eresahan
selalu datang ketika menyaksikan anak-anak
generasi penerus tumbuh dalam hegemoni
rasa yang diciptakan oleh hukum pasar ala
neoliberalisme. Kemajuan teknologi dan pasar yang
semakin global disektor pangan, sangat mempengaruhi
pada pola asuh dan pola pikir
masyarakat. Lihatlah di sekitar kita, anak-anak setiap
hari menyerbu makanan kecil (instant) dan makanan
siap saji yang “kaya” kandungan zat aditif. Dengan bumbu
penyedap (MSG) mengandung unsur; pengawet, pewarna,
pemanis serta asam lemak jenuh, yang membuat si kecil
ketergantungan bahkan anak-anak kita seperti “kecanduan”
produk makanan instant.
Para orang tua seakan tak mampu
membendung rengek si kecil
yang memaksa ingin dituruti. Meskipun dengan pendapatan
minimal, orang tua tetap berupaya memberi kesenangan
sesaat kepada sang anak, terkadang sambil sedu-sedan
permintaan tersebut sempat terpenuhi juga. Begitu besar
kasih sayang yang tercurah, apapun yang diinginkan oleh
anak, selalu dipenuhi secepat kilat.
Tepatkah pola tersebut?
Tak ada yang salah dengan kasih
sayang orang tua kepada anak di zaman sekarang, tak ada
pula orang tua yang tak sayang anaknya. Bahkan semua
orang diberbagai belahan bumi, selalu memberi yang
terbaik bagi masa depan anak-anak mereka. Tetapi dengan
selalu memberikan makanan siap saji, makanan instant
serta segala produk yang berbau pengawet (MSG) justru
berdampak lain. Sama halnya membiarkan si kecil terus
menerus dihipnotis oleh bayangan iklan televisi dan
aneka promo di jalanan bukanlah tindakan tepat, karena
anak-anak yang kita cintai justru hanya sebagai obyek
pasar bagi sang pemodal. Para produsen makanan ringan,
makanan instant serta makanan siap saji. Mereka tidak
bertanggung jawab kepada masa depan anak, yang mereka
pikirkan adalah tentang metode pemasaran produk tersebut
agar laris di pasar, sehingga keuntungan semakin deras
mengalir.
Image dan Daya beli
Sepintas, produk-produk makanan
instant (makanan ringan) serta produk makanan siap
saji, tampil sangat mengundang selera, selain praktis,
plus menggandeng beberapa model iklan idola
anak-anak, bahkan juga idola orang tuanya ikut mendukung
produk tersebut. Maka lengkaplah sudah!.
Cobalah berjalan di pasar-pasar
moderen (supermarket) atau toserba mulai yang besar
hingga kios di desa, deretan makanan instant,
minuman kemasan, terpajang rapi, berbagai merek dari
produk dalam negeri hingga produk luar negeri; produksi
rumahan sampai pabrikan; dari kemasan kertas, plastik
hingga kaleng. Menyaksikan aneka
produk makanan, minuman tersebut, kita langsung
diingatkan model iklannya.
Masalah utamanya, jelas menyerang sosial
ekonomi rumah tangga secara langsung. Ketika pendapatan
orang tua tidak sebanding dengan laju pertambahan aneka
produk makanan instant. Setiap minggu atau setiap bulan
ada saja iklan baru yang ditayangkan di televisi, radio,
koran atau papan reklame. Minimal produk baru itu
nangkring di kios tetangga. Menjadi pemandangan yang
menggoda sang anak. Belum lagi
kesulitan keluarga karena meningkatnya harga-harga
kebutuhan pokok oleh dampak kenaikan BBM.
Menjadikan keluarga miskin semakin
terpojok tak berdaya menjangkau kebutuhan hidup.
Ketimpangan yang terus terjadi di
rumah tangga, oleh permintaan anak dan keluarga akan
kebutuhan mereka dapat menimbulkan dampak negatif,
seperti mencari jalur pintas (kerja-kerja ilegal).
Terjadinya percekcokan rumah tangga berkepanjangan
mengarah pada terjadinya kekerasan. Misalnya seorang
petani yang hanya menggantungkan hidup pada sepetak
sawah 1 hektar dengan jumlah tanggungan 5 orang
semestinya ia dapat hidup tenang di gampong (desa),
bila saja ongkos produksi pertanian dapat ditekan, harga
jual hasil panen tinggi. Tapi dalam kenyataannya,
semakin hari ongkos produksi meningkat (pupuk, pembasmi
hama, ongkos penggarap, benih, distribusi). Sementara
hasil-hasil pertanian selalu jadi spekulansi para
pedagang, calo atau tengkulak, harga-harga cenderung
dipermainkan pasar. Di sisi lain kebijakan pemerintah
seakan tutup mata dengan melakukan impor beras dan
komoditas penting lainnya (gula, kedelai, daging sapi,
dll) semakin menenggelamkan nasib petani.
Di rumah, tanpa basa-basi tangan si
kecil telah menanti dengan lembutnya, minta uang untuk
membeli makanan ringan seperti para tetangga dan
kawan-kawannya, yang juga selalu di depan TV, lalu
mencoba produk baru. Kebutuhan yang mereka minta
cenderung meningkat tidak lagi sebatas perkembangan usia
dan lingkungan mereka, tontotan menjadi rekaman yang
efektif untuk membuat rasa ingin tahu dan mencoba.
Sasarannya tentu saja kantong orang tua.
Trend iklan juga semakin
“inovatif” justru bersaing menggunakan keluarga artis
sebagai simbol produk.
Masalah kesehatan
Rupa-rupa makanan instant
muncul di sekitar kita dan memang cukup mengiurkan
anak-anak. Kemajuan teknologi telah memainkan peranan
penting meningkatkan kuantitas dan kualitas pengolahan
pangan, meningkatkan diversifikasi (aneka ragam),
higiensasi praktis dengan menggunakan kemasan rapi.
Tampil dengan produk-produk yang
lebih tahan lama, melintasi pasar antar benua hingga
menjangkau pelosok-pelosok seluruh penjuru dunia. Atau
dengan cara membuka pabrik baru di daerah-daerah
potensial, baik dalam pola produksi langsung maupun
dengan lisensi produk oleh produsen lokal.
Makanan ringan yang sepintas sangat
gurih itu, sebenarnya mengandung kadar garam tinggi
rendah nilai gizinya (junk food) komposisi zat
kimia dari unsur pengawet dan penyedap membuat anak-anak
”ketagihan” untuk selalu ingin mengonsumsi. Bumbu
penyedap yang menyertai makanan instan ini, juga
dapat merangsang pencernaan, misalnya yang terkandung
dalam mie
instan: perasa buatan, MSG, garam, merica, perasa
pedas berupa chili powder (bubuk cabai),
vegetable oil (minyak sayuran) dan cooking oil
(minyak makan). Kalau makanan ini dikonsumsi setiap
hari dan berlangsung lama maka anak-anak cenderung
menolak makanan utama dan buah-buahan serta akan merusak
pertumbuhan mereka.
Zat aditif adalah bahan kimia yang
dicampurkan kedalam makanan dengan tujuan meningkatkan
kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan kesegaran
sebuah produk makanan tersebut. Dampak negatif dari
kelebihan zat aditif ini di antaranya; memicu alergi,
kanker hati (MSG) beresiko mengganggu fungsi otak,
kelainan hati, hipertensi, memicu mual dan penyakit
pencernaan serta gangguan syaraf. Konon lagi peminatnya
anak-anak, tentu akan lebih bersiko di masa depan.
Merintis Proteksi
Keluarga sebagai unit organisasi
terkecil dalam hirarki kehidupan bermasyarakat dan
bernegara, di zaman globalisasi dan neoliberalsme ini
harus bersaing ketat dengan pasar dalam membangun
keluraga bahagia. Kebijakan pasar (moderen) baik yang
berskala besar dan kecil melalui budaya kebebasan yang
melekat disekitar kita, menuntut kejelian para pemimpin
rumah tangga selain meningkatkan produktifitas, juga
melakukan proteksi terhadap anak-anaknya, sehingga tidak
malah diserahkan atau dicuri oleh kebijakan pasar yang
menggantung selera si kecil.
Media komunikasi keluarga yang efektif
seperti diskusi dan pengkritisan masalah yang terjadi di
sekitar, dapat dijadikan agenda pokok keluarga. Di
samping perhatian orang tua dan masyarakat, berperan
melakukan kontrol terhadap perkembangan anak. Komunikasi
yang baik secara rutin akan mampu membendung
godaan-godaan iklan Televisi dan reklame serta ajakan
reken-rekannya. Walaupun si orang tua tidak dapat
menjelaskan secara ilmiah tentang kesehatan (minimnya
informasi dan penyuluhan) sekurang-kurangnya anak dapat
diajak untuk mengerti kondisi pendapatan ”ekonomi”
keluarga yang tidak sebanding dengan tuntutan kebutuhan
mereka.
Proteksi atau perlindungan terhadap
anak-anak dari budaya konsumtif dan hegemoni rasa,
pertarungan antara produk yang khas budaya sendiri dan
produk yang masih asing, harus dimenangkan, kita dapat
mengajak anak dan opini masyarakat tentang produk khas
budaya sendiri tentu yang punya akar budaya lokal yang
kuat. Sementara produk asing yang sebelumnya justru
tidak dikenal dalam budaya lokal, tapi berusaha
diperkenalkan lewat iklan. kejelian konsumen
(masyarakat) diperlukan agar lebih peka. Kemajuan
teknologi dan informasi beserta produknya jelas
merupakaan bagian dari gerak perkembangan zaman. Namun
diperlukan kreatifitas orang tua terutama sang ibu,
untuk membuat penganan alternatif yang sehat dengan
ongkos yang lebih murah seperti makanan tradisional
daerah (lokal) dengan tampilan (kemasan) yang lebih
menarik. Sehingga anak mempunyai pilihan lain ketika
program proteksi keluarga dijalankan.
Melengkapi solusi yang berkelanjutan,
setiap keluarga dapat memulai komunikasi bersama (forum
rutin bulanan) secara berkelanjutan, atau memanfaatkan
forum-forum gampong mendiskusikan problematika
yang sedang dihadapi secara bersama. Pada tahap lanjut
juga menuntut tanggungjawab pemerintah (instansi
terkait) agar memberi informasi berkualitas serta
penyuluhan kritis mengenai dampak positif dan negatif
berbagai produk makanan instant
dan minuman kemasan dan makanan (resto) siap saji yang
selama ini bersemi bagaikan cendawan di musim hujan.
Ketika keluarga sebagai bangunan
organisasi sederhana yang dimiliki oleh setiap manusia,
masih belum mampu melepaskan dari cengkraman hegemoni
pasar yang tanpa kendali, masih perlukah nyanyian ”doda
idi” bagi anak-anak kita?