Pengantar
Melihat konflik Aceh bisa melalui kaca mata yang berbeda, dengan apa yang
dibangun selama ini; bahwa konflik Aceh terjadi karena ketidak adilan yang
dilakukan oleh pemerintah pusat. Kalau alasan itu dibangun, maka tidak hanya
Aceh yang merasakan ketidakadian demikian, Riau juga mengalami hal serupa.
Ada hal yang mendasari konflik Aceh, yaitu persoalan nasionalisme Aceh.
Nasionalisme Aceh
Fungsi nasionalisme adalah sebagai mata yang melihat kedalam, yaitu untuk
menjelaskan identitas, sekaligus mata keluar sebagai suatu ideologi yang
menjelaskan bahwa suatu bangsa sejajar secara internasional dengan bangsa
lain. Dalam konflik Aceh pada fase Gerakan Aceh ini, warna nasionalisme Aceh
kuat dari pada ideologi Islam yang pernah menjadi asas gerakan perlawanan
Aceh pada masa sebelumnya.
GAM pertama kali di deklarasi pada 4 Desember 1976. Gerakan ini mengusung
nasionalisme Aceh secara jelas. Nasionalisme yang dibangun sebagai pembeda
dengan nasionalisme Indonesia yang sebelumnya telah ada. Bangunan ide
seperti ini sebelumnya tidak pernah ada. Pada Perang Aceh diakhir abad 19,
tidak pernah ditemukan bahwa rakyat berperang karena membela tanah
kelahiran, melainkan berperang sebagai tuntutan agama. Garis demarkasi juga
bukan antara Aceh-Belanda, melainkan muslim-kafir. Hal ini terus berlanjut
pada masa-masa berikutnya, terutama ketika masa revolusi. Dalam proses
sejarah integrasi Aceh ke Indonesia juga ideologi Islam masih terlihat kuat,
bahkan menjadi perekat antara Aceh dan wailayah-wilayah lain di Indonesia.
Bagi Hasan Tiro, sebagai pendiri Gerakan Aceh Merdeka, yang meyakini bahwa
Aceh merupakan identitas tersendiri, yang memiliki sejarah dan jati diri
yang kuat. Oleh karenanya, kedaulatan Aceh yang sudah dimiliki ratusan tahun
yang lalu mesti dikembalikan.
Dalam diskursus nasionalisme, para pakar menguraikan bahwa nasionalisme
adalah fenomena modern yang lahir dari rahim industrialisasi dan modernisasi
di dunia barat. Ini menjadi gelombang baru dibelahan dunia lainnya, termasuk
di negeri-negeri muslim.
Gelombang nasionalisme ini tentu memberikan paradigma yang berbeda dengan
apa yang dibangun oleh perjalanan pengalaman suatu bangsa. Dalam hal ini
Hasan Tiro membangun pandangannya tentang Aceh melalui paradigma yang
dibangun oleh bangsa Eropa. Untuk melacak ini tidak terlalu sulit.
Kepergiaannya untuk belajar di Amerika Serikat awal tahun 1950-an telah
mempengaruhi cara pandangnya melihat Aceh.
Ideologi nasionalisme Aceh yang dibangun ditubuh GAM berasal dari pengalaman
tersebut. Dalam melihat Aceh, Hasan Tiro lebih memilih cara pandang orang
Eropa yang melihat Aceh dengan bangunan gagasan nasionalisme yang telah
berkembang di Eropa sebelumnya, dari pada tulisan orang Aceh sendiri.
Berbeda dengan tulisan orang Aceh, penulis Eropa memandang orang Aceh yang
melawan Belanda adalah sebagai sikap heroik “bangsa” Aceh dari pada
fanatisme beragama. Padahal saat itu gelombang nasionalisme belum memasuki
Aceh. Artinya kesadaran Aceh adalah kesadaran beragama dan kesadaran
“bernegera” klassik, yaitu ketaatan kepada pemimpin. Jadi bisa dikatakan,
nasionalisme Aceh bukan sikap revival, melainkan hal baru yang dibalut
dengan romantisme sejarah.
Kelahiran Gerakan Aceh Merdeka
GAM lahir karena kegagalan gerakan
Darul Islam pada masa sebelumnya. Darul Islam muncul sebagai reaksi atas
ketidakberpihakan Jakarta terhadap gagasan formalisasi Islam di Indonesia.
Darul Islam adalah sebuah gerakan perlawanan dengan ideologi Islam yang
terbuka. Bagi Darul islam, dasar dari perlawanan adalah Islam, sehingga
tidak ada sentimen terhadap bangsa-bangsa lain, bahkan ideologi Islam adalah
sebagai perekat dari perbedaan yang ada. Gagasan ini juga berkembang dalam
gerakan Darul Islam di Aceh.
Akan tetapi, paska berhentinya perlawanan Darul Islam Aceh, keinginan Aceh
untuk melakukan Islamisasi di Indonesia menjadi lebih sempit hanya kepada
Aceh. Perubahan ini terjadi disebabkan karena kegagalan Darul Islam
diseluruh Indonesia, sehingga memaksa orang Aceh lebih realistis untuk
mewujudkan cita-cita.
Yang menjadi menarik adalah, GAM yang melanjutkan tradisi perlawanan Aceh,
ternyata tidak melanjutkan ideologi Islam yang terlebih dahulu digunakan
oleh Darul Islam. Sebagaimana yang disebutkan bahwa GAM lebih memilih
nasionalisme Aceh sebagai isu populisnya.
Kemunculan GAM pada masa awalnya langsung mendapat respon oleh pemerintah
Orde Baru dengan melakukan operasi militer yang represif, sehingga membuat
GAM kurang bisa berkembang. Walau demikian, GAM juga melakukan pelebaran
jaringan yang membuat mereka kuat, baik pada tingkat internasional maupun
menyatu dengan masyarakat dan GAM bisa terus bertahan.
Pada masa Orde Baru GAM memankan dua wajah; satu wajah perlawanan (dengan
pola-pola kekerasan yang dilakukan), dan strategi ekonomi-politik yang
dimainkan (dengan mengambil uang pada proyek-proyek pembangunan)
Melihat Peranan Kelompok Sipil
Dalam dinamika konflik Aceh, fase yang menentukan adalah paska kejatuhan
Soeharto. Pada fase ini kelompok sipil memainkan peranan yang strategis
dalam mengubah paradigma kemerdekaan yang diperjuangkan oleh GAM. Kalau pada
masa awal, GAM memahami bahwa kemerdekaan adalah karena tuntutan sejarah,
karena Aceh adalah bangsa yang berdaulat sejak dulu. Nah, pada fase ini,
kelompok sipil melakukan tranformasi penting, bahwa kemerdekaan adalah
tuntutan realistis dari kehidupan berdemokrasi, sehingga muncul tawaran
referendum sebagai jalan penyelesaian konflik Aceh.
Tranformasi ini juga yang pada akhirnya membuat perdamaian dapat berjalan
secara lebih mulus. Bahwa ketika membangun dialog, yang dibawa adalah ide
tentang kehidupan demokrasi yang penuh dialektika, bukan gagasan-gagasan
sejarah yang tertutup.
Masa Depan perdamaian
Menjaga perdamaian adalah menjadi hal terpenting pada masa kini. Oleh
karenanya membuat reintegrasi dan perbaikan ekonomi menjadi hal mendesak.
Menjadi sulit untuk membanyangkan kemungkinan konflik seperti masa lalu
(baca: konflik dengan bangunan nasionalisme), sebab konflik membutuhkan
ideologi dan pemimpin yang dapat diikuti.
Kembali
ke laman Dialog