Back to Home |OPINI LAINYA

»

Foto Oleh: Halim El Bambi | Aceh InstituteArtikel Selasa 16 Januari 2007 | 32
NINA BOBO ALA NEOLIB

Oleh: Yuli Zuardi Rais |  Penulis adalah Aktivis/ Drektur SEFA (Save Emergency for Aceh) & Koordinator FDT-Demokrasi & Civil Society Aceh Institute.
 

 
Para produsen makanan ringan, makanan instant serta makanan siap saji, tidak bertanggung jawab kepada masa depan anak. Yang mereka pikirkan adalah tentang metode pemasaran produk tersebut agar laris di pasaran, sehingga keuntungan semakin deras mengalir.  

 

 

eresahan selalu datang ketika menyaksikan anak-anak generasi penerus tumbuh dalam hegemoni rasa yang diciptakan oleh hukum pasar ala neoliberalisme. Kemajuan teknologi dan pasar yang semakin global disektor pangan, sangat mempengaruhi pada pola asuh dan pola pikir masyarakat. Lihatlah di sekitar kita, anak-anak setiap hari menyerbu makanan kecil (instant) dan makanan siap saji yang “kaya” kandungan zat aditif. Dengan bumbu penyedap (MSG) mengandung unsur; pengawet, pewarna, pemanis serta asam lemak jenuh, yang membuat si kecil ketergantungan bahkan anak-anak kita seperti “kecanduan” produk makanan instant.

 

Para orang tua seakan tak mampu membendung rengek si kecil yang memaksa ingin dituruti. Meskipun dengan pendapatan minimal, orang tua tetap berupaya memberi kesenangan sesaat kepada sang anak, terkadang sambil sedu-sedan permintaan tersebut sempat terpenuhi juga. Begitu besar kasih sayang yang tercurah, apapun yang diinginkan oleh anak, selalu dipenuhi secepat kilat. Tepatkah pola tersebut?

 

Tak ada yang salah dengan kasih sayang orang tua kepada anak di zaman sekarang, tak ada pula orang tua yang tak sayang anaknya. Bahkan semua orang diberbagai belahan bumi, selalu memberi yang terbaik bagi masa depan anak-anak mereka. Tetapi dengan selalu memberikan makanan siap saji, makanan instant serta segala produk yang berbau pengawet (MSG) justru berdampak lain. Sama halnya membiarkan si kecil terus menerus dihipnotis oleh bayangan iklan televisi dan aneka promo di jalanan bukanlah tindakan tepat, karena anak-anak yang kita cintai justru hanya sebagai obyek pasar bagi sang pemodal. Para produsen makanan ringan, makanan instant serta makanan siap saji. Mereka tidak bertanggung jawab kepada masa depan anak, yang mereka pikirkan adalah tentang metode pemasaran produk tersebut agar laris di pasar, sehingga keuntungan semakin deras mengalir.

 

Image dan Daya beli

Sepintas, produk-produk makanan instant (makanan ringan) serta produk makanan siap saji, tampil sangat mengundang selera, selain praktis, plus menggandeng beberapa model iklan idola anak-anak, bahkan juga idola orang tuanya ikut mendukung produk tersebut. Maka lengkaplah sudah!.

 

Cobalah berjalan di pasar-pasar moderen (supermarket) atau toserba mulai yang besar hingga kios di desa, deretan makanan instant, minuman kemasan, terpajang rapi, berbagai merek dari produk dalam negeri hingga produk luar negeri; produksi rumahan sampai pabrikan; dari kemasan kertas, plastik hingga kaleng. Menyaksikan aneka produk makanan, minuman tersebut, kita langsung diingatkan model iklannya.

 

Masalah utamanya, jelas menyerang sosial ekonomi rumah tangga secara langsung. Ketika pendapatan orang tua tidak sebanding dengan laju pertambahan aneka produk makanan instant. Setiap minggu atau setiap bulan ada saja iklan baru yang ditayangkan di televisi, radio, koran atau papan reklame. Minimal produk baru itu nangkring di kios tetangga. Menjadi pemandangan yang menggoda sang anak. Belum lagi kesulitan keluarga karena meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok oleh dampak kenaikan BBM. Menjadikan keluarga miskin semakin terpojok tak berdaya menjangkau kebutuhan hidup.

 

Ketimpangan yang terus terjadi di rumah tangga, oleh permintaan anak dan keluarga akan kebutuhan mereka dapat menimbulkan dampak negatif, seperti mencari jalur pintas (kerja-kerja ilegal). Terjadinya percekcokan rumah tangga berkepanjangan mengarah pada terjadinya kekerasan. Misalnya seorang petani yang hanya menggantungkan hidup pada sepetak sawah 1 hektar dengan jumlah tanggungan 5 orang semestinya ia dapat hidup tenang di gampong (desa), bila saja ongkos produksi pertanian dapat ditekan, harga jual hasil panen tinggi. Tapi dalam kenyataannya, semakin hari ongkos produksi meningkat (pupuk, pembasmi hama, ongkos penggarap, benih, distribusi). Sementara hasil-hasil pertanian selalu jadi spekulansi para pedagang, calo atau tengkulak, harga-harga cenderung dipermainkan pasar. Di sisi lain kebijakan pemerintah seakan tutup mata dengan melakukan impor beras dan komoditas penting lainnya (gula, kedelai, daging sapi, dll) semakin menenggelamkan nasib petani.

 

Di rumah, tanpa basa-basi tangan si kecil telah menanti dengan lembutnya, minta uang untuk membeli makanan ringan seperti para tetangga dan kawan-kawannya, yang juga selalu di depan TV, lalu mencoba produk baru. Kebutuhan yang mereka minta cenderung meningkat tidak lagi sebatas perkembangan usia dan lingkungan mereka, tontotan menjadi rekaman yang efektif untuk membuat rasa ingin tahu  dan mencoba. Sasarannya tentu saja kantong orang tua. Trend iklan juga semakin “inovatif” justru bersaing menggunakan keluarga artis sebagai simbol produk.

 

Masalah kesehatan

Rupa-rupa makanan instant muncul di sekitar kita dan memang cukup mengiurkan anak-anak. Kemajuan teknologi telah memainkan peranan penting meningkatkan kuantitas dan kualitas pengolahan pangan, meningkatkan diversifikasi (aneka ragam), higiensasi praktis dengan menggunakan kemasan rapi. Tampil dengan produk-produk yang lebih tahan lama, melintasi pasar antar benua hingga menjangkau pelosok-pelosok seluruh penjuru dunia. Atau dengan cara membuka pabrik baru di daerah-daerah potensial, baik dalam pola produksi langsung maupun dengan lisensi produk oleh produsen lokal.

 

Makanan ringan yang sepintas sangat gurih itu, sebenarnya mengandung kadar garam tinggi rendah nilai gizinya (junk food) komposisi zat kimia dari unsur pengawet dan penyedap membuat anak-anak ”ketagihan” untuk selalu ingin mengonsumsi. Bumbu penyedap yang menyertai makanan instan ini, juga dapat merangsang pencernaan, misalnya yang terkandung dalam mie instan: perasa buatan, MSG, garam, merica, perasa pedas berupa chili powder (bubuk cabai), vegetable oil (minyak sayuran) dan cooking oil (minyak makan). Kalau makanan ini dikonsumsi setiap hari dan berlangsung lama maka anak-anak cenderung menolak makanan utama dan buah-buahan serta akan merusak pertumbuhan mereka.

 

Zat aditif adalah bahan kimia yang dicampurkan kedalam makanan dengan tujuan meningkatkan kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan kesegaran sebuah produk makanan tersebut. Dampak negatif dari kelebihan zat aditif ini di antaranya; memicu alergi, kanker hati (MSG) beresiko mengganggu fungsi otak, kelainan hati, hipertensi, memicu mual dan penyakit pencernaan serta gangguan syaraf. Konon lagi peminatnya anak-anak, tentu akan lebih bersiko di masa depan.

 

Merintis Proteksi

Keluarga sebagai unit organisasi  terkecil dalam hirarki kehidupan bermasyarakat dan bernegara, di zaman globalisasi dan neoliberalsme ini harus bersaing ketat dengan pasar dalam membangun keluraga bahagia. Kebijakan pasar (moderen) baik yang berskala besar dan kecil melalui budaya kebebasan yang melekat disekitar kita, menuntut kejelian para pemimpin rumah tangga selain meningkatkan produktifitas, juga melakukan proteksi terhadap anak-anaknya, sehingga tidak malah diserahkan atau dicuri oleh kebijakan pasar yang menggantung selera si kecil.

 

Media komunikasi keluarga yang efektif seperti diskusi dan pengkritisan masalah yang terjadi di sekitar, dapat dijadikan agenda pokok keluarga. Di samping perhatian orang tua dan masyarakat, berperan melakukan kontrol terhadap perkembangan anak. Komunikasi yang baik secara rutin akan mampu membendung godaan-godaan iklan Televisi dan reklame serta ajakan reken-rekannya. Walaupun si orang tua tidak dapat menjelaskan secara ilmiah tentang kesehatan (minimnya informasi dan penyuluhan) sekurang-kurangnya anak dapat diajak untuk mengerti kondisi pendapatan ”ekonomi” keluarga yang tidak sebanding dengan tuntutan kebutuhan mereka.

 

Proteksi atau perlindungan terhadap anak-anak dari budaya konsumtif dan hegemoni rasa, pertarungan antara produk yang khas budaya sendiri dan produk yang masih asing, harus dimenangkan, kita dapat mengajak anak dan opini masyarakat  tentang produk khas budaya sendiri tentu yang punya akar budaya lokal yang kuat. Sementara produk asing yang sebelumnya justru tidak dikenal dalam budaya lokal, tapi berusaha diperkenalkan lewat iklan. kejelian konsumen (masyarakat) diperlukan agar lebih peka. Kemajuan teknologi dan informasi beserta produknya jelas merupakaan bagian dari gerak perkembangan zaman. Namun diperlukan kreatifitas orang tua terutama sang ibu, untuk membuat penganan alternatif yang sehat dengan ongkos yang lebih murah seperti makanan tradisional daerah (lokal) dengan tampilan (kemasan) yang lebih menarik. Sehingga anak mempunyai pilihan lain ketika program proteksi keluarga dijalankan.

 

Melengkapi solusi yang berkelanjutan, setiap keluarga dapat memulai komunikasi bersama (forum rutin bulanan) secara berkelanjutan, atau memanfaatkan forum-forum gampong mendiskusikan problematika yang sedang dihadapi secara bersama. Pada tahap lanjut juga menuntut tanggungjawab pemerintah (instansi terkait) agar memberi informasi berkualitas serta penyuluhan kritis mengenai dampak positif dan negatif berbagai produk makanan instant dan minuman kemasan dan makanan (resto) siap saji yang selama ini bersemi bagaikan cendawan di musim hujan. Ketika keluarga sebagai bangunan organisasi sederhana yang dimiliki oleh setiap manusia, masih belum mampu melepaskan dari cengkraman hegemoni pasar yang tanpa kendali, masih perlukah nyanyian  ”doda idi” bagi anak-anak kita?