ini. Konsep Rumah Tuhan
memberikan sebuah implikasi, bahwa sebuah masjid haruslah besar,
cantik dan mahal. Hal inilah yang kemudian melahirkan banyak
pertanyaan pada banyak aspek dari Masjid UTM, terutama ketika
dikaitkan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Ide tentang Rumah Tuhan menyebabkan penggunaan
masjid menjadi sangat terbatas pada
kegiatan-kegiatan ritual saja. Kegiatan-kegiatan seperti kegiatan
sosial, olah raga, pelatihan-pelatihan keterampilan, kajian dan
diskusi keislaman bahkan diskusi akademik pun menjadi suatu
kegiatan yang sulit ditemukan.
Pada perancangan berbagai masjid, revivalisme
sebagaimana Masjid Putrajaya dan Masjid Shah Alam kita mendapati
sebuah masalah yang sangat serius. Ini dikarenakan pada konsep
awalnya masjid tersebut diperuntukkan untuk monumen, maka proses
lanskap, penataan massa dan penempatan posisinya pun disesuaikan
dengan kebutuhan tersebut. Akibatnya situasi dan posisi dari
masjid tersebut memang “menjauhkan diri” dari masyarakat yang
seharusnya menjadi pengguna masjid tersebut. Karenanya jangan
heran, jika masjid yang dibangun sebagai monumen tersebut kemudian
ditinggalkan oleh jama’ahnya. Karena sebenarnya bukan jamaah yang
meninggalkan masjid tersebut, namun masjid tersebutlah yang
dirancang untuk tidak didatangi oleh jamaahnya. Jika masjid
kemudian dirancang untuk ditinggalkan oleh jemaahnya maka untuk
apa kita kemudian menyebutnya masjid.
Dua pergeseran fungsi dari masjid sebagaimana
disebutkan diatas merupakan suatu hal yang berbahaya, karena ia
mengkotak-kotakkan antara aspek sekular dari Islam dengan aspek
religiusnya. Islam adalah suatu agama yang melihat masalah duniawi
dengan masalah akhirat sebagai sebuah kesatuan sistem dan kesatuan
makna. Ia adalah suatu agama yang dekat dengan keseharian umatnya.
Suatu agama yang melihat kehidupan keseharian sebagai suatu bentuk
ibadah sebagaimana ibadah ritualnya. Melepaskan dua makna ibadah
di dalamnya hanya akan menimbulkan degradasi pemahaman Islam pada
masyarakat dan dan ini adalah kemunduran dalam pemahaman
keislaman.
Masalah kempat, berhubungan erat dengan imej dari
sebuah bangsa. Proses revivalisme yang berdasarkan sebuah
penjiplakan akan membawa banyak masalah pada identitas nasional.
Ada berbagai alasan yang menyebabkan suatu bangsa melakukan
peniruan atau revivalisme. Sebagian berpendapat bahwa dengan
melakukan penjiplakan terhadap suatu produk akan menjadikan bangsa
mereka sehebat peradaban yang mereka tiru tersebut. Sebagian,
karena masalah politik agar bangsanya diakui sebagai bagian dari
suatu komunitas, sementara sebagian yang lain dilakukan dalam
upaya mengangkat derajat kemuliaan dari bangsanya. Namun, dari
semua motif yang ada jelas sekali terlihat bahwa revivalisme atau
penjiplakan lahir dari perasaan inferior atau rendah diri dari
suatu bangsa yang merasa tidak memiliki identitas apapun.
Bangsa kita memiliki bahasa arsitektur sendiri
untuk arsitektur masjid
Jika kita mau melihat sejarah, maka kita akan
mendapati bahwa sebenarnya bangsa kita memiliki warisannya
sendiri. Tipologi masjid tradisional merupakan masjid yang lahir
dari budaya dan sistem nilai masyarakat setempat. Metode
perancangan ini telah teruji oleh waktu dan tempat, karenanya
kemampuan adaptasi terhadap lingkungan dan kondisi bangsa ini
tentu juga telah teruji. Satu hal yang penting dari pendekatan ini
adalah ia mencerminkan budaya dan identitas dari bangsa kita,
karenanya dapat menjadi suatu bentuk kebanggaan bagi kita terhadap apa
sebenarnya identitas Malaysia.
Masalah yang terakhir sebenarnya telah digambarkan
pada pembahasan sebelumnya. Berbicara tentang masalah yang timbul
sebagai sebuah implikasi dari penjiplakan yang terjadi pada
pendekatan revivalisme terhadap kondisi fisik dan budaya setempat.
Secara sederhana, dapat kita pahami bahwa pengadopsian suatu
budaya memerlukan sebuah adaptasi.
Memperjelas apa yang telah disampaikan sebelumnya
bahwa untuk tipologi sebuah masjid, kita memiliki identitas dan
produk tersendiri. Pada masjid-masjid tradisional kita mendapati
bahwa bahan yang digunakan merupakan bahan yang mudah didapati di
lokasi pembangunan, sehingga dapat mengurangi biaya konstruksi.
Atap yang digunakan pun merupakan bumbung meru yang sesuai dengan
iklim setempat dan merupakan suatu bentuk adaptasi terhadap sistem
nilai serta budaya setempat.
Suatu Renungan untuk Perancangan Masjid di
Nangroe Aceh Darussalam
Sejarah
telah mencatat bahwa Masjid Baiturrahman merupakan masjid yang
dibuat oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tujuan pembangunannya
sebagai suatu upaya untuk mengurangi pengaruh para ulama besar
Aceh yang anti dan gigih melawan pemerintah Belanda. Bahasa
arsitektur Moghul dari India Utara yang digunakan merupakan
interpretasi pemerintah Belanda terhadap bentuk “Islam Ideal” yang
berusaha mangalahkan pamor Islam yang dibawa oleh para Ulama besar
kita. Mereka memberikan stigma “Islam Tradisional” kepada para
ulama kita termasuk merendahkan masjid ciptaan mereka yang lebih
dekat dengan masyarakat Aceh.
Suatu produk arsitektur lahir dari situasi dan
kondisi serta pemikiran suatu peradaban. Oleh karenanya, kita
perlu memahami bagaimana sebenarnya situasi, kondisi serta
pemikiran yang menyebabkankan keberadaan produk tersebut. Tanpa
sebuah pemahaman terhadap situasi, kondisi dan pemikiran dibalik
terciptanya sebuah obyek kita akan mendapat sebuah masalah serius
dalam prinsip, mekanisme dan aplikasi dari produk tersebut.
Penulis tidak mengajak kita untuk membenci Masjid
Baiturrahman sebagai sebuah karya arsitektural besar di Aceh.
Namun melalui artikel ini, mari sama-sama kita lakukan evaluasi
terhadap perancangan masjid di masa depan, agar lebih sesuai
dengan semangat, prinsip hidup dan aspirasi masyarakat Aceh.